
Sengitnya pertempuran antara Gatotkaca dan Setyaboma membuat resah para pasukan Pandawa yang sedang mempersiapkan diri untuk turun ke medan perang suci Bharatayuda.
Semula Gatotkaca-lah yang akan menjadi panglima perang, tapi ketidak jelasan akan kapan dirinya kembali, membuat Kresna merubah strategi yang akan dijalankan.
“Bharatayuda tinggal beberapa hari lagi, bagaimana kalau Gatotkaca belum kembali, Kangmas Kresna?” tegur Yudhistira yang juga tak sabar menantikan keponakannya kembali.
Kresna menghela nafas. “Berdoa saja supaya ia cepat kembali, sementara aku akan menyusun kembali strategi kita.”
Yudhistira menepuk bahu Kresna, wajahnya tampak lelah memikirkan kelakuan Setyaboma yang sudah menyalahgunakan ilmunya untuk membunuh saudaranya sendiri. Ditambah lagi harus memikirkan Bhratayuda, sebuah perang di mana dirinya sendiri tidak ingin ini semua terjadi.
“Seharusnya aku tidak mengutus Gatotkaca untuk melawan Setyaboma. Aku sendiri yang harusnya bertanggung jawab atas kelakuan anakku yang kurang ajar itu!” gerutu Kresna, ia benar-benar tak bisa memaafkan dirinya sendiri.
“Bukan salahmu, Kangmas. Raden Setyaboma melakukan tindakan itu atas dasar nafsunya sendiri. Lagipula perbuatannya juga sudah tidak bisa ditolerir lagi.” Yudhistira mencoba menenangkan hati Kresna.
“Tapi harusnya aku sendiri yang menghakiminya, bukan Gatotkaca.”
“Kalau Kangmas yang turun, siapa yang akan menjadi pemimpin pasukan kita?”
Kresna mengangguk pelan, ia akhirnya memahami bahwa dirinya lebih dibutuhkan untuk membantu pasukan Pandawa daripada melampiaskan amarahnya pada Setyaboma, anak kandungnya sendiri.”
Sebagai titisan Dewa Wisnu, Kresna mempunyai banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia yang lain. Selain mempunyai karisma yang tinggi, ia mampu melakukan tiwikrama —Perubahan wujud menjadi raksasa— terlebih jika dirinya sedang dilanda amarah. Dari tangannya mampu mengeluarkan sebuah senjata berupa cakra berwarna keemasan yang bila dilepaskan mampu menghancurkan setengah populasi manusia di bumi.
Di luar tenda, sambil memandangi gelang waktu yang terbuat dari baja ringan miliknya, Elang terus memikirkan nasib Dara, profesor Tejo dan juga Kapten Firman, kakaknya Dara di masa depan. Dalam hatinya terus berkecamuk, apa jadinya kalau sampai hari di mana Gatotkaca gugur, dirinya masih belum bisa kembali ke masa depan.
Atau mungkin pada saat genderang perang Bharatayuda ditabuh, dirinya yang harus gugur di hari pertama? Sedangkan panel penunjuk daya di gelang waktu miliknya belum terisi penuh.
Trang!... Trang!... Trang! Suara perisai yang diadu dengan pedang berbunyi. Suara itu sengaja dibunyikan, bukan yang dikeluarkan dari latihan perang. Itu adalah suara untuk memanggil para pasukan.
“MAKAN SIANG SUDAH SIAP… AYO SEMUA KUMPUL!” Teriakan lantang terdengar dari tenda dapur umum pasukan, sebagai tanda waktu telah menunjukkan tepat tengah hari. Seluruh pasukan yang tadi sedang berlatih pun menghentikan latihan mereka, lalu berbondong-bondong mengantri untuk mendapatkan makanan yang disediakan.
__ADS_1
Sementara itu di kerajaan Trajutrisna, pertarungan dua orang yang sakti belum juga kunjung usai. Berkali-kali Gatotkaca berhasil membantai Setyaboma, tapi berkali-kali juga putra sulung Kresna itu berhasil hidup kembali tatkala tubuhnya menyentuh tanah.
Gatotkaca sama sekali tidak menyadari hal ini, pemuda hasil tempaan para dewa itu pun terlihat sangat kewalahan dengan Setyaboma, yang menjadi lawannya. Karena saat ia kembali hidup, bukannya semakin lemah, Setyaboma malah menjadi semakin kuat.
“Ilmu apa yang dimilikinya?” gumam Gatotkaca nyaris tanpa suara.
“Hahaha… Menyerahlah kau Gatotkaca. Aku, Setyaboma lah yang akan menghabisimu!” ujarnya dengan suara yang menggelegar.
“Aku harus meminta petunjuk pada paman Kresna.” Gatotkaca kembali bergumam sambil membiarkan Setyaboma merangsek maju untuk menyerangnya. Saat tubuh lawannya sudah dekat, ia langsung menghajar Setyaboma dengan pukulan halilintar yang menyebabkan tubuh Setyaboma hancur berkeping-keping.
Melihat Setyaboma hancur, Gatotkaca tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Secepat kilat dirinya terbang meninggalkan Trajutrisna, kembali ke tenda perang para tempat para Pandawa dan para sekutunya berada.
