
Suara erangan kesakitan terdengar sayup menggema dari kejauhan, burung-burung pun berhamburan terbang meninggalkan tempat bertenggernya di atas pepohonan yang rimbun. Asal suara itu adalah dari kedalaman rimbunnya hutan Amarta. Sesosok raksasa kemudian terjatuh menghantam bumi, getarannya terasa sampai beberapa kilometer jauhnya.
Seorang pemuda berwajah tampan mencabut anak panah dari kepala raksasa itu. Dari wajahnya terpancar sinar dan senyum yang menawan. Ia hanya memakai celana hitam dengan juntaian kain berwarna biru keemasan, mahkota di kepalanya menandakan kalau dia bukanlah orang biasa.
Beberapa saat kemudian dua orang pemuda berwajah sama muncul dari balik semak belukar, keduanya memegang pedang di tangan kanan dan kirinya. Mereka kembar identik, meskipun memiliki wajah yang hampir mirip dengan pemuda berbusur panah yang sebelumnya, tapi mereka berdua lebih muda. Keduanya memakai kain berwarna merah darah yang disampirkan dari bahu hingga ke pinggang, celana mereka berwarna kecoklatan dengan sepatu dari kulit kayu, juga memakai mahkota kerajaan yang hampir mirip dengan pemuda berkain biru itu.
“Selalu tepat sasaran, Kang,” kata salah satu dari si kembar yang sedang menyarungkan pedangnya.
“Dik Dewa, mana ada yang bisa mengalahkan bidikan kangmas Arjuna di kerajaan Astina sini?” tukas kembar lainnya kepada adiknya, Sadewa.
“Nakula, Sadewa. Tetap waspada, hutan ini belum aman dari serangan para Raksasa.” Lelaki berwajah tampan bernama Arjuna itu memicingkan matanya tajam, menyapu seluruh penjuru hutan. “Nanti kita bantu kangmas Bima membuka lahan di bagian barat hutan Amarta.”
“A--Apa Kang? bagian barat Amarta? Itu kan…” Nakula tercekat tidak meneruskan kata-katanya.
“Berbatasan dengan kerajaan Pringgandani.” Kata-katanya dilanjutkan oleh saudara kembarnya, Sadewa.
Nakula dan Sadewa yang terlahir kembar memang sering sekali saling melengkapi. Ketika Nakula tidak tahu harus berkata apa, Sadewa yang meneruskannya. Begitupun sebaliknya. Meskipun berbeda ibu dengan ketiga kakaknya, Yudistira, Bima, dan Arjuna, tetapi si kembar ini sudah dianggap seperti saudara kandung sendiri oleh ketiga putra Dewi Kunti. Bahkan mereka berlima dikenal dengan lima saudara Pandawa.
Kerajaan Astina awalnya hanyalah sebuah rimba bagian terdalam dari hutan Amarta. Kelima saudara Pandawa membuka lahan di wilayah itu setelah diusir oleh saudara mereka, Kurawa. Setelah sebelumnya mereka dijebak dan dicurangi dalam permainan judi. Lalu minuman para pandawa diberi obat tidur.
Ketika para Pandawa terlelap, istana mereka pun dibakar maksudnya untuk menghilangkan para Pandawa dari dunia ini dengan dalih kebakaran.
Tapi untungnya ada yang menyelamatkan mereka, hingga akhirnya kelima Pandawa, Dewi Kunti, dan Drupadi, istri dari Yudistira yang hampir saja ditelanjangi oleh Kurawa di depan para tamu saat mengetahui Pandawa kalah. Untungnya, Yudhistira memakai ilmunya untuk membuat kain yang dipakai Drupadi tidak habis-habis. Hingga pihak Kurawa pun menyerah.
Arjuna tersenyum sambil memeriksa beberapa batang anak panah yang ditaruhnya dalam sebuah tas selempang dari kulit kerbau di punggungnya. “Kalian takut?”
“Ah enggak, kami enggak takut kok. Iya gak, Nakula?”
“I--Iya dong. Kami mana takut sama raksasa.”
Kedua kembar itu tertawa sambil berusaha menyembunyikan perasaan takutnya. Dari ketiga kakak-kakaknya, hanya kedua bungsu kembar inilah yang ilmunya tidak tinggi. Ketika Yudhistira, Bima, dan Arjuna melawan bangsa jin tak kasat mata waktu membuka lahan untuk kerajaan Astina, hanya mereka berdua yang kebingungan mencari lawan karena tidak bisa melihat musuh.
__ADS_1
Tapi perlahan demi perlahan, ilmu mereka semakin meningkat. Itupun karena aliran darah mereka dibuka oleh Kresna, raja dari kerajaan Dwarawati, sekaligus penasehat Pandawa yang juga titisan dewa Wisnu.
“GROAAAAAARRRR!!!” Suara auman raksasa terdengar sangat marah dari dalam hutan diiringi suara dentuman keras yang cepat. Pepohonan yang rimbun dan lebat di dalam hutan tercabik dan terlempar ke udara seiring dengan langkah-langkah kaki besar itu. Nakula dan Sadewa langsung melompat bersembunyi di belakang Arjuna.
