
Setelah kebingungan melanda para prajurit kerajaan Dumirah, Elang meminta izin pada Petruk dan juga Antareja untuk maju lebih dulu menghajar pasukan lawan. Ia sengaja tidak memakai pedang yang diberikan oleh Petruk, dengan alasan pedang itu terlalu mematikan. Melawan raksasa saja sekali tebasan bisa merobek daging sampai memutus bagian tubuh yang terkena sabetannya, apalagi kalau sampai manusia yang kena.
Memanfaatkan kebingungan lawannya, Elang maju dengan tangan kosong. Berbekal ilmu bela diri yang dimilikinya ditambah dengan beberapa jurus yang diajarkan oleh Petruk dan Gareng, lelaki yang datang dari masa depan itu menghajar lawannya dengan pukulan dan juga tendangan. Ketika musuh yang dihadapinya terjatuh, ia pun merebut tombak yang menjadi senjata prajurit perang Dumirah.
Hanya berbekal sabetan gagang tombak, Elang melumpuhkan satu per satu tentara lawan. Dirinya sengaja tidak membunuh, karena ia selalu ingat kata-kata gurunya saat di masa depan.
"Membunuh tak akan membuatmu kuat, malah akan melemahkanmu"
Berbekal kata-kata dari gurunya, Elang tidak pernah mau mau membunuh lawannya, kecuali kalau terpaksa. Itupun yang dibunuhnya berupa bangsa raksasa, banaspati, ataupun musuh yang bukan dari bangsa manusia.
Saat kesadaran para prajurit Dumirah mulai kembali., Elang masih belum berhenti menghajar mereka satu per satu. Sebuah serangan datang dari arah belakang, Elang memutar tubuhnya, ia membiarkan tombaknya berdiri lalu dengan sebuah tendangan keras di tengah, tombak itu pun melayang mengenai penyerangnya hingga jatuh terjerembab.
Setelah hampir sepuluh menit, stamina Elang mulai terkuras. Beberapa serangan sedikit demi sedikit mulai masuk mengenai tubuhnya, hingga pada satu titik di mana sebuah serangan dari salah satu prajurit yang akan menusukkan pedang ke punggungnya.
Elang berbalik, tapi sayangnya mata pedang itu tinggal beberapa senti lagi menghujam dadanya. Saat-saat seperti ini ia menyesali keputusannya untuk tidak memakai baju dari Antareja yang diberikan padanya saat ingin berangkat bersama Arjuna mengambil senjata Kunta Wijaya waktu itu. Saat berangkat dari Karang Kedempel, ia lebih memilih memakai sweater hitam kesayangannya.
Ditatapnya dalam-dalam wajah musuhnya, kemudian pedang yang tinggal sepersekian detik lagi merobek tubuhnya. Elang sudah benar-benar pasrah pada nasib yang akan menimpanya. Ada senyum mengembang di bibir Elang, ada air mata menetes di pipinya. Ia merasa bodoh dan gagal menjalani misinya.
TRANG!
Sebuah suara besi beradu terdengar sangat keras di dekat Elang, pemandangan berikutnya yang dilihat adalah pedang yang tadi sudah siap untuk menghujam jantungnya patah menjadi dua bagian.
__ADS_1
“Kau sudah lelah, Ngger. Istirahatlah dulu,” ujar Petruk yang tiba-tiba ada di sebelah Elang.
“Aku tidak apa-apa Guru.” Sambil menghajar orang yang hampir membunuhnya, Elang menjawab Petruk.
Petruk yang sedari tadi hanya memandang dari kejauhan, kali ini ikut menghajar pasukan lawan dengan tangan kosong. “Coba lihat luka-lukamu, Ngger. Bahaya kalau diteruskan.”
Elang melihat luka-luka di tubuhnya yang kebanyakan ada di bagian lengan, ia lalu menggeleng tidak percaya karena dirinya tidak merasa sakit sama sekali.
“Sudah, istirahat dulu saja, Ngger!” kata Petruk lagi sambil menangkis serangan demi serangan yang gencar diluncurkan oleh para prajurit kerajaan Dumirah. Masa lalunya sebagai bangsa jin membuat dirinya mempunyai berbagai macam ilmu yang tidak dimiliki oleh manusia biasa.
Tanpa melihat ke arah lawan, Petruk menangkis dan menghindari serangan dari lawannya yang sudah mulai kebingungan karena setiap kali menyerang, selalu dengan mudah dipatahkan. Padahal mereka sudah mengeroyok sampai sepuluh orang dengan bersamaan.
Sebuah hentakan dikeluarkan oleh Petruk sehingga menimbulkan sebuah gelombang udara yang menghempas para prajurit yang mengeroyoknya hingga mereka terpental beberapa meter jauhnya.
