
Hari semakin senja, pertempuran pun masih terus berjalan. Sementara Arjuna dan Srikandi masih terus melepaskan anak panah ke tubuh Resi Bisma yang di tubuhnya sudah menancap ribuan anak panah, namun Ksatria sekaligus kakek dari Arjuna itu masih sanggup berdiri dan melawan.
Tak banyak yang bisa dilakukan pihak Kurawa, selain meratapi panglima perangnya yang masih berusaha berdiri. Meskipun ribuan anak panah di tubuh membuatnya menderita.
Elang tertegun melihat pemandangan yang ada di hadapannya itu, selama ini ia hanya membaca dari buku tentang kesaktian Resi Bisma. Hari ini lelaki berambut acak-acakan itu melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri, salah satu kejadian besar dalam perang Bharatayuda.
Nakula dan Sadewa pun tak bisa berbuat banyak, keduanya hanya bisa memandangi kakek mereka yang mulai kesulitan bergerak. Karena ribuan anak panah dari Arjuna dan Srikandi di tubuhnya, mengurangi kelincahannya.
Kini kedua kubu yang berseteru tak ada yang saling melakukan serangan. Mereka tertegun pada kegigihan dan semangat hidup Resi Bisma yang meskipun nyawanya sudah di ujung tanduk, namun masih berusaha untuk bertahan.
Air mata menetes di pipi Yudhistira, meskipun dirinya dikenal sebagai pemimpin yang penuh dengan karisma, namun tak dipungkiri olehnya kalau ia juga masih punya keturunan darah dengan Bisma.
Ingatan Yudhistira kembali ke beberapa tahun lalu, saat ia masih kecil. Waktu itu ia baru mendapat kabar bahwa ia memiliki seorang adik, namun sebuah keanehan terjadi. Ada selubung keras yang menyelimuti si jabang bayi adiknya, selubung itu tidak bisa dihancurkan dengan apapun. Eyang Bisma sendiri yang akhirnya membantu melepaskan selubung keras yang menyelimuti tubuh bayi sang adik.
Awalnya Resi Bisma ingin membawa bayi itu ke tempat pertapanya, namun di tengah perjalanan ada seekor gajah yang mengamuk dan menginjak putra kedua Pandu yang masih bayi sehingga selubungnya hancur. Sang bayi pun akhirnya selamat.
Bisma kembali pulang ke Hastinapura. Karena kuda yang membawanya tewas oleh amukan sang gajah, ksatria itu pun membawa sang gajah yang ternyata utusan para dewa untuk membantu memecah selubung itu. Gajah itu bernama Sena.
“Kuberi nama dirimu, Bratasena,” ucap Resi Bisma sambil mengangkat tubuh bayi Bima yang tiga kali lipat lebih besar dari bayi ukuran normal.
Serangan demi serangan anak panah masih dlepaskan oleh Arjuna dan Srikandi dari atas bukit, tubuh Bisma yang kekar dan kuat mulai tidak sanggup lagi menahan beratnya beban anak panah yang menancap di sekujur tubuhnya. Perlahan-lahan ia mulai terjatuh ke belakang, ribuan anak panah itu rupanya membentuk tempat tidur untuknya. Ia belum mati, hanya saja tak bisa bangkit.
Genderang tanda pertempuran selesai di hari itu ditabuh lebih cepat dari waktu biasanya, keduanya sepakat untuk menyudahi pertempuran beberapa jam sebelum waktu yang ditentukan. Ini dilakukan sebagai penghormatan terhadap Bisma, kakek dari para Pandawa dan Kurawa.
__ADS_1
Sore sudah berganti malam, para petinggi dari Pandawa dan Kurawa berkumpul mengelilingi Resi Bisma yang mengatur nafasnya dengan berat. Mereka memberikan penghormatan pada orang yang paling berpengaruh bagi Pandawa dan juga Kurawa.
Resi Bisma tersenyum melihat para cucunya yang berseteru mengelilinginya. “Arjuna, kemarilah.” Ia memanggil cucu kesayangannya dengan suara parau.
Arjuna mendekat pada Resi Bisma, digenggam tangan kekar kakeknya yang sudah sekarat itu. Tak ada dendam di hati Bisma pada Arjuna, padahal yang membuatnya jadi seperti ini adalah cucu kesayangannya sendiri.
“Kau melakukannya dengan benar, Cucuku. Aku bangga bisa mati di tanganmu.” Bisma berkata dengan nafasnya yang berat.
Arjuna hanya menunduk, air matanya menetes. “Maafkan aku, Eyang.”
Dhuryudana mendekati Bisma dengan membawa air di cawan emas kebanggaan keluarga Kurawa, Pemimpin Hastinapura itu mencoba memberikan minuman namun ditolak oleh Bisma.
“Aku tidak mau minum, aku hanya ingin bantal pahlawan di kepalaku.”
