Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Era Baru Panchala


__ADS_3

Berita kemenangan Arjuna dalam sayembara di kerajaan Panchala dengan cepat menyebar di seluruh pelosok negeri, mulai dari kerajaan terdekat Panchala, hingga ke Astina.


Pesta kemenangan Arjuna yang berbarengan dengan pernikahannya dengan Srikandi berlangsung meriah. Seluruh keluarga besar Pandawa menghadiri pesta yang diselenggarakan di kerajaan Panchala.


Alun-alun kota yang tadinya sepi mendadak ramai oleh para tamu undangan, penduduk Panchala akhirnya bisa menikmati pesta pernikahan yang menghadirkan para raja dari berbagai kerajaan serta makanan mewah yang jarang mereka nikmati.


Kresna dan Setyaki langsung datang dari kerajaan Dwarawati menggunakan kereta kuda, kedatangannya disambut dengan sangat meriah. Sesampainya di dalam, titisan dewa Wisnu itu langsung memeluk Arjuna dengan penuh sukacita.


Yudhistira sendiri datang bersama istrinya, Drupadi. Sedangkan Bima yang sekarang menjadi raja Pringgandani datang bersama Arimbi dengan kereta kudanya.


“Selamat Arjuna, sekarang kau sudah menemukan wanita yang pantas jadi istrimu.” Sambil menepuk bahu Arjuna, Yudhistira memberikan ucapan selamat. Lalu mengusap kepala adik iparnya, Srikandi.


Seperti biasa, Elang lebih memilih untuk memisahkan diri dari keramaian. Sebagai seorang introvert yang memilih menjadi seorang jurnalis, terkadang dirinya harus melawan rasa ketidak nyamanannya ketika berada di tempat keramaian. 


Pernah suatu ketika fakultasnya mengadakan acara lomba fotografi, Elang mengikut sertakan satu karya fotonya untuk dilombakan. Ketika namanya disebut sebagai pemenang lomba tersebut, ia memilih untuk tidak naik panggung dan diwakilkan oleh Rudi, teman satu UKM fotografi di kampusnya.


Tapi sayangnya Elang tidak pernah lagi melihat Rudi, karena saat serangan pertama makhluk luar angkasa yang menghancurkan jalan di depan kampusnya. Teman yang biasa menemaninya hunting foto itu ikut menjadi korban tewas.


Dari pojok ruangan yang biasa dijadikan pendopo istana, Elang memerhatikan satu persatu tamu undangan. Kamera yang dipegangnya tak luput merekam gambar para tamu dan suasana sekitar. Ketakjubannya akan zaman yang didatanginya ini membuatnya sedikit lupa akan masalah kotanya yang nyaris hancur di masa depan.


* * *


Sementara itu jauh dari tempat Elang berada, tiga pasang mata milik Dara, profesor Tejo, dan kapten Firman tak lepas memandang portal mesin waktu yang tadi baru saja dimasuki oleh Elang. Sudah hampir empat menit lamanya mereka menunggu, tapi Elang tak kunjung kembali.


Sudah beberapa kali gadis berkerudung hitam itu mondar-mandir cemas di ruangan bawah tanah milik profesor Tejo yang penuh dengan barang-barang hasil ciptaannya, entah kenapa dirinya sangat cemas sekali dengan Elang.

__ADS_1


“Prof yakin kan kalau mesin waktu ini aman?” cetus Dara yang terlihat sangat cemas.


“Kalau hanya perjalanan sekitar satu atau dua abad, saya masih yakin. Tapi lompatan yang diambil Elang saaangat jauh…” Profesor Tejo membuat gambar dua garis yang sangat panjang dengan proyektor empat dimensi, lalu sebuah parabola terbalik untuk menggambarkan lompatan waktu yang dilakukan oleh Elang. “Yang saya takutkan, Elang tidak pernah sampai di titik tujuannya,” pungkas profesor Tejo sambil membembuat sebuah garis penghalang di antara parabola terbalik yang dibuatnya.


“Selain itu, apalagi, Prof?”


“Masalah daya. Meskipun saya sudah memberikan tenaga inti atom di dalamnya yang tidak akan habis dalam waktu tiga ribu tahun, tapi saya tidak yakin kalau itu bisa bertahan. Karena lompatan yang diambil Elang sejauh lima ribu tahun!”


“Kalau Elang sampai di sana terus habis, gimana?” cetus Dara dengan wajah ketakutan.


