
Perhelatan Rajasuya yang digagas oleh Yudhistira telah berakhir, semua raja yang menjadi peserta perhelatan sepakat untuk mendukung Pandawa dalam peperangan Bharatayuda yang akan digelar dalam waktu dekat. Meskipun ada duka yang menyelimuti atas kepergian Antareja yang memang sudah kehendak dewata.
Para prajurit kerajaan Astina sendiri akhir-akhir ini rutin mengadakan latihan persiapan perang bersama pasukan Dwarawati dan juga Panchala, di bawah komando Kresna yang memang terkenal sebagai ahli siasat medan pertempuran.
Sebagai seorang raja, Kresna mempunyai karisma yang sangat tinggi. Ia ditakuti oleh musuh dari kerajaannya karena masa lalu yang pernah dijalaninya adalah sebagai dewa Wisnu. Selain itu tak sedikit raja-raja dari tempat lain meminta petunjuk darinya, baik itu dari kubu Pandawa ataupun Kurawa.
Meskipun demikian, perang tetaplah perang. Kresna harus memilih berada di kubu siapa untuk mempertahankan kehormatannya.
Pandawa adalah pilihannya setelah bertahun-tahun yang lalu, saat dirinya masih menjadi pangeran di kerajaan Mandura. Dirinya selalu membantu Yudhistira dan adik-adiknya dalam pengembaraan dan penyamaran untuk menghindari kejaran Kurawa, saudara sepupu Pandawa yang berniat membunuh mereka.
“Formasi bulan sabit!” pekik Kresna pada prajurit yang diikuti dengan barisan formasi bertahan yang berbentuk bulan sabit dengan pertahanan di tengah dan sisi kanan kirinya memukul lawan untuk tidak terus menyerang.
Setelah barisan pasukan berada pada titik pertahanan, Kresna mengangkat kipas di tangannya.
“Formasi bangau terbang!” teriaknya lagi.
Sontak saja para pasukan merubah barisan mereka, dengan pemimpin pasukan di depan yang membentuk seperti sisi tajam paruh bangau, lalu yang di belakang ikut merangsek maju. Sementara di sisi kanan dan kiri, yang tadinya ada di belakang maju ke depan. Membentuk seperti kepakan sayap bangau, mereka menyerang dan mengurung musuh.
Arjuna yang menguasai pertarungan jarak jauh, melatih para pasukan untuk memanah bersama Srikandi. Bahkan mereka berdua yang akan menjadi panglima pasukan pemanah yang akan menyerang lawan sekaligus melindungi pasukan dari serangan lawan.
Elang bersama Nakuka dan Sadewa berlatih pertempuran jarak dekat dengan saling menyerang satu sama lain hanya berbekal senjata latihan. Ini semua mereka lakukan karena Keempat Punakawan, Bagong, Gareng, Petruk, dan Ki Semar memilih untuk tidak ambil bagian dalam perang suci itu.
__ADS_1
Sebuah serangan dari Nakula dihindari oleh Elang yang langsung menyambutnya dengan tendangan ke perut Nakula, tapi dari arah berlawanan Sadewa berusaha menyabetkan senjatanya dan mengenai punggung Elang. Setelah berhasil menyejajarkan kuda-kudanya, Nakula memberikan sebuah pukulan telak namu berhasil ditangkap oleh Sadewa, kemudian ia membanting saudara kembarnya. Elang langsung bangkit, dengan sedikit gerakan tipuan yang tadinya mau memukul ke wajah, malah menyapu kaki Sadewa hingga ia terjatuh.
Adegan saling pukul itu berakhir ketika Elang, Nakula dan Sadewa merebahkan diri mereka di atas lapangan rumput sambil tertawa.
Memasuki sore hari, seluruh prajutit kembali ke tenda masing-masing. Mereka memang sengaja membuat tenda di tanah lapang dekat hutan Amarta agar mereka tak perlu menguras tenaga lebih banyak daripada harus pulang ke kerajaan masing-masing.
“Tinggal dua minggu lagi, padang Kurusetra akan dibanjiri oleh darah para ksatria,” ujar Yudhistira seusai makan malam di tenda para petinggi Pandawa. Di sana ada Kresna, Bima, Arjuna, Srikandi, Nakula, Sadewa, Elang, serta Setyaki dan juga Gatotkaca.
“Ya, bukan Dhuryudana yang kita takutkan, bukan juga Karna. Tapi Resi Bisma.” Kresna mengangkat gelas lalu meminum isinya setelah melontarkan kata-katanya.
