Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Masa Lalu Petruk Dan Gareng


__ADS_3

Setelah pesta kemenangan atas tanah Pringgandani dan juga pernikahan Bima, Elang lebih sering menghabiskan waktunya di istana Astina. Setiap pagi ia ikut latihan bertarung seperti para prajurit lain, meskipun tak jarang Petruk dan Gareng yang melatihnya secara pribadi.


Pertarungan terakhir melawan raksasa beberapa hari yang lalu, membuat lelaki berambut acak-acakan itu sadar kalau dirinya butuh banyak berlatih bela diri lagi. Petruk sendiri memberikan pedang pemberiannya waktu itu sebagai senjata yang harus Elang pakai pada saat keadaan perang.


Suara kicau burung bersahut-sahutan mengiringi perginya pagi menuju siang, Elang sedang duduk santai bersama kedua gurunya di gazebo taman istana Astina. Lemak di tubuhnya semakin hari berubah menjadi otot yang membuat tubuhnya terlihat lebih berlekuk.


“Hoaaaam… Sejuk sekali udaranya Guru!” Elang merenggangkan lengannya sambil tiduran di alas gazebo yang terbuat dari bambu. Dilemaskannya otot-otot lengannya yang kaku. “Di tempatku jarang sekali bisa dapet udara sesejuk ini.”


“Memangnya di tempatmu seperti apa?” Petruk bertanya sambil meniup ubi rebus yang baru saja dibawakan oleh Sri Gita.


“Tempatku itu sudah jarang pohon, Guru. Isinya gedung-gedung bertingkat dari beton semua.”


“Beton? Apa itu?” Gareng ikut penasaran.


“Hmm… gimana jelasinnya yah? Beton itu seperti semacam campuran tanah dan pasir yang diberi air juga batu. Seperti tembok batu gitu, Guru.”


Elang bangkit dari tidurnya, diambilnya tablet dari dalam tas lalu membuka sebuah foto bergambar lansekap gedung bertingkat. Dalam foto itu ada Dara sedang tersenyum manis.


“Seperti ini, Guru.”


Petruk dan Gareng terpana melihat foto yang ditunjukkan Elang, fotografi memang menjadi keahlian dari lelaki yang datang dari masa depan itu. Dipandanginya lansekap gambar pemandangan kota dari atas gedung itu, sampai akhirnya mata kedua guru itu tertuju pada satu objek bernama Dara.


“Manis, ayu tenan!” gumam Petruk sambil menggelengkan kepala.


“Oalaah, ini perempuan pasti suka sama aku,” ujar Gareng tidak mau kalah.


“Apa sama kamu? Lebih ganteng aku kemana-mana, pasti dia mau sama aku.”


“Sama aku, toh. Kalo gak percaya, kita berkelahi aja!” Gareng mulai geram.


Petruk berdiri menggulung lengan bajunya. “Siapa takut? Ayo kelahi!”


Melihat kedua gurunya sudah mulai ingin berkelahi, Elang pun berdiri menengahi mereka. Diambilnya tablet miliknya yang jadi rebutan Petruk dan Gareng. “Hush! Hush! Hush… Ini apa-apaan sih pada ribut melulu? Yang akur dong, Guru.”

__ADS_1


Keduanya akhirnya tenang, lalu kembali duduk.


“Nah, gitu kan enak lihatnya.” Elang juga ikut duduk kembali. Ia menuangkan air teh jahe yang sedari tadi tersaji. Dituangkannya secangkir demi secangkir lalu diberikan kepada Petruk dan Gareng.


“Di foto itu tadi siapa, Ngger?” selidik Petruk yang masih penasaran pada gambar perempuan di sana.


Elang melihat layar tabletnya, dengan menggunakan ibu jari dan telunjuknya, gambar itu diperbesar tepat di gambar Dara yang sedang memakai jersey timnas Indonesia dan jilbab hitam. Foto itu diambil sepulang mereka menonton pertandingan sepakbola di Gelora Bung Karno. Kebetulan malam itu Elang mendapatkan hadiah makan malam romantis di sky dinning sebuah perkantoran di bilangan Jakarta Pusat.


“Namanya Dara, dia adalah teman…” Elang menghela nafas panjang lalu melanjutkan kalimatnya, “sebenarnya teman sangat dekat.”


“Kenapa tidak kamu ajak kemari?”


“Masalahnya bukan begitu, Guru Petruk. Mesin waktu milik Profesor Tejo…”


“Mesin Waktu?” potong Gareng.


“Ma—Maksudku kendaraan yang membawa aku kemari, hanya cukup untuk dua orang. Satu orang saya, dan satu orang lagi Gatotkaca.”


“Sek sek sek… Gatotkaca? Siapa itu, Ngger?”


