Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Sebuah Firasat


__ADS_3

Tidak ada yang terjadi setelah Elang menekan tombol di gelang yang menjadi penghubung antara masa lalu dan masa depan, tidak mau putus asa, ia mencobanya lagi. Tapi tetap saja tidak ada apapun yang terjadi.


“Sial!, kenapa tidak berfungsi?” gerutu Elang sambil menyaksikan layar yang terlihat di gelangnya yang menunjukkan sebuah baterai dengan satu garis di dalamnya. “Arrrgh… Kenapa mesti lowbat sih?” omelnya lagi sambi meninju udara saking kesalnya.


“Kenapa, Paman?” tanya Gatotkaca. Ia tak mengerti apa yang dikatakan olehnya barusan.


“Kehabisan tenaga. Gak bisa berangkat. Aku gak bisa pulang.” Elang menunduk, perlahan tubuhnya merendah hingga akhirnya terduduk di tanah lapang yang dipenuhi rerumputan.


Gatotkaca memberikan gelangnya kembali pada Elang. “Kalo gitu, istirahat aja dulu, Paman. Supaya tenaganya pulih.” Sehabis memberikan gelangnya, lelaki bertubuh kekar itu pun berjalan kembali menuju gubuk.


Ucapan Gatotkaca seperti menjadi penyadar bagi Elang. Seperti mendapatkan ilham, ia langsung membuka tas dan mencari sesuatu di dalamnya.


“Terima kasih, prof. Terbaik lah emang,” gumam Elang pelan tatkala mendapatkan sesuatu dari dalam tasnya.


Sebuah buku yang dibuat sendiri oleh profesor Tejo, tertulis di sampul depannya, ‘Buku Manual Gelang Waktu’. Sengaja diketik dengan mesin tik tua di zaman sebelum kemerdekaan Indonesia agar tidak ada yang bisa mencuri datanya. 


Sebelum keberangkatannya ke masa ini, lelaki berambut gondrong bak pemain band metal yang mempunyai gelar profesor itu sengaja memasukkan sesuatu ke dalam tas Elang. Dirinya khawatir kalau terjadi masalah pada gelang waktu yang diciptakannya itu, karena meskipun ia sering memakainya untuk membeli barang-barang di masa lalu, tapi alatnya belum pernah dipakai untuk melompati zaman yang sangat jauh.


Terlebih lagi pada saat kembali nanti, Elang akan membawa manusia. Hal yang sama sekali belum pernah dilakukan oleh sang penemu sekalipun.


Kekhawatirannya ternyata terbukti, alat yang dibuatnya itu kehabisan daya.


Elang membuka halaman demi halaman dari buku yang secara tidak langsung diberikan oleh profesor Tejo, karena sahabatnya itu tidak menuliskan daftar pustaka di bukunya. Terlebih lagi karena ditulis dengan mesin ketik manual, tulisan demi tulisan di tiap halamannya terlihat hampir sama.


Setelah sepuluh menit lamanya ia membolak-balik halaman demi halaman, sampai juga pada cara mengisi tenaga saat gelang waktu kehabisan daya. “Hah? Serius nih? Mesti dialiri listrik? Listrik darimana? Gue kan lagi ada di  zaman kuno ini!” Elang menggerutu ketika membaca petunjuk yang menyebutkan kalau gelang itu harus diberi catu daya listrik. Sambil menggaruk kepalanya yang ditumbuhi rambut pendek namun acak-acakan, dirinya berpikir keras.


Dibaliknya lagi satu halaman, sebuah tulisan tentang tenaga alternatif membuat Elang menjadi bersemangat lagi.

__ADS_1


Jikalau tak ada listrik di sekitar, isi tenaga bisa menggunakan panel tenaga surya yang tertanam di dalam alat. Cukup taruh di tempat yang terkena matahari langsung, maka daya baterai akan terisi. Tapi pengisiannya sedikit memakan waktu.


“Naaah, gitu dong prof. Manusia paling jenius yang pernah gue kenal!” Ia langsung berdiri, lalu mencari sebuah tempat yang bagus untuk memberikan sinar matahari sore pada gelang waktu miliknya.


“Kamu sedang apa, Ngger?” tanya Gareng yang kebingungan melihat Elang menaruh gelang nya di dekat pinggiran teras.


“Jemur gelang, Guru. Supaya tenaganya balik lagi!”


