Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Sebuah Sebab Akibat


__ADS_3

Kedua prajurit yang ada di hadapan Gatotkaca terlihat sangat ketakutan melihat wajah penuh amarah dari ksatria tampan berkumis tipis yang memakai zirah hitam berlambang bintang matahari berwarna emas di dadanya itu. Salah satunya mundur beberapa langkah dengan mendorong tubuhnya dengan kaki, sekaligus menarik temannya yang terluka.


Sebelum sempat Gatotkaca melampiaskan amarahnya, suara ledakan terdengar tak jauh dari tempatnya berada. Rupanya pertempuran antara Elang dan Brog, pemimpin pasukan tempur planet Zagustron telah dimulai.


Pedang cahaya milik Brog terliha tegak saat dibiarkan diam dalam posisi siaga, namun menjadi liar seperti cambuk saat diayunkan oleh pemiliknya. Sehingga membuat Elang kewalahan menghindari sekaligus melakukan serangan terhadap lawannya itu.


Beberapa kali Elang harus menghindari jilatan lidah api yang keluar dari pedang cahaya Brog, beberapa kali juga ia mencoba menyerang meskipun belum membuahkan hasil. Namun, dari hasil lompatan dan hindaran yang dilakukan olehnya, akhirnya Elang bisa mencapai senjata yang sebelumnya terjatuh dari tangan Brog.


Elang berkelit setelah mendapatkan senjata laser yang sedari tadi diincarnya, kemudian melompat menuju Kapten Firman, tetapi alangkah terkejutnya lelaki berambut acak-acakan itu ketika lompatan yang diambilnya malah membuat dirinya menjadi terbang.


“Hey, apalagi ini? Kenapa aku bisa terbang?” gumamnya dengan wajah kebingungan, lalu mendarat tepat di samping kakaknya Dara.


 “Elang, kau bisa terbang?” Kapten Firman bertanya dengan wajah keheranan.


“Memangnya aku terbang, Kak?” Bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan, Elang malah balik bertanya dengan wajah tidak percaya.


“Iya, kau terbang tadi. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.”


“Entahlah, Kak. Aku juga bingung. Sedari tadi aku kemari, lariku makin cepat, lompatanku bisa tinggi. Sekarang malah terbang.” Di tengah kebingungannya itu, Elang memberi senjata yang berhasil diambilnya. “Pakai ini buat lawan mereka, Kak.”


Kapten Firman menerima senjata yang diberikan oleh Elang, ia memperhatikan dengan seksama teknologi senjata yang ada dalam genggamannya itu. Dalam waktu singkat, lelaki yang berpangkat Kapten kompi pasukan khusus itu langsung mengerti cara memakai senjata milik planet Zagustron. “Terima kasih, Lang. Ayo, kita lanjutkan pertempuran ini.”


Elang mengangguk, lalu keluar dari persembunyiannya. Dengan cara yang sama ketika ia menuju tempat persembunyian Kapten Firman berada.


“Prof, lihat. Elang bisa terbang?” ujar Dara yang semakin penasaran dengan perubahan yang ada dalam diri lelaki yang disayangnya.


“Iya, saya melihatnya, Ra. Ini pasti ada hubungannya dengan mesin waktu yang saya buat.”

__ADS_1


“Maksudnya, Prof?”


“Saya belum bisa menyimpulkan secara pasti, Ra. Tapi ini baru kecurigaan saya, karena mesin waktu ini belum sepenuhnya sempurna. Jadi ada kemungkinan kegagalan di dalamnya.”


“Aku tidak mengerti, Prof.”


“Nanti saya jelaskan kalau Elang dan kakakmu beserta Gatotkaca kembali kemari,” pungkas Profesor Tejo sambil menggenggam gelang waktu yang tadi dipakai oleh Elang untuk pergi ke masa lalu dan kembali lagi ke masa ini.


Sementara itu, dari atas gedung tempat kedua prajurit besi berada. Gatotkaca terbang turun menuju tempat pertempuran antara Elang dan Borg. Satu per satu ia menghantam sekumpulan prajurit planet Zagustron dengan kepalan tangannya. Kilatan laser dari senjata para prajurit makhluk angkasa luar itu sedikitpun tidak membuatnya terluka.


Emosi yang tersulut di dadanya membuat dirinya semakin beringas dalam menghantam makhluk yang menyerang bumi, sehingga dalam waktu yang tidak lama. Seluruh pasukan Zagustron sudah tidak berdaya.


Elang masih tetap harus menghadapi Borg dan pedang cahayanya yang juga bisa berfungsi sebagai cambuk. Sudah banyak cara yang dikeluarkan oleh Elang untuk berusaha menyerang lawannya, namun semuanya terlihat nihil.


