Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Pertempuran Di Bumi Dan Langit


__ADS_3

Suara gemuruh terdengar kencang di langit yang menghitam, sesekali kilatan cahaya berpendar diikuti suara menggelegar. Dari tanah lapang di luar hutan Amarta, pasukan Pandawa beserta Elang berdiri menengadah langit.


Apa yang dikatakan para dewa benar, pasukan Banaspati dan Gandarwa berbondong-bondong terbang menuju langit untuk mengkudeta raja dari Kayangan. Awan hitam yang terlihat oleh mata orang awam itu sebenarnya adalah penjelmaan dari bangsa Gandarwa yang jumlahnya ribuan.


Keringat dingin mulai menetes di tubuh Elang. Setelah melawan raksasa beberapa waktu lalu, kali ini ia harus berhadapan dengan makhluk yang terkenal ganas. Meskipun dirinya pernah berhadapan langsung dengan Banaspati, tapi kali ini ia harus menghadapi dalam jumlah yang sangat banyak.


Yudhistira menoleh ke arah Elang yang terlihat tegang, dengan penuh kharisma ia tersenyum kepada lelaki yang datang dari masa depan. “Aku tau, ini pertarungan pertamamu melawan makhluk ganas dengan jumlah banyak. Jangan takut, kami akan melindungimu juga.” Begitu menyelesaikan kata-katanya, sulung dari keluarga Pandawa itu merapal mantra yang tidak dimengerti oleh Elang. Perlahan ada semacam kain yang hampir tak kasat mata kalau saja tak ada cahaya berwarna kuning berpendar, lalu menyelimuti tubuh Elang.


“Rasanya hangat, apa ini?” ujar Elang setelah cahaya keemasan menyelimutinya.


“Itu adalah perlindungan untukmu. Jika mereka menyerangmu, kecil kemungkinan kau akan terluka.” Yudhistira kemudian meluncur terbang sebelum Elang berterima kasih.


Arjuna menatap langit yang semakin menghitam, sesekali cahaya kemerahan berpendar diikuti dengan ledakan yang menggelegar. “Pertempuran sudah dimulai, persiapkan diri kalian!” Kemudian ia mengambil empat buah anak panah, lalu dilesakkan panah itu dengan busur keemasan yang keluar dari pergelangan tangannya.


Nakula dan Sadewa mengeluarkan pedang petir dan api milik mereka, sedangkan Elang mengeluarkan pedang berkarat pemberian dari Petruk. Meskipun berkarat, tapi kekuatannya sangat dahsyat. Tubuh musuh bisa terbelah hanya sekali tebas.


“Elang, Nakula, Sadewa, kalian tunggu di sini. Habisi makhluk yang jatuh dari langit. Aku dan Kang Mas Bima menyerang dari atas bukit, menghalangi makhluk yang mencoba naik.” Kata Arjuna lagi. Lalu mereka menyebar sesuai posisi masing-masing.


Suara derap langkah kuda terdengar dari kejauhan, penunggangnya seorang ksatria dengan rambut panjangnya yang digulung ke atas. Semakin dekat, terlihat kalau itu adalah Setyaki yang datang langsung dari kerajaan Dwarawati dengan kudanya.


“Kang Mas Setyaki!” panggil Nakula dengan senyum sumringah.


“Ayolah, pesta seperti ini masa kalian melupakan Setyaki?” Ksatria itu turun dari kuda, lalu berdiri dengan posisi siap berperang. Dari tangan kanannya keluar cahaya keemasan yang membentuk gada. Meskipun tak sebesar gada punya Bima, tapi gada itu cukup mematikan. Senjata itu diberi nama Gada Wesikuning.

__ADS_1


Kilatan demi kilatan dari anak panah Arjuna melesat dari atas bukit ke langit. Setiap panah yang mengenai sasaran terdengar teriakan seperti gelegar petir. Satu per satu tubuh makhuk buas itu jatuh ke tanah, ketika mati mereka menghilang.


Sesekali terlihat wujud Gatotkaca terbang membuat manuver di langit, berkelit di udara, lalu memukul lawannya yang jumahnya tidak sedikit. Dirinya kini jauh lebih dewasa dari beberapa hari lalu ketika baru keluar dari kawah Candradimuka. Kumis tipis di wajah membuatnya terlihat bukan seperti remaja lagi.


Setiap Banaspati atau Gandarwa yang jatuh ke bumi biasanya langsung tewas, atau terluka parah. Namun tak sedikit juga yang jatuh, namun keadaannya masih kuat dan bisa melawan. Tugas mereka berempat yang menghancurkan dan membunuh pasukan makhluk ganas yang terjatuh itu.


Elang menebaskan pedangnya di perut salah satu Banaspati, tubuhnya langsung terbelah dua dan hancur. Setyaki menghantam gada wesikuning ke kepala Gandarwa, seketika kepala musuhnya hancur berkeping-keping, diikuti tubuhnya yang menjadi debu. 


Nakula dan Sadewa laksana penari, mereka saling memunggungi satu sama lain. Ketika Banaspati ada di hadapan Sadewa dan Gandarwa di hadapan Nakula, keduanya akan berputar dengan irama yang sama sambil menyabetkan pedangnya.


