
Keringat dingin mengucur di wajah Ramadwipa yang sedang dalam ancaman Arjuna, ia berada dalam sebuah pilihan sulit. Jika menerima tawaran dari Arjuna, pasukan Kurawa akan memburu dan menghacurkan kerajaannya. Sedangkan kalau ia menolak tawaran Arjuna, maka perekonomian di kerajaan yang dipimpinnya akan mati.
Ditambah lagi mungkin ia akan mati saat ini juga, mengingat panglima perangnya yang ditakuti oleh musuh dengan mudahnya ditaklukan oleh Arjuna.
Arjuna melonggarkan sedikit cengkraman tangannya, membiarkan Ramadwipa bernafas. “Jadi… Bagaimana dengan tawaranku?” tagih Arjuna.
Ramadwipa menundukkan wajahnya, ia belum bisa memutuskan akan memihak ke salah satu kubu antara Kurawa atau Pandawa.
Tiba-tiba pintu istana terbuka, empat orang prajurit masuk dan melihat Elang yang sedang berdiri dengan tombaknya.
“Tangkap dia! Orang ini yang semalam membakar desa di dekat hutan Alasjiwo.” Salah satu dari prajurit yang pangkatnya lebih tinggi menunjuk ke arah Elang.
Merasa dirinya dituduh oleh para prajurit, Elang langsung memasang kuda-kuda untuk menyerang tapi langsung dicegah oleh Arjuna.
“Kalian yakin dia pelakunya?” ujar Arjuna dengan tenang sambil menatap para prajurit yang ada di depannya.
“Siapa lagi kalau bukan dia, semalam dia ada di desa itu!”
Salah satu prajurit menatap balik Arjuna dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Siapa kau? Mau apa kau dengan raja kami?” Ucapannya itu membuat prajurit yang lain memalingkan hunusan tombak ke arah Arjuna.
Dengan cepat dan bertenaga, Elang menyabetkan tombaknya dari atas ke bawah hingga menurunkan hunusan mata tombak mereka ke lantai. Kemudian tombaknya disabetkan lagi ke tubuh para prajurit hingga mereka terpental. “Jaga kesopanan kalian, dia raja Panchala!”
Setengah terhunyung para prajurit yang masih kesakitan itu berlutut dan memberi penghormatan pada Arjuna.
“Ma—Maaf, kami ti—tidak tahu…” ujar salah satu prajurit yang pangkatnya tertinggi.
Pakaian yang dikenakan Arjuna memang bukan pakaian kerajaan, ia hanya memakai celana hitam dengan ikatan kain warna biru yang diselempangkan di tubuhnya. Pakaian yang biasa dipakainya ketika masih di Astina, rambut panjangnya digelung ke atas tanpa mahkota. Siapapun yang melihatnya saat itu akan mengira kalau ia hanyalah seorang pengelana atau ksatria biasa, karena tanpa adanya mahkota di kepala dan pakaiannya yang biasa saja.
“Siapa yang semalam melihat dia didesa?” Kali ini, Arjuna bertanya dengan emosi yang meninggi.
__ADS_1
“Ka—Kami yang melihatnya.” Keempat prajurit itu menjawab berbarengan.
“Kapan kalian tahu desa itu terbakar?” Arjuna kembali mengajukan pertanyaan. Emosinya masih bisa ditahan meskipun ia sangat marah saat itu.
Melihat adanya kesempatan, Ramadwipa mencoba melarikan diri. Kondisi istananya yang hanya mempunyai satu pintu, membuat raja Pamujan itu berlari menerobos keempat pengawalnya yang sedang diinterogasi oleh Arjuna.
Dengan sekali ayunan tangan, busur panah kecil muncul dari tangan Arjuna lalu menembakkan sebuah anak panah yang menancap mengenai kain yang dikenakan Ramadwipa hingga ia terjatuh. “Jangan coba-coba lari, urusan kita belum selesai!” ujarnya sambil mengembalikan pandangan pada keempat prajurit yang ada di hadapannya.
Para prajurit itu saling tatap, tak ada satupun yang berani menjawab setelah melihat kehebatan orang yang mengintrogasi mereka.
“Sekarang jawab pertanyaanku. Kapan kalian tahu desa itu terbakar?”
“Lewat tengah malam. Kami kesana waktu api sudah membakar sebagian besar desa. Kami melihat dia ada di sana,” tukas pemimpin prajurit dengan gemetaran. “Ku kira dia pelakunya,” sambungnya lagi.
