
Suara teriakan dan lengkingan pasukan raksasa terdengar sangat nyaring. Tubuh mereka yang besar berbaris acak berusaha melindungi istana dan raja mereka, Arimba. Semua raksasa itu dalam posisi siap untuk bertempur.
Sementara di hadapan para raksasa itu berdiri seorang lelaki bertubuh besar, sebesar dua kali tubuh manusia. Jika dibandingkan dengan raksasa, tubuh lelaki itu hanya setengah dari ukuran mereka. Ia adalah Bima, putra kedua dari Raja Pandu, ayah dari para saudara Pandawa. Di belakangnya berdiri sesosok ksatria bertubuh tegap dengan kulit sisik ular di sekujur tubuhnya. Itu adalah Antareja, putra dari Bima.
Di samping Antareja adalah seorang ksatria berwajah tampan, ketampanannya membuat siapapun wanita yang melihatnya bisa jatuh hati. Meskipun mereka sudah mempunyai suami sekalipun. Namanya Arjuna., ia mengenakan kain batik berwarna biru yang diselempangkan di tubuh kekarnya dan celana hitam. Tangan kirinya menggenggam busur panah bercahaya keemasan yang siap untuk melesakkan anak panah untuk merobek tubuh musuh-musuhnya.
Tak jauh di belakang Arjuna, ada si kembar Nakula dan Sadewa yang bersiap dengan pedangnya. Elang juga tak mau ketinggalan, dengan pedang karatan pemberian Petruk yang ternyata mampu membelah kulit raksasa dalam sekali sabet. Ia memasang kuda-kuda bersiap untuk perang.
Salah satu raksasa maju, rupanya mereka mengajak berduel satu lawan satu. Tubuhnya tidak terlalu besar, namun lincah. Tangannya memegang sebuah batu besar yang dibentuk seperti gada sebagai senjatanya.
“Graaaar!” Sambil menunjukkan barisan giginya yang besar dan tidak teratur, ia mencoba mengintimidasi Bima dan yang lain.
Bima baru akan maju selangkah, tapi dihentikan oleh Antareja. “Biar aku yang hadapi ini, Bapa,” desisnya sambil melangkah maju.
Kedua sosok berlainan jenis itu berdiri di tengah lapangan, bersiap untuk duel. Antareja duduk tenang di depan lawannya, sementara raksasa itu memukul-mukul dadanya, mencoba mengintimidasi Antareja.
“Graaaaaar…” Seiring dengan teriakannya, raksasa itu maju menerjang Antareja yang sedikitpun tidak bergeming. Tangannya diayun dengan kuat, mengarah pada kepala lawannya.
Namun begitu senjatanya tinggal beberapa senti lagi dari kepala Antareja, lelaki bersisik ular itu menghilang. Raksasa itu menjadi limbung, karena ayunan gadanya hanya mengenai angin.
Karena kehilangan keseimbangan, ia pun terjatuh. Tapi apa yang dilihat oleh raksasa itu berikutnya adalah sosok lawannya yang sedang menunduk hampir bersujud di dekat bekas jejak kakinya.
Antareja tersenyum melihat lawannya yang kini sudah siap untuk kembali berduel. Ia menjulurkan lidahnya yang panjang dan bercabang di pangkalnya, kemudian mencium bekas jejak kaki si raksasa itu di tanah.
Pemandangan yang terjadi berikutnya membuat pasukan raksasa lainnya bergidik ngeri dan sedikit mundur. Raksasa yang sedang berduel dengan Antareja tiba-tiba berubah menjadi abu ketika ia sedang berlari untuk kembali menyerang lawannya, tubuhnya hilang bersamaan dengan angin yang berhembus.
Lelaki bersisik ular itu berdesis menyeringai sambil berjalan kembali ke belakang Bima dan pamannya, Arjuna.
__ADS_1
Suara langkah kaki berdebum keras dari belakang pasukan raksasa, suara itu diikuti dengan suara seperti benda besar yang diseret. Para pasukan bertubuh besar itu membuka barisan, memberi jalan pada sesosok raksasa dengan wajah jelek.
Matanya bulat besar, hidungnya terlihat patah. Gigi taring yang panjang menyeruak dari mulutnya yang besar. Tangannya membawa sebuah rantai besar panjang yang diikat dengan besi sebesar rumah yang bisa membuat hancur tubuh manusia biasa dalam sekali hentakan dari jarak jauh.
Kali ini giliran Arjuna yang maju. Wajahnya terlihat sangat tenang, tak ada sedikitpun terbesit rasa takut dalam dirinya. Cukup jauh ia berdiri dari lawannya yang sedang mengerang seolah ingin menunjukkan kuasa pada lawan kecil yang akan dihadapinya.
Jemari Arjuna yang lentik memasang tiga buah anak panah di busurnya, semua ia lakukan dengan sangat tenang.
Sementara lawannya mulai menggoyang-goyangkan rantai besi besar yang dibawanya, lalu dengan otot-otot besarnya, ia membuat bandul batu yang ada di ujung rantainya itu mengangkat ke udara. Batu sebesar rumah itu pun melayang beberapa meter di atas kepala si raksasa. Tapi sebelum sempat ia menghempaskan bandul itu untuk menerjang Arjuna, tubuhnya tiba-tiba terjatuh.
