
Tinggal beberapa jam lagi, Padang Kurusetra yang tandus dan kering itu akan menjadi saksi bisu pertumpahan darah para ksatria dalam sebuah perang suci Bharatayuda. Sebuah pertempuran yang mempertemukan dua saudara jauh, Pandawa dan Kurawa.
Elang memerhatikan gelang waktu yang menjadi alat transportasi antara masa depan dan masa lalu yang dipakainya saat pergi ke masa saat ini, penunjuk daya yang tertera di sana masih menunjukkan pada angka 80%. Masih kurang untuk digunakan untuk kembali ke masa depan.
Bukan hanya daya di gelangnya saja yang dikhawatirkan oleh Elang, tetapi kabar soal Gatotkaca yang juga belum kembali dari Trajutrisna juga menambah rasa khawatirnya.
Begitu juga dengan Kresna yang malam ini terlihat sangat gelisah. Beberapa kali raja Dwarawati ini berjalan bolak-balik di depan meja yang biasa dipakainya untuk menyusun strategi bersama para Pandawa lainnya.
“Kalau begini caranya, dengan sangat terpaksa Resi Seta akan menjadi pemimpin pasukan untuk maju di Kurusetra besok.” Tiga kali ketukan dari kepalan tangan Kresna menandaskan kalimatnya, pertanda keputusannya sudah bulat dan tidak ada lagi yang bisa menyanggahnya.
Resi Seta sendiri adalah seorang ksatria dari kerajaan Wirata, sebuah kerajaan di mana Pandu, ayah dari para Pandawa menjadi rajanya. Ia dikenal sebagai ksatria yang sangat pemberani. Pernah suatu ketika, ia menghabisi sepasukan musuh sendirian tatkala dirinya terpojok dalam sebuah gubuk saat pasukannya dipukul mundur.
“Raden Utara dan Raden Wratsangka akan mengisi formasi sayap. Terlebih kalau kulihat Raden Utara punya kemampuan menggunakan berbagai macam senjata, ini akan menjadi sebuah keuntungan di pihak kita,” pungkas Kresna, melengkapi keputusan yang telah diambilnya.
Keputusan Kresna ini diambil bukan tanpa sebab, titisan dewa Wisnu itu melihat kemampuan dan pengalaman perang dari ketiga orang yang ditunjuknya itu sudah di tahap mumpuni untuk peperangan.
Masih teringat jelas dalam ingatannya ketika suatu hari melihat kelihaian Raden Utara dalam menggunakan semua jenis senjata mulai dari pedang, gada, panah, hingga tombak. Kemampuannya sudah tidak diragukan lagi.
Sementara Raden Wratsangka adalah seorang ksatria yang juga mahir dalam memanah serta melempar tombak. Ia bisa membunuh tiga orang musuh dalam sekali lemparan tombak.
“Arjuna, dan Dewi Srikandi. Kuharap kalian berdua bisa membantu dalam melindungi serta menyerang musuh yang mendekat dari jarak jauh. Aku ingin kalian berdua berada di atas bukit, di atas kereta kudaku dan melepaskan anak panah ke segala arah.”
__ADS_1
“Baiklah Kangmas Kresna,” tukas Arjuna sambil memberikan penghormatan pada Kresna sebagai panglima perang.
“Maaf, boleh saya memotong?” Elang ikut angkat suara. Di antara para petinggi Pandawa, hanya Elang yang berani memotong perkataan Kresna.
“Ya, silakan.”
“Melihat situasi kita yang sekarang ini, Gatotkaca juga belum kembali. Kenapa tidak mengutus Wisanggeni untuk memimpin pertempuran esok hari?”
Kresna menggeleng pelan sebelum menjawab pertanyaan Elang. “Tidak bisa, aku tidak mengizinkannya ikut peperangan ini. Emosinya masih labil, belum lagi kalau Wisanggeni ikut dalam Bharatayuda, Pandawa akan kalah.” Kresna menghela nafas panjang. “Lagipula seminggu yang lalu, ia telah membuat para dewa murka dengan mengobrak-abrik Kayangan. Sebagai penebusan dosanya, ia ditugaskan untuk mencari pusaka di kerajaan Ujungbumi.” Panglima perang Pandawa itu mengakhiri kalimatnya.
Elang memahami apa yang dikatakan oleh Kresna, karena dalam cerita Mahabharata yang dibacanya, sosok Wisanggeni sendiri tidak terlalu banyak diceritakan sehingga ia tidak begitu tahu soal anak Arjuna yang mempunyai kekuatan api itu.