“Kau punya bukti kalau pelakunya orang ini?”
Keempat prajurit kerajaan Pamujan menggeleng bersamaan.
“Ide yang bagus.” Arjuna menganggukkan kepala, ia mengalihkan pandangannya pada Ramadwipa. “Kita ke desa itu sekarang. Cari tahu siapa yang melakukan ini semua,” perintah Arjuna yang disambut anggukan kepala oleh raja Pamujan dengan perasaan takut.
Tak berapa lama rombongan Ramadwipa sudah sampai di desa terluar dari kerajaannya yang dekat dengan hutan Alasjiwo. Penduduk desa yang melihat kereta kuda kerajaan langsung menunduk begitu melihat raja mereka datang bersama Arjuna dan Elang, juga beberapa prajurit kerajaan. Sementara Gatotkaca masih mengawasi dari udara.
Begitu turun dari kuda, Arjuna mendekati seorang lelaki yang sedang merawat luka bekas tusukan benda tajam di bahunya. “Paman tidak apa-apa?” kata Arjuna dengan lembut sambil memberikan air minum dalam helaian daun.
“Aarrghh… tidak apa-apa yang mulia,” jawabnya lirih.
“Minum dulu, Paman.”
Diminumnya air yang diberikan Arjuna dengan sekali tegukan, wajahnya terlihat senang sekali.
__ADS_1
“Siapa yang melakukan ini pada Paman?”
Pandangan orang itu menerawang jauh menatap langit, ia berusaha mengingat kejadian yang dialaminya semalam. “Aku tidak begitu melihatnya dengan jelas, namun sekilas kulihat dia menutup mulutnya dengan kain. Ta—Tapi sebelum dia pergi, aku sempat merebut ini darinya.” Ia memberikan sebuah robekan kain pada Arjuna.
Arjuna menatap sobekan kain yang diberikan lelaki itu, menatap dengan dalam warnanya yang hitam dengan motif batik berwarna coklat kemerahan yang menjadi ciri khas Hastinapura.
“Kau kenal kain itu?” tanya Elang penasaran.
“Ya,” angguk Arjuna. “Ini kain kerajaan Hastinapura.”
“Apa?” pekik Ramadwipa. Ia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Arjuna. “Apa salahku sampai Hastinapura membakar desa ini?”
“Entahlah, mungkin ini siasat mereka untuk membuat Panchala dan Pamujan berseteru.” Arjuna menjawab pertanyaan Ramadwipa dengan tenang. Ia lalu menenangkan kembali orang yang ditanyanya tadi dengan membantu mengobati lukanya.
Keempat prajurit yang sedari tadi menuduh Elang menundukkan wajahnya, mereka malu bahwa tuduhan mereka salah.
“Hei! daripada kalian diam, lebih baik ikut aku bantu membangun desa ini lagi!” ajak Elang pada mereka.
Para prajurit itu saling tatap, mereka menganggukkan kepala lalu ikut membantu penduduk membangun lagi desa mereka yang hampir habis terbakar.
Setelah membantu mengobati luka, Arjuna mendatangi Ramadwipa yang masih termenung melihat desa yang masih dalam kekuasaannya nyaris hancur.
“Jadi, bagaimana dengan tawaranku?” Ucapan Arjuna mengagetkan Ramadwipa yang sedang termenung.
Sang raja menghela nafas panjang, ia sedikit memikirkan konsekuensi yang didapat jika ia salah memilih. Dipandanginya lagi desa yang berdampingan dengan hutan Alasjiwo, hatinya sangat hancur ketika mengetahui kebenaran bahwa yang melakukan ini semua adalah utusan dari Hastinapura.
Kali ini Arjuna ikut membantu membangun rumah warga desa yang hancur, pemandangan ini tak lepas dari pengamatan Ramadwipa.
“Kalau aku boleh tau, siapa kau sebenarnya?” ujarnya pada Arjuna.
__ADS_1
Arjuna masih membopong kayu di bahunya, ia menoleh ke arah Ramadwipa sambil tersenyum. “Aku Arjuna, raja Panchala. Putra ketiga Pandawa,” jawabnya sambil kembali melanjutkan membantu warga.
Ramadwipa terperanjat, saat itu juga ia langsung menentukan jawaban untuk menyetujui ajakan Arjuna tanpa syarat apapun.