
Elang buru-buru mengambil tempat bersembunyi di balik kereta kuda milik Bima, beban di tas punggungnya memperlambat kelincahan lelaki berambut acak-acakan itu. “Aaah, tau bakalan kaya gini, tas ditinggal aja di tenda tadi!” gerutunya sambil berusaha menghindari serangan Wresasena. Sementara Bima hanya bisa tersenyum dan membiarkan kedua kudanya menarik kereta hingga ke garis pertahanan belakang.
Gatotkaca langsung meluncur menjadi tameng untuk melindungi kedua pamannya, Nakula dan Sadewa. Tubuhnya yang kebal dengan serangan berbagai jenis senjata itu menangkis semua serangan yang dilancarkan oleh Wresasena. Ia membiarkan kedua pamannya sampai di garis pertahanan menyusul Elang.
Dari atas bukit, Arjuna yang melihat kebrutalan lawannya langsung mengambil inisiatif untuk menambahkan pisau tajam di ujung mata panahnya. Dengan ketenangan yang dimilikinya, ia melepaskan satu anak panah ke arah Wresasena dan mengenai siku kirinya. Sebentar kemudian lengan lengan sebelah kirinya jatuh ke tanah.
Ksatria yang masih keturunan Karna itu mengerang kesakitan, erangannya diikuti dengan debuman keras di tanah ketika kakinya dihantamkan ke tanah berkali-kali sehingga menimbulkan guncangan yang membuat para prajurit baik dari Kurawa ataupun Pandawa terjatuh.
Dengan sisa tangan kanannya, Wresasena melemparkan tombak ke arah Arjuna yang hampir saja merenggut nyawa Putra ketiga Pandawa itu kalau saja ia tidak cepat menghindar. Hanya saja lengan kanan Arjuna terluka oleh tombak yang dilemparkan tadi.
Pertempuran masih tersisa setengah jam lagi sebelum genderang tanda perang dihentikan berbunyi, melihat amarah lawannya dan hari yang semakin senja. Gatotkaca menyuruh pasukannya untuk mundur sedikit demi sedikit, ia mempunyai strategi lain yang bisa dipakai untuk melawan Wresasena.
“Paman Arjuna yakin masih bisa memanah dengan keadaan seperti itu?” tanya Gatotkaca setelah ia menyuruh pasukannya untuk membuat formasi pertahanan.
“Tenang, Ngger. Aku masih bisa. Yang terpenting kau buka saja ruang bidik untukku.”
“Sudah Paman. Seluruh pasukan sudah kuperintahkan untuk mundur sedikit demi sedikit dan membuat formasi pertahanan.”
“Bagus, Ngger. Sekarang giliranku untuk menghabisinya.” Arjuna menatap istrinya yang selalu ada di sisinya semenjak hari pertama Bharatayuda bergulir. Tanpa menunggu waktu lama, Srikandi menyiapkan panah bermata pisau yang sebelumnya dipakai untuk memotong lengan kiri Wresasena.
Ksatria Pringgandani itu kembali terbang, ia mengecek kondisi di garis pertahanan tempat di mana Elang, Nakula dan Sadewa berada.
“Paman, kalian tidak apa-apa?”
__ADS_1
“Kami baik-baik saja, Ngger. Tak kusangka Wresasena lebih berbahaya daripada ketiga saudaranya.” Nakula memegangi lengannya yang terluka sehabis melawan Satyasena.
“Baiklah Paman, sebaiknya rawat dulu luka Paman.” Gatotkaca kemudian melihat ke arah Elang. “Kau juga Paman, lukamu lumayan parah.”
Elang mengangguk perlahan sambil memegangi lengannya yang masih mengucurkan darah segar.
Dari atas bukit, Arjuna terus melancarkan serangan panahnya ke arah Wresasena. Tepat panah ke sepuluh, anak panah bermata pisau miliknya menghantam batang leher dari Putra Karna sehingga mengakibatkan kepalanya terpisah dari tubuhnya.
Tepat ketika tubuh Wresasena menghantam bumi, genderang tanda perang berakhir di hari itu ditabuh. Seluruh prajurit yang bertempur langsung membubarkan diri, kembali pada pasukannya masing-masing.
Tetapi masih ada yang masih belum kembali, ketika Padang Kurusetra yang seharian tadi penuh dengan pertumpahan darah dan kini sepi, Karna masih berdiri memandangi jasad kelima putranya yang tewas dalam pertempuran siang tadi. Api amarah membakar hatinya, ia kembali ke tenda tempat pasukan Kurawa berada dengan teriakan lantang yang sangat mengintimidasi.
“PASUKAN… AYO BANGKIT SEMUANYA. KITA SERANG PANDAWA SEKARANG JUGA!” pekiknya pada seluruh pasukan. Hal ini membuat Dorna yang menjadi panglima perang saat itu menggantikan Resi Bisma keluar dari tendanya.
“Mereka membunuh kelima putraku, Kangmas. Aku akan membalas dendam pada ******** Pandawa itu.” Setengah berteriak, Karna menjawab pertanyaan dari Dorna sembari menunjuk pada tenda pasukan Pandawa.