Lelaki bertubuh kekar bernama Prawitra, panglima perang tentara kerajaann Dumirah pun maju menghadap Yasatra, kemudian ia berlutut memberikan hormatnya.
“Sudah saatnya kau maju, kalahkan mereka. Bawa kemari kepala orang itu.” Yasatra menunjuk ke arah Elang.
“Baik yang mulia.” Tanpa menunggu waktu lama, Prawitra melompat tinggi dan berguling beberapa kali di udara. Ketika akan mendarat, sebuah tendangan keras menghantam punggung Elang sehingga ia terjatuh tak berdaya dengan darah mengucur dari mulutnya.
Lelaki bertubuh kekar dengan celana hitam dan kain selempang hitam itu berjalan mendekati Elang yang tidak berdaya, senyumnya menyeringai memandang lawan yang nampak kelelahan karena melawan anak buahnya sedari tadi. Rambut Elang yang mulai memanjang ditariknya hingga kepalanya terangkat.
__ADS_1
“Hahaha, cuma segini kemampuanmu?” Setelah menyelesaikan ucapannya, panglima perang kerajaan Dumirah mendorong kepala Elang hingga menghantam tanah.
Pandangan mata Elang menjadi buram, kepalanya sangat pusing. Tendangan yang diterimanya tadi benar-benar sangat keras. Ia mencoba untuk bangkit, tapi seluruh tubuhnya terasa tak berdaya.
“Tidak usah berusaha bangun. setiap kali kau berusaha untuk bergerak, semakin kencang juga ilmuku mengikat dirimu,” tukas Prawitra sambil tertawa. Bukan tanpa alasan kenapa dirinya diangkat menjadi panglima tertinggi kerajaan Dumirah, lelaki bertubuh kekar yang usianya sekitar empat puluh tahun itu mempunyai ilmu pengikat jiwa yang mampu mengikat dan mencekik tubuh lawannya dengan kekuatan yang tak kasat mata.
Dirinya mendapat jabatan yang sekarang diembannya saat diadakan sayembara untuk para prajurit di kerajaan Dumirah. Ia mengalahkan panglima perang sebelumnya yang dibunuh dengan perlahan dengan menggunakan jurus andalannya.
“Si—Siapa kau?” Elang berusaha berteriak, tapi suara yang keluar sangat kecil.
“Aku Prawitra, panglima perang kerajaan Dumirah yang akan memenggal dan membawa kepalamu menghadap raja kami.” Pramitra mengeluarkan sebilah pedang dari sarungnya, memandangi dengan seksama mata pedangnya yang terbuat dari perak, lalu menebas sebuah kayu besar hingga patah dalam hanya sekali tebasan.
Dalam ketidak berdayaannya, Elang hanya bisa memandang Prawitra mengangkat pedang peraknya lalu bersiap untuk mengayunkannya menebas batang leher Elang. Ingin rasanya berteriak, tapi tak ada satupun suara yang keluar dari kerongkongannya.
Pedang perak itu berayun dengan cepat, mata pedangnya bersiap untuk memenggal leher Elang yang sudah terbujur lemah. Tapi sebelum berhasil mencapai sasarannya, ksatria sekaligus panglima perang dari Dumirah membatu, tubuhnya menjadi debu dan perlahan sirna ditiup angin.
Bukan hanya Prawitra, tapi seluruh pasukan kerajaan Dumirah juga mengalami hal yang sama, tubuh mereka berubah menjadi abu lalu sirna ditiup angin. Hanya menyisakan senjata dan pakaian yang terjatuh ke tanah.
Tidak jauh dari tempat pertempuran, Antareja terlihat sedang mencium tanah yang bekas dipijak oleh tentara pasukan Dumirah. Salah satu kelebihan dari putra Bima dengan Dewi Nagagini adalah bisa di mulutnya yang sangat beracun dan mampu membuat pasukan musuh menjadi debu hanya dengan sekali mencium jejak kaki lawannya.
Belitan tak kasat mata di tubuh Elang pun sirna seiring dengan menghilangnya pemilik jurusnya. Elang bangkit sambil mengambil pedang yang hampir saja merenggut nyawanya.
__ADS_1
Yasatra yang kebingungan melihat pasukannya yang menghilang jadi abu terlihat sangat ketakutan. Ia berusaha berlari, tapi sebelum sempat pergi jauh, tubuhnya membatu, lalu jatuh ke tanah dan hancur.
Antareja bangkit dan tersenyum, ia lalu mengajak Elang dan Petruk kembali ke tempat mereka duduk sebelumnya sambil memapah Elang yang sedikit kesakitan karena luka di tubuhnya.