Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Kakak Beradik


__ADS_3

Kedua pasang mata milik Elang dan Profesor Tejo memandang erat pada pintu lift yang terbuat dari baja ringan. Berjaga-jaga kalau yang masuk ke dalam laboratorium milik Prof Tejo bukanlah musuh, atau orang yang ingin menghancurkan tempat ini.


Sebuah alat kejut listrik digenggam dengan erat lelaki berusia 35 tahun itu. Baru kali ini alat keamanan yang dipasangnya berhasil disusupi. Ia menarik nafas panjang dan siap menembakkan alat yang dipegangnya, tapi urung dilakukan ketika pintu lift terbuka.


“Dara!” Pekik Elang sambil menghela nafas lega.


Perempuan berjilbab warna krem itu langsung berlari memeluk Elang, air matanya menetes. “Lang, Kakakku Lang.” Sambil terisak ia berusaha menjelaskan pada Elang.


Melihat pemandangan di depannya, Profesor Tejo hanya menggeleng pelan sambil tersenyum. “Anak muda.” Kemudian ia menurunkan senjatanya yang tadi urung ditembakkannya.


“Kakak kamu kenapa, Ra?”


“Beberapa jam lalu, aku video call sama kakakku. Dia sedang tugas di Lapangan Monas untuk persiapan tempur. Ta-Tapi…” Dara tidak meneruskan kata-katanya.


Elang mengusap kepala Dara yang tertutup jilbab.


Belum sempat Dara meneruskan kata-katanya, dari dalam ruangan tempat terdengar suara ribut-ribut seperti orang terdorong. Kedua insan yang sedang berpelukan itu pun langsung berlari menuju arah suara yang mereka dengar.


“Apa yang kamu lakukan padaku, Prof?” Kapten Firman menghunuskan pisaunya, siap menusuk Profesor Tejo yang dipojokkannya ke dinding.


Ada ketakutan di wajah profesor Tejo. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya karena tertutup oleh rasa takut.


Menyaksikan pemandangan dua orang yang dikenalnya, Dara terbelalak kaget, “Kak Firman!”


Lelaki berpangkat kapten itu menoleh ke arah sumber suara, begitu dilihatnya itu adalah Dara, adiknya. Ia pun melepaskan Profesor Tejo. Kemudian ia memeluk adiknya.


“Gak apa-apa, Prof?” Kata Elang sambil membantu sahabatnya untuk berdiri.

__ADS_1


Sambil membetulkan kacamata dan merapikan rambutnya, ia menggeleng pelan. “Ternyata, penemuan saya berhasil, Lang. Tapi mesti dikurangi lagi rasa sakitnya,” katanya sambil tersenyum memamerkan krim penyembuh miliknya.


“Kamu kok bisa kemari, Ra? Ayah sama ibu mana?” Ada raut bahagia dari wajah Kapten Firman ketika bertemu adiknya yang sudah lama tidak dilihatnya.


“Ayah dan ibu masih mengantri ke luar Jakarta, Kak. Aku sendiri yang mau kemari. Aku khawatir sama kalian, apalagi waktu Kakak bilang ada serangan.”


“Ta-Tapi ayah dan ibu, aman?”


Dara mengangguk.


“Sebentar, Ra. Urusanku sama orang ini belum selesai!” Gerutu Kapten Firman sambil berjalan menuju Profesor Tejo. Tapi buru-buru dicegah oleh Dara.


“Jangan Kak! Profesor Tejo tidak bermaksud jahat.” Dara menghalau kakaknya untuk tidak mengancam Profesor Tejo.


“Sa-Saya cuma membantu menyembuhkan luka.” Wajah Profesor Tejo kembali terlihat ketakutan.


Satu-satunya perempuan di ruangan itu melepaskan kakaknya yang sudah mulai tenang. Pangkat yang dikenakan kakaknya membuktikan kalau dirinya bisa membunuh dengan cepat Elang dan Profesor Tejo.


“Maafkan saya, terima kasih sudah menyembuhkan luka saya,” kata Kapten Firman sambil mengulurkan tangan kanannya, mengajak bersalaman yang langsung disambut oleh lelaki yang tadi dikejarnya. Lalu keduanya terlibat dalam perbincangan hangat.


