
Pencarian senjata sakti Kunta Wijaya berjalan dengan tidak mudah, pusaka hasil tempaan para dewa itu berada sangat jauh di dalam hutan Bajubarat. Banyak rintangan dan halangan yang menghadang Arjuna dan Elang dalam mencarinya.
Pada saat mereka harus dihadapkan jalan yang bercabang empat, tiba-tiba muncul burung jalak hitam yang mendarat tepat di salah satu jalur.
“Kita kesana!” tunjuk Elang pada jalur yang ditempati burung jalak hitam.
Arjuna menggeleng, memberi isyarat tidak setuju. “Burung jalak hitam, itu penanda tidak baik,” gumamnya.
“Bukan, dia adalah penanda jalan. Di zamanku, jika seorang pendaki gunung tersesat, mereka kelak menemukan burung jalak hitam yang akan menunjukkan jalan.” Elang mencoba menjelaskan sambil meyakinkan Arjuna.
Ksatria berparas tampan itu terdiam sejenak, ia memandangi tiga persimpangan di hadapannya. Dirinya berpikir keras. “Satu jalan di belakang adalah jalan tempat masuk kemari, satu jalan di sebelah kanan, ada si jalak hitam. Dua jalan sisanya tidak ada. Hmmm…” gumamnya dalam hati. Ia mengangguk pelan, lalu kepalanya menengadah ke arah jalan tempat burung jalak hitam yang sedang mematuk-matuk tanah itu berada. “Baiklah, kita lewat sana,” ujarnya menunjuk jalan di mana jalak hitam itu berada.
Setelah memutuskan jalan yang akan mereka tempuh, keduanya berlari menyusuri jalan yang terkadang tertutup oleh rerumputan. Namun terlihat sangat jelas kalau itu adalah jalur yang biasa dilalui oleh para hewan.
Setelah hampir lima belas menit berlari, jalan di hadapan mereka terlihat melebar. Semakin masuk ke dalam, semakin terlihat ada tanah lapang di depan sana.
Elang mengatur nafasnya yang terengah-engah, baru kali ini ia berlali selama itu lagi. Ketika masih berlatih parkour, dirinya sangat rutin berlari, bahkan beberapa kali menjadi finisher untuk acara lari sejauh 10 kilo yang diadakan oleh banyak penyelenggara.
Lelaki berambut acak-acakan itu menundukkan tubuhnya, lengannya bertumpu pada lutut. Paru-parunya terasa panas, seperti ada api yang membakar. Dirinya mencoba mengatur ritme nafasnya agar kembali normal. Sementara Arjuna menatap takjub pada pemandangan di hadapannya, sebuah kastil dengan dinding batu pualam. Danau yang mengelilingi kastil itu memberi kesan kehidupan, karena pepohonan air di sana hidup dengan hijau dan asri.
“Kita sampai di tempat sang pertapa,” kata Arjuna dengan takjub.
Setelah ritme nafasnya kembali normal, Elang mengeluarkan kamera dari dalam tasnya, ia mengambil gambar kastil yang dilihatnya. Di depan kastil itu ada Arjuna yang sedang membelakangi kamera.
__ADS_1
“Membangun kastil sebagus ini, pasti bukan orang sembarangan.” Sambil memasukkan kembali kamera ke dalam tasnya, Elang mencoba menyimpulkan.
“Ayo, cepat!” Arjuna kembali berlari menuju pintu kastil.
“Hah? Lagi? Gak bisa istirahat dulu?” gerutu Elang, tapi kemudian ia berlari mengikuti Arjuna di belakang.
Pertapa itu duduk bersila di dalam sebuah ruangan, ia memejamkan matanya. Mulutnya seperti sedang merapal mantra, jari-jari tangannya bergerak bergantian antara telunjuk sampai kelingkingnya menyentuh ibu jari. Begitupun sebaliknya ketika sudah sampai kelingking.
Arjuna melangkahkan kakinya masuk ruangan dengan perlahan, ia bermaksud untuk tidak mengganggu sang pertapa. Sementara Elang, menunggu di lorong kastil dekat tangga.
“Apa tujuanmu mengambil Kunta Wijaya, wahai Ksatria?”
Mendengar suara yang entah darimana datangnya, Arjuna terkejut. Ditatapnya sekeliling, mencari asal suara. Karena sang pertapa di hadapannya tidak sekalipun dilihatnya berbicara.
“A—Aku membutuhkannya.” Arjuna kemudian berlutut, tubuhnya bergetar ketika menjawab pertanyaan yang diajukan.
