Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Ksatria Dasar Bumi


__ADS_3

“Nakula, Sadewa. Siapkan senjata, tetap di sini dan jaga dia,” kata Arjuna pada kedua adiknya sambil menunjuk ke arah Elang. Dari lengannya muncul cahaya berwarna keemasan yang lama kelamaan berubah wujud menjadi busur panah dengan warna yang sama, bentuknya seperti dua sayap yang dibentangkan dengan lingkaran di tengahnya.


Tanpa menunggu jawaban dari saudaranya, lelaki berkain batik warna biru itu melesakkan tiga anak panah ke udara. Seperti kilat, panah itu langsung menyambar tiga raksasa yang sedang berlari menyerang ke arah mereka.


“GROAAAAAAR…!” Suara erangan raksasa yang terkena panah terdengar sangat nyaring, diikuti suara berdebam jatuh sebanyak tiga kali dan juga suara pohon-pohon patah. Arjuna merangsek maju meninggalkan Nakula dan Sadewa.


Kedua saudara kembar itu kemudian mengeluarkan pedang yang ada di punggung mereka. Senjata yang tadinya hanya terlihat seperti pedang biasa, tiba-tiba berubah. Nakula memegang pedang berwarna kebiruan di bilahnya, pedang itu mengeluarkan aliran seperti listrik.


Sedangkan pedang Sadewa berwarna merah membara di bilahnya. Kedua pedang itu mereka dapat setelah melawan dua pengawal raja jin ketika membuka hutan Amarta bersama ketiga saudara Pandawa lainnya. Senjata yang sangat ampuh untuk melawan bangsa jin, raksasa, bahkan gandarwa sekalipun.


Sesosok tubuh tinggi besar tiba-tiba menyeruak dari lebatnya hutan. Matanya berwarna kemerahan dengan bola yang hitam besar, hidungnya sangat besar, juga gigi-gigi yang besarnya satu kepalan tangan manusia biasa. Seperti melihat makanan, sosok raksasa itu langsung berlari ke arah Nakula, Sadewa dan juga ketiga Punakawan beserta Elang.


Nakula dan Sadewa mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Tapi sebelum keduanya bergerak, sebuah gada berwarna keemasan melayang menghantam kepala makhluk besar itu diikuti suara ledakan yang sangat keras, “DUAAAAAAR!!!” Kepalanya hancur berkeping-keping, otaknya berceceran dimana-mana.


Tidak lama Bima muncul mengambil gadanya, dengan sekali anggukan, kemudian ia kembali menghilang maju ke tempat pertempuran.


Bima memang punya sifat pendiam, hanya berbicara untuk hal yang penting saja. Tapi kejujuran dan kesetiaannya tidak pernah diragukan.


“Lang, kamu gak punya senjata?” tukas Nakula, matanya tak lepas mengawasi keadaan di depannya.


Elang menggeleng. “Sejak datang kemari, aku tak punya senjata”


“Isi tasmu apa?” Setengah berteriak, Sadewa ikut menginterogasi Elang.


“Cuma kamera dan tablet.”


“Apa itu?”


“Susah dijelaskan di sini! Kangmas guru, punya senjata buat aku?” Kali ini Elang berkata kepada Gareng dan Petruk.

__ADS_1


Keduanya sedang terlibat perdebatan kecil tentang seharusnya mereka bersembunyi di pohon yang mana. Seperti biasa, kedua Punakawan ini memang tidak pernah akur. Tapi kalau sedang bertempur, kekompakan mereka sulit dipisahkan.


“Kangmas Petruk, Gareng!” Elang langsung menyeruak di tengah-tengah mereka.


Keduanya kemudian terdiam menatap muridnya.


“Ada apa to?” ujar Gareng sambil berusaha kalem.


“Kalian punya senjata buat aku?”


Petruk terkekeh, ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik celananya. Sebuah pedang dengan bilah berwarna coklat karatan, namun di matanya terlihat sangat tajam dan terawat. “Ini pedangmu, Lang.” Diberikannya pedang itu pada Elang.


Elang bergidik jijik menerima pedang yang diberikan oleh Petruk. Bagaimana tidak jijik, pedang itu disimpan di dalam celana. Begitu di tangannya, diendusnya pedang itu oleh Elang. “Bau kecut, Guru!” ujarnya sambil menyeringai.


“Itu kecut sakti, raksasa pasti bakalan kabur dengan baunya. Sudah, ayo menyebar. Kita akan lawan mereka.” Petruk kemudian mengajak Gareng dan Bagong ke arah yang berlawanan dengan Elang yang sedang bersama Nakula dan Sadewa.


“Pedang apa ini?” gerutu Elang.


Setelah memastikan Elang punya senjata untuk berperang, Nakula mengajaknya beserta Sadewa untuk merangsek masuk arena peperangan menyusul kakak mereka Arjuna dan Bima yang saat ini sudah ada di barisan depan.


Nakula berlari di sebelah kiri, Elang di tengah dan Sadewa di sebelah kanan. Keduanya mengawal Elang agar tidak terjadi apa-apa.


