
Sudah tiga hari Elang tinggal di gubuk kecil milik Semar, selama itu juga ia berlatih jurus-jurus bela diri yang diajarkan langsung oleh Petruk ataupun Gareng.
Tubuh Elang sedikit terlihat lebih kurus dari biasanya, karena kedua gurunya itu melatih dirinya dengan keras. Tapi diikuti juga dengan lelucon yang membuat sesi latihan jadi tidak terlalu berat.
Sementara Bagong, ia bertugas untuk menyembuhkan luka dan menghilangkan lelah dengan ilmunya.
Selama tiga hari itu juga Elang belajar banyak gerakan, mulai dari tangan kosong sampai dengan pedang.
“Tinggal di lingkungan istana Astina, kamu harus bisa bersifat seperti ksatria. Berjalan seperti ksatria, dan bertingkah seperti ksatria.” Sambil menuangkan teh panas dari ceret tanah liat, Petruk memperhatikan muridnya yang datang dari jauh itu.
“Gerakan juga mesti seperti ksatria,” sambung Gareng sambil melemparkan sebuah apel dengan cepat ke belakang Elang. Yang disambut dengan putaran tubuhnya, lalu dengan cekatan ia menendang buah itu hingga kembali ke Gareng.
Angin di sekitar Karang Kedempel yang tadinya berhembus sepoi-sepoi, tiba-tiba berhembus sangat kencang. Elang yang sedang berdiri di atas kuda-kudanya terjatuh. Untung saja masih bisa ditangkap oleh Petruk.
Sebuah cahaya berpendar, tiba-tiba membentuk bayang-bayang sesosok manusia. Tak lama kemudian terlihat jelas sosok wajah lelaki berhidung mancung dengan cahaya di belakang kepalanya. Kresna muncul dari pusaran cahaya itu, diikuti dengan hilangnya cahaya dan angin yang berhembus kencang.
Petruk dan Gareng sontak menundukkan kepalanya, tapi tidak dengan Elang. Melihat muridnya masih berdiri tegak, Petruk langsung menyuruhnya untuk ikut menunduk. “Salam tuan Raja Dwarawati,” kata Petruk dan Gareng berbarengan.
“Ah, Kangmas Petruk, Kangmas Gareng. Janganlah berlebihan menyambutku.” Raja Dwarawati itu memegang bahu kedua Punakawan di hadapannya, pandangannya lalu beralih kepada Elang. “Siapa namamu, anak muda?”
Elang menatap ke wajah Kresna, di zaman itu menatap wajah sang raja adalah sebuah kekurang-ajaran yang bisa diganjar dengan hukuman pancung. Tapi tidak dengan Para raja dari keluarga Pandawa, mereka mengizinkan siapa saja, baik orang biasa ataupun golongan ksatria untuk menatap wajahnya.
“Saya Elang, tuan,” jawabnya sambil menunduk.
“Tidak usah menunduk, bagiku kamu adalah bagian dari keluarga Pandawa.” Kresna menepuk bahu Elang.
Sekali lagi Elang menunduk, memberi isyarat rasa terima kasih. Meskipun tanpa kata-kata.
“Eeeeeh, ada angin apa ini? sampai sudi kiranya Tuan Kresna datang ke gubukku yang kecil ini?” sapa Semar yang baru keluar dari gubuknya.
“Salam hormat, Ki Lurah Semar.” Kresna menunduk, menunjukkan rasa hormatnya.
“Ayo, silakan masuk.” Semar mempersilahkan tamunya itu untuk masuk.
__ADS_1
Setelah Kresna masuk ke dalam gubuk milik Semar, Elang kembali meneruskan latihannya. Ia terlihat sangat semangat, meskipun peluh sudah membasahi tubuhnya. Lemak di tubuhnya sedikit demi sedikit terbakar, otot lengannya mulai terlihat.
“Bagus. Baru tiga hari berlatih, tapi kemajuanmu sangat pesat.”
Sebelum hari ini, Elang pernah belajar bela diri ketika masih duduk di bangku sekolah. Beberapa kali ia berhasil menyabet gelar juara dalam pertandingan yang digelar. Tapi semangat untuk meneruskan latihannya hilang, seiring dengan kabar buruk yang menimpa kedua orang tuanya.
Akibat jarang menggerakkan tubuhnya, lemak pun mulai menimbun otot-otot dalam tubuhnya. Hingga kedatangannya ke zaman ini, Elang kembali melatih otot-otot di tubuhnya.
“Baiklah, hari ini sampai di sini dulu,” kata Petruk sambil memberikan segelas air teh hangat pada Elang. “Sepertinya ada berita penting yang dibawakan oleh tuan Kresna.”
“Makan dan minumlah dulu, istirahatkan tubuhmu.” Gareng menyahut sambil duduk bersandar di teras gubuk.