Sang pertapa membuka matanya, kemudian ia melompat menyerang Arjuna. Tapi belum sampai mengenai tubuhnya, Arjuna berguling menghindar.
Melihat Arjuna diserang, Elang mencoba membantu. Ia berlari menghampiri pintu ruangan. Tubuhnya mendadak terpental, seperti ada kekuatan yang menghempas tubuhnya ketika akan melewati garis pintu.
Arjuna bangkit, begitu juga pertapa berambut putih dengan janggut berwarna sama seperti rambutnya itu. Ia melompat lagi mencoba menyerang Arjuna, tapi lagi-lagi ksatria dari Astina itu berhasil berkelit. Ia mencoba menghentakkan tangan kirinya untuk mengeluarkan busur tenaga dalamnya, tapi semua itu sia-sia seolah kekuatan itu tidak pernah ada dalam dirinya.
“Semua ilmu yang kamu punya tak berlaku di sini, ngger. Hanya ketangguhan dalam hatimu yang bisa menyelamatkan dirimu,” ujar pertapa tua itu.
__ADS_1
Meskipun penampakannya seperti orang tua, tapi kekuatan pertapa itu sangat luar biasa. Ia bisa mementalkan Arjuna hanya dengan sekali pukulan yang terlihat pelan.
Elang terus mencoba melewati dinding tak terlihat yang menghalanginya, di hadapannya ia menyaksikan Arjuna sedang dihajar. Ia mencoba menebas pedangnya untuk menghancurkan sekat tak terlihat, tapi usahanya sia-sia.
Sampai pada akhirnya, pertapa tua itu mencoba menerkam Arjuna dengan kedua tangannya di depan. Ksatria itu mengikuti gerakan Elang ketika melawan serigala di hutan Bajubarat. Ia merebahkan tubuhnya dengan kaki dilipat, begitu sang pertapa ada di atasnya, sebuah kepalan tinju dari Arjuna mendarat tepat ke rahang pertapa.
Lelaki tua itu terjatuh, ia mengerang kesakitan. Tapi tak lama, karena sebentar kemudian pertapa tua itu berdiri lagi.
Kaki Arjuna kembali memasang kuda-kuda, ia bersiap untuk menghalau serangan yang datang. Apapun resikonya, ia harus bertahan atau menyerang.
Tak ada serangan dari sang pertapa tua, ia berjalan mengelilingi Arjuna yang tubuhnya sudah penuh karena serangan-serangannya. Ia berjalan bukan dalam tubuh kasarnya, tapi dalam roh yang sejenak dikeluarkan untuk melihat ke dalam hati ksatria yang menjadi lawannya.
Arjuna hanya melihat tubuh pertapa itu diam di hadapannya, tapi tak tahu kalau sebenarnya ia sedang diperhatikan oleh sosok halus sang pertapa tua. Tak lama, ia pun kembali ke tubuhnya
“Aku sudah tahu tujuanmu menginginkan Kunta Wijaya…” Pertapa itu berjalan seperti seolah tak terjadi apa-apa. Ia menyilangkan tangannya ke belakang. “Turunkan kuda-kudamu, kau menginginkan senjata itu bukan untuk dirimu sendiri.”
Ksatria berparas tampan itu berdiri tegak, ia tak lagi memasang kuda-kuda. Kedua telapak tangannya ditempelkan, memberi salam pada sang pertapa. “Salam hormatku, wahai pertapa. Kedatanganku di sini adalah utusan dari dewa Wisnu, aku tak bermaksud menguasai senjata itu. Tapi untuk kelangsungan hidup bayi kakak kandungku yang tubuhnya terlilit tali pusar.”
Sang pertapa tua hanya mengangguk, ia kemudian bersila di hadapan Arjuna. “Ketulusan hatimu membuat dirimu berhak mendapatkan pusaka dewa, Kunta Wijaya.” Selepas berbicara, ada asap mengepul di sekeliling sang pertapa. Asap tebal yang menutupinya, namun tak lama. Ketika asap itu menghilang, pertapa tua itu pun menghilang. Tubuhnya berubah menjadi sebuah keris dengan energi yang sangat kuat.
Arjuna mengambil keris itu, lalu disematkannya ke dalam belitan kain yang ada di atas celananya. Begitu keluar dari ruangan tempat dirinya dan sang pertapa bertempur tadi, luka-luka di tubuhnya langsung sembuh dan menghilang seperti tak pernah terluka.
“Ayo, kita kembali ke Astina,” ajaknya pada Elang yang masih kebingungan melihat luka di tubuh Arjuna pulih dengan cepat.
__ADS_1