Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Prajurit Besi


__ADS_3

Pemandangan mengerikan terlihat di layar yang ada di hadapan mereka. Salah satu prajurit besi seperti iron man yang beberapa saat lalu mereka saksikan sedang bermanuver untuk mencari celah serangan, hancur terkena ledakan. Tubuh sang pilot pengendalinya meluncur jatuh ke tanah, dari posisinya terlihat kalau ia tidak berdaya.


Untungnya pilot prajurit besi yang satunya langsung sigap. Begitu melihat rekannya terjatuh, ia langsung meluncur cepat menangkapnya, lalu meletakkannya di helipad sebuah gedung bertingkat di daerah Thamrin. Setelah memberikan sinyal tanda butuh pertolongan kepada unit yang lain, pria di balik baju prajurit besi itu kembali terbang menuju angkasa.


Ada desahan nafas lega terdengar di dalam ruang bawah tanah tempat persembunyian profesor Tejo. Dara, Elang, Kapten Firman, serta Profesor Tejo sendiri merasa lega karena mereka tidak melihat hal memilukan seperti yang mereka pikirkan beberapa saat yang lalu ketika melihat salah satu prajurit besi terjatuh.


“Ka-Kalau senjata rahasia pemerintah saja tidak bisa melawan makhluk itu…” Dara tidak berani meneruskan kata-katanya.


Kakaknya tertunduk, lalu menjatuhkan dirinya di atas kursi panjang berlapis kulit berwarna coklat. Kursi yang biasanya dipakai oleh Profesor Tejo untuk berpikir dan mencari ide. Lelaki berpangkat kapten itu tidak menyangka akan menemui hari seperti ini dalam hidupnya.


Masih teringat jelas dalam ingatan Kapten Firman saat pertama kali memutuskan untuk masuk sekolah militer. Ada penolakan keras dari ayahnya yang tidak setuju anak pertamanya itu menjadi tentara.


“*Kamu bisa lebih maju kalau masuk manajemen, Man!” Bentak ayahnya ketika ia memberi kabar kalau dirinya mendapat beasiswa dari departemen ketahanan.


“Tapi, Yah. Firman enggak mau melewatkan kesempatan ini.”


“Pokoknya, sekali ayah bilang enggak. Enggak!” Detik berikutnya, ayahnya membanting pintu kamarnya. Dara yang baru pulang sekolah terdiam memandang dua orang lelaki dalam keluarganya yang sedang bersitegang.


Sebulan setelah perseteruan antara dirinya dengan ayahnya, Firman sudah siap mengepak pakaian yang akan dibawanya untuk menuntut ilmu di tempatnya yang baru. Perasaan dalam hatinya berkecamuk antara senang, karena akan mendapatkan pengalaman baru. Sedih, karena harus meninggalkan keluarganya. Kesal, karena ayahnya belum juga memberikan izin untuknya masuk sekolah militer.


“Kakak mau kemana?” Ujar Dara yang menyaksikan Firman bersiap untuk keluar kamarnya.


“Dara, Kakak harus pergi ke sekolah militer di Magelang. Kakak minta, kamu jaga ayah sama ibu yah.” Sambil menaruh tasnya, ia memeluk adik perempuannya.


Dara meneteskan air matanya, lalu membalas pelukan kakaknya.

__ADS_1


“Kamu belajar yang rajin, jangan buat ayah dan ibu sedih yah, Ra,” sambungnya.


Lelaki bertubuh tegap itu kemudian mencium tangan ibunya dengan takzim. Air matanya menetes, “Bu, Firman minta maaf kalo punya salah. Firman minta izin…”


Wanita yang hampir paruh baya itu mengangguk sambil menyeka air matanya. Diusapnya kepala anak lelakinya, seraya memberikan restu kepadanya.


“Jaga dirimu baik-baik, Man. Doa ibu selalu menyertai.” Kemudian dikecupnya kening Firman, lalu dipeluknya lagi.


Sementara itu, ayahnya yang masih belum memberikan izin kepada Firman untuk masuk ke sekolah pilihan anaknya, memutuskan untuk tidak keluar dari kamar. Padahal dalam hati kecilnya ia mendukung keinginan anak sulungnya itu.