Profesor Tejo menghapus garis-garis yang baru dibuatnya. “Jangan takut, Ra. Di tasnya Elang sudah saya sisipkan buku manual penggunaan gelang itu, lengkap beserta tata cara pengisian daya jika kehabisan tenaga.”


“Caranya?”


“Apa Prof? Listrik? Di zaman yang didatangi Elang kan belum ada listrik?” Dara menggebrak meja, kali ini ada air mata menetes di wajahnya.


Kapten Firman mendekati adiknya, lalu memeluknya. “Gak ada cara lain selain dengan itu, Prof?”


Lelaki berambut panjang itu mengagguk sambil membetulkan kacamatanya. “Ada, tenaga surya. Saya sudah menambahkan panel surya di gelang itu, jadi kalau tidak bisa dengan listrik, gelang itu bisa diisi dengan menjemurnya di matahari. Tapi…”


“Tapi apa, Prof?” sambar kapten Firman.


“Sangat lama, mengingat perjalanan waktu yang diambil Elang sangat jauh.” Kemudian keheningan menerpa ketiga orang yang ada di laboratorium bawah tanah milik profesor Tejo.


Di luar sana, makhluk angkasa luar itu kembali menghajar Jakarta dengan membabi buta, sudah tak terhitung lagi berapa banyak gedung-gedung tinggi yang luluh lantak terkena hantaman tembakan laser dari pesawat yang diselubungi awan buatan.

__ADS_1


Kengerian yang terlihat di sekitar pusat kota lebih menyeramkan, kepala dari patung selamat datang yang ada di Bundaran Hotel Indonesia terpental, menghantam sebuah mobil sedan yang melintas. Tubuh satu keluarga yang ada di dalamnya, hancur seketika bersamaan dengan gepengnya mobil sedan itu.


Ledakan demi ledakan kecil menyusul dari kendaraan yang melintas di sekitar jalan raya, nyaris tak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Hampir semua tempat hancur lebur oleh tembakan membabi buta.


Dari dalam laboratorium bawah tanah, Dara tak mampu lagi melihat semua kengerian yang ditampilkan di layar televisi. Tangan halusnya mengambil ponsel yang ada di sakunya, lalu mencoba menelepon Elang. Tapi, hanya suara operator yang didengarnya.


“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar area kami.”


“Kamu dimana sih, Lang? cepat balik, aku khawatir.” Tubuh Dara bergetar hebat, tangisnya meledak. Gadis itu mulai putus asa.


* * *


“Para tamu yang berbahagia, selaku pimpinan kerajaan Panchala. Saya, Drupada. Mengucapkan terima kasih dan selamat datang di acara perayaan kemenangan sayembara,” ujar Drupada dengan suara membahana ke seluruh ruangan diikuti dengan tepuk tangan para undangan yang hadir. “Di hari yang berbahagia ini, kita bukan hanya menyaksikan pernikahan putri saya satu-satunya, Srikandi,” pungkasnya.


Semua mata tertuju pada Srikandi dan Arjuna.


“Tetapi juga sekaligus menyaksikan sebuah sejarah baru kerajaan Panchala. Karena saya merasa sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai raja. Maka oleh sebab itu, saya mendaulat sang pangeran yang telah memenangkan sayembara untuk menjadi raja di kerajaan Panchala.”


Suara riuh tepuk tangan para tamu kembali membahana. Senyum lebar terpampang dari wajah Yudhistira, ia bangga dengan adiknya yang akhirnya menjadi raja.


Drupada menyuruh Arjuna untuk bersimpuh di hadapannya, lalu ia melepaskan mahkota yang ada di kepalanya, lalu memakaikan pada kepala menantunya itu. “Dengan ini, kunobatkan anakku Arjuna. Untuk meneruskan tanggung jawab sebagai raja sebagai pemimpin di kerajaan ini.”


Arjuna menunduk, memberikan penghormatan kepada Drupada. Setelah mengambil sumpah di hadapan para undangan dan rakyat kerajaan Panchala, pesta pun kembali berlangsung dengan meriah.


Hari ini, koalisi Pandawa bertambah seiring dinobatkannya Arjuna sebagai penguasa tertinggi di Panchala. Kerajaan yang tadinya menjadi koalisi Kurawa itu pun menjadi tambahan kekuatan untuk pasukan Pandawa.

__ADS_1


__ADS_2