Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Tipu Daya Para Dewa


__ADS_3

Setelah berhasil membunuh Arimba dan membuat para raksasa pergi. Keempat Pandawa yang dipimpin Bima, langsung merangsek masuk ke dalam istana Pringgandani. Mereka mencari para raksasa yang tersisa, juga mencari keberadaan adik dari sang raja, Arimbi.


Bukan tanpa sebab para dewa menitahkan Bima untuk menyerang kerajaan Pringgandani, selain untuk memperluas kerajaan Astina, juga untuk bisa mempersunting Arimbi sebagai istrinya. Namun satu syaratnya, harus dengan membunuh Arimba yang terkenal sakti dan perkasa.


Lantai istana itu terbuat dari batu pualam yang indah, terlalu berkelas untuk para raksasa yang tinggal di sana. Bahkan Elang melihat sendiri ornament-ornamen senjata yang terpajang di sana, bukan untuk dipakai oleh orang biasa. Ukurannya sangat besar, bahkan tangannya tidak mampu memegang senjata itu.


“Waspada, Lang. Jangan lengah, siapa tau ini jebakan.” Dengan suara yang nyaris berbisik, Sadewa berusaha memperingatkan.


Elang hanya mengangguk pelan.


Meskipun istana sudah terlihat kosong, mereka harus tetap waspada. Karena siapa tau itu adalah jebakan dari para raksasa untuk bisa memangsa para Pandawa.


Antareja berada di depan, ia mengendus keberadaan musuh dengan mengendus bau lewat lidahnya yang bercabang. Bangsa reptil memang mempunyai kelebihan mengendus keberadaan musuh dengan indera penciumannya yang tajam, sama seperti radar yang biasa dipakai dalam dunia modern.


Petruk, Gareng, dan Bagong yang sedari tadi tidak terlihat saat pertarungan, tiba-tiba muncul di pintu depan. Mereka memasang kuda-kuda bersiap untuk melawan para raksasa.


Nakula yang melihat mereka masuk, menggeleng pelan sambil tertawa, “Kang Mas terlambat. Raksasanya udah pada kabur!”


Bagong merenggangkan kuda-kudanya, ia kemudian berjalan ke belakang para Pandawa. Namun tidak dengan Petruk dan Gareng yang malah berdebat soal hal yang tidak jelas.


Setelah menaiki tangga pualam yang cukup tinggi dan curam, Akhirnya mereka tiba di sebuah pintu berukuran besar yang terbuat dari kayu pohon jati. Ukirannya terlihat lumayan bagus namun masih kasar, dan tingginya juga empat kali dari tinggi manusia biasa.


Bima menyuruh yang lainnya untuk mencari tempat bersembunyi, jaga-jaga kalau ada raksasa yang tiba-tiba datang menyerang dari balik pintu ketika ia mendobraknya.


BRAK!... Pintu ditendang oleh Bima, tapi detik berikutnya ksatria bertubuh besar itu tidak melakukan serangan. Tubuhnya berdiri mematung dan pandangannya seolah tak lepas dari apa yang ada di hadapannya.


Seorang wanita berparas sangat cantik berdiri terkejut ketika melihat pintu kamarnya didobrak. Di hadapannya berdiri sesosok raksasa berwajah tampan yang memikat hatinya. Rasa takut yang menyelimuti hatinya sedari tadi ketika kakaknya pamit akan turun duel, sirna seiring dengan hadirnya sosok raksasa berwajah tampan.

__ADS_1


Elang memberanikan diri melihat apa yang terjadi dengan Bima, ia menjulurkan lehernya, mencoba mencari tahu apa yang dilihat oleh ksatria terkuat dari Pandawa itu. Tapi yang ada dirinya juga terpana akan kecantikan Arimbi.


Sekilas Elang tersadar pada cerita yang pernah dibacanya. Tepat pada saat Bima bertemu Arimbi, ada kekuatan para dewa yang membuat keduanya saling jatuh cinta meskipun berbeda. Elang sedikit memundurkan dirinya ke belakang, sementara Antareja dan para Pandawa juga ketiga Punakawan ikut masuk ke dalam kamar bersama Bima.


Elang mengambil kamera dari dalam tasnya, kemudian membidiknya ke arah kamar yang ada di hadapannya. Begitu selesai mengambil gambar, lelaki berambut acak-acakan itu melihatnya melalui layar. Tapi apa yang dilihatnya langsung dengan yang ada di kamera, sangatlah berbeda. Di hadapannya adalah sosok Arimbi yang cantik jelita, namun yang ada di layar adalah sosok raksasa Arimbi dengan hidung bulat, mata besar, ditambah giginya yang bertaring dan berwarna kekuningan.


“Para dewa benar-benar melakukan tipu dayanya,” kata Elang sambil tersenyum. Ia kembali memasukkan kameranya ke dalam tas, lalu bergabung dengan yang lainnya.


Beberapa hari sebelum serangan ke Pringgandani, Kresna yang menjelma sebagai dewa Wisnu mendatangi Arimbi yang sedang ada di dalam kamarnya. Raja Dwarawati itu sengaja memakai perwujudan sang dewa, karena ia membawa kabar dari Kayangan.


“*Selamat malam, ngger,” sapa dewa Wisnu ketika ia muncul tepat di hadapan Arimbi.


“Grr… Si—Siapa kamu?”Arimbi ingin berteriak, tapi suaranya malah tidak keluar.


