
Berita tentang satu desa yang terbakar di luar hutan Alasjiwo membuat Arjuna yang saat ini menjabat sebagai raja di Kerajaan Panchala menjadi berang. Ditambah lagi ketika tahu bahwa Elang yang sudah dianggap bagian dari Pandawa diserang oleh prajurit kerajaan Pamujan, tetangga kerajaan Panchala yang dibatasi hutan Alasjiwo sebagai batas wilayahnya.
Kerajaan Pamujan dulunya adalah sekutu sejati dari kerajaan Panchala, sama-sama pendukung Kurawa. Namun sejak Panchala jatuh ke tangan Arjuna, persekutuan mereka berubah menjadi sebuah perang dingin. Pamujan masih memihak Kurawa, sedangkan Panchala menjatuhkan keberpihakannya pada Pandawa.
Elang dan Gatotkaca masih di desa yang semalam terbakar, mereka berusaha membantu para penduduk membangun tempat tinggalnya yang habis dilalap si jago merah. Luka bekas pukulan di punggung Elang terlihat membiru meskipun rasa sakitnya sudah mulai hilang.
Suara derap langkah kaki kuda terdengar memecah keheningan hutan Alasjiwo, di kejauhan dari dalam hutan samar terlihat sesosok ksatria berkuda putih melaju dengan cepat keluar dari dalam hutan.
Sosok ksatria itu lambat laun terlihat, ia adalah Arjuna yang datang sendirian tanpa pengawalan pasukan Panchala dan juga baju kebesaran rajanya. Dirinya hanya memakai pakaian yang biasa dipakai saat pertama kali bertemu dengan Elang di hutan Amarta.
“Paman Arjuna, salam hormatku.” Gatotkaca langsung memberikan pernghormatannya pada Arjuna.
“Salam, Ngger!” Arjuna turun dari kudanya, mengikatkannya pada sebuah batang pohon kemudian berjalan mendekati keponakannya.
“Maafkan Paman, saya tidak bisa menyelamatkan desa ini.”
“Bukan salahmu, Ngger. Yang penting kalian berdua selamat.”
Elang yang sedang membantu mengangkat kayu untuk membuat fondasi rumah langsung melepaskannya begitu melihat Arjuna dan langsung menghampirinya. “Salam hormat, Raja Panchala,” katanya sambil mengepalkan kedua tangannya di depan dada.
Arjuna tertawa geli melihat Elang kemudian menepuk bahunya. “Aku memang raja di Panchala. Tapi khusus untukmu, anggap aku pengelana dan ksatria seperti biasa saja.”
Petualangan yang pernah Arjuna lakukan bersama Elang belakangan ini merubah pandangannya terhadap lelaki yang ditemuinya pertama kali di hutan Amarta waktu itu. Awalnya ia menganggap Elang hanyalah seorang pembual yang mengaku datang dari masa depan untuk menyelamatkan dunia di masanya, namun semua yang pernah dikatakan oleh Elang menjadi kenyataan.
__ADS_1
Terlebih lagi beberapa kali juga Elang menemaninya dalam petualangan dan perjalanannya, hingga akhirnya Elang juga lah yang meyakinkan Arjuna untuk mengikuti sayembara di Panchala. Keraguan yang awalnya dialami oleh Arjuna malah menjadi sebuah kemenangan untuknya.
“Tapi di mataku kau tetaplah seorang Raja,” tukas Elang seraya meringis kesakitan karena bekas pukulan di punggungnya terasa sakit lagi.
“Istirahatlah dulu, nanti kau bermalam saja di Panchala biar lukamu dirawat dulu.” Arjuna memeriksa bekas luka pukul di punggung Elang. “Berapa orang yang menyerangmu?”
Elang berusaha mengingat para prajurit yang menyerangnya semalam, tak mudah memperhatikan lawan dalam kondisi gelap dan panas. “Sekitar lima atau enam. Aku tidak melihat dengan jelas. Tapi yang kutau ada yang memukulku dari belakang dengan kayu.”
BRUG… Suara sesosok tubuh jatuh atau tepatnya dijatuhkan oleh Gatotkaca yang melayang beberapa meter di atas tanah. “Paman tau siapa mereka?” Sosok lelaki dengan celana berwarna merah ala prajurit kerajaan Pamujan tergeletak tidak berdaya, pada wajahnya terdapat lukan memar bekas tamparan besi tombak.
“Ini salah satu prajurit yang sempat aku lumpuhkan semalam.” Elang mengenali bekas luka memar yang dibuatnya.
