
Nakula dan Sadewa terdiam ketika Elang sedang tertawa setelah mendengar cerita tentang Arjuna yang ternyata suka memasak jika sedang berada di istana. Insting kedua anak kembar ini menangkap adanya ancaman yang mengintai. Diam-diam, Nakula berpura-pura ingin ke belakang kedai untuk buang hajat. Sementara Sadewa berjalan ke arah pasar berpura-pura untuk mencari cemilan yang bisa dimakan.
Elang masih duduk menikmati minuman yang terbuat dari ekstrak akar tanaman yang rasanya seperti sarsaparilla, ia benar-benar menikmati suasana pedesaan yang alami tanpa adanya teknologi.
Sementara itu, dua kembar Pandawa sedang berusaha mengejutkan orang yang mengintai mereka beberapa saat lalu. Diam-diam keduanya menghunuskan pedang, kini posisi mereka tepat berada di pengintai yang bersembunyi di balik pilar batu di tengah alun-alun.
“Jangan bergerak!”
“Tunjukkan siapa dirimu,” desis Nakula dan Sadewa saling bersahutan pedang mereka sama-sama menghunus ke punggung orang yang sedari tadi mengintip dari kejauhan.
Sadewa menusukkan sedikit pedangnya ke punggung orang itu, tidak bermaksud untuk melukai, tapi untuk menakutinya.
Pelan-pelan orang yang sedang ditodong oleh Nakula dan Sadewa berbalik, mimik wajahnya terlihat sangat ketakutan.
“Siapa kau?”
“Sa--Saya Sangga, saya cuma pedagang gerabah, Tuan.” Dengan penuh ketakuta, lelaki itu menjawab pertanyaan Sadewa.
“Kenapa kamu memata-matai kami? Apakah kamu dari pihak Kurawa?” Sadewa ikut menimpali.
Wajah orang itu semakin ketakutan. “ Bu--Bukan, saya cuma disuruh, ampun Tuan,” jawabnya sambil bersimpuh, mengharapkan dua ksatria di hadapannya agar tidak menghukum dirinya.
“Siapa yang menyuruhmu?”
Dalam simpuhnya, lelaki itu menunjuk ke arah kedai minuman tempat Elang berada. Alangkah kagetnya Nakula dan Sadewa ketika melihat ada orang lain yang sedang duduk bersama Elang.
Wajah lelaki yang dilihat oleh mereka banyak lebam seperti habis berkelahi. Orang itu terlihat dengan serius sedang berbincang dengan Elang.
“Ckckck… Dasar, selalu saja mengejutkan,” gerutu Sadewa sambil menyarungkan kembali pedangnya. Lalu berjalan beriringan dengan kakak kembarnya kembali ke kedai.
Elang dan lelaki berwajah lebam itu sedang tertawa ketika Nakula dan Sadewa tepat masuk di pintu kedai.
__ADS_1
“Hihihi, ketemu siapa pengintainya?” ledek lelaki berwajah lebam itu pada kedua saudara kembar.
“Kebiasaan, Kangmas Petruk bisa gak sih kalo muncul yang wajar aja?”
“Kalo wajar, berarti sama aja kaya yang lain dong. Aku kan Petruk, raja jin paling tampan. Munculnya juga mesti luar biasa doong,” jawabnya dengan nyeleneh sambil menyuap sebuah singkong rebus.
“Kamu kenal Kangmas Petruk juga, Lang?” Sadewa duduk di antara Elang dan Petruk, kemudian menenggak minumannya.
“Petruk, satu dari empat punakawan. Dulunya raja jin yang paling tampan. Tapi karena sebuah konflik yang memicu perseteruan dengan Semar. Mereka bertengkar hingga akhirnya seperti ini.” Elang menceritakan apa yang pernah dibacanya di masa depan.
“Hahaha… Pintar sekali anak muda,” puji Petruk sambil mengambil gelas yang dipegang oleh Sadewa. “Yah, habis. Pesan lagi sana, tapi kau yang bayar,” sambungnya sambil menyuruh si bungsu.
“Ada apa gerangan sampai Kangmas Petruk datang kemari?” Nakula melipat tangannya di hadapan Petruk.
Petruk menatap tajam mata Elang, ia mengangguk pelan. “Rupanya apa yang diramalkan oleh Dewa benar adanya. Akan ada anak manusia yang datang kemari datang dari masa yang sangat jauh dari kita.”
