
Gatotkaca mengendurkan otot tangannya yang sedari mencengkeram leher baju Elang, kemudian ia mendarat setelah keduanya melayang beberapa meter di udara.
Elang menghela dan mengatur nafasnya, ia merasa lega karena pukulan yang dilancarkan Gatotkaca urung dilakukannya.
“Jelaskan padaku, apa yang terjadi dengan Bharatayuda, Paman?”
“Baiklah, tapi tahan dulu emosimu.” Elang masih mengatur nafasnya yang terengah-engah. Sementara Kapten Firman mencoba mencari tahu apa yang terjadi, ia mendekat dengan cara mengendap-endap.
“Semuanya baik-baik saja, Lang?” pekik Kapten Firman yang maju sedikit demi sedikit, melewati tumpukan jasad prajurit Zagustron yang habis ditumpas oleh Gatotkaca.
“Baik-baik saja, Kak,” jawab Elang sambil duduk di pinggir air mancur Bundaran Hotel Indonesia yang tugu monumen selamat datangnya runtuh sebagian. “Duduklah dulu, biar kuceritakan apa yang terjadi,” katanya lagi pada Gatotkaca.
“Oke, Lang. Aku mendekat kesana!” Suara Kapten Firman lagi yang masih berjalan mendekati tempat Elang dan Gatotkaca berada, sambil meyakinkan kalau makhluk Zagustron sudah benar-benar tidak berdaya dengan cara menendang tubuhnya.
“Ceritakanlah, Paman.” Gatotkaca duduk di samping Elang, tapi bukan di sebelahnya.
“Kau ingat, ketika kubilang akan mengajakmu kemari sewaktu kita di Karang Kedempel?”
“Iya, dan tidak terjadi apa-apa, Paman.”
“Itu karena tenaga di gelang waktu milikku belum terisi penuh. Baru ketika perang Bharatayuda bergulir, gelang itu memang belum terisi penuh dengan sempurna, tetapi setidaknya bisa dipakai untuk membawa kita kemari.”
“Lalu, kenapa kita kalah, Paman?”
“Seharusnya tidak kalah, malah Yudhistira, Ayahmu Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Bahkan Srikandi, Setyaki dan juga Kresna masih hidup sampai beberapa tahun setelah Bharatayuda berakhir.”
“Dua orang yang terluka di atas gedung sana bilang padaku kalau aku adalah ksatria yang hilang, sekaligus penyebab musnahnya para Pandawa?” Gatotkaca menunjuk pada salah satu gedung yang ada di jalan Sarinah.
“Paradoks waktu, aku membawamu kemari tepat ketika Karna menyerang tenda kita.”
“Kenapa harus saat itu, Paman? Kenapa tidak menunggu Bharatayuda berakhir, baru kita kemari?”
__ADS_1
Elang menggeleng pelan. “Tidak bisa, karena saat itu adalah waktu yang tepat untuk membawamu kemari. Aku tidak bisa menunggu saat perang berakhir.”
“Tidak bisa? Kenapa tidak bisa, Paman?”
“Karena malam itu adalah akhir dari hidupmu, Gatotkaca.”
“Akhir dari hidupku, Paman?”
“Ya, dulu sewaktu kau lahir, tak ada satupun senjata yang bisa memotong tali pusar milikmu. Aku dan Arjuna yang pergi mengambil senjata Konta sesuai dengan petuah para dewa. Konon senjata ini bisa memutuskannya. Tapi sesaat setelah berhasil mengambil senjata itu, Karna datang dan merebutnya.”
Gatotkaca hanya terdiam mendengar cerita Elang. Kapten Firman yang baru sampai pun ikut duduk mendengarkan ceritanya.
“Sebuah pertarungan antara Arjuna dan Karna terjadi. Tanpa kami sadari, Karna berhasil mengambil senjata Konta, sedangkan aku dan Arjuna hanya berhasil membawa sarungnya. Namun karena saktinya senjata tempaan para dewa itu, akhirnya sarungnya pun bisa untuk memotong tali pusarmu. Tapi konsekuensinya, sarung Konta masuk ke dalam tubuhmu dan bersarang di sana.”
Mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan Elang, Gatotkaca memegang perutnya.
“Konon, tatkala Konta dilepaskan, ia akan melesat mencari sarungnya.” Elang menghela nafas panjang. “Malam itu Karna melepaskan Konta, ia sudah kebingungan untuk melawanmu yang semakin beringas. Sejatinya senjata itu akan ia pergunakan untuk melawan Arjuna, tapi terpaksa dipakainya untuk melenyapkanmu.”