“Pasukan kerajaan Pamujan. Kurang ajar!” gumam Arjuna dengan geram. Ksatria berwajah tampan itu kemudian bangkit dan mengambil kudanya.
“Mau kemana Paman?” panggil Gatotkaca melihat Arjuna akan melajukan kudanya.
Tidak mau ketinggalan, Elang mengikuti Arjuna di belakangnya setelah melihat kuda milik penduduk desa dan menaikinya. Sedangkan Gatotkaca melesat mengikuti dari udara.
Arjuna menerobos masuk istana kerajaan Pamujan ketika ia sampai di sana, tak ada satu prajurit pun yang bisa menghalanginya. Begitu juga dengan Elang yang merangsek masuk ke dalam alun-alun istana dengan kudanya.
Setelah dikepung oleh sepasukan prajurit pengawal istana, Elang turun dari kudanya. Ia meraih sebuah tombak dari satu prajurit yang terjatuh karena serangannya ketika di atas kuda. Senyumnya mengembang begitu memainkan tombak yang ada dalam genggamannya, lalu menghunuskan ke arah para pasukan yang mengepungnya.
Sebuah keuntungan dimiliki oleh Elang dengan tombak, prajurit pasukan musuh yang bersenjatakan pedang tidak memiliki jangkauan panjang berhasil dilumpuhkan satu persatu dengan sabetan senjata yang ada di tangannya.
__ADS_1
Elang tak punya niat membunuh mereka, ia hanya ingin membuka jalan untuknya agar bisa masuk ke dalam istana. Meskipun meski melukai para prajurit itu dengan sisi lebar mata tombaknya dengan tamparan keras.
Sementara dari dalam istana, Arjuna harus berhadapan dengan ksatria dari kerajaan Pamujan. Badannya besar, tampangnya sangar, ditambah dengan senjatanya yang besar. Ksatria itu adalah raksasa yang terbuang karena tubuhnya yang kecil menurut ukuran jenis mereka, karena dianggap memalukan maka ia dibuang dari bangsa raksasa.
Ksatria bertubuh besar itu merangsek maju, ia ingin menyerang Arjuna dengan gadanya yang besar.
Tapi gerakan Arjuna lebih lincah darinya, ia melompati lawannya dengan gerakan salto. Secepat kilat sebuah sinar berwarna keemasan keluar dari tangan kiri Arjuna, tangan sebelah kanannya menarik senar busurnya yang tiba-tiba mengeluarkan anak panah. Setelah anak panah dilesakkan, kepala ksatria setengah raksasa itu pun hancur berkeping-keping.
Raut ketakutan terpancar dari wajah Ramadwipa, raja kerajaan Pamujan. Terlebih ketika Arjuna berjalan ke arahnya.
“Semalam ada prajuritmu yang megeroyok saudaraku. Kau tau siapa?” kata Arjuna dingin, tangannya mencengkram leher baju Ramadwipa.
Meskipun ada beberapa orang dalam istana, tapi tak ada satupun yang berani melawan Arjuna setelah melihat kemampuannya menghajar ksatria tertinggi kerajaan mereka.
“Ti—Tidak tahu. Si—Siapa kamu?”
“Aku Arjuna, raja dari Panchala.” Arjuna mendekatkan wajahnya pada wajah Ramadwipa. “Mungkin kita bisa sedikit bekerja sama kalau kau menuruti kata-kataku.” Dilepaskannya cengkraman tangan pada leher baju orang di hadapannya itu.
Elang masuk ke dalam istana dengan tombak di tangan, di hadapannya tergeletak seorang ksatria bertubuh besar yang kepalanya hancur.
“A—Apa tawaranmu, wahai Raja Panchala?” Masih dengan ketakutannya yang sudah sedikit menghilang.
Arjuna tersenyum sedikit menyeringai. “Panchala dan Pamujan, kita adalah dua kerajaan yang bertetangga. Bagaimana kalau mulai hari ini kita kembalikan kerja sama yang dulu pernah terjalin di antara kerajaanku dan kerajaanmu?”
__ADS_1
Ramadwipa terdiam, ia mencoba mencerna maksud dari Arjuna. “Ma—Maksudmu kita jalin lagi kerja sama kita di bawah Kurawa?”
Kerah baju Ramadwipa dicegkram lagi oleh Arjuna, ia mendekatkan wajahnya pada raja Pamujan. “Di bawah Pandawa!” kata Arjuna lagi setengah memaksa.