
Sudah lima hari lamanya Elang berada di Karang Kedempel, ia diutus oleh Kresna untuk menemani Gatotkaca untuk belajar tata krama dan juga kebijaksanaan.
Sebagai pewaris tahta kerajaan Pringgandani, Gatotkaca harus belajar bagaimana cara memimpin dan juga menjadi manusia. Sebab sejak lahir sampai ditempa oleh para dewa, dirinya hanya dibentuk menjadi senjata mematikan tanpa diberikan ilmu tentang kehidupan.
Elang sendiri memanfaatkan momen kembali ke gubuk milik Ki Lurah Semar yang ada di tebing dekat laut itu, untuk belajar bela diri lebih dalam lagi pada Petruk dan Gareng. Kedua guru yang jenaka dan sakti, namun di satu sisi terkadang mereka tak pernah akur.
Hari ini Elang belajar pertarungan tangan kosong, karena menurut kedua gurunya gerakan tangan kosong adalah yang paling efektif dalam sebuah pertarungan jika senjata kita terjatuh atau terlepas.
Pukulan demi pukulan dilancarkan oleh Gareng, setiap pukulan itu pula dicoba ditangkis oleh muridnya. Tak sulit mengajari baginya mengajari pertarungan tangan kosong untuk Elang, karena muridnya itu sudah mempunyai dasar beladiri. Jadi hanya tinggal memolesnya dengan jurus miliknya dan juga yang dimiliki oleh Petruk.
Hampir seharian lamanya Elang berlatih, tak sedikit juga pukulan dari gurunya yang masuk ke tubuhnya. Tapi rasa sakit itu dianggapnya sebagai tempaan untuk dirinya berlatih lebih giat lagi.
“Aduduh…” Elang mengerang saat Bagong berusaha untuk menyembuhkan ruam biru pada tubuhnya. Bekas pukulan Gareng membiru di punggung dan badannya. Sementara Petruk, Gareng, dan Gatotkaca. Mereka sedang menikmati suguhan singkong rebus yang sudah disediakan oleh cantrik Ki Lurah Semar.
“Tubuhmu lemah, Paman,” Gatotkaca memanggil Elang dengan sebutan ‘Paman’.
“Aku bukan asli dari sini, Tot. Tempat tinggalku jauh dari sini.”
“Di mana, Paman?”
“Jauh, lima ribu tahun di masa depan dari sekarang. Auuuuh!” katanya sambil menahan sakit.
“Sejauh itu datang kemari untuk apa, Paman?”
__ADS_1
Elang menyeringai menahan sakit sambil menatap luka memar tubuhnya yang sudah tidak terlihat lagi, ilmu kanuragan penyembuhan yang dimiliki oleh Bagong memang sangat ampuh. Selain itu rasa sakit yang menerpa Elang pun sudah tidak terasa lagi.
“Latihan besok, berusahalah supaya tidak banyak pukulanku yang masuk ke tubuhmu, Ngger,” tukas Gareng sambil menyeruput teh. “Ah, sudah mulai dingin.” Tangannya memegang penuh cangkir tehnya, sebentar saja ada uap panas keluar dari sana. “Aaah, kalau gini kan enak, hangat,” pungkasnya setelah menghirup minuman dalam wadah yang terbuat tembikar.
“Siap Guru, aku akan lebih waspada lagi.” Elang mengambil singkong rebus yang tersaji, kemudian menghadap ke arah Gatotkaca. “Kedatanganku kemari untukmu. Masa depan yang menjadi rumahku membutuhkan bantuan darimu.”
“Bantuan? Berupa apa, Paman?”
“Kotaku diserang oleh makhluk luar angkasa yang ingin mengambil kembali generator planet mereka. Beberapa tahun sebelumnya ada penjelajah luar angkasa yang kembali ke bumi setelah beberapa bulan berada di luar angkasa, mereka mendarat di Jakarta, kota kelahiranku. Tanpa mereka sadari, benda yang menjadi generator kehidupan sebuah planet, mereka bawa ke bumi. Sebentar, aku minum dulu.” Lelaki berambut acak-acakan itu mengambil cangkir tembikar miliknya, menghirup isi minuman di dalamnya. “Makhluk itu datang, mereka ingin generator planetnya kembali!” pungkasnya
“Kenapa tidak diberikan saja, Paman?”
