Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Tamu Tak Diduga


__ADS_3

Jaringan komunikasi terputus sejak ledakan terakhir yang meluluh-lantakkan jalan di sekitar Istana. Tubuh Kapten Firman tergeletak tak berdaya di salah satu sudut jalan setelah terlempar beberapa meter dengan tubuh dan wajah berlumuran darah. 


Ledakan barusan rupaya menabuh genderang perang. Jet tempur yang sedari tadi melintas di atas langit Jakarta, langsung menyerbu asal tembakan dari langit. Samar-samar terlihat bentuk benda aneh yang terbang di balik kabut awan. 


Sebuah benda sebesar tiga kali tank tempur baja melayang, moncong senjatanya terlihat sedang mengumpulkan kekuatan untuk menembakkan senjatanya ke bumi.


Tembakan demi tembakan roket yang diluncurkan dari armada tempur angkatan udara, tidak berarti apa-apa bagi pesawat lawan yang sangat besar itu. Bahkan salah satu jet tempur hancur terkena tembakan sinar laser berwarna merah dari lawan.


Taman Situlembang, Beberapa Meter Di Bawah Tanah


“Tidak… Tidak… Maaf Lang, untuk alat yang ini saya gak akan mengizinkan buat dipake!” Profesor Tejo menggebrak meja, menolak ide Elang.


“Tapi, Prof. Ini keadaan darurat. Kita harus menggunakannya,” kata Elang sambil meneguhkan sarannya.


Lelaki berambut panjang yang dipanggil Profesor Tejo itu menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya. “Apa rencana kamu dengan alat itu, Lang?”


“Kita kembali ke saat para astronot itu mendarat, ambil generator planet yang mereka bawa. Lalu kita kembalikan ke makhluk itu.” Sambil mencoret-coret di atas kertas, Elang menjelaskan rencananya dengan gambaran.


“Lalu, kita menjadi buronan pemerintah dan dunia?”


“Buronan?” Tukas Elang kebingungan.


“Ya, bu-ron-an!”


“Kenapa Prof?”


Profesor Tejo menyalakan pemutar video hologram hasil modifikasinya yang diputar dengan gambar 4 dimensi, ia mencari sebuah file, lalu membukanya. Gambar bimasakti muncul dengan garis-garis berwarna-warni.


“Apa itu, Prof?”


“Ini, adalah garis waktu kita.” Lelaki berkacamata itu menunjukkan sebuah garis berwarna hijau. “Garis yang lainnya, adalah garis waktu paralel.”


“Nah, terus apa hubungannya sama alat ini, Prof?”

__ADS_1


“Gini, Lang. Kita bisa saja memakai alat ini untuk ide kamu. Tapi masalahnya adalah, ketika kamu mengacaukan garis waktu pada saat itu…” Profesor Tejo membelokkan garis hijau ke garis berwarna merah. Lalu ia meneruskan kalimatnya, “masa depan dari saat itu juga berubah.”


Elang semakin kebingungan. “Maksudnya Prof?”


“Intinya, masa saat ini yang kita alami juga berubah. Mungkin serangan itu gak akan ada."


"Lalu?"


"Kita juga gak akan ada di sini sekarang, Lang. Bisa jadi pada saat merebut generator itu, kamu sudah mati diberondong ribuan peluru dari para pasukan keamanan!”


Lelaki bertubuh gemuk dengan rambut acak-acakan itu terdiam.


“Atau mungkin, kamu masih hidup. Tapi sebagai buronan karena telah menghilangkan benda yang sangat berharga,” ujar Profesor Tejo sambil menarik sebuah garis berwarna jingga ke garis hijau.


“Itu kalau kita kembali ke masa di mana pesawat itu mendarat dan membawa generator planet makhluk itu. Tapi kalau…” Elang tidak meneruskan  kata-katanya.


“Kalau apa?” Profesor Tejo memotong, ia tahu kalau Elang selalu saja mempunyai ide-ide yang gila namun tanpa pernah terukur.


“Tidak! Tidak akan pernah! Superhero itu tidak pernah ada, Lang.” Sambil membetulkan kacamatanya, Profesor Tejo mematikan proyektor lalu berjalan menuju ruang utama miliknya yang berisi monitor dan juga beberapa alat-alat yang masih belum kelihatan bentuknya.


Elang menghela nafas panjang lalu mengejar Profesor Tejo. Tapi begitu lelaki itu masuk ke ruang tempat sahabatnya itu berada, sebuah alarm penanda penyusup berbunyi.


Wajah kedua lelaki itu terlihat tegang. Dari layar monitor pengintai terlihat seorang lelaki berpakaian tentara sedang mencoba menekan tombol lift.


Insting lelaki yang berada jauh di atas Elang dan Profesor Tejo itu sadar kalau ia sedang diintai, anak mata kanannya menangkap ada senjata yang sudah siap untuk menyerangnya. Untungnya sebelum senjata itu melontarkan peluru untuk merobek tubuhnya, ia berbalik menghadap kamera pengintai.