Setelah puluhan kali berkelit dan menghindar dari jilatan pedang cahaya lawannya, sontak saja Elang tetiba mempunyai ide untuk menangkisnya dengan pedang berkarat miliknya yang dibawa dari masa lalu.


Ketika Borg mulai menyerangnya kembali dengan sabetan, Elang membentangkan pedangnya untuk menangkis. Benar saja, apa yang tidak terlintas dalam pikirannya selama ini malah membantu. Lidah pedang cahaya yang mirip seperti cambuk itu melingkari pedang dalam genggaman Elang.


Bukannya patah, pedang karatan yang ada dalam genggaman Elang itu malah menyerap seluruh energi senjata Borg. Tak berselang lama, pedang yang berasal dari angkasa luar itupun terjatuh karena kekuatannya sudah hilang.


“Apa ini? Kau apakan senjataku?” pekik Borg, suaranya seperti robot.


“Yeah, teknologi kuno milik planet ini. Besi berkarat!” jawab Elang dengan penuh percaya diri. Ia melihat pedang di tangannya kini berpendar dan bercahaya, mirip seperti apa yang dipegang oleh Borg sebelumnya. “Oh iya, terima kasih buat energi cahayanya. Baru sekarang kulihat, ternyata pedang ini lebih bagus kalau berkilap”, sambung Elang lagi.


Pedang dengan besi berkarat yang ada di tangannya kini berubah menjadi bersih, ada ukiran indah di dalamnya yang selama ini tertutup oleh tebalnya karat berwarna cokelat. Ukiran bergambar harimau yang saling menerkam dengan beberapa empat elemen kekuatan tergambar di sana. Cahaya yang diambil energinya itu membuat pedang itu kini berwarna putih keperakan.


“Sekarang, kita lihat. Seberapa hebatkah kekuatan pedang ini!” Elang langsung merangsek maju setelah menyelesaikan kalimatnya. Dengan sekali sabetan saja, Borg terjatuh dengan tubuh yang terpotong menjadi beberapa bagian.

__ADS_1


Melihat pemimpin pasukan Zagustron roboh, Kapten Firman keluar dari tempat persembunyiannya. Ia tadi hanya sempat melepaskan tiga kali tembakan ke arah lawannya, karena Gatotkaca yang tiba-tiba muncul dan menghabisi mereka.


“PAMAN!” pekik Gatotkaca pada Elang. Amarah masih membara dalam dirinya.


“Kita berhasil, Gatotkaca!” Elang bersorak kegirangan, namun sorakannya itu malah dibalas remasan oleh Gatotkaca tepat di leher baju yang dikenakannya. “Hey, ada apa ini, Gatotkaca?”


“Katakan padaku, Paman. Kenapa Pandawa kalah dalam Bharatayuda?” Emosi dalam diri Gatotkaca memuncak, matanya terlihat berapi. 


Kapten Firman yang sejatinya ingin menghampiri mereka, mengurungkan niatnya. Ia hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat banyak.


Drone milik beberapa stasiun televisi swasta mengitari Elang dan Gatotkaca, mereka menyiarkan langsung apa yang terjadi di sana.


“Profesor, mereka kenapa?” Wajah Dara terlihat panik melihat kejadian yang ada di layar monitor ruang bawah tanah persembunyian Profesor Tejo.


Lelaki berambut gondrong seperti pemain band metal itu menggeleng pelan. “Saya tidak tahu, Ra. Ini yang sebenarnya saya takutkan dari rencana Elang.”


“Rencana Elang?”


“Iya, Elang punya rencana mendatangkan Gatotkaca dari masa lalu. Saya sudah jelaskan soal paradoks waktu yang akan terjadi, tapi Elang tetap bersikukuh.”


“Lalu?” Gadis itu menghela nafas panjang.


“Paradoks waktu masih bisa ditolerir bagi mereka yang melakukan perjalanan waktu. Tapi bagi orang lain? Saya rasa tidak.” Profesor Tejo menggeleng sambil menuntaskan kalimatnya.


Dara menutup wajahnya, ia tak mau melihat kejadian berikutnya yang akan menimpa lelaki yang disayangnya itu.


Gatotkaca siap melancarkan sebuah pukulan kepada Elang, tetapi pukulan itu terhenti, seperti ada tembok yang menghalangi ksatria hasil tempaan para dewa itu.

__ADS_1


“Tunggu, biar kujelaskan padamu!” kata Elang sambil berusaha menutupi wajahnya.


__ADS_2