Dadanya terkoyak oleh panah yang dilesakkan Arjuna, salah satu anak panah itu menghujam langsung jantung besar dari si raksasa. Jantungnya pecah saat itu juga, batu dari bandul rantai yang melayang pun menghujam tubuh besarnya.
Darah berwarna kehitaman membuncah dari tubuh besar yang hancur dihantam bandul batu dari senjatanya itu. Raksasa kedua hancur.
Lengkingan para raksasa pun terdengar lagi, kali ini terdengar sangat pilu karena dua ksatria terbaik mereka kalah.
Duel masih berlanjut, kali ini sosok raksasa yang paling kecil maju, tubuhnya hanya beda sedikit dari Bima. Ia memakai baju perang berlapis kulit beruang, matanya liar menatap calon lawan-lawannya. Hingga pandangannya tertuju pada salah satu lawan yang dianggapnya paling lemah. Ia menunjuk Elang untuk menjadi lawannya.
“Hah?!” pekik Elang, kaget.
“Maju sana,” kata Nakula sembari menyuruh Elang untuk maju.
“Ka--Kalau nggak mau?”
“Kamu tidak bisa dianggap ksatria, dan harus pergi jauh dari sini.”
“Ta--Tapi, aku nggak bisa bertempur!” Elang mulai bergetar hebat karena takut.
__ADS_1
“Hahaha, anak dari masa depan takut buat duel ternyata? pengecut!” Sadewa mengejek Elang sambil membuang wajahnya.
“Jangan takut, kang mas Petruk dan Gareng sudah mengajarimu banyak hal. Belum lagi kang mas Bagong juga katanya sudah memberimu perlindungan.” Kali ini Nakula mencoba meyakinkan Elang.
Mendengar kata-kata dari Nakula, rasa percaya diri Elang mulai tumbuh perlahan. Ia tidak mau diusir dari lingkaran Pandawa hanya karena tidak mau turun berduel. Kalau itu sampai terjadi, kesempatan untuk membawa Gatotkaca ke masa depan untuk menyelamatkan kota dan juga orang-orang yang disayanginya akan hilang.
Elang menutup kepala dengan tudung yang ada di sweaternya, digenggamnya pedang pemberian Petruk. Ia mengangguk kepada Nakula. “Doakan saya.” Kemudian ia berjalan maju ke tengah lapangan.
Raksasa yang akan dihadapinya tidak memegang senjata, hanya saja di tangannya terdapat sarung tangan besi yang mampu melindungi dari serangan lawan. Sekaligus bisa menjadi senjata untuk menghantam lawan.
Kaki Elang langsung memasang kuda-kuda, bersiap untuk merespon apapun gerakan yang akan dilancarkan oleh lawannya. Lelaki itu terpejam sejenak, “Dara, kalau saja aku tewas dalam pertarungan ini. Aku cuma mau kamu tau, kalau aku mencintaimu,” gumamnya dalam hati.
Alangkah terkejutnya Elang, ketika ia membuka mata lawannya hanya tinggal berjarak sekitar dua meter dari hadapannya. Untuk ukuran raksasa ilmunya bisa dibilang tinggi, sebab tak ada suara langkah kaki yang dikeluarkan saat ia berlari menyeruak ke arah Elang.
Di tengah rasa terkejutnya, tubuh Elang melompat ke kanan belakang sambil mengayunkan pedangnya. Terasa ada hentakkan di tangan Elang, menandakan kalau serangannya mengenai tubuh musuh.
Raksasa itu tertawa terbahak-bahak melihat Elang yang menghindar dari serangannya, sesaat kemudian makhluk itu bersiap untuk memukulnya. Tapi sebelum ia melesakkan pukulan ke arah Elang, kepalanya terjatuh menggelinding menjauhi tubuhnya. Kemudian tubuhnya terjatuh dengan darah berwarna kehitaman yang mengucur dari batang lehernya hingga menggenangi tubuh tanpa itu.
Tubuh Elang masih berdiri mematung dan berguncang ketakutan ketika ia dijemput oleh si kembar. Sadewa yang tadi membuang muka, kini mengelu-elukan Elang yang baru saja membantai raksasa yang menjadi lawannya.
“Begitu dong, baru namanya Ksatria!” ujar Sadewa sambil menepuk bahu Elang. “Ngomong-ngomong, gayamu keren. Pake penutup kepala kaya gini,” sambungnya, diikuti oleh tawa Nakula.
Teriakan dari para pasukan raksasa kembali bergemuruh, sudah tiga ksatria mereka dikalahkan dengan mudah oleh bangsa manusia yang biasanya menjadi santapan mereka.
Sebelah barat hutan Amarta memang terkenal dengan keangkerannya, tak ada satupun bangsa manusia yang masuk ke dalamnya bisa keluar dengan selamat. Mereka semua biasanya menjadi santapan para makhluk buas dan juga raksasa.
“GRAAAAAAWRRR…” Suara raungan memekakkan telinga terdengar dari dalam istana Pringgandani, istana kerajaan para raksasa yang dirajai oleh Arimba. Ia bukan raksasa biasa, Arimba bisa berbicara bahasa manusia, dan kesaktiannya pun luar biasa.
__ADS_1
Seluruh raksasa yang ada di sekitar sana terdiam sesaat setelah suara raungan dari dalam istana terdengar. Terlihat mereka menanti kemunculan seseorang dari dalam istana.