Alasan mereka berputar karena senjata Sadewa yang diselubungi oleh api tak mampu melukai Banaspati yang juga terbuat dari api. Oleh karena itu mereka saling berbagi tugas musuh mana yang akan dihajar.


Yudhistira tak mau ketinggalan, dengan ilmunya yang tinggi, ia terbang dan masuk ke dalam rombongan para penyerang. Sabetan tangannya mampu membentuk angin puyuh yang menghempaskan puluhan makhluk Banaspati atau Gandarwa sekaligus. Sebagian dari mereka jatuh menghempas bumi dengan kondisi mengenaskan dan raib menjadi abu.


Pukulan demi pukulan dilancarkan oleh Gatotkaca yang namanya masih Jabang Tutuka saat itu. Sudah bukan puluhan lagi jumlah musuh yang dijatuhkan olehnya, bahkan ratusan sampai hitungan ribuan. Seperti tak kenal lelah, pemuda berbaju hitam dengan lambang bintang emas di dadanya itu terbang dengan kecepatan tinggi, lalu menghajar makhluk buas yang akan menyerang Kayangan.


“Makhluk apa itu?” geram Elang sambil berusaha melihat dengan jelas apa yang dihadapinya.


Sesosok makhluk bertubuh tinggi besar berdiri di hadapan Elang, batu-batu kerikil menyelimuti tubuh makhluk itu membuatnya jadi kebal akan tebasan pedang.


“Kurang ajar!” Elang melompat ke tempat di mana pedangnya terjatuh, kemudian dengan lugas berguling sambil mengambil senjatanya.


Kuda-kuda dengan posisi kaki kiri di depan dipasang oleh Elang ketika ia bangkit setelah selesai berguling. Pedang di tangan kanannya seolah bergetar, memaksa si pemegangnya untuk mengikuti gerakannya.

__ADS_1


“Apa ini? Kenapa pedang ini bergerak sendiri?” Di tengah kepanikannya, ia mencoba berpikir jernih. Sesaat kemudian dirinya memejamkan mata, lalu membiarkan tubuhnya mengikuti gerakan dari bilah pedang berkarat yang dipegangnya.


Tubuh Elang seperti sedang terbang, sesekali ia bergoyang menghindari gerakan dari lawannya. Hingga di satu kesempatan, pedangnya melesat dengan cepat lalu menusuk mata makhluk yang menjadi lawannya.


Seketika makhluk yang tidak diketahui asalnya itu pun meledak, batu kerikil di tubuhnya berhamburan menciptakan hujan batu.


“Itu tadi apa sih, Lang?” gerutu Nakula yang tubuhnya terkena banyak batu.


“Entahlah, tapi yang jelas hampir melukaiku!” Tanpa banyak omongan lagi, Elang kembali menghajar musuh di hadapannya.


Sementara itu, Gatotkaca berhadapan langsung dengan pemimpin bangsa Gandarwa. Dari wajahnya terlihat kalau dirinya sangat haus akan nyawa. Tubuhnya sangat besar sekali, tiga kali besar tubuh Gatotkaca. 


Sekali melompat, Gatotkaca bisa melintas tiga kali putaran mengelilingi makhluk itu. Tapi di putaran keempat, tangan superbesar menangkapnya. Menekan tubuh ksatria yang umurnya belum genap dua minggu itu dengan kekuatan yang sangat keras.


Semakin ditekan, Gatotkaca memberikan perlawanan semakin kuat. Hingga pada akhirnya ia mencoba terbang dengan menggunakan tenaga lebih. Tangan pemimpin Gandarwa itu ikut bergerak. Hingga akhirnya Gatotkaca melesakkan tubuhnya ke arah wajah musuhnya. Sontak saja tangan yang besar itu pun menghantam wajahnya pemiliknya dengan kecepatan tinggi. Seketika ia pun terjatuh ke tanah diikuti getaran maha dahsyat.


Raja Gandarwa tewas saat itu juga, perlawanan pasukannya otomatis terhenti. Pasukan Gandarwa dan Banaspati yang tersisa pun akhirnya mundur dengan teratur.


Setelah kepergian para pasukan Banaspati dan Gandarwa, beberapa dewa turun untuk berterima kasih pada Gatotkaca dan juga Pandawa.


“Ngger, terima kasih atas pertolonganmu dan juga pertolongan kalian,” ujar salah satu dewa dengan gembira. “Sebagai ucapan terima kasih kami, kuberi nama dirimu…” Dewa itu terdiam lagi, lalu meneruskan lagi kalimatnya. “GATOTKACA!”


Angin tiba-tiba berhembus, di sekitar mereka. Itu bukan angin yang membawa bahaya. Tetapi angin keberkahan dari para dewa yang diberikan pada Gatotkaca.

__ADS_1


Arjuna yang beberapa saat lalu masih tidak percaya pada kata-katanya Elang, kini mulai mempercayai lelaki yang datang dari masa depan itu.


Seusai ucapan terima kasih dari para dewa atas kemenangan mereka menggempur pasukan lawan, para ksatria pun pulang ke Astina bersama Gatotkaca. 


__ADS_2