Elang sudah akan beranjak kembali ke tendanya saat para petinggi Pandawa yang lain sudah masing-masing membubarkan diri, Kresna mendekati Elang lalu menepuk bahunya.
“Esok pagi, kuharap kau tetap berada dekat Nakula atau Sadewa. Kau akan mengisi pos di belakang. Aku mau kau tidak terlalu ikut campur dalam peperangan,” kata Kresna dengan tegas dan berwibawa.
“Kenapa?”
“Ini bukan perangmu, lagipula kau hanya tamu kami. Aku tak mau tamu kami menjadi korban peperangan yang seharusnya kau tidak terlibat.”
“Lalu, bagaimana dengan misiku?” Elang sedikit memrotes keputusan Kresna.
__ADS_1
“Akan ada saatnya kau menyelesaikan misimu. Saat ini, kuhanya ingin kau tidak ikut campur terlalu jauh dalam Bharatayuda.” Kresna berjalan tanpa menoleh sesaat setelah ia menyelesaikan kata-katanya.
“Tidak ikut campur peperangan? Buatku itu mudah. Tapi kalau sampai misiku gagal, aku yang malu. Lebih baik mati dalam perang daripada pulang bawa malu,” gumam Elang dalam hati.
Matahari baru muncul di ufuk timur, ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Para pasukan Pandawa dan Kurawa sudah bersiap berbaris membentuk formasinya yang telah dipersiapkan oleh panglima perang masing-masing kubu.
Di atas bukit, terlihat kereta perang kerajaan Dwarawati yang berwarna biru berkilauan yang berisi Kresna sebagai komandan strategis, Srikandi yang sudah siap dengan busur dan panahnya, serta Arjuna yang menjadi kusir dari kereta kuda milik Kresna. Dengan karismanya yang tinggi, ia memandang pasukan Pandawa, lalu pasukan Kurawa.
Pihak Kurawa sendiri menunjuk Resi Bisma sebagai panglima perang. Ia adalah kakek dari kedua pihak Pandawa dan Kurawa, sekaligus seorang prajurit yang dikenal dengan keberingasaannya di medan peperangan.
Kresna memandang Resi Seta yang ditunjuk olehnya untuk memimpin pasukan Pandawa, lalu ke sebelah kanan tempat di mana Raden Wratsangka yang sudah siap dengan tombak dan panahnya. Kemudian ia menatap Raden Utara yang juga siap membantu Resi Seta dari sayap kiri.
Ketiganya mengangguk, memberi tanda pada Kresna bahwa mereka sudah siap untuk memulai peperangan suci itu. Sementara Panglima perang Pandawa itu kembali menatap padang Kurusetra yang tandus.
Selain ribuan orang pasukan dari kedua kubu, padang yang luas itu juga dipenuhi oleh ratusan tentara berkuda dan juga puluhan pasukan gajah. Di belakang para pasukan itu masing-masing berdiri tenda megah milik petinggi dari Kedua kerajaan yang berseteru, keduanya terpaksa memindahkan pemerintahan dari dalam tenda perang agar lebih dekat dengan lokasi peperangan dan tidak perlu harus jauh-jauh kembali ke istana.
Elang, Nakula dan Sadewa sudah bersiap di paling belakang para pasukan Pandawa. Meskipun anjuran dari Kresna yang jelas melarangnya untuk ikut, tetapi lelaki yang datang dari masa depan itu bersikseras untuk membantu dalam pertempuran.
Beberapa hari sebelum dimulainya peperangan, Elang sempat diajak oleh Nakula dan Sadewa ke sebuah sungai berair jernih, tempat di mana para pengrajin Astina mendapatkan emas. Dengan penuh semangat, Elang mengambil emas yang ia temukan dan memasukannya ke dalam tas. Hari ini tasnya semakin bertambah berat karena bongkahan emas yang dikumpulkannya beberapa hari lalu.
Ayam jantan berkokok bersahut-sahutan, setelah suara kokok ayam jantan yang terakhir, genderang perang ditabuh. Suara terompet penanda peperagan dimulai pun dibunyikan, memecah keheningan Kurusetra yang tandus dan kering. Tak lama teriakan dari ribuan pasukan yang ada di sana pun terdengar dengan nyaring. Peperangan telah dimulai.
__ADS_1