Gareng hanya menggeleng pelan menyaksikan polah tingkah muridnya itu. Kemudian ia masuk ke dalam gubuk menyusul yang lainnya di dalam.


Elang baru bangun dari tidurnya ketika sinar matahari pagi di Karang Kedempel menerpa wajahnya, sungguh suasana yang jarang sekali ia dapatkan selama hidupnya. Bilik yang dipakai untuk tempatnya tinggal selama di Karang Kedempel hanya berukuran 2x1 meter dan terbuat dari bambu yang dianyam dan disusun menjadi sebuah ruangan. 


Berbeda jauh dengan kamarnya yang luas di Jakarta, ruangan seluas empat meter persegi itu menampung lemari yang berisi baju-baju miliknya, sebuah meja belajar yang bisa dilipat masuk ke dalam tembok jika sedang tidak digunakan. Tempat tidurnya sendiri berada di atas lemari pakaian dan peralatan pribadi miliknya.


Televisi ukuran besar yang terhubung ke jaringan internet dan juga konsol video game virtual yang ada di kamar Elang, saat ini berganti dengan jendela yang menampilkan langsung cakrawala dengan lautan luas.


Melihat matahari yang bersinar cerah, Elang langsung mengeluarkan gelang waktu. Kemudian ia menaruhnya di antara sela-sela jendela yang terbuat dari bambu untuk mendapatkan asupan tenaga dari sinar matahari.


“Baru bangun, Paman?” sapa Gatotkaca yang baru saja mendarat setelah terbang.


“Iya, Tot. Kecapekan, jadi tidurnya enak banget.” Sambil merenggangkan otot-otot di tanganya, ia menjawab pertanyaan dari Gatotkaca.


“Aku dari tadi pagi udah tiga kali putaran keliling bumi, Paman!”


“Ada apa saja di luar sana?”


“Banyak sekali, Paman. Ada peperangan, ada yang lagi jatuh cinta, bahkan ada juga yang saling bersaing untuk mendapatkan cinta.”

__ADS_1


Elang duduk di tangga teras, rasa kantuk dalam dirinya mengalahkan keinginan untuk berolah raga. Baru saja dirinya ingin bersandar di tiang bambu fondasi gubuk, sebuah cahaya berwarna biru terang berpendar.


Cahaya yang berpendar itu kemudian meredup, berganti dengan sosok Arjuna yang muncul dari sana.


“Salam hormat, Paman Arjuna!” Gatotkaca memberikan hormatnya pada Arjuna.


“Salam juga keponakanku. Bagaimana pelatihanmu?”


“Berjalan lancar, Paman. Ada masalah apa sampai paman datang kemari?”


Arjuna menggeleng. “Tidak ada, aku ingin bertemu dengan Elang.”


Mendengar namanya disebut, Elang bangun dari duduknya, kemudian menghampiri Arjuna.


“Duduklah, Lang. Ada yang mau aku tanyakan padamu,” tukas Arjuna. Diajaknya Elang untuk kembali ke teras gubuk Semar.


“Perihal apa?” selidik Elang.


Arjuna duduk bersila di depan Elang, sebuah pengumuman yang dipahat di kulit kerbau diberikan pada Elang. Isinya tentang sayembara memanah dari kerajaan Panchala. Siapa saja yang memenangkan sayembara, berhak menikahi Srikandi, putri dari raja Drupada, penguasa kerajaan Panchala.


Elang hanya mengangguk sambil tersenyum, ia paham maksud dari kedatangan Arjuna yang jauh-jauh ke tempat ini.


“Bagaimana?”


“Ikut, sudah pasti Kang Mas Arjuna pemenangnya.”


“Serius?” Arjuna terlihat tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh Elang.

__ADS_1


“Ikut!, jangan buang kesempatan. Srikandi adalah jodohmu Kang Mas. Sehebat apapun lawanmu nanti, takdir mengatakan bahwa Kang Mas lah pemenangnya.”


Arjuna tersenyum sumringah, dirinya mendapat angin segar dari pemuda masa depan yang sering menemaninya dalam menjalankan tugas. Kecantikan Srikandi sendiri sudah bukan rahasia lagi, banyak ksatria dari negara manapun datang hanya untuk meminangnya. Tapi selalu ditolak lantaran kemampuan memanah mereka jauh di bawah sang putri dari kerjaan Panchala.


__ADS_2