Kresna bisa bernafas lega tatkala melihat Gatotkaca memasuki tenda tempatnya berada. “Ah, sukurlah, Ngger. Akhirnya kau kembali juga.”
“Salam sembah, Paman Kresna. Saya mohon maaf belum bisa menuntaskan tugas yang Paman berikan pada saya.” Gatotkaca bersimpuh di hadapan Kresna.
“Raden Setyaboma memiliki kekuatan yang tidak pernah saya mengerti, Paman. Entah mengapa setiap kali kubunuh dan kuhancurkan tubuhnya, ia selalu bisa bangkit dan hidup lagi.”
“Apa?!” Kresna terkejut mendengar penjelasan dari Gatotkaca. Ia menatap langit-langit sambil memukul-mukul tangan kirinya dengan kepalan tinju kanannya. “Ajian pancasona. Rupanya, Setyaboma berguru pada resi Subali. Kurang ajar! Pantas saja beberapa bulan ini dia berani sekali menentangku!”
“Pancasona? Apa itu, Paman?” selidik Gatotkaca.
“Pancasona adalah sebuah ilmu yang memiliki jurus itu tidak akan pernah mati, meskipun tubuh mereka hancur sekalipun. Setiap kali anggota tubuh mereka mencapai tanah, seluruh bagian tubuhnya akan menyatu kembali dan menghidupkannya.
“Lalu, bagaimana aku bisa menghancurkan ilmu itu, Paman?”
Titisan Dewa Wisnu itu kembali menghela nafas. “Satu-satunya cara agar ilmu itu tidak berfungsi adalah dengan menahannya agar tidak jatuh ke tanah, Ngger.” Mata Kresna menatap tajam Gatotkaca.
“Caranya, Paman?”
__ADS_1
“Akan kuminta dewa Udawa untuk mengikutimu saat pertarungan, Ngger. Kau hancurkan tubuhnya, tapi jangan pernah kau biarkan tubuh Setyaboma jatuh ke tanah.”
Gatotkaca menunjukkan wajah keheranan.
“Kau tenang saja, Ngger. Saat pertarunganmu dengan Setyaboma nanti, akan kuperintahkan dewa Udawa membuat jaring tak terlihat agar tak ada satupun bagian tubuh dari Setyaboma yang jatuh ke bumi.”
“Baiklah, Paman. Aku akan kembali ke Trajutrisna.” Gatotkaca kembali bersimpuh memberi hormat pada Kresna. Kemudian ia bangkit dan siap untuk keluar tenda.
“Ingat, Ngger. Setelah tubuh Setyaboma hancur, bawa ia jauh-jauh dari sini. Kabarnya, jauh di ujung dunia sana ada sebuah daratan yang berwarna putih dan sangat dingin. Kau bawa tubuh Setyaboma ke sana dan kuburkan,” sambung Kresna.
“Tapi Paman, bukankah itu akan membuat Setyaboma bangkit kembali?”
“Tidak, Ngger. Daratan putih di sana bukanlah tanah. Itu seperti air yang mengeras.”
Sehabis mendengar penjelasan dari Kresna, Gatotkaca kemudian kembali terbang ke Trajutrisna dengan kecepatan tinggi.
Begitu sampai di Trajutrisna, Setyaboma menyambutnya dengan lontaran bola api yang langsung dihindari oleh Gatotkaca.
“Hahahaha… Kukira kau seorang pengecut yang lari begitu saja dari pertempuran, Gatotkaca!” ejek Setyaboma. Dalam pertarungan mengejek adalah salah satu cara tepat untuk menyulut emosi lawan sekaligus membuat konsentrasi lawan berantakan.
Tapi hal itu tidak berlaku buat Gatotkaca. Putra Bima itu langsung mengangkat tinggi tubuh Setyaboma ke angkasa, tanpa disadari, lawannya itu sekarang sudah belajar banyak dari pertarungan mereka yang berlangsung beberapa hari. Kepala Setyaboma dihantamkan pada kepala Gatotkaca agar bisa mendapatkan sedikit ruang untuk tubuhnya bergerak.
Tanpa sepengetahuan Setyaboma, Udawa mulai menebar jaring tak terlihat. Dengan perlahan, Gatotkaca menarik lepas tangan Setyaboma. Bukan kesakitan, ia malah tertawa karena ilmu Pancasona akan membuatnya hidup kembali.
Namun, senyuman di wajah Setyaboma menghilang ketika melihat tangannya yang dilempar Gatotkaca, bukannya jatuh ke tanah malah melayang di udara.
“A—Apa? Sihir apa yang kau lakukan?” Wajahnya sangat ketakutan, ia mencoba melawan Gatotkaca dengan sisa tenaga yang ada.
Berikutnya adalah kaki Setyaboma yang dilepas dari tubuhnya, satu per satu Gatotkaca memutilasi Setyaboma, hingga akhirnya ia melepaskan kepala putra sulung Kresna dari tubuhnya. Begitu selesai, dilipatnya jaring tak terlihat yang dipasang Udawa. Kemudian dengan kecepatan tinggi, Gatotkaca membawa potongan tubuh Setyaboma ke tempat yang disarankan oleh Kresna.
__ADS_1