
Kuda putih yang ditunggangi oleh Arjuna sampai di sebuah padang rumput yang hijau, diikuti oleh Elang dan kuda coklatnya. Mereka telah sampai di mulut hutan Bajubarat yang lebat, hampir tak ada sinar matahari yang masuk ke dasar hutan itu karena lebatnya pepohonan di sana.
“Kamu siap, Lang?” tanya Arjuna sambil membetulkan posisi kantung anak panah di punggungnya.
Elang hanya mengangguk pelan, sambil kemudian merapikan tali sepatunya.
Mereka berdua telah turun dari kudanya, karena tak mungkin masuk ke dalam hutan belantara dengan berkuda. Setelah menambatkan kuda di salah satu pohon, Arjuna masuk diikuti Elang di belakangnya.
Suara kicau burung menyambut kedatangan mereka berdua, hutan Bajubarat masih ramah di dekat gerbangnya. Hewan-hewan yang ada di sana pun masih terbilang biasa, karena sesekali mata tajam Elang menangkap gerakan induk kancil sedang bermain dengan anaknya.
“Jangan lengah, kita baru di gerbang hutan. Makin ke dalam akan banyak makhluk buas yang mengintai.” Sambil memperhatikan sekitarnya, Arjuna berkata dengan penuh kesigapan.
“Baiklah, Kang Mas!”
Semakin dalam mereka masuk ke dalam hutan, semakin banyak juga hewan liar yang mereka temukan.
Tanpa disadari, sepasang mata memperhatikan mereka dari balik pepohonan. Mata yang berwarna kuning menyala, dari balik pohon jati.
Arjuna memberi isyarat pada Elang untuk menunduk, sebuah busur berwarna kuning keemasan keluar dari lengan kirinya. Tangan kanannya meraih anak panah dari kantung di punggung Arjuna. Dengan cepat, lelaki berparas tampan itu melesakkan anak panah ke arah si pengintai.
“Aaaarrrr!” Suara auman sekaligus erangan terdengar nyaring. Sontak saja membuat Elang bergidik ngeri.
“Suara apa itu?” selidik Elang.
“Entahlah. Tapi dari suaranya seperti siluman macan kumbang.” Arjuna kemudian berlari menghampiri asal suara itu.
Pemandangan yang dilihat oleh Elang sangatlah di luar dugaannya, seperti apa yang dikatakan oleh Arjuna tadi, itu memang siluman macan kumbang. Sejenis makhluk dengan tubuh macan kumbang yang hitam, namun berdiri dengan dua kaki. Ia sedang kesakitan memegang anak panah yang menancap di bahu kanannya.
__ADS_1
“Siapa dirimu?” tanya Arjuna pada makhluk itu.
“Ah… Namaku Unggara. A—Aku hanya penjaga hutan ini… argggh” Sambil menahan sakit, makhluk itu mencoba menjelaskan. “Aku ditugaskan oleh para dewa untuk menjaga hutan ini dari para manusia yang serakah, manusia yang hanya menginginkan kekuatan semata. Karena menurut para dewa, di dalam hutan ini terdapat sebuah kastil yang menyimpan senjata rahasia yang dibuat mahadewa,” pungkasnya.
“Kastil?” ujar Arjuna.
“Uhuk… Uhuk… I—Iya, kastil. Seorang pertapa menjaganya di dalam kastil itu.” Makhluk bertubuh macan dengan kulit hitam mengkilap itu menghela nafas, kemudian meneruskan kalimatnya, “hanya mereka yang menginginkan senjata itu tapi bukan untuk mencari kekuatan lah yang akan mendapatkannya.”
Arjuna berlutut di hadapan Unggara, ia mengulurkan tangannya untuk meraih anak panah yang menancap di tubuh makhluk itu. “Maafkan aku sudah memanahmu, izinkan aku mencabutnya.”
Unggara hanya mengangguk pelan, wajahnya terlihat sedang menahan sakit.
Dengan tenang, Arjuna memutar sedikit mata panahnya yang menembus bahu Unggara. Lalu dihentakkannya belakang mata panah itu dengan telapak tangannya sehingga mata panah itu keluar melewati tubuh Siluman macan kumbang itu.
“AAAAARRGGGGHHH…!” Suara auman bercampur erangan kembali melengking dengan keras, membuat burung-burung yang bertengger di sekitar hutan Bajubarat berhamburan terbang.
“Te—Terima kasih, kukira kau adalah orang jahat.”
