
Puing berserakan di antara gedung yang tadinya dikenal di antara blok pusat perbelanjaan Pasar Tanah Abang. Salah satu situs bersejarah yang pernah dibangun di masa kolonialisme dan sempat beberapa kali berubah wajahnya itu, terlihat luluh lantak terkena serangan dari makhluk planet Zagustron.
Bangunan megah gedung Blok A yang berwarna hijau itu kini sudah tak berbentuk lagi, namun untungnya tak ada korban jiwa. Karena sebagian besar warga kota sudah pergi mengungsi terlebih dahulu.
Elang mendarat tepat di atas sebuah jembatan penghubung antar gedung yang hancur di sebagian sisinya, diikuti oleh Kapten Firman — ia masih sedikit canggung dengan pakaian prajurit besi yang dikenakannya.
“Apa rencana kita, Lang?” Sambil melihat sekelilingnya yang hancur berantakan, lelaki yang profesinya sebagai salah satu pemimpin pasukan tentara komando pasukan khusus itu kebingungan menentukan langkah yang akan diambilnya.
“Mungkin sama seperti tadi, Kak. Kita menunggu mereka turun. Atau kita yang langsung meghampiri mereka di sana,” tunjuk Elang sembari memperhatikan gumpalan awan mencurigakan tempat persembunyian pesawat milik Zagustron. “Lihatlah, Gatotkaca sendiri tidak mendarat. Sepertinya ia punya rencana lain!” Elang melompat lalu terbang menghampiri Gatotkaca.
Melihat Elang terbang kembali, Kapten firman yang sejatinya belum beradaptasi penuh dengan pakaian perang yang dikenakannya, hanya bisa menggeleng. Lalu dengan sedikit usaha, mulai terbang mengikuti Elang dan Gatotkaca.
“Mereka di mana, Paman?” Rupanya Gatotkaca kebingungan mencari keberadaan pesawat lawan yang tak terlihat olehnya.
“Di balik awan itu. Mereka menggunakan awan aneh itu untuk bersembunyi.”
Gatotkaca memicingkan matanya untuk menyelidiki sekumpulan awan putih yang ada di atasnya. “Baru tau aku persembunyian di atas awan.”
“Itulah yang dinamakan teknologi. Jadi, apa rencanamu?”
Kapten Firman berdiri tepat di antara Elang dan Gatotkaca, ia masih harus menyeimbangkan dirinya tatkala melayang di udara.
“Pelan-pelan, Kak. Jangan dipaksakan,” kata Elang. Sebenarnya, ia juga masih berusaha beradaptasi dengan kondisi melayang dengan posisi diam di udara. Namun, karena ia tak mempunyai beban pakaian berat berukuran beberapa kilo seperti yang dikenakan Kapten Firman, maka mudah saja baginya untuk beradaptasi.
“Sepertinya pesawat mereka lebih besar dari sebelumnya,” gumam Kapten Firman. Matanya tak lepas melihat ukuran awan besar yang ada di sana.
“Baiklah, rencana kita sekarang pergi ke sana. Tapi ingat, jangan dihancurkan. Kita cari celah untuk masuk ke dalam, dan serang mereka dari dalam.”
__ADS_1
Ksatria berwajah tampan penguasa kerajaan Pringgandani itu hanya mengangguk perlahan.
“Gatotkaca, ingat. Kita tidak menghancurkan, tapi lawan mereka dari dalam!”
“Baik, Paman. Lalu setelah itu?”
“Paksa mereka untuk pulang ke planetnya. Kalau ternyata bersikeras tidak mau, terpaksa kita hancurkan!”
“Setuju!” sambar Kapten Firman. Ia terlihat sangat berapi-api dan penuh rasa dendam karena seluruh pasukannya gugur dalam sebuah serangan di dekat Istana Negara. “Lalu, kapan kita berangkat?”
“Sekarang!” Tanpa menunggu Waktu lama lagi, Elang langsung melesat terbang, diikuti dengan Gatotkaca.
Belum sempat Kapten Firman mengucapkan sepatah dua patah kata, lelaki yang disukai oleh adiknya itu sudah melesat. “Huft, dasar anak muda!” gerutunya lalu menyusul keduanya.
Diam-diam, mereka bertiga mendarat di atas pesawat yang terbuat dari bahan karbon luar angkasa berwarna putih seperti awan. Benar apa kata Kapten Firman, ukuran pesawatnya kali ini lebih besar dari sebelumnya. Bahkan kemungkinan besar ini adalah pesawat induk dari Zagustron.