Sementara di barisan depan, Arjuna dan Bima bertempur dengan sangat sengit. Anak panah yang dilesakkan oleh Arjuna berkali-kali merobek dan menembus tubuh para raksasa, tugasnya adalah untuk melindungi kakaknya, Bima yang ada di depan.


Ayunan gada emas milik Bima menghantam tubuh para raksasa. Ada ledakan setiap kali gada besarnya mengenai bagian tubuh para korbannya. Lelaki bertubuh dua kali dari manusia biasa itu melawan musuh-musuhnya dengan bengis.


Tak jarang kuku pancanaka-nya yang besar merobek kulit tebal para raksasa, terkadang juga kukunya ditusukkan ke arah jantung lawannya.


Dua puluh meter di belakang mereka, Elang berdiri takjub melihat kengerian di depan matanya. Para raksasa terkulai tak bernyawa, kebanyakan dari mereka kepalanya sudah hancur terkena hantaman gada. Bau anyir darah tercium di sekeliling tempat itu, wajah dari para pasukan raksasa itu terlihat kesakitan luar biasa.

__ADS_1


“ROAAAAR!” Ada suara dari sebelah kiri Elang. Sesosok raksasa yang tadinya terbaring tiba-tiba bangkit, ia hanya pura-pura mati. Tangan besarnya langsung menggenggam tubuh Elang, lalu diangkatnya ke udara.


Ditingkahi rasa panik dan juga hasrat ingin melepaskan diri, kedua tangan Elang yang terbebas dari himpitan jari-jari raksasa itu langsung membalik pedangnya lalu menusukkan pada kulit si raksasa.


Anehnya kulitnya yang tebal seperti tidak berdaya oleh tusukkan mata pedang yang diberikan oleh Petruk. Belum selesai sampai disitu, Elang kemudian menyabet pedangnya pada jari telunjuk makhluk besar itu. Yang terjadi kemudian adalah, luka sayatan bekas sabetan pedangnya perlahan-lahan membesar. Tak lama kemudian membuat jari telunjuk raksasa itu terlepas dari tubuhnya dan terjatuh.


Bersamaan dengan jari telunjuknya yang terlepas, raksasa itu pun melepaskan genggamannya. Elang pun melayang terjatuh.


Lumayan tinggi Elang melayang jatuh, saat ia melayang, ia meratapi nasibnya yang gagal menyelamatkan dunia dan orang-orang yang dikenalnya di masa depan.


“Dara, Profesor, Kak Firman. Maaf, aku gagal menyelamatkan kalian…” Matanya terpejam, bersiap untuk menghadapi apa yang akan dialaminya. Tiba-tiba tubuhnya seperti ada yang menahan, ia merasakan hawa dingin dan halus.


Pertama kali yang dilihat Elang ketika membuka mata adalah sosok dengan kulit bersisik berwana kehijauan. Ketika dilihat lagi, itu adalah seekor ular besar yang melingkar menahan jatuhnya Elang. Matanya menatap tajam, dari mulutnya sesekali mengeluarkan lidah yang bercabang dua di ujungnya.


“Jangan takut, ia tidak berbahaya!” kata suara yang tiba-tiba ada di sebelah Elang. Bentuk tubuh dan wajahnya sama seperti manusia biasa, hanya saja kulitnya bersisik seperti kulit ular. Ia mengangguk pelan memberi tanda terima kasih pada ular besar itu, kemudian si ular masuk ke dalam tanah dan menghilang.


Posisi Elang kini terduduk di tanah dengan kaki sebelah kanan menekuk dan sebelah kiri lurus. Ia tersenyum melihat sosok lelaki berkulit ular di hadapannya. “Antareja?” katanya sumringah.


“Bangunlah, aku sudah dengar tentangmu. Mulai saat ini, berhati-hati. Para raksasa itu punya tipuan yang bisa saja membunuhmu.” Antareja mengulurkan tangannya untuk membantu Elang bangkit.


“Antareja!” pekik Nakula dan Sadewa berbarengan. Beberapa saat lalu mereka baru sadar kalau Elang tertinggal di belakang.


“Salam sembah Paman Nakula, Paman Sadewa.” Lelaki berkulit ular itu memberikan hormat kepada kedua pamannya.


Antareja adalah salah satu ksatria dengan kekuatan luar biasa. Ia adalah putra Bima hasil pernikahannya dengan Dewi Nagagini, putri dari Antaboga. Raja dari kerajaan bawah tanah.


Ksatria sakti ini mempunyai kekuatan bisa di liurnya, jika dirinya mengecup bekas jejak kaki lawannya, seketika musuhnya akan menjadi debu meskipun jaraknya jauh sekali.


“Syukurlah kita dapat bala bantuan. Elang, jangan terpisah dari Sadewa dan aku!”

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Antareja langsung melesat ke barisan depan pertempuran. Tubuhnya yang lincah langsung menyergap lawan berbarengan dengan Bima, ayahnya. Sementara Elang, dan si kembar Nakula Sadewa menghadapi musuh yang tersisa di belakang. Di depan mereka terlihat sebuah istana besar milik para raksasa.


__ADS_2