“Ah, tidak. Aku kemari untuk menjalankan misi. Aku Arjuna,” katanya sambil menunduk, lalu menunjuk ke arah Elang yang berdiri di belakangnya. “Ini Elang. Kami dari Astina, diutus oleh dewa Wisnu untuk mengambil senjata para dewa, Kunta Wijaya.”
Unggara duduk bersila. Lutut kaki kirinya dilipat, di atasnya kaki kanannya dengan lutut yang dilipat juga. Ia memejamkan mata sambil mengatur nafasnya.
Elang menatap dengan penuh kebingungan.
“Kukira aku tak punya alasan untuk menghalangi jalanmu. Kalau memang dewa Wisnu yang mengutusmu, semoga engkau mendapatkan apa yang kau cari.” Makhluk bertubuh harimau itu kemudian larut dalam tapanya tanpa menghiraukan darah yang mengucur di bahunya.
Setelah memberikan sembah hormat pada Unggara, Arjuna dan Elang meneruskan perjalanannya ke sisi hutan yang terdalam. Semakin masuk ke dalam, semakin banyak mata yang mengawasi mereka.
__ADS_1
“AAAAAAAUUUUUUUU…” Suara lolongan menggema diikuti gonggongan dari sekelompok serigala yang menyergap langkah mereka.
Arjuna dan Elang memasang kuda-kuda, mereka saling memunggungi. berjaga untuk menghalau serangan yang datang dari kepungan para serigala.
Tiga serigala berlari dari arah Arjuna, mereka ingin menyergap dari depan, kanan, dan kiri. Tapi dengan sigap ia melesakkan tiga anak panah sekaligus, ketiga serigala itu pun langsung jatuh tak berdaya di atas tanah yang tak rata.
Serangan berikutnya datang dari arah Elang, dua serigala ingin menyergapnya dalam waktu bersamaan. Dengan sigap lelaki berambut acak-acakan itu maju ke arah serigala yang ada di sebelah kiri, menyabetkan pedangnya di leher serigala itu ketika sedang melompat untuk menerkam. Awalnya tidak terjadi apa-apa, tapi setelah mendarat dan mencoba mengambil ancang-ancang untuk menyerang Elang kembali, kepalanya terlepas dari tubuhnya.
Serigala kedua mencoba melompat tinggi untuk menyerang, Elang tidak berlari, ia hanya terduduk lalu merebahkan tubuhnya di tanah menghindari serangan sambil mengayunkan pedangnya, menebas serigala berukuran besar yang melompat di atasnya.
Tanpa menunggu lama, hewan buas itu pun terbelah menjadi dua bagian. Isi tubuhnya terburai menjatuhi Elang yang posisinya sedang merebah. Ia bermandikan darah serigala.
“Yucks!” gerutu Elang sambil menyingkirkan bagian-bagian isi tubuh serigala dari badannya, lalu kembali berdiri.
Arjuna hanya tertawa melihat kejadian tingkah Elang. “Satu hal yang perlu kamu catat. Dalam perang, jangan pernah membiarkan lawan berada di atas kita. Itu akibatnya!” kelakar Arjuna yang masih tertawa.
Tanpa disadari, seekor serigala yang paling besar melompat dari belakang Arjuna. Leher jenjangnya menjadi sasaran empuk dari taring-taring besar sang serigala.
“Arjuna, nunduk!” pekik Elang sambil mendorong tubuh ksatria itu ke samping hingga Arjuna terjatuh. Tangannya sigap menghunus pedag dari arah bawah, hingga menusuk rahang bagian bawah. Serigala itu pun mati di tangan Elang.
Masih dengan perasaan kaget, Arjuna bangkit dari jatuhnya. Ia terpana pada apa yang dilihat di hadapannya.
“Satu hal yang perlu dicatat juga, dalam pertarungan jangan pernah lengah, apapun yang terjadi,” balas Elang.
Tawa di wajah Arjuna hilang, berganti dengan rasa takjub dan kagum. Dalam lubuk hati terdalam, ia berterima kasih pada Elang yang sudah menyelamatkan nyawanya.
Mereka melanjutkan perjalanannya, masuk lebih jauh ke dalam hutan. Setelah menemukan sungai, Elang membersihkan dirinya dari bekas darah serigala. Mereka membangun tenda di pinggir sungai, karena malam hampir tiba.
__ADS_1
Dengan kemampuan bertahan hidup yang didapat saat kegiatan ekskul pramuka dulu, ditambah pengetahuan yang didapatnya dari tontonan di situs internet. Elang mencoba mencari ikan dengan menombak, kemudian membakarnya untuk makan malam mereka berdua.