“Ya, senjata itu mencari sarungnya, sekaligus malam itu seharusnya kau gugur. Tapi sebelum itu terjadi, aku menangkapmu dan membawamu kemari. Sejarah berubah, ini yang dinamakan paradoks waktu. Konta kembali kepada Karna, karena sasaran yang dicarinya hilang. Panah itu lalu diarahkan ke Arjuna yang menewaskannya saat itu juga. Tragisnya lagi ketika Kresna marah dan mengeluarkan cakra penghancur miliknya, Karna memanahnya hingga tewas. Cakra yang dikeluarkannya menghantam pasukan Pandawa sehingga hancur seketika.”
Tak ada satu kata pun yang keluar dari Gatotkaca, pandangannya kosong saat itu dan ia hanya bisa menunduk.
“Maafkan aku, semua ini nggak akan terjadi kalau ketika di Karang Kedempel kita berhasil masuk ke zaman ini.”
“Tak apa, Paman. Aku yang seharusnya minta maaf karena sempat marah padamu, Paman.”
Elang menepuk bahu Gatotkaca seraya memberinya ketenangan.
“Setelah aku mati, apa yang terjadi Paman?” selidik Gatotkaca yang kini sudah mulai tenang.
“Tepat setelah panah Konta menghantam tubuhmu, kau langsung melakukan tiwikrama menjadi raksasa sebelum tubuhmu jatuh ke tanah. Kau sempat menghancurkan sebagian besar pasukan Kurawa. Bisa dibilang kematianmu tidak sia-sia, karena pasukan Kurawa pada akhirnya berkurang sangat banyak.”
__ADS_1
“Lalu, bagaimana dengan Ayahku dan saudara-saudaranya yang lain?”
“Mereka selamat hingga Bharatayuda berakhir, Arjuna berhasil membunuh Karna. Ayahmu, Bima berhasil membunuh Dhuryudana dengan menghancurkan kepalanya dengan gada emas besar miliknya. Seluruh ksatria Kurawa berhasil ditumpas, meskipun beberapa ada yang akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Pandawa.”
Dari laboratorium milik Profesor Tejo, Dara menyaksikan ketiga orang lelaki yang tadi ada bersamanya sedang duduk santai di dekat air mancur dan terlibat dalam pembicaraan serius. Gadis manis berjilbab hitam itu hanya tersenyum, setelah beberapa saat lalu ia ketakutan karena Gatotkaca sempat mengancam Elang.
Profesor Tejo yang berada tak jauh dari Dara, menatap ke salah satu monitor lainnya yang menunjukkan gambar lansekap kota Jakarta dari sebuah gedung pencakar langit. “Dara, lihatlah.” Lelaki berambut panjang seperti pemain band metal itu menunjuk pada sebuah cahaya di balik putihnya gumpalan awan. “Mudah-mudahan dugaan saya salah.”
“Apa itu, Prof?”
“Pesawat angkasa luar itu bukan hanya satu, adalagi. Sepertinya mereka menembakkan lagi senjatanya…”
Belum sempat Profesor Tejo menyelesaikan kalimatnya, suara ledakan terdengar menggelegar. Kali ini asalnya tak jauh dari tempat Elang, Gatotkaca dan Kapten Firman berada. Kawasan pusat perbelanjaan Tanah Abang luluh lantak.
Ketiga lelaki yang sedari tadi sedang duduk di pinggir kolam air mancur Bundaran HI sontak kaget, mereka menatap kepulan asap hitam yang membumbung di angkasa. Tanah Abang jaraknya tak begitu jauh dari tempat mereka berada.
“Kurang ajar, mereka masih ada ternyata!” Elang menggeram marah. “Kak Firman, Kakak bisa memakai baju prajurit besi?”
“Bisa, Lang. Sewaktu unit prajurit besi tiba di Jakarta, aku sempat mencoba memakainya beberapa kali, sebelum akhirnya dihibahkan kepada Angkatan Udara.”
“Bagus. Gatotkaca, kau ingat di mana gedung tempat kau melihat dua orang yang terluka? Antar kami kesana.”
Gatotkaca mengangguk, tanpa menunggu waktu lama lagi, ia langsung menggendong Kapten Firman dan terbang ke atas gedung. Sedangkan Elang mencoba mengikuti dari belakang denga melompat, tetapi tanpa disadarinya, ia malah ikut terbang melayang di belakang mereka.
“Paman, kau bisa terbang sepertiku?”
“Entahlah Gatotkaca, semenjak kembali kemari, aku merasa banyak sekali perubahan dalam diriku. Ini salah satunya.”
Begitu sampai di gedung tempat prajurit besi jatuh dan bersembunyi, Kapten Firman langsung menghampiri dua tentara khusus angkatan udara yang memakai kostum prajurit besi. Ketiganya saling membalas penghormatan militer, sebelum akhirnya Kapten Firman meminjam baju perang mereka.
“Cepat bawa dia ke rumah sakit, aku bersama mereka akan menghajar musuh,” kata Kapten Firman, kemudian bersama Elang dan Gatotkaca terbang melintasi jalan protokol Jakarta menuju lokasi ledakan.
__ADS_1