Seorang lelaki bertubuh gemuk dengan rambut acak-acakan berlari ketakutan, dua meter di belakangnya sesosok raksasa dengan tinggi tiga kali lipat dari lelaki itu mengejarnya. Wajahnya terlihat sagar, dengan mata bulat berwarna merah di bagian bola matanya, giginya besar bertaring keluar, dan tubuhnya telanjang, hanya di bagian ******** ditutup dengan kulit beruang.
“TOLOOOOONG… TOLOOOONG…” Pekiknya dengan wajah ketakutan.
“Siapa orang itu?” Arjuna menatap tajam pada sosok manusia yang berlari dikejar oleh raksasa.
“Sepertinya itu orang.”
“Tapi kok aneh, Sadewa. Pakaiannya tidak seperti kita.”
“Sudah, sudah. Mau pakaiannya sama atau enggak, kita harus menolongnya. Nakula, Sadewa. Kalian bantu orang itu, aku akan mengalihkan perhatian si raksasa.” Setelah menyelesaikan kata-katanya, Arjuna melompat tinggi seperti terbang. Tubuhnya sangat ringan sekali melesat di antara pepohonan, lalu lelaki itu terbang di depan wajah raksasa. Dengan ajian perubah wujud, ia merubah dirinya menjadi lelaki yang sedang dikejar oleh raksasa itu.
Kedua kembar itu langsung menangkap lelaki yang sedari tadi dikejar oleh raksasa, mereka sedikit kesulitan karena orang yang akan ditolong meronta-ronta hingga akhirnya lelaki itu berhasil dijatuhkan dalam keadaan terlentang.
Nakula tertawa geli, “Yang mau makan kamu siapa?”
“Hahaha… Lucu juga orang ini, Nakula.”
Lelaki yang tadi ketakutan itu pun terdiam, ia menatap kedua wajah yang ada di hadapannya. Wajah yang sama seperti melihat dua cermin.
“Nakula, Sadewa?”
“Sebenarnya saya Sadewa, dan ini Nakula,” kata Sadewa membetulkan arah yang ditunjuk oleh manusia berbaju aneh yang baru saja ditolongnya.
“Kamu siapa?” sambung Nakula.
“Saya Elang. Beruntung bisa bertemu kalian di sini.”
__ADS_1
Si kembar menatap kebingungan, lalu melepaskan himpitan mereka yang sedari tadi mengunci tubuh Elang.
Sementara itu, tak jauh dari mereka. Arjuna yang sedang memancing raksasa mengeluarkan sebuah busur berwarna keemasan dari tangan kirinya, lalu dengan cepat tangan kanannya meraih anak panah dari tas yang disampirkan ke punggungnya. Dalam waktu sepersekian detik, dua buah anak panah melesat menembus kedua bola mata raksasa itu.
“GROAAAAAAR…” Suara lengkingan kesakitan terdengar memecah keheningan hutan Amarta, diikuti dengan suara tubuh jatuh berdebam yang menggoyangkan tanah di sekitar hutan hingga beberapa kilometer jauhnya.
Lelaki berwajah tampan itu berjalan mendekati Elang dan kedua saudaranya. Matanya tak lepas mengawasi di sekitarnya, waspada akan serangan makhluk lain selain hewan buas dan raksasa.
Ada empat jenis makhluk yang ada di dalam hutan Amarta ini, selain hewan buas, ada bangsa jin dan juga raksasa. Namun yang lebih parah lagi dari mereka adalah bangsa gandarwa, yang merupakan hasil perkawinan dari bangsa jin dan raksasa. Biasanya mereka lebih buas dan lebih brutal.
“Kamu siapa? Dari mana?” cecar Arjuna pada Elang ketika ia sampai di tempat kedua adiknya dan orang yang tadi dikejar oleh raksasa.
“Saya Elang, saya bukan dari masa ini. Tapi lima ribu tahun perjalanan waktu setelah hari ini.”
Ketiga kakak beradik itu mengernyitkan dahi kebingungan.
“Singkatnya saya dari masa depan.”
Arjuna memicingkan matanya, menatap dalam-dalam mata Elang. Dicobanya untuk melihat apakah lelaki di depannya ini jujur atau tidak. Tapi ia tidak menemukan tanda-tanda kebohongan pada lelaki yang baru saja ditolongnya itu.
“Masa depan?”
“Seperti apa masa depan itu?” sambung Sadewa meneruskan kata-katanya Nakula.
“Seharusnya indah dan juga damai. Tapi, semuanya hancur ketika ada makhluk luar angkasa menyerang.”
Arjuna menggeleng, mencoba mencerna kata-kata Elang yang tidak masuk akal. Dirinya merasa perlu ada tes kejujuran untuknya.
“Nakula, Sadewa. Kita bawa orang ini ke Astina. Tes kejujurannya di hadapan kang Bima.”
“Baik, Kangmas!” seru keduanya dengan kompak.
__ADS_1
Elang sangat senang, karena pendaratannya yang terbilang tidak mulus itu berhasil membawanya ke keluarga Pandawa seperti apa yang diharapkan. Padahal ketika ia datang, yang pertama kali dilihat adalah sesosok raksasa. Alhasil, ia pun dikejar oleh makhluk bertubuh besar itu untuk dijadikan santapannya.