Di layar monitor yang sedang dipandangi oleh Elang dan Dara sedang menampilkan sebuah gambar dua buah benda yang terbang, tapi bukan pesawat. Bentuknya seperti orang yang sedang terbang berbaju besi lengkap dengan senjata di sekujur tubuhnya.


“I-Itu apa, Kak?” Ujar Dara pada kakaknya, matanya tidak lepas memandang gambar di layar.


“Prajurit Besi. Senjata rahasia milik pemerintah…” Kapten Firman tidak meneruskan kata-katanya.


“Apa? Senjata rahasia?” Elang menyela kata-kata Kapten Firman sebelum ia melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


“Iya, sebuah senjata yang dibeli pemerintah dari Amerika. Kalau kalian pernah nonton film Iron Man, senjata itu terinspirasi dari sana,” sambung Kapten Firman dengan tenang.


Keempat pasang mata di ruangan itu tidak lepas memandang layar monitor yang terhubung langsung dengan cctv di beberapa titik vital kota Jakarta.


“Mudah-mudahan mereka bisa mengusir makhluk biadab itu.” Dara terduduk, air matanya menetes mengingat apa yang dilihatnya sepanjang perjalanan ke Taman Situlembang tadi.


Setelah mendengar siaran radio yang memberi kabar kalau Istana Negara diserang, gadis itu langsung meminta izin kedua orang tuanya untuk tidak ikut ke Luar Kota. Dirinya memilih untuk kembali ke pusat kota demi mengetahui keberadaan kakaknya. Pastinya dengan bantuan Elang.


Dalam perjalanan, ia melihat sebuah sepeda motor terbengkalai ditinggalkan oleh pemiliknya. Dara akhirnya memilih untuk mengambil sepeda motor itu untuk mengantarkannya ke tempat persembunyian Profesor Tejo.


Berbeda dengan motor klasik yang dibawa Elang, motor yang diambilnya itu adalah motor bertenaga anti gravitasi yang ditemukan tahun 2040. Tanpa roda dan melayang beberapa sentimeter di atas tanah. Motor ini termasuk multifungsi, karena selain bisa jalan di permukaan tanah, ia pun bisa dipacu di atas permukaan air.


Aroma anyir menyengat hidung ketika gadis berkerudung krem itu melewati jalan raya. Bau yang keluar dari tumpukan mayat-mayat yang berserakan di jalan. Di antara mereka tidak sedikit yang isi tubuhnya berceceran karena ledakan memburaikan tubuh mereka.


Hidung dan mulutnya ditutup dengan sisa jilbabnya yang masih teruntai, hanya sekedar untuk menghalangi aroma tak sedap yang sangat menyengat dan mengganggu. Tak jarang juga matanya menangkap bangkai anak-anak tak berdosa yang menjadi korban kebrutalan makhluk asing yang menyerang kota.


Hatinya terenyuh ketika mendapati beberapa kendaraan militer yang hancur, para tentara yang bergelimpangan tak berdaya di sekitarnya semakin membuat hatinya tak karuan. Tak henti-hentinya gadis itu khawatir akan keadaan kakaknya yang sedang diberi tugas berat.


Begitu sampai di tempat yang dituju, betapa kagetnya Dara ketika mendapati di jalan masuk tempat biasa Elang mengajaknya, ada jejak darah seperti diseret menuju ke tempat persembunyian Profesor Tejo.


Akhirnya gadis itu memutuskan untuk masuk secara diam-diam ke dalam untuk memastikan apa yang terjadi. Dirinya sengaja untuk tidak menampakkan diri di kamera pengintai, karena takutnya si penyusup yang menyandera Elang dan Profesor Tejo melihatnya.


Perasaannya pun lega ketika orang-orang yang dikhawatirkannya ternyata berkumpul dalam satu ruangan. Meski sempat terjadi kesalah pahaman antara kakaknya dengan Profesor Tejo.


“Kalau ini adalah senjata rahasia militer, apa armada bersenjata lainnya sudah tidak efektif lagi?” Selidik Elang, matanya melirik sedikit ke arah Kapten Firman.


“Bisa jadi,” jawab Kapten Firman datar tanpa melepas pandangannya dari layar monitor.

__ADS_1


“Aaaaaaa…” Dara terpekik kaget melihat pemandangan mengerikan yang terpampang di monitor. Teriakannya itu membuat Elang, Profesor Tejo dan Kakaknya melihat ke arah yang sama.


__ADS_2