“Bagaimana caranya kita masuk?” Sambil melihat sekeliling atap pesawat, ia mencoba mencari celah. Namun hasilnya nihil, seluruh bagian pesawat itu tertutup sempurna.
Elang mengeluarkan pedangnya. Ada cahaya berpendar saat dikeluarkan dari sarungnya.
“Lang, benda ini bukan dari besi sembarangan. Keseluruhan pesawat ini lebih kuat dari besi,” kata Kapten Firman, sambil mengetuk-ngetuk badan pesawat Zagustron.
“Kita gak akan tau kalau nggak mencobanya kan, Kak?” Elang mengangkat pedangnya, lalu menusukkan pada bagian sambungan dari pesawat itu. Dengan mudah mata pedangnya berhasil menembus badan pesawat. “Berhasil!” pekiknya dengan suara pelan, lalu meneruskan dengan mengoyak karbon keras di pesawat yang mereka tumpangi, seperti pembuka kaleng sarden.
“Boleh, kulihat pedangmu, Lang?” ujar Kapten Firman yang merasa penasaran dengan pedang milik Elang.
Setelah selesai membuka bagian atas pesawat lawannya, Elang memberikan pedangnya pada kakaknya Dara.
__ADS_1
“Pantas saja pedang ini mampu menembus badan pesawat. Kau tau pedang ini terbuat dari apa?”
“Tidak tau, Kak. Yang kutau guru Petruk memberikan pedang ini pada saat aku membantu Bima melawan para raksasa ketika akan menyerang kerajaan Pringgandani. Memang berkarat, tapi kekuatannya luar biasa. Sekali sabetan bisa membuat tubuh lawan terputus.” Elang menceritakan hal yang sebenarnya terjadi pada Kapten Firman.
“Pedang ini bukan terbuat dari sekedar besi berkarat. Tapi dibuat dari gabungan unsur karbon dan batu meteor purba yang jatuh ke Bumi. Penampilannya memang kurang menarik, tapi kekuatan yang dimiliki pedang ini lebih ampuh dari senjata manapun.” Sambil mengamati pedang yang di genggamannya, Kapten Firman mencoba menjelaskan apa yang dilihatnya.
Sebenarnya ia bukan hanya ahli di bidang militer, tetapi ia juga mempelajari struktur material yang didapatnya saat sekolah militer. Hal ini menjadi sebuah kewajiban bagi mereka yang masuk kemiliteran, sebagai cara untuk mengenali kekuatan lawan yang akan dihadapinya, dan juga bahan dasar kendaraan tempur lawannya.
“Ah, pantas saja, tadi senjata Brog terlihat tidak berdaya sewaktu menghantam pedang ini.”
“Ya, selain itu. Salah satu kelebihan pedang ini, ia mempunyai tipikal penyerap. Bisa menyerap kekuatan lawan yang pernah dihadapinya.”
“Yang pernah dihadapinya? Kalau aku pernah berhadapan langsung dengan Banaspati, lalu menghancurkannya dengan pedang ini. Berarti, aku bisa melawan musuh dengan kekuatan api?” kata Elang dengan penuh semangat.
Sementara Gatotkaca masih memperhatikan lubang berbentuk kotak yang baru saja dibuat oleh Elang, apa yang dilihatnya adalah beberapa sebuah ruangan kosong dengan beberapa kabel yang ada di balik plafon pesawat.
“Banaspati? Apa itu?” Kapten Firman nampak kebingungan dengan pertanyaan Elang. Ia balik bertanya.
“Makhluk sebangsa jin yang mempunyai kekuatan api, Kak.”
“Masih mau ngobrol? Atau kita langsung masuk?” sela Gatotkaca yang tidak sabar ingin menghajar makhluk Zagustron.
“Ya, kita masuk sekarang.” Sambil mengembalikan pedang kepada Elang, Kapten Firman berdiri di lubang yang dibuat Elang.
“Aah, hampir saja lupa sama misi kita kemari!” Elang menggaruk kepalanya.
“Apa isinya seperti ini, Paman?” ujar Gatotkaca yang merasa heran karena isi pesawat itu kosong.
__ADS_1
“Tidak, kita belum benar-benar masuk. Ini masih di panel kelistrikan yang menghubungkan bagian mesin dengan bagian kendali.”
“Baiklah, ayo kita masuk!” Kali ini Kapten Firman yang memberi perintah.