Dengan penuh emosi, Karna memimpin sendiri pasukan Kurawa yang baru saja akan beristirahat. Ia tidak lagi menghormati perjanjian perang, di mana saat matahari mulai terbenam, pertanda pertempuran selesai untuk hari itu.
Derap langkah kuda dan langkah kaki ratusan prajurit Kurawa memecah keheningan malam di Padang Kurusetra, sebentar saja tenda pasukan Pandawa telah diserbu oleh amukan Karna beserta pasukan yang dibawanya.
Prajurit Pandawa yang sedang beristirahat terkejut begitu menyadari mereka diserang saat jam gencatan senjata, tak ayal banyak prajurit yang meregang nyawa saat itu juga karena terkena sabetan senjata lawan.
Elang yang sedang menikmati hidangan bersama petinggi Pandawa langsung melompat menyambar barang-barang miliknya. Ia segera keluar mengikuti yang lainnya. Pemandangan yang dilihat di depannya sangatlah mengejutkan. Para prajurit Pandawa yang sedang lengah menjadi bulan-bulanan sepasukan prajurit Kurawa yang sudah dalam kondisi siap berperang.
__ADS_1
Gatotkaca yang merasa bertanggung jawab atas pasukannya langsung terbang secepat kilat dan menghantam para prajurit Kurawa. sekejap mata saja banyak tubuh dari mereka yang tergeletak tak bernyawa karena serangan cepat darinya. Kali ini ia lebih beringas, tidak seperti siang hari yang hanya memantau dan melawan sesekali. Gatotkaca tak lagi memandang lawannya kuat atau lemah, yang dia tahu kali ini harus melindungi pasukannya.
Melihat ganasnya perlawanan Gatotkaca, membuat Karna mengendurkan serangan dan berangsur mundur bersama pasukannya yang masih tersisa.
Arjuna sendiri sudah mulai melepaskan panahnya ke udara. Dari satu anak panah yang dilesakkan, akan terpecah menjadi dua bagian. Begitu juga anak panah yang sudah terpecah itu ajan menjadi dua bagian masing-masingnya sehingga menimbulkan fenomena hujan anak panah. Tak sedikit prajurit Kurawa yang tewas terkena hantaman hujan panah itu.
Begitu sampai di tenda Kurawa, Karna masih melihat sosok Gatotkaca mengejarnya dan pasukan Kurawa yang dibawanya. Ksatria Kurawa itu menggelengkan kepala, berbagai anak panah miliknya yang dilesakkan ke arah Gatotkaca tak ada satupun yang berhasil merobek ksatria dari Pringgandani itu.
Ledakan demi ledakan terlihat mewarnai kelamnya malam di sekitar Padang Kurusetra. Para petinggi Kurawa yang tidak ikut terlibat pada serangan yang dilancarkan oleh Karna, mau tidak mau sekarang ikut terlibat akibat dari ulahnya.
Gatotkaca terbang rendah, lalu menghancurkan beberapa kereta kuda milik Kurawa. Bukan hanya itu, tenda-tenda yang ada di sana juga dihancurkannya. Sehingga membuat kesal Karna yang akhirnya melihat satu senjata yang sejatinya akan dipakai untuk melawan Arjuna, Kunta Wijaya.
“Mungkin ini saatnya kupakai senjata ini untuk menghentikan Gatotkaca!” gumamnya tatkala Kunta Wijaya sudah dalam genggaman tangan, lalu dihempaskan lewat busur panah miliknya ke arah Gatotkaca.
Dengan cepat Gatotkaca menghindari panah Konta yang dilepaskan oleh Karna, namun tak berapa lama kemudian panah itu kembali mengejarnya. Sehingga Gatotkaca harus terbang dengan cepat untuk menghindarinya.
Dari arah tenda pasukan Pandawa, Elang memicingkan mata. Ia melihat Gatotkaca yang kewalahan menghindari senjata yang mengejarnya. Tanpa menunggu waktu lama, Elang mengencangkan tas di punggungnya, kemudian ia memasang gelang waktu di lengan kanannya.
“Apa boleh buat, aku harus melakukan ini sekarang.” Elang berlari menaiki kereta kuda milik Setyaki yang tak jauh darinya, lalu memacunya hingga ke tengah Padang Kurusetra. Pandangannya tak lepas memerhatikan arah terbang Gatotkaca yang berkali-kali melakukan manuver terbang untuk menghindari kejaran panah Kunta. ‘GATOTKACA… KEMARI!”.
Mendengar teriakan Elang, Gatotkaca yang sedianya akan terbang lebih tinggi untuk menghindari kejaran panah Kunta mengurungkan niatnya dan menukik tajam menghampiri Elang. Dirinya tak tahu apa yang sebenarnya direncanakan oleh Elang sehingga ia begitu nekat maju sendirian ke tengah medan pertempuran.
Elang terus menunggu Gatotkaca mendekatinya, sementara panah Kunta yang mengejarpun semakin dekat. Begitu posisi ksatria sekaligus raja dari Pringgandani itu sejajar dengan dirinya, Elang melompat menangkap tubuh Gatotkaca sambil menekan tombol gelang waktu yang ada di tangannya secara bersamaan.
__ADS_1