
Beberapa hari setelah pesta pernikahan sekaligus penobatan Arjuna sebagai raja, Elang kembali ke Karang Kedempel untuk menemani Gatotkaca menjalani latihan tata krama sebagai manusia. Sekaligus berlatih bela diri bersama Gareng dan Petruk.
Kondisi Panchala sendiri selama beberapa hari dipimpin oleh Arjuna berangsur membaik dari segi ekonomi dan kesejahteraan rakyat, karena apa yang pernah dipelajari dari kakaknya, Yudhistira. Dipakai saat Arjuna memimpin Panchala.
Namun di sisi lain, kehilangan Panchala sebagai salah satu koalisi merupakan pukulan telak bagi Kurawa yang dipimpin oleh Prabu Duryudana, pemimpin kerajaan Hastinapura.
BRAK!!!
Lengan besar Duryudana menggebrak meja yang ada di depannya, semua kepala negara pendukung Kurawa yang dikumpulkan olehnya menunduk. Mereka tak berani menentang padanya.
“Bajingan! Berani sekali si tua Drupada mengkhianatiku!” ujar Duryudana geram.
Selama ini tak ada satupun para raja di ruangan itu yang berani menentang Duryudana, terlebih lagi mengkhianatinya. Sebab siapapun yang melawan akan berhadapan dengan langsung dengan Kurawa dan juga Resi Bisma yang sangat sakti dan ditakuti.
“Sabar, Ngger. Untuk menghadapi masalah ini, kita butuh rencana.” Sengkuni berkata dengan sangat tenang sambil melangkah masuk pendopo kerajaan Hastinapura. Wajahnya sedikit meringis menahan sakit yang diderita karena digigit ular ketika sayembara di Panchala.
“Rencana seperti apa, Paman?”
Sengkuni dengan perlahan duduk di kursi besar yang diukir dari emas, jok dan sandarannya dilapisi dengan kulit kerbau yang diisi tumpukan bulu domba agar empuk dan nyaman saat diduduki. “Arrgh… Kakiku!” erangnya sambil berusaha duduk dengan nyaman. “Kalau saja tak ada manusia ular itu, pasti Panchala menjadi milik kita.” Dengan geram ia melanjutkan kata-katanya.
“Manusia ular, Paman? Ma—Maksudmu, Antareja?”
“Ya, siapa lagi kalau bukan cucu dari Antaboga,” dengus Sengkuni kesal.
“Lalu, apa rencana paman?”
“Kita akan buat para Antareja dan para Pandawa itu berselisih.”
“Caranya, Paman?”
__ADS_1
“Culik dan bunuh salah seorang abdi kerajaan Astina, bunuh dia. Buat kematiannya seperti digigit ular, lalu tinggalkan mayatnya dan buat pancingan supaya orang berkumpul menyaksikan mayatnya. Dengan begitu semua orang di Astina dan para Pandawa akan menyalahkan Antareja.” Senyuman licik terpancar dari wajahnya.
Sengkuni dikenal orang yang paling licik, dari perkataan yang diucapkannya jugalah Pandawa dan Kurawa yang masih bersaudara itu berselisih paham. Hingga puncaknya Kurawa berusaha membunuh para Pandawa dengan cara membakar gubuk tempat mereka beristirahat.
Tapi untungnya seorang abdi dari Kurawa yang bersimpati pada Pandawa menyelamatkan mereka dengan membantu pelarian mereka.
Bagaikan bara dalam sekam, dendam yang masih dimiliki Duryudana kepada saudaranya semakin membara saat tahu Arjuna merebut kerajaan Panchala lewat sebuah sayembara.
Rencana sengkuni langsung dilaksanakan Duryudana, ia mengutus anak buah kepercayaannya untuk melakukan semua yang dikatakan oleh Sengkuni.
Di Karang Kedempel, Elang merebahkan dirinya di atas hamparan padang rumput yang luas. Semilir angin yang berhembus memainkan anak rambutnya yang mulai panjang dan berantakan. Sementara Gatotkaca sudah sedari tadi terbang dan belum kembali.
“Andai Dara ada di sini, pasti dia bakal senang banget nih,” gumam Elang sambil mencabut salah satu rumput lalu menggigit ujung rumput untuk merasakan aromanya. “Segera Dara, setelah gelang waktu terisi penuh daya, aku akan pulang dan memelukmu.”
Baru saja ia ingin memejamkan matanya, Gatotkaca datang dan mendarat di sebelahnya dengan tiba-tiba sehingga membuat Elang terkejut.
Elang mengangkat bahunya tanda tak tahu.
