Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Wisanggeni


__ADS_3

Tawa dari Elang, Nakula dan Sadewa masih terdengar dari luar bibir hutan Alasjiwo. Ketiga anak muda itu masih merasakan adrenalin luar biasa saat berhadapan dengan makhluk penjaga hutan, Sadewa sendiri masih kesakitan dengan luka yang di bahunya yang didapatnya dari serangan makhluk setengah manusia dan setengah harimau itu.


Sesosok bayangan manusia melesat di atas kepala mereka, dari tubuhnya menyala api yang membara hingga meninggalkan lintasan api di belakangnya. Sosok manusia yang diselimuti api itu masuk ke dalam hutan Alasjiwo.


“Apa itu?” tukas Elang, ia membenarkan posisi duduknya di atas kuda sambil mengendalikan kudanya yang sedikit kaget.


“Entahlah, cepat sekali terbangnya,” sambar Sadewa yang masih memegangi lukanya.


“Ikuti!” Tanpa menunggu persetujuan yang lain, Nakula langsung memacukan kudanya masuk kembali ke dalam hutan Alasjiwo.


Sadewa menggeleng sambil mendengus, kemudian ia memacu kudanya mengejar kembarannya yang sudah di depan. 


Sementara Elang, awalnya ia tidak mau mengikuti kedua kembar itu kembali ke hutan. Perlawanannya terhadap makhluk hutan yang ganas membuat staminanya terkuras. Tapi demi rasa penasarannya pada sosok manusia api yang tadi dilihatnya, akhirnya ia pun ikut memacu kudanya masuk ke dalam hutan.


“Semoga saja itu bukan banaspati!” gumam Elang ketika kudanya hampir menyamai kecepatan kuda Sadewa.


“Semoga saja. Kalau banaspati lagi, aku menyerah.”


Banaspati adalah sosok bangsa jin hasil perkawinan dengan gandarwa. Ia lebih ganas karena mampu merubah dirinya menjadi api.


Mereka bertiga memacu kudanya semakin jauh ke dalam hutan, jejak yang ditinggalkan oleh lelaki bertubuh api itu terlihat jelas dengan adanya bekas bakaran di kayu pepohonan yang ada di sekitar hutan.


GROAAAAAAR!... Suara teriakan kesakitan melengking pilu terdengar jauh di depan mereka, seperti suara makhluk hutan. Beberapa meter di depan, Nakula melambatkan laju kudanya. Ia terpana melihat apa yang terjadi di hadapannya.


Elang dan Sadewa ikut melambatkan laju kudanya kemudian berhenti tepat di tempat Nakula berhenti. 


Di hadapan mereka terlihat jelas, manusia bertubuh api yang melintas tadi sedang melawan siluman hutan Alasjiwo. Dengan sekali putaran saja, tubuh siluman besar itu terbakar hebat. Teriakan kesakitan terdengar pilu di antara tubuhnya yang terbakar.


“Siapa dia, Nakula?” Sambil berusaha menenangkan kudanya, Elang berbisik.


“Wisanggeni? Mau apa dia di sini?”


Wisanggeni sendiri adalah putra Arjuna hasil perkawinannya dari seorang bidadari bernama Batari Dresanala, putri Batara Rama. Ia punya kekuatan api di tubuhnya dan bisa terbang dengan sangat cepat. Elang sendiri melihatnya seperti human torch, salah satu tokoh dalam fantastic four. Hanya bedanya, Wisanggeni punya kekuatan itu karena ia punya keturunan dewa.

__ADS_1


“Entahlah, apa mungkin hanya mau menghabisi para siluman itu?” Sadewa menyambar perkataan Nakula.


“Bukan, sepertinya ia mau bertemu dengan Arjuna,” jawab Elang pelan.


“Bertemu Arjuna?” Nakula dan Sadewa berkata berbarengan.


“Ada perlu apa dia dengan Arjuna?” sambung Nakula lagi.


“Dulu Arjuna pernah membantu para dewa menghabisi musuh yang akan menyerang kayangan. Sebagai hadiah atas jerih payahnya mengusir para pengacau, Batara Rama memberikan putrinya, Batari Dresanala untuk dinikahi.”


“Apa? Batari Dresanala? Bidadari cantik itu?” Sadewa menyela dengan wajah sumringah.


“Lihatlah Sadewa, kalau kamu punya wajah tampan seperti kang mas Arjuna, bidadari juga bisa jatuh cinta!” sambung Nakula, diikuti gelak tawa dari keduanya.


“Tapi, kenapa baru sekarang dia muncul? Kenapa nggak dari dulu?” selidik Sadewa lagi.