Diseruputnya lagi minuman di dalam cangkir, Elang kembali meneruskan kalimatnya. “Tidak semudah itu, masalahnya benda itu tidak ada di Jakarta. Tapi ada di Amerika, negara di mana para penjelajah angkasa itu berasal.” Ia menghirup nafas panjang, lalu dihembuskannya. “Untuk meminta generator itu sangat tidak mudah, mereka sudah pasti tidak akan memberikannya begitu saja.
“Nyaris hancur, diserang dengan serangan membabi buta. Korban berjatuhan dimana-mana.”
Gatotkaca menegakkan tubuhnya sambil bersila, tubuhnya dicondongkan ke Elang. “Tak ada ksatria yang melawan mereka, Paman?”
“Masa depan tidak ada ksatria lagi seperti kalian, kami lebih menjunjung tinggi hukum dan keadilan. Urusan negara, ada polisi dan tentara yang hampir sama dengan ksatria. Namun bedanya, mereka tidak sehebat kalian dalam bertarung.”
“Lalu, apa yang bisa aku bantu, Paman?”
“Kita berangkat ke tempatku di masa depan, kau hajar makhluk itu. Lalu kembali lagi kemari,” ujar Elang dengan semangat.
__ADS_1
“Dengan apa kita kesana, Paman?” Ksatria berkumis tebal itu kemudian melahap singkong rebus.
Dikeluarkannya sebuah gelang yang mirip dengan yang dipakai Elang dari dalam tasnya, lalu mengacungkannya di depan Gatotkaca. “Kita pakai ini, alat ini namanya mesin waktu. Dengan ini kita akan melakukan perjalanan ke masa depan.”
Dengan perasaan tidak percaya, Gatotkaca mengambil gelang dari tangan Elang. Diperhatikannya gelang itu sambil dibolak balik. “Dengan ini, Paman? Yakin?”
Hanya ada anggukan dari kepala Elang. “Yakin. Aku kemari dengan alat ini.”
Ksatria di hadapan Elang itu menyandarkan tubuhnya di tiang gubuk milik Semar yang terbuat dari bambu, sesekali dilahapnya sepotong demi sepotong singkong rebus yang ada di dalam genggamannya. “Aku penasaran, masa depan itu seperti apa, Paman?”
Elang merebahkan dirinya di lantai teras gubuk, matanya menerawang melihat langit-langit gubuk yang sangat bersih itu. “Masa depan tidak seperti masa ini yang masih hijau dan asri. Pepohonan dan hutan sudah banyak yang hilang, berganti dengan bangunan bertingkat. Suara kicau burung di pagi hari juga sudah jarang didengar, yang ada suara gaduh kendaraan bermotor yang berlomba menuju tempat kerja.”
“Tunjukkan gambar yang pernah kamu tunjukkan pada kami, Ngger,” celetuk Gareng yang kini ikutan rebahan di dekat pojokan teras.
“Ah, hampir lupa, Guru.” Elang buru-buru mengeluarkan tablet dari dalam tas, kemudian dicarinya foto-foto pemandangan di masa depan yang penuh dengan bangunan bertingkat. “Masa depan seperti ini. Ini adalah bangunan bertingkat yang memenuhi kota,” tunjuknya pada gedung-gedung dalam fotonya.
“Tinggi sekali, Paman.”
Jari telunjuk Elang mengganti gambar demi gambar dari tabletnya, hingga pada satu gambar yang menunjukkan kota Jakarta setelah terjadi ledakan. “Ini, suasana setelah kota diserang. Hancur!” jarinya terus merubah gambar demi gambar yang ada di sana. Sebuah pemandangan perempuan dengan kondisi badan hancur di bagian perut ke bawah yang dilihatnya dekat tempat persembunyian profesor Tejo waktu itu, membuatnya menitikkan air mata.
Gatotkaca menghembuskan nafas panjang, kemudian ia berdiri. “Baiklah Paman, mari kita berangkat ke masa depan,” cetusnya dengan nada yang berapi-api.
Semangat dalam diri Elang kembali ketika mendengar langsung kata-kata dari seorang pahlawan yang menjadi idolanya di masa depan. Dirinya tidak menyangka kalau Gatotkaca akan mengamini permintaannya untuk pergi ke masa depan. “Sebentar, aku mau mempersiapkan semuanya dulu.” Elang memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Lalu mengajak Gatotkaca untuk berdiri di tanah lapang dekat gubuk.
__ADS_1
Pada lengan kanan Gatotkaca sudah melingkar gelang dari baja ringan yang dibawa oleh Elang sejak dia berangkat kemari. Ia mengangguk pelan. Sedetik kemudian Elang menekan tombol di gelangnya untuk memulai keberangkatan mereka.