“Jangan tembak! Saya tidak bersenjata…” Tukas Kapten Firman sedikit tercekat. Ia mengangkat tangan tanda menyerah sebelum melanjutkan kata-katanya, “saya Firman, Kapten kompi pasukan khusus.”


“Apa maksud anda datang kemari?” Suara Profesor Tejo terdengar dari pengeras suara.


“Saya tau tempat ini dari adik saya, Dara. Pasukan saya diserang di sekitar istana negara… Saya kemari untuk…” Belum sempat Kapten Firman meneruskan kata-katanya, ia terjatuh tak sadarkan diri.


“Prof, kita harus tolong dia.” Tanpa menunggu persetujuan dari pemilik tempat, Elang langsung menuju ke permukaan untuk mengangkut tentara yang terkapar di atas.

__ADS_1


Sementara di bawah, Profesor Tejo menyiapkan sebuah meja untuk menaruh tubuh Kapten Firman.


“Sekilas berita. Terjadi ledakan di Jalan Majapahit. Akibat ledakan ini jalan di sekitar Istana Negara, hancur. Begitu juga dengan Istana Negara yang bersebelahan langsung dengan jalan, terlihat hancur beserta taman.”


“Prof, tolong bantu,” ujar Elang ketika pintu lift terbuka.


Begitu tubuh Kapten Firman dibaringkan di meja yang sudah disiapkan oleh Profesor Tejo. Elang langsung mencoba menghubungi Dara, namun hanya suara operator yang didengarnya, “maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jaringan. Silakan coba beberapa saat lagi.”


Beberapa kali Elang mencoba, tapi tetap saja suara operator yang didapatnya. Wajah Elang terlihat sangat tegang saat itu, dalam hatinya cemas akan keadaan Dara. Di tengah kecemasannya itu, Kapten Firman terbatuk, menandakan kalau dia sudah siuman.


“Tahan Kak, jangan langsung bangun!” Dengan cekatan Elang menghampiri Kapten Firman yang berusaha bangun dari tidurnya lalu memberikan sebotol air mineral.


Sementara itu Profesor Tejo sedang mencari sesuatu di lemari hasil penemuannya. Diambilnya sebuah Jeli berwarna biru terang dalam sebuah wadah kaca, lalu dibawanya ke tempat Kapten Firman berada.


“Ka-Kamu Elang?” Sambil menahan kesakitan, Kapten Firman berusaha meyakinkan kalau lelaki yang ada di depannya itu adalah yang dimaksud oleh Dara, adiknya.


“Iya, Kak. Aku Elang, temannya Dara.”


“Lang, minggir sedikit. Saatnya mencoba penemuan saya.” Profesor Tejo kemudian menghampiri Kapten Firman, dengan perlahan dioleskannya jeli berwarna biru terang itu pada kakinya. Tidak butuh waktu lama, krim itu pun langsung bereaksi meregenerasi luka yang menganga pada kakinya.


“AAAAARGHH… Apa yang kau lakukan?” Kapten Firman mengerang sambil menahan sakit, lalu ia kembali pingsan.


Sebuah pemandangan yang sangat ganjil terlihat dari kaki Kapten Firman. Setelah cairan kebiruan itu diteteskan, seketika luka-luka yang tadinya menganga besar merobek kulitnya perlahan menutup. Hingga selang berapa saat menutup sempurna seperti tidak pernah terjadi luka sama sekali pada kaki lelaki itu.


Elang hanya menggeleng pelan melihat pemandangan di hadapannya. Meskipun sedikit khawatir akan kondisi kakaknya Dara, namun ia percaya benda-benda hasil temuan Profesor Tejo tidak pernah gagal. “Apa itu, Prof?”


Wajah Profesor Tejo berseri-seri, bangga akan penemuannya. “Ramuan penyembuh luka dengan cepat. Hahahaha. Campuran dari madu berbagai jenis lebah, ditambah aloe vera dan bahan-bahan lainnya,” ujarnya sambil memberikannya pada Elang.


Lelaki bermata elang itu menerima dan menghirup aromanya, tapi buru-buru ditutup karena baunya sangat tidak sedap. Jeli itu pun ditaruhnya di atas meja.


Semenjak kenal dengan Profesor Tejo, ada saja benda-benda penemuannya yang unik. Biasanya ia membuat penemuanya setelah terinspirasi dari film-film yang dilihatnya.


Alarm tanda penyusup kembali berbunyi, mengejutkan mereka berdua. Alangkah terkejutnya mereka ketika si penyusup ini ternyata sudah lebih dahulu masuk ke dalam lift sebelum Elang dan Profesor Tejo melihat ke arah monitor pengintai.

__ADS_1


__ADS_2