“Eyang Bisma.” Arjuna menunduk, mengenang masa-masa indah bersama kakek kesayangannya.
“Andai saja hari itu tidak pernah terjadi.” Yudhistira kembali angkat bicara, ia menyesalkan kejadian beberapa tahun lalu di Hastinapura. Waktu itu ia memang salah karena lebih mementingkan emosi sesaat sehingga menyebabkan dirinya berserta ibu dan keempat adiknya harus menerima takdir kehilangan kerajaan milik ayah mereka, Pandu.
Elang menunduk, tetapi matanya mengarah pada kedua raja yang sedang saling menguatkan di depannya. Sebenarnya ia ingin sekali memotret dan merekam kejadian bersejarah yang hanya bisa dibaca dalam sebuah cerita epos di masanya, namun dirinya merasa tidak sopan jika mengambil begitu saja kejadian demi kejadian. Lagipula ia sudah mempunyai beberapa foto yang diambil, dan mungkin akan diambil lagi dalam beberapa hari ke depan hingga genderang perang Bharatayuda ditabuh.
Suara derap langkah kaki kuda terdengar dari kejauhan, semakin lama suara itu semakin mendekat hingga akhirnya berhenti tepat di depan tenda di mana para petinggi Pandawa berada.
Seorang prajurit kerajaan Dwarawati memasuki tenda dengan terengah-engah, ia membawa sebuah kabar buruk untuk Kresna, rajanya.
“Salam wahai Baginda Raja Dwarawati, saya membawa sebuah kabar tidak mengenakan.” Prajurit itu bersimpuh memberi hormat pada Kresna tepat di depan pintu tenda yang hanya terbuat dari kain.
__ADS_1
“Masuklah prajuritku. Pesan apa yang kau bawa sampai jauh-jauh datang kemari.” Kresna mendekati prajuritnya dengan segelas air, kemudian memberikan air itu padanya. “Minumlah dulu, perjalanan sangat jauh pasti kau lelah.”
Kresna adalah seorang raja yang terkenal bijak dan baik hati, sehari-hari ia tak jarang berada di kedai makanan atau minuman di alun-alun Dwarawati hanya untuk berkumpul dan mendengarkan keluhan rakyatnya.
Setelah meminum air yang diberikan Kresna, prajurit Dwarawati itu memberikan lagi hormat sebagai tanda terima kasih pada Kresna.
“Bangunlah. Katakan, kabar apa yang kau bawa?”
“Mo—Mohon ampun Baginda, putra Baginda, Raden Boma. Membunuh Raden Samba karena cemburu, Tuan.” Prajurit itu pun bersimpuh lagi.
Raden Boma atau Setyaboma adalah Putra sulung Kresna, raja dari Trajutrisna. Dia mempunyai kesaktian yang luar biasa, hasil bergurunya dengan Resi Subali. Jika dibunuh ia akan bangkit kembali ketika tubuhnya menyentuh tanah.
Raden Samba sendiri adalah putra bungsu Kresna, ia tidak sesakti kakaknya, Raden Setyaboma. Tetapi keberuntungan memihak padanya, karena ia memiliki seorang istri yang sangat cantik, Dewi Hagnyanawati. Namun Setyaboma merasa iri pada Samba, hingga akhirnya ia memutuskan untuk membunuh adiknya untuk merebut Dewi Hagnyanawati.
Amarah Kresna memuncak begitu mendengar berita yang dibawa oleh prajurit kerajaannya. Dari ujung tangannya muncul sebuah cahaya yang berbentuk seperti piring kecil, lalu cahaya itu semakin melebar.
Melihat rajanya mengeluarkan kekuatan cakra yang dimilikinya, prajurit itu terlihat sangat ketakutan. Karena konon cakra yang dimiliki oleh Kresna jika dikeluarkan mampu membelah dunia dan menghabisi setengah populasi manusia di dunia.
“Sabar Kangmas Kresna, jangan kau bawa emosimu itu.” Yudhistira memegang tangan Kresna dan menenangkannya.
Entah ilmu apa yang dipakai oleh Yudhistira, hingga ia bisa menenangkan hati Kresna.
__ADS_1
“Ah, maaf aku terbawa amarah,” ujar Kresna, ia berjalan menuju kursi untuk menenangkan diri. “Gatotkaca, tolong kau urus Raden Boma,” sambungnya pada Gatotkaca.
“Baiklah Paman. Aku mohon izin.” Gatotkaca kemudian pamit untuk langsung terbang secepat mungkin menuju Dwarawati.