Lelaki berwajah lebam itu terdiam ia mengeluarkan sesuatu dari lipatan kain di atas celananya. Selembar daun tembakau dilebarkannya lalu diisi dengan potongan tembakau kering yang sudah dicincang kecil, lalu digulung membentuk lintingan. Kemudian lintingan tersebut dibakar di ujungnya.
“Serius? Sungguh tidak asik masa depan itu ternyata, yah?” Petruk mengepulkan asap dari mulutnya. “Kalau mau silakan saja.”
Elang menggeleng, ia berjanji pada ayah ibunya untuk tidak mencoba rokok. Sadewa kembali sambil membawa dua gelas minuman. Lalu duduk di samping Petruk.
“Ah, aku lupa. Ki lurah Semar menyuruhku kemari untuk mengajak manusia masa depan ini…” Petruk menghentikan kata-katanya, ia menunjuk ke arah Elang. “Siapa namamu anak muda?”
“Elang.”
“Iya, Elang. Ki lurah Semar memintamu untuk datang ke gubuknya di Karang Kedempel. Ada yang beliau ingin sampaikan.”
“Karang Kedempel? Jauhkah dari sini?”
“Kalau berkuda, akan menghabiskan 2 hari perjalanan,” potong Nakula yang sedari tadi menyimak obrolan antara Petruk dan Elang.
__ADS_1
“Kapan, aku harus kesana?”
“Sekarang juga. Ada banyak yang ingin disampaikan oleh ki lurah.”
“Kami juga ikut, Kangmas Petruk?”
Petruk menggeleng pelan, dihirupnya minuman yang tadi dibawa oleh Sadewa. “Ki lurah Semar hanya mau berbincang dengannya.”
Nakula dan Sadewa terdiam, mereka mendapat titah langsung dari Yudhistira untuk menemani Elang.
“Gak usah bingung, Nakula, Sadewa. Aku yakin kangmas kalian, Yudhistira. Akan mengerti keadaan ini. Aku akan membawa anak ini ke Karang Kedempel.”
Kedua saudara kembar itu hanya bisa pasrah dengan permintaan Petruk. Bagaimanapun juga ia adalah salah satu dari Punakawan, empat orang yang paling disegani oleh Pandawa, maupun Kurawa.
Punakawan sejatinya bukanlah manusia biasa, mereka tadinya adalah bangsa dewa dan jin yang diutus ke bumi untuk hidup dalam wujud manusia. Banyak raja-raja yang meminta pendapat dan bimbingan dari para punakawan. Bahkan, Kresna yang merupakan titisan dari Dewa Siwa sendiri sering datang untuk meminta petunjuk pada Semar.
Setelah berbincang dengan Nakula dan Sadewa, Petruk memohon diri untuk pergi bersama Elang. Lelaki berwajah lebam itu menunduk, memberi salam pada si kembar bungsu Pandawa.
Elang berjalan di belakang Petruk, ia memperhatikan jari-jari petruk yang selalu menunjuk. Meskipun pakaiannya yang terlihat seperti rakyat jelata, namun kesaktiannya sulit ditandingi ksatria manapun.
Tiba-tiba kabut asap putih menyelimuti mereka berdua, yang dirasakan Elang saat itu hanyalah tubuhnya menjadi sangat ringan.
Setelah kabut menghilang, pandangan di depannya yang tadinya hutan, berubah menjadi sebuah padang rumput luas dengan sebuah rumah gubuk di dekat jurang yang langsung mengarah ke laut. Gubuk itu membelakangi tebing, menghadap langsung padang rumput.
“Nah, kita sudah sampai, Lang,” kata Petruk sambil memanggil kambing peliharaan para Punakawan yang dilepas begitu saja.
Elang menatap kebingungan, ia tak percaya pada apa yang barusan dialaminya. “Kata Nakula, untuk sampai kemari butuh dua hari perjalanan. Kok kita nggak lama?”
Petruk terkekeh sambil memegangi perutnya. “Coba kau pahami lagi anak muda, Nakula bilang dua hari perjalanan memakai kuda. Kalau kita kan, tidak berkuda. Tapi pakai ilmuku.”
Dari dalam gubuk, muncullah tiga orang Punakawan lainnya. Mereka adalah Ki Lurah Semar, Gareng, dan juga Bagong. Mereka tersenyum menyambut kedatangan Elang, seorang anak dari masa depan yang mempunyai misi menyelamatkan zamannya dari kehancuran.
__ADS_1