Mendengar permintaan kakeknya, Arjuna berdiri di dekat kepala Bisma. Ia lalu mengeluarkan busur panahnya dan membuat sebuah topangan kepala untuk Bisma dengan ratusan anak panah yang dilesakkan dari busurnya. Sementara yang lainnya, baik dari pihak Pandawa dan Kurawa mengumpulkan perisai dari para pasukan yang gugur di medan laga, lalu ditumpuk di bawah kepala Bisma untuk dijadikan bantalan.
Di sebelah kanan Bisma, dekat dengan Arjuna ada Yudhistira, Bima, Nakula dan Sadewa. Serta ada Kresna, Srikandi, dan juga Elang. Sementara di sebelah kirinya ada Dhuryudana, Dursasana, Sengkuni, juga Karna. Kedua kubu yang saling bertikai itu sepakat untuk tidak saling menyerang satu sama lain, demi menghormati leluhur mereka.
“Siapa kau sebenarnya… Uhuk… Uhuk…” Bisma menunjuk pada Srikandi yang berdiri tak jauh dari Arjuna.
Srikandi maju mendekat, ia berdiri tepat di samping Arjuna. “Aku Srikandi, istri dari Kangmas Arjuna.” Suaranya terdengar lembut bagi semua yang ada di sana, tapi tidak bagi Bisma. Ia seperti mendengar suara malaikat maut yang akan menjemputnya.
“Dia adalah titisan Dewi Amba, yang dulu pernah kau bunuh, Resi.” Kresna menimpali kata-kata Srikandi. “Kini dia kembali untuk membalaskan dendamnya padamu.”
__ADS_1
Bisma tersenyum dengan nafasnya yang berat. “Ah, pantas saja aku seperti melihat Dewi Amba di pertempuran.” Kalimatnya terhenti oleh batuk nya yang mengeluarkan darah, lalu ia melanjutkan lagi kalimatnya, “ya, kurasa inilah saatnya aku harus pergi dari dunia ini.”
Tak ada yang bisa dilakukan oleh para cucu Bisma yang ada di sana, mereka hanya bisa menyaksikan kakek mereka terbaring di atas tempat tidur yang terbuat dari ribuan anak panah di tubuhnya yang menancap menembus tubuh lelaki tua namun bertubuh kekar itu.
“A—Aku punya satu permintaan, dan kuharap kalian bisa mewujudkan permintaan terakhirku ini, Cucuku,” sambungnya lagi dengan suara yang parau.
“Apa itu Resi?” jawab Kresna yang kini juga berdiri di samping Arjuna.
“Suatu ketika aku pernah bersumpah pada diriku sendiri. Di ujung akhir hayatku, aku ingin cucu kesayanganku sendiri yang menghabisi nyawaku.”
Mendengar kata-kata Bisma, Kresna maju mendekati Bisma.
“Bukan kau, Karna. Aku ingin Arjuna sendiri yang menghabisi nyawaku. Meskipun Dewi Amba bersumpah agar aku mati di tangannya, tetapi aku ingin Arjuna yang menghabisiku.” Resi Bisma memungkaskan kalimatnya.
Arjuna menghela nafas panjang, ia mencoba menegarkan hatinya. “Baiklah Eyang, kalau itu permintaan terakhir Eyang. Akan kutuntaskan sumpah Eyang dan Dewi Amba.” Ia kemudian mengajak Srikandi untuk berdiri di sebelah kanan Resi Bisma, sedangkan Arjuna mengitari kepala Bisma untuk berdiri di sebelah kirinya.
Dari atas bantal pahlawannya, Bisma menatap Arjuna dan Srikandi. Ia tersenyum tanpa beban. Kali ini ia paham apa yang dikatakan oleh cucunya, Arjuna tentang menuntaskan sumpahnya dengan sumpah Dewi Amba.
“Lakukanlah Cucuku. Lakukan sekarang juga, jangan ragu lagi.”
Arjuna menatap mata kakek kesayangannya, Bisma. Ia membulatkan tekad untuk mengakhiri penderitaan yang dialami oleh leluhurnya itu. Begitu pula dengan Srikandi yang sudah siap menarik busurnya.
Tanpa dikomando lagi, Arjuna dan Srikandi melepaskan anak panah dari busurnya berbarengan, panah mereka bersarang tepat di kepala Bisma. Seketika juga nyawanya lepas dari tubuhnya, Sumpahnya terbayar sudah. Begitu juga sumpah Dewi Amba yang menjadi kutukan atas umurnya yang panjang.
__ADS_1
Tanah tandus Padang Kurusetra yang berubah menjadi lumpur karena darah dan debu yang bercampur, kini kembali memerah. Darah Resi tua yang dihormati oleh kedua kubu telah tumpah di sana. Sebagai tanda tuntasnya sumpah yang pernah diucap.
Upacara pembakaran jenazah pun dilakukan dengan singkat, tanpa menuggu waktu lama. Setelah abu dari Resi Bisma dikumpulkan dan diberi penghormatan terakhir kali oleh para cucunya, mereka kembali ke tenda masing-masing dan sepakat untuk melakukan gencatan senjata selama tiga hari ke depan.