Elang duduk di sebelah Gareng, sambil menyantap sepotong singkong rebus. Makanan itu menjadi favorit buatnya selama tinggal bersama para Punakawan. Semar memiliki kebun yang luas, salah satu yang ditanamnya adalah singkong. Rasanya yang manis membuat singkongnya jadi spesial.
“Setahuku singkong rasanya tidak ada yang semanis ini, Kangmas Gareng. Ini singkong apa?” selidik Elang sambil memotong singkong di tangannya menjadi bagian kecil.
“Kalo kata ki Semar, ini singkong khusus yang didatangkan langsung dari Kayangan. Tak ada satupun yang rasanya seenak ini di bumi.”
“Pantas saja rasanya manis, dan enak.”
“Hey, bangun. Ayo ikut!” Suara itu terdengar sayup-sayup, antara ada dan tiada dalam kegelapan.
“Anak masa depan, ayo bangun!” ujar suara yang satunya yang masih sayup, tapi kali ini tubuh Elang terasa seperti diguncang.
Elang memicingkan matanya, berusaha untuk beradaptasi dengan cahaya. Di depannya sudah ada kedua gurunya beserta Gareng dan Bagong. Kelihatannya ada hal yang ingin disampaikan oleh mereka.
Bagong kemudian duduk tepat di belakang Elang. Dengan tenaga kanuragan yang dimilikinya, ia alirkan kekuatan itu di tangannya. Kemudian didorongnya ke punggung Elang sehingga terlihat ada cahaya yang masuk.
“Aaaargh!” pekik Elang sambil menahan energi yang masuk ke dalam tubuhnya. Aliran rasa hangat menyelimuti dari punggung lalu menyebar ke seluruh tubuh. Ada rasa nyaman yang dirasakannya.
“Bagaimana, dia sudah siap?” ujar Petruk yang terlihat sedang membawa pakaian Elang.
Bagong melepaskan tangannya dari punggung Elang, kemudian ia mengangguk.
__ADS_1
“Pakai bajumu, kita akan pergi sekarang.” Petruk memberikan kaos dan sweater hitam milik Elang.
“Pergi? kemana?”
“Sebelah barat hutan Amarta. Para Pandawa akan bertarung melawan para raksasa, kita akan membantunya,” timpal Gareng.
“A--Apa?!” pekik Elang kaget. Ia masih trauma dengan para raksasa sejak pendaratannya beberapa hari lalu dan hampir saja menjadi santapan makhluk besar itu.
“Tidak usah takut, tadi aku memberikan energi perlindungan ke tubuhmu. Kau akan baik-baik saja.
Elang diapit oleh Petruk dan Gareng, di belakangnya Bagong mengikuti. Sementara Semar tetap menunggu di gubuknya.
Perjalanan dari Karang Kempel menuju bagian barat hutan Amarta berlangsung sangat singkat, sama seperti yang dirasakan Elang ketika ke Karang Kedempel waktu itu. Mereka hanya menembus kumpulan kabut untuk kemudian dengan teleportasi, tiba-tiba mereka berempat sudah ada di dalam hutan.
Arjuna yang sedang mengintai musuh dari dalam lebatnya hutan merasakan kehadiran beberapa orang tak jauh dari dirinya, ia menoleh sambil mengarahkan panahnya.
“Sek sek sek, jangan tembak. Ini kami.” Gareng muncul dari balik pohon sambil mengangkat tangannya.
Ksatria berwajah tampan itu menghembuskan nafas lega. “Haduh, Kangmas Gareng. Kalo muncul itu jangan ngagetin. Hampir saja aku lepas anak panah.”
“Yaaa jangan dong, kami sengaja datang kemari atas permintaan dari tuan Kresna melalui ki Semar.” Kali ini Petruk angkat bicara.
Nakula dan Sadewa muncul dari balik semak-semak, ia langsung menghampiri Elang.
“Waaah, tinggal beberapa hari di Karang Kedempel, kurusan sekarang!” ujar Nakula sambil memerhatikan perubahan dalam tubuh Elang.
“Iya, Nakula. Tangannya juga berotot. Pasti nanti Sri Gita bakalan suka.”
Elang cuma terdiam, ia melihat ke arah mereka.
“Psst, Sri Gita kesepian tuh. Katanya kangen sama kamu, Lang,” desis Sadewa lagi.
“Hush. Nakula, Sadewa. Jangan bercanda lagi, sekarang kita bantu kangmas Bima. Sebentar lagi pasti para raksasa itu akan muncul.” Arjuna mencoba menengahi dengan wibawa. “Kamu siap, Lang?”
__ADS_1
“Mudah-mudah siap.” Dengan wajah Ragu, Elang mencoba meyakinkan. Sementara kedua gurunya, Petruk dan Gareng. Terlihat tersenyum bangga pada murid mereka.
“GROOOAAAAARRRRR!!!!” Suara itu muncul dari kejauhan. Bukan satu, tapi banyak. Pertanda perang antara empat Pandawa ditambah Elang dan juga tiga Punakawan akan segera dimulai.