“Jangan takut, ngger. Aku Wisnu, aku di sini membawakan berita dari Kayangan.”


“Sebentar lagi kamu akan bertemu dengan lelaki yang kelak menjadi suamimu, ngger…” Wisnu menghentikan sejenak kalimatnya. “Tapi lelaki ini bukan dari bangsa raksasa sepertimu,” sambungnya.


“Si—Siapakah lelaki itu tuan Wisnu?”selidik Arimbi. Meskipun ia dari bangsa raksasa, tetapi ia mempunyai kemampuan berbahasa yang baik seperti kakaknya. Ditambah lagi dengan kepintaran yang di atas para raksasa lainnya.


“Dia adalah seorang ksatria dari bangsa manusia.”


A—Apa!? Bangsa manusia?” Arimbi terkejut. “Mana mungkin bangsa manusia bisa menjadi suamiku, Tuan Wisnu?”


“Tak ada yang tak mungkin bagi bangsa dewa, ngger. Kelak lelaki itu akan datang membawa pasukan kecil yang terdiri hanya dengan beberapa saudaranya saja. Dia akan bertempur melawan kakakmu, Arimba. Lalu mendatangimu untuk menjadikan dirimu sebagai istrinya.


“Ta—Tapi, Tuan. Ksatria seperti apa yang mau dengan raksasa jelek seperti aku ini?” Terlihat wajah murung Arimbi, ia kemudian duduk meratapi nasibnya terlahir dengan wajah yang jauh dari kata jelita.

__ADS_1


“Tidak usah takut, ngger. Kedatanganku kemari selain ingin membawa kabar gembira untukmu, juga ingin memberikan ini…” Wisnu meniupkan telapak tangannya tepat di wajah Arimbi, butir-butir halus berkilauan menyelimuti tubuh Arimbi. “Kelak kau akan terlihat menawan di hadapan mereka.”


Arimbi berbalik, ia melihat cermin. Sosok gadis berwajah anggun dengan rambut panjang terurai menutupi payudaranya yang sedari tadi terbuka. Senyumya membentuk seperti bulan sabit, hidungnya sedikit mancung dan bola matanya bulat. Tak ada lagi terlihat sosok raksasa mengerikan dalam dirinya.


“Ca—Cantik sekali. Ta—Tapi Tuan Wisnu, dengan keadaanku yang seperti sekarang ini. Bagaimana kalau kakak dan paman-pamanku melihatku? Pasti aku akan dibunuh dan dijadikan santapan oleh mereka.” Suara Arimbi yang tadi berat pun kini terdengar lebih merdu


Wisnu tersenyum. “Tak perlu takut, ngger. Mereka akan melihatmu seperti sosokmu biasa. Tapi bangsa manusia akan melihatmu seperti yang kau lihat di cermin.”


Gadis raksasa itu berbalik lagi menghadap cermin. Ia masih mencoba mengagumi keindahan dalam dirinya. “Te—Terima kasih, Tu…” katanya sambil berbalik kepada Wisnu, tapi sosok dewa yang sedari tadi ada di sana sudah menghilang*.


Semua yang dikatakan dewa Wisnu beberapa hari yang lalu terbukti. Di hadapan para Pandawa dan juga Punakawan, Arimbi adalah sosok gadis berparas ayu nan jelita. Meskipun Elang sebenarnya tahu seperti apa sosok Arimbi sebenarnya, tapi ia lebih memilih untuk diam dan tidak memberitahukan semuanya. Kalau ia memberitahukan yang sebenarnya, maka garis waktu akan berubah. Ia pun akan gagal menjalankan misinya, pertemuan Bima dan Arimbi adalah cikal bakal lahirnya Gatotkaca.


“Kamu hebat, anak muda,” kata Arjuna sambil menepuk bahu Elang. “Awalnya kukira kamu hanya manusia biasa yang penuh dengan bualan. Tapi ternyata, kau adalah ksatria.”


Elang menundukkan kepala menunjukkan rasa hormatnya.


“Ikutlah pulang bersama kami ke Astina. Kami akan merayakan kemenangan ini, sekaligus menggelar pesta pernikahan kangmas Bima.” 


Bima tersenyum ke arah Elang, ia mengangguk pelan. Ada rona kebahagiaan dalam wajahnya, terlebih setelah bertemu dengan Arimbi.


Dengan menggunakan kuda, mereka pulang menuju Astina. Entah dapat darimana, Petruk membawakan empat kuda tambahan untuk dipakai oleh kedua Punakawan lainnya dan juga Elang. Sementara Arimbi ada di kereta kuda bersama Bima, Arjuna menjadi kusirnya. Nakula dan Sadewa berada di samping kanan dan kiri Elang sambil mengajarinya mengendalikan kuda. Para Punakawan berada di barisan paling belakang.


“Waaah, ada yang udah gak sabar mau ketemu Sri Gita nih, hahahaa.” Sadewa meledek Elang sambil mengendalikan kudanya.


“Pasti Sri Gita senang banget liat kamu datang, Lang. Iya ga, Sadewa?”


Elang hanya terdiam penuh konsentrasi mengendalikan kudanya, ini adalah pengalaman pertama kalinya mebawa kuda. Entah kenapa, ia jadi membayangkan wajah manis Sri Gita. Tapi buru-buru ia tampikkan, saat ini ia sangat rindu pada Dara.

__ADS_1


__ADS_2