“Aku ketemu perempuan cantik, Paman.” Gatotkaca merebahkan tubuhnya di samping Elang. Kedua tangannya dijadikan sandaran kepala, kaki kirinya menopang kaki kanannya yang diangkat. “Matanya bulat, kulitnya kecoklatan, dan senyumnya menawan.”
“Terus, kamu udah kenalan?”
“Udah Paman, namanya Dewi Unggrasari. Suaranya lembut banget.” Dengan penuh semangat, Gatotkaca menceritakan tentang perempuan yang ditemuinya di dekat sebuah sungai saat ia melintas.
Tiba-tiba wajah Gatotkaca menegang, ia mendengar suara teriakan dari arah utara tempat ia datang.
“Ada apa, Tot?” Elang bangun dari tempatnya merebahkan diri. Dirinya memang tidak mendengar suara itu, tetapi kalau melihat dari wajah Gatotkaca yang terlihat tegang, ia tau ada sesuatu yang terjadi.
“Suara teriakan, Paman. Datangnya dari sebelah sana.” Gatotkaca menunjuk ke arah cakrawala di sebelah utara Karang Kedempel.
__ADS_1
“Ayo kita lihat!” Elang kemudian menyambar senjata yang sedari tadi ada di dekatnya. Baru saja dirinya akan berlari, Gatotkaca menyambarnya dan membawa tubuhnya terbang dengan cepat.
Terpaan angin menerpa wajah Elang yang terlihat panik dan ketakutan, baru kali ini ia merasakan terbang tanpa berada dalam sebuah pesawat. Kedua tangan perkasa Gatotkaca memegangnya erat seperti rajawali mencengkeram mangsa agar tidak jatuh ke tanah. Selain perasaan takut yang mendera, Elang juga merasa takjub akan apa yang dirasakan dan dilihatnya.
Kecepatan terbang Gatotkaca melambat, kemudian mereka turun di sebuah aliran sungai. Sesosok tubuh perempuan tergeletak tidak berdaya di bibir sungai, di dekat sana ada Antareja yang sedang berdiri seperti mencari sesuatu.
Mata tajam Gatotkaca melihat ke arah tubuh wanita yang tergeletak tidak berdaya itu, aura kemarahan terpancar dari dirinya. “Bajingan! dia membunuh Dewi Unggrasari,” tukasnya geram sambil terbang menukik. Tepat dua meter di atas tanah, ia melepaskan pegangannya pada bahu Elang, sehingga membuat lelaki itu harus mendarat sambil berguling agar tubuhnya tidak menerima banyak tekanan saat mendarat.
“Bajingan tengik, kau bunuh gadis itu!” Gatotkaca melesat menghantamkan tinju pada Antareja. Dengan sekali gerakan, Antareja berhasil menghindari pukulan penyerangnya.
“Siapa kau?” Antareja menatap lawannya dengan dingin. Kedua tangannya mengepal, siap untuk mengeluarkan pukulannya yang beracun.
“Tak perlu kau tau siapa diriku, bersiaplah untuk mati!” Sebuah serangan dilancarkan lagi oleh Gatotkaca, kali ini berhasil mengenai wajah Antareja sehingga membuat lelaki berkulit ular itu terpental beberapa meter. Tapi sebentar kemudian ia bangkit lagi.
Dari kejauhan, Elang menyaksikan kedua orang yang dikenalnya sedang bertarung hanya menggelengkan kepala. Ia tak percaya kalau pembunuh perempuan yang ada di dekat sana adalah Antareja.
Perlahan didekatinya tubuh tak bernyawa perempuan bernama Dewi Unggrasari itu, dilihatnya dua buah luka seperti bekas gigitan ular di kulit bahunya yang terbuka. Lalu ditekan di dekat bekas lukanya, dari dalam luka itu muncul dua buah batang besi kecil menancap di sana.
Sebuah pukulan siap dilancarkan oleh Antareja, pukulan mematikan yang seharusnya dipakai untuk mengalahkan lawan terkuatnya. Tetapi belum sempat pukulan itu dilesakkan, Elang menghadang kedua saudara itu dari pertengkaran yang akan lebih fatal.
“SUDAH CUKUP, JANGAN BERTENGKAR LAGI!” pekik Elang berusaha menenangkan keduanya.
Gatotkaca berusaha melancarkan pukulan, tapi Elang langsung menatapnya.
“GATOTKACA, CUKUP!”
Bukan hanya Gatotkaca yang siap untuk memukul, Antareja pun akan melepaskan pukulannya yang penuh dengan racun mematikan. Sementara Elang berada di tengah-tengah keduanya.
Menyaksikan dua pukulan mematikan siap mendarat di tubuhnya, Elang memejamkan mata. Dirinya siap untuk dijemput oleh malaikat maut.
__ADS_1