
Baru dua hari setelah ledakan yang membuat trauma membekas pada masyarakat di Jakarta, pemerintah sudah menerapkan status siaga satu untuk Jakarta. Karena menurut laporan yang diterima, ada banyak ledakan susulan di beberapa wilayah.
Ibukota negara lumpuh, untuk sementara pusat pemerintahan dipindah ke Bogor. Kota terdekat dari Jakarta, sekaligus agar bisa memantau perkembangan dari sana.
Truk tronton yang membawa pasukan tentara berbaris memasuki Jakarta, diikuti dengan barisan tank tempur dan persenjataan berat lainnya.
Wajah-wajah cemas terpancar dari para tentara yang ada di dalam sana. Salah satunya Kapten Firman yang sedari tadi kesulitan menghubungi keluarganya.
“Sabar Pak, mereka pasti selamat,” kata bawahannya mencoba menghibur.
“Semoga saja. Sudah sampai di mana kita?” Firman memasang wajah wibawa sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku baju.
“Juanda, Pak.”
Kapten Firman yang sedari tadi duduk di bagian tengah tronton bangkit, ia berjalan ke arah belakang truk untuk sekedar mencari angin. Tapi pemandangan yang dilihatnya sungguh memilukan.
Jalur commuter line Jabodetabek yang berada di atas putus sebagian. Kereta yang kebetulan melintas saat itu jatuh menimpa beberapa mobil di bawahnya, tubuh-tubuh manusia baik yang utuh maupun tidak utuh bergelimpangan di sekitarnya.
“Biadab!” Geramnya sambil mengepalkan tangan.
“Sebenarnya apa yang akan kita hadapi, Kapten?”
__ADS_1
Firman menggeleng pelan, “saya belum tau,” jawabnya lemah.
Lapangan Monas yang biasanya steril dari kendaraan bermotor jenis apapun, hari ini dipenuhi dengan kendaraan tempur. Mulai dari mobil lapis baja, tank, sampai peluncur rudal dan juga helikopter. Suasana mencekam terasa ketika tronton yang ditumpangi Firman memasuki area yang sangat bersejarah bagi rakyat Indonesia itu, barak-barak darurat yang dibuat dari tenda berdiri dengan kokoh.
Pesawat tempur milik angkatan udara melesat membelah langit Jakarta berkali-kali, mencoba menemukan posisi musuh mereka yang tersembunyi di balik langit. Dari bawah, Firman sudah sekian kali mencoba menghubungi keluarganya. Setelah serangan kemarin, ia terputus kontak dengan mereka.
Sebuah panggilan video masuk ke ponselnya, membuat wajah cemasnya berganti ceria. Buru-buru lelaki itu mengangkat telepon itu.
“Kak Firman, di mana? Aku sama ayah dan ibu lagi di jalan mau keluar Jakarta.” Gambar di layar ponselnya menunjukkan wajah adiknya yang sedang berada di dalam mobil.
“Alhamdulillah, sedari tadi aku coba telepon kalian tapi gak bisa-bisa!”
“Iya Kak, sinyalnya baru ada. Ini aja aku langsung telpon kakak waktu liat notif telepon dari kakak.”
Dari seberang sana, adik kesayangannya itu meneteskan air mata.
“Dara, kamu jangan nangis. Ini udah jadi tugas Kakakmu. Kalau terjadi apa-apa sama Kakak, tolong kamu bilang ke kak Bunga, kalau Kakak mencintainya.” Tanpa disadari, air mata juga menetes di pipi lelaki bertubuh tegak itu.
“I-Iya Kak. Kalau kakak mau cari tempat perlindungan, pergi saja ke taman Situlembang, Kak. Ada gardu listrik dekat situ, masuk ke dalamnya. Di sana ada teman Dara. Namanya Elang dan profesor Tejo. Tempatnya aman dari serangan. Bilang aja kakak adalah kakaknya Dara!” Gadis itu terisak, tak kuat melihat kakaknya.
Dari kursi kemudi, ayahnya melihat ke layar ponsel. Ia hanya mengangguk pelan menyaksikan putra kesayangannya yang dulu sempat berdebat soal keputusannya masuk akademi militer. Tetapi hari ini, lelaki paruh baya itu merasa bangga padanya.
__ADS_1
“Firman, Ayah bangga sama kamu,” ujarnya sambil memberi hormat.
Firman tersenyum bahagia, baru kali ini ayahnya bangga kepadanya. Sejak ia memutuskan masuk akademi militer beberapa tahun lalu, ada perang dingin antara dirinya dengan sang ayah. Setiap kali dirinya pulang dari asrama, suasana di rumah tidak pernah harmonis. Tinggal ibunya yang mencoba mendamaikan mereka meski gagal terus. Ia membalas hormat yang diberikan oleh ayahnya.
Dari ujung sana, Ibunya dan Dara tersenyum bahagia melihat dua lelaki dalam keluarga mereka akhirnya berdamai.
“Yah, maafin Firman yang suka keras kepala…” Belum selesai ia meneruskan kata-katanya, sebuah ledakan kembali terjadi menghantam Istana Negara.
“Man… Firman!” Pekik ayahnya yang panik karena tiba-tiba gambar di ponsel Dara yang menunjukkan wajah anaknya, berubah menjadi gelap karena terjatuh.
“Ayah, Istana Negara diserang. Aku harus bertugas. Aku sayang kalian!”
“Kak, ingat. Kalo butuh perlindungan, ke Taman Situlembang…” Dara tak sempat menghabiskan kalimatnya karena hubungan telepon video mereka terputus.
Kepanikan seketika terjadi di lapangan Monas. Firman langsung memutus panggilan telepon dari adiknya, kemudian ia menatap kepulan asap hitam dari arah Istana.
“Kapten, tangkap!” Sebuah senjata laras panjang dilempar oleh anak buahnya yang dengan sigap ditangkap oleh Firman.
“Terima kasih, Kopral!” Kemudian ia berlari menuju asal ledakan tadi.
Pemandangan yang terhampar di depan Firman dan para tentara lainnya sangat di luar dugaan. Sisi barat istana negara yang terdapat taman yang luas dan jalan di sekitarnya yang menghubungkan antara Harmoni dan Tanah Abang ikut hancur. Bangunan utama istana masih berdiri meskipun sebagian runtuh.
__ADS_1
“Cari dan selamatkan korban!” Pekik Firman sambil merangsek maju dan mencari sumber tembakan. Tapi belum sempat ia sampai di tempat yang ditujunya, sebuah ledakan kembali terjadi tak jauh dari tempatnya berdiri. Tubuhnya yang terlatih itu pun terpental dan beberapa tentara yang ada di pusat ledakan, hancur berkeping-keping.