“Para dewa sengaja menyembunyikan bayi Wisanggeni, karena mereka punya rencana lain untuk Arjuna. Selama ini, Wisanggeni dirawat oleh Resi Hanoman.”


“Setelah beberapa bulan menikah, Arjuna dipisahkan dari Batari Dresnala. Para dewa punya rencana untuk mempertemukan Arjuna dengan Srikandi, semua itu supaya Srikandi bisa membalas dendamnya pada Resi Bisma.”


“Apa!?” 


“Ah, sudahlah bukan apa-apa. Aku sudah terlalu jauh bercerita, aku takut nanti garis waktu berubah.” Elang turun dari kudanya, lalu menambatkannya tepat di samping kuda Nakula.


Pertarungan Wisanggeni dan para siluman masih berlangsung dengan sengit, tubuh tak berdaya makhluk setengah manusia dan setengah lagi hewan buas itu sudah banyak berjatuhan. Sebagian besar dari mereka tampak gosong karena api yang membakar tubuhnya.


Selang berapa lama, pertarungan antara mereka pun selesai. Api yang menyala di tubuh Wisanggeni padam lalu menunjukkan wajah tampannya. 


“Ckckck… Memang benar, dari wajahnya terlihat kang mas Arjuna sekali.” Sadewa berdecak kagum.


“Iya. Benar, Sadewa. Kalo kaya gini udah gak meragukan lagi garis keturunannya.”


Elang hanya tersenyum melihat pasangan kembar di dekatnya yang terlihat sedang mengagumi ketampanan dari ksatria bertubuh api, Wisanggeni.

__ADS_1


“Salam paman,” kata Wisanggeni memberi salam kepada mereka bertiga. Tanpa ketiganya sadari, ksatria yang sedari tadi menjadi bahan obrolan sudah ada di depan mereka.


“Salam, siapa dirimu ksatria?” Nakula membalas salamnya diikuti dengan Sadewa dan Elang.


“Aku Wisanggeni, datang jauh-jauh dari Alengka. Aku mau bertemu ayahku, Arjuna.”


“Aku Sadewa, dan ini Nakula…”


“Paman Sadewa, Paman Nakula. Sungguh kehormatan bertemu paman di sini,” potongnya sebelum Sadewa menyelesaikan kalimatnya.


“Darimana kau tau kalau kami pamanmu?” Nakula kebingungan.


“Resi Hanoman sering bercerita kepadaku, kalau Ayahku, Arjuna. Adalah salah satu dari kelima Pandawa setelah ayahanda Yudhistira dan Bima. Lalu kedua adiknya yang kembar, Paman Nakula dan Paman Sadewa.


“Ada apa kau mau bertemu dengan kang mas Arjuna?” tanya Sadewa.


Wisanggeni duduk  bersila di atas rumput. “Ibuku, Batari Dresnala sudah tidak ada, Paman. Aku mau memberi kabar ini pada Ayahku, sesuai dengan pesan terakhir dari beliau.”


Elang memilih diam, ia tak mau membocorkan kabar kalau Arjuna sudah menikah lagi dengan Srikandi. Meskipun dalam cerita yang pernah dibacanya, Wisanggeni sendiri tidak murka pada ayahnya. Srikandi sendiri menerima Wisanggeni sebagai putra angkatnya.


“Aku tau, ini berat buat kamu, Ngger. Ta—Tapi…”


“Tapi apa, Paman?” Lagi-lagi kata-kata Nakula dipotong oleh Wisanggeni.


“Tapi, mudah-mudahan ayahmu, kang mas Arjuna bisa menerima berita ini,” sambung Nakula. “Kalau boleh tau, ibumu meninggal kenapa, Ngger?”


“Ibuku sakit keras, Paman. Mungkin menahan rindu karena sudah lama tidak bertemu dengan ayah. Setiap hari ibu selalu memanggil nama ayah, ia sangat berharap bisa bertemu dengan ayah meski sekali saja.” Tanpa sadar, air mata menetes di pipi Wisanggeni.


Semenjak dipisahkan oleh Batara Rama dari Arjuna, Batari Dresnala selalu bersedih, setiap hari ia hanya memikirkan suami yang terpisah jauh darinya. Sebenarnya bisa saja Arjuna terbang ke Kayangan untuk bertemu dengan Batari Dresnala, tetapi usahanya selalu dihalang-halangi oleh Batara Rama yang merupakan salah satu dari Dewa dengan kedudukan tertinggi.


Sadewa menghela nafas panjang. “Baiklah, Ngger. Ayo kita pulang ke Panchala untuk menemui ayahmu.


Elang, Nakula dan Sadewa kembali menaiki kuda mereka dan memacunya keluar hutan Alasjiwo. Sementara Wisanggeni terbang rendah di dekat mereka mengikuti kedua pamannya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2