“Gatotkaca itu adalah anak dari… Ya ampun, hari ini sudah hari keberapa setelah pernikahan Bima?” Elang tiba-tiba terkejut mengingat kisah tentang lahirnya Gatotkaca.


“Hari keempat. Memang kenapa, Ngger?” Petruk mencoba menghitung sambil menjawab pertanyaan Elang.


“Lima hari lagi… Lima hari lagi!” Pekik Elang.


Gareng memegang kening Elang dengan punggung tangannya, mencoba mencari tahu ada apa dengan muridnya itu. “Kamu kenapa toh, Ngger?”


“Guru, lima hari lagi anak dari Bima dan Arimbi lahir. Seorang lelaki dan dia akan terlilit oleh tali pusarnya. Anak itu kelak akan diberi nama…” Belum sempat Elang meneruskan kata-katanya, Gareng memotongnya.


“Mustahil. Di mana-mana yang namanya lahiran itu pasti 9 bulan 10 hari, Ngger. Mana bisa cuma 9 hari?”


“Bisa Guru. Kelahirannya ini memang kehendak para dewa untuk menjadi senjata melawan bangsa Gandarwa yang ingin menggoyah singgasana kerajaan Kayangan.”

__ADS_1


Mendengar cerita itu, Petruk bangkit dari duduknya. “Siapa yang akan menyerang Kayangan?”


“Pasukan Gandarwa dan jin banaspati dari kerajaan Gilingwesi!”


Petruk kembali duduk, Gareng terkejut mendengar kata-kata yang barusan dilontarkan oleh Elang. Gilingwesi adalah kerajaan bangsa jin banaspati yang sangat ganas dan juga Gandarwa, hasil persilangan antara jin dan bangsa raksasa. Kerajaan itu berada sangat jauh di ujung negeri. 


Berbeda dengan kerajaan Astina yang mempunyai empat musim, Gilingwesi merupakan tanah buangan yang mempunyai dua musim paling ekstrim. Jika musim dingin, suhunya sangat menusuk tulang. Sedangkan musim panas, suhunya sangat membakar tubuh. Sehingga tak ada satupun manusia biasa yang mampu bertahan hidup di sana.


“Ngger, dulu kami adalah rakyat dari kerajaan Gilingwesi. Semar sempat menjadi raja, tapi kujatuhkan dengan kesaktianku. Sejak saat itu kami bertarung habis-habisan, sampai akhirnya Dewa Wisnu menjadikan kami seperti sekarang ini.”


“Ternyata, dendam di Gilingwesi kepada kerajaan Kayangan belum berakhir.”


Elang mengusap punggung kedua gurunya. “Sudahlah guru, masa lalu guru mungkin ada di sana. Tapi sekarang, saatnya guru membantu Pandawa dan melupakan Gilingwesi.”


Murid dan kedua gurunya kemudian tertawa, mereka menikmati hidangan singkong dan ubi rebus yang sudah tersaji. Banyak sekali cerita yang tertuang di hari itu. Sampai tak sadar hari sudah menjelang malam.


Elang baru akan memejamkan matanya ketika tiba-tiba pintu kamarnya dibuka.


“Siapa di sana?” ujar Elang sambil mengeluarkan pedangnya.


“Ma—Maaf mengganggu tuan…” suara lembut terdengar, tak lama si pemilik suara itu muncul. Itu adalah Sri Gita. 


“Ah, kamu. Kukira siapa.”


“Boleh saya duduk di samping Tuan?”


Elang mengangguk pelan, dengan pelan juga ia berkata, “jangan panggil saya Tuan. Panggil nama saja.”


“Ba—baiklah Tu, eh Elang.” Sri Gita duduk di samping Elang, kemudian ia memijati punggung lelaki bertubuh sedikit kekar di hadapannya.


“Mmmh…” Pijatan dari tangan lembut Gita membuat Elang merasa sangat nyaman. Matanya terpejam. Tak berapa lama, pijatan tangan Gita berubah menjadi tekanan benda bulat dan halus yang menggelitik punggungnya. Sementara tangan halus gita masih ada di bahu Elang.


Malam semakin larut, udara semakin dingin. Ditingkahi suara jangkrik dan cahaya dari lidah api lampu tempel di kamar, Elang berbalik menghadap Gita. Kain yang dipakai gadis itu sudah tersingkap turun, menunjukkan bentuk payudaranya yang bulat dan indah.

__ADS_1


Bibir mereka beradu, kini bukan hanya Sri Gita yang memijat, tapi tangan Elang ikutan memijat tubuh gadis di hadapannya.


Malam itu keduanya larut ke dalam gairah, lampu tempel, tirai, dan kain yang terlepas dari tubuh mereka menjadi saksi bisu percumbuan antara dua insan yang berasal dari dua zaman yang jauh berbeda. 


__ADS_2