Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Bulan Purnama Di Karang Kedempel


__ADS_3

Kunjungan Kresna ke Karang Kedempel yang berlangsung tidak terlalu lama itu menimbulkan kegelisahan baru dalam hati Elang, dia harus secepatnya membawa pulang Gatotkaca ke masa depan sebelum genderang perang Bharatayuda ditabuh. 


Pasalnya di hari keempat belas perang suci itu, Gatotkaca ditakdirkan gugur. Jika itu sampai terjadi dan gelang waktu milik Elang belum terisi penuh, maka misinya ke masa lalu otomatis akan gagal total.


Elang memutar otak, mencari bagaimana caranya agar gelang waktunya bisa cepat terisi penuh.


“Apa yang kau pikirkan, Ngger?” Semar tiba-tiba muncul dari dalam gubuknya.


“Bukan apa-apa Ki Semar. Aku hanya memikirkan, apa yang terjadi kalau sampai peperangan Bharatayuda bergulir dan gelang waktuku dayanya belum terisi penuh.”


“Kau tetap akan bisa pulang sehabis perang Bharatayuda, Ngger.”


Elang menggeleng pelan, otaknya menolak jawaban dari Semar. “Bukan itu masalahnya, Ki Semar. Di hari keempat belas peperangan bergulir, Gatotkaca tewas di tangan Karna. Jika sampai hari itu aku gagal membawa Gatotkaca, maka aku akan kembali ke zamanku dengan membawa kegagalan besar!”


“Lalu, apa rencanamu, Ngger?”


“Entahlah,” jawab Elang sambil menghela nafas panjang. Di kepalanya muncul banyak bayangan tentang dunianya di masa depan yang hancur lebur diluluh lantakkan oleh makhluk angkasa luar.


Sore hampir menjelang, Bagong, Gareng dan Petruk  baru kembali setelah mencari kayu bakar di sekitar hutan Wanarta yang dekat dengan Karang Kedempel. Mereka bertiga tampak gembira, meskipun sesekali keributan kecil terjadi antara Gareng dan Petruk.


“Raden Mas Gatokaca mana?” tanya Bagong begitu selesai merapikan kayu bakar di samping gubuk dan menutupnya dengan kulit kerbau agar tidak basah ketika turun hujan.


“Entahlah, Guru. Sudah seharian ini dia tidak pulang kemari.”


“Hihihi, mungkin dia ketemu sama perempuan. Terus begini!” tukas Petruk sambil merapatkan ujung jari-jari tangannya yang satu dan mempertemukan kedua jari-jari tangannya seolah seperti memberi kode sedang ciuman.


“Hush!” sergah Gareng seraya menepis tangan Petruk. “Mana bisa kaya gitu, yang bener itu begini.” Gareng meniru gerakan tangan Petruk, lalu menempelkannya pada sebelah tangan bekas musuh bebuyutannya itu.


“Halah, sama aja toh. Apa bedanya begini…” Petruk menempelkan kedua tangannya. “Sama begini…?” Ia menempelkan tangannya pada tangan Gareng.


“Hahahaha… Ya jelas beda, Guru. Kalau begini, itu sendiri.” Elang mengikuti gerakan Petruk dengan mempertemukan jari-jari tangannya yang kanan dan kiri. “Kalau begini, itu berdua!” Lalu menempelkan jarinya pada jari Petruk.

__ADS_1


“Halaaah, sudah-sudah. Pusing aku!” Petruk duduk di samping Elang sambil menyambar hidangan rebusan yang ada di meja. Ia mengambil sebonggol jagung rebus. “Kalau kamu pilih yang mana, Ngger?”


“Pilih yang berdua guru, gak enak kalo sendiran.” Jawab Elang sambil tertawa, diikuti dengan gelak tawa Bagong dan Gareng.


Tidak lama Gatotkaca datang, ia turun dengan gaya yang diajarkan oleh Elang dengan tangan mengepalkan tinju ke tanah, lutut sebelah kanan menempel ke tanah dan lutut kiri menghadap ke langit. Sama seperti pendaratan superhero yang selalu disebut dalam film kesukaan Elang, Deadpool.


“Salam hormat, Guru. Paman!” ujar Gatotkaca tatkala sampai di teras tempat mereka berkumpul. Ki Lurah Semar sudah masuk ke dalam gubuknya sesaat sebelum Gatotkaca datang.


“Darimana saja seharian ini, Ngger?” tanya Bagong yang sedari tadi mencarinya.