“Ayah, Firman pamit mau berangkat. Firman mau minta maaf kalau selama ini punya salah sama Ayah…” Lelaki itu tercekat, lalu meneruskan kalimatnya, “Firman mohon doa restunya, Yah.” Kali ini ia terduduk dengan melipat lututnya, berharap agar ayahnya mau keluar dan memaafkannya.


Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan pun berganti tahun. Selama itu pula perang dingin antara ayahnya dan Firman seperti gunung es di kutub utara yang sulit untuk dicairkan. Setiap kali ia pulang ke rumah saat liburan, tak ada gelak canda tawa yang biasanya terlontar dari mereka berdua seperti sebelum Firman memutuskan untuk masuk sekolah militer angkatan darat.


“Dara kangen sama celotehan ayah dan juga Kakak kaya waktu dulu,” kata Dara ketika mereka sedang makan di sebuah restoran cepat saji di daerah Blok M.


Kemarahan ayahnya semakin memuncak ketika mendapat kabar bahwa Firman, anaknya akan mengikuti ujian seleksi menjadi anggota kompi pasukan Khusus.


Bukan tanpa sebab dirinya melarang Firman masuk pasukan elit di angkatan darat itu. Tapi hal ini mengingatkan dirinya pada kejadian yang menimpa adik kandungnya beberapa tahun yang lalu.


Adiknya pulang dalam keadaan tidak bernyawa, dengan luka di tempurung kelapa dan juga dadanya. Menurut laporan yang diterima, ia tertembak di ujian Minggu Neraka. Saat harus membebaskan diri dari rentetan tembakan para pelatihnya. Karena kelelahan fisik selama ujian berlangsung, peluru dari senapan pelatihnya pun menembus kepalanya, dan juga dadanya.


Satu-satunya senyum yang dilihat oleh Firman yang keluar dari bibir ayahnya adalah ketika ia pulang ke rumah di suatu siang yang cerah, kemudian dengan penuh rasa bangga, dikeluarkannya baret merah sebagai penanda dirinya lolos ujian dan menjadi anggota Kopasus.


Tapi senyum itu hanya sebentar. Lelaki paruh baya itu kemudian masuk ke dalam kamarnya. Perang dingin antara mereka masih berlangsung.

__ADS_1


Perang dingin antara mereka pun akhirnya mencair, ketika Firman yang kini menyandang pangkat Kapten memberi kabar adiknya kalau ia sedang bersiap untuk berperang melawan makhluk angkasa luar yang akan menghancurkan kota kelahirannya. Terlihat di ujung sana ayahnya memberi hormat dengan senyuman paling indah buat Firman*.


“Kita butuh superhero untuk melawan mereka,” kata Kapten Firman pelan, setengah bergumam.


“Tidak ada superhero di dunia ini,” sanggah Profesor Tejo sambil duduk di sebelah kakaknya Dara.


“Ada, Prof. Ada buktinya.” Elang buka suara sambil kemudian menyalakan proyektor buatan Profesor Tejo yang langsung menayangkan gambar si seluruh ruangan.


Lelaki berambut gondrong dengan kacamata bulat itu mengerenyitkan dahinya.


“Ini…” Elang menunjuk pada prajurit besi yang sedari tadi mereka lihat di layar. “ Kata Kak Firman, senjata ini dibeli dari Amerika, dan mirip seperti bajunya Iron Man. Kalau bajunya dan purna rupanya ada, berarti Iron Man benar-benar ada, Prof.”


“Kalaupun memang ada, bagaimana cara kita memanggil mereka?”


Elang tersenyum, ia merasa memenangkan perdebatan kali ini. Sementara itu Kaptem Firman dan Dara terlihat kebingungan dengan senyuman di wajah Elang.


Profesor Tejo menggelengkan kepala, menunjukkan sebuah ketidak setujuan akan apapun yang akan dikatakan oleh Elang.


“Kita tidak usah memanggil mereka…”


“Tapi?” Potong Profesor Tejo.


“Kita jemput satu superhero yang paling kuat di antara mereka.” Dengan menggebu-gebu, lelaki bermata Elang itu menjelaskan apa yang dimaksudnya.


Gelengan kepala Profesor Tejo semakin cepat, memberi tanda penolakan.

__ADS_1


“Prof, ini saatnya kita pakai alat itu…” tukas Elang mencoba meyakinkan.


__ADS_2