“Hutan Amarta, Guru. Membantu paman Nakula dan Sadewa menghalau para pemberontak yang ingin menyerang Astina.” Gatotkaca menjawab dengan datar.


“Pemberontak? Siapa yang memberontak, Ngger?” Kali ini Petruk yang bertanya dengan semangat.


“Pasukan kerajaan Saloka, sekutu Kurawa. Mereka berencana menyerang Astina sebagai bentuk kemarahan atas direbutnya Panchala dari Kurawa, Guru.”


Elang bangkit dari duduknya dengan semangat. “Di mana itu? Aku akan membantu melawan mereka.”


“Yaah, kukira masih ada. Kalau ada, aku mau ikut.” cetus Elang sambil masuk ke dalam gubuk menuju kamarnya.


“Baik Paman!” jawab Gatotkaca dari luar.


Sinar matahari sore berwarna jingga menerobos masuk dari jendela kamar yang ditempati Elang, gelang waktu yang dijemur sinar matahari masih menunjukkan angka 45%. Masih butuh waktu yang lumayan lama agar terisi penuh.


“Dara, do’akan aku agar semuanya berjalan lancar.” Elang mengusap foto Dara yang ditampilkan dari dalam tabletnya. Dalam foto itu, Dara sedang tersenyum memperlihatkan lesung di pipinya. Jilbab berwarna krem yang dikenakannya disampirkan ujungnya di leher.


Sayup-sayup Elang mendengar suara Dara yang sedang tertawa, kemudian gadis itu berlari sembari menoleh ke belakang. Berharap agar Elang mengejarnya.


Hembusan angin Karang Kedempel bertiup memainkan anak rambut Elang, sedetik kemudian ia berlari mengejar gadis yang dia sayangi. Tawanya semakin menjadi tatkala Elang berada tepat di belakang Dara.


Ketika Elang menangkap dan merangkul Dara dari belakang, tak ada perlawanan darinya. Gadis itu hanya tersenyum dan berkatan, “Kok bangun, Lang?”

__ADS_1


“Apanya yang bangun, Ra?” Elang kebingungan.


“Itu. Bangun, Lang,” jawab Dara singkat.


“Apanya, Ra?”


“Bangun, Lang.” Seketika suara Dara yang lembut berubah menjadi berat, wajahnya yang manis dengan mata bulat. Berubah menjadi wajah Petruk. “Bangun, Lang. Makan dulu, udah siap itu.”


Seketika Elang membuka matanya, di hadapannya sudah ada Petruk yang sedang membangunkannya. Rupanya ia ketiduran saat melihat foto Dara. “Ah, iya Guru. Sebentar lagi aku ke depan.”


Temaram cahaya berwarna jingga yang terpancar dari lampu tempel menerangi gubuk milik Semar di dekat tebing karang yang berbatasan dengan laut. Meskipun karang, tapi tanah di sekitarnya malah subur ditumbuhi dengan rerumputan dan beberapa hasil perkebunan milik Ki Lurah Semar.


Bulan purnama besar bersinar menerangi sisi tebing karang. Dari dalam gubuknya, Semar mengangguk pelan.


“Tidak lama lagi, sudah tidak lama lagi,” gumamnya pelan.


“Tidak lama lagi?” selidik Elang yang dilanda dengan kebingungan.


“Iya, tidak lama lagi genderang perang Bharatayuda akan pecah. Darah para ksatria akan tumpah dalam perang suci itu.”


“Ba—Bagaimana kau tau, Ki Semar?”


“Sebuah ramalan para dewa…” Semar menghela nafas panjang sebelum meneruskan kalimatnya. “Jika bulan terlihat besar dan bersinar sangat terang, dalam waktu delapan purnama setelahnya akan terjadi pertumpahan darah dari dua saudara yang berseteru. Di hari itu pula darah para ksatria akan tumpah membasahi tanah pertiwi,” pungkasnya sambil menatap bulan.


“Delapan purnama. Itu artinya sekitar empat bulan dari sekarang,” tegas Elang. “Padang Kurusetra akan menjadi saksi dari pertempuran ini.”


“Cepatlah kau bawa Gatotkaca ke tempat asalmu, Ngger. Agar tak terjadi perubahan sejarah.”


“Secepatnya akan kubawa, Ki. Tapi aku harus menunggu gelang waktuku penuh. Setelah urusanku di sana selesai, akan kubawa dia kembali kemari.”


Elang menatap bulan besar di hadapannya, pikirannya semakin bertambah seiring waktu yang semakin sempit menuju peperangan Bharatayuda.

__ADS_1


__ADS_2