
Peperangan suci yang mempertemukan dua saudara di Padang Kurusetra yang tandus sudah dimulai, suara dentingan pedang beradu dengan perisai membuat sekitar medan pertempuran yang biasa suasana di sepi menjadi hidup. Belum lagi suara anak panah yang melesat membelah udara, lalu tatkala panah itu berhenti melesat, ada suara erangan dan teriakan kesakitan dari prajurit yang terkena mata panah kemudian gugur.
Satu persatu prajurit dari kedua kubu berguguran tanpa terkecuali. Ada yang terkena sabetan pedang, tertusuk tombak, bahkan ada juga yang terinjak hewan seperti gajah atau kuda.
Perang memang brutal, tak mengenal musuh atau saudara. Siapa saja yang ada di sana akan mengalami sebuah tugas di mana harus membunuh, atau dibunuh.
Kresna berkali-kali meneriakkan para pasukannya supaya jangan takut untuk maju, sementara panglima perang musuh, Resi Bisma. Pengalamannya dalam berbagai peperangan membuatnya tak ragu memberikan semangat dan motivasi bagi pasukan Kurawa. Hasilnya para prajurit Kurawa terlihat lebih beringas ketimbang prajurit Pandawa.
“Kangmas Kresna, kalau seperti ini terus pasukan kita bisa kalah.” Arjuna melesakkan panahnya sesaat setelah mengeluarkan protesnya pada Kresna.
“Tenanglah, Arjuna. Aku yakin pada kemampuan Resi Seta, dia pasti akan bisa membuat kita membuat kita menang hari ini. Belum lagi ada Raden Utara dan Raden Wratsangka di sayap yang akan membantunya, percayakan pada mereka,” ujar Kresna, matanya tak lepas memandang jalannya pertempuran dari atas bukit.
“Baiklah, Kangmas. Maafkan aku yang sedikit meragukanmu,” tukas Arjuna yang disambut dengan tepukan Kresna di bahu kanan Arjuna, memberikan sebuah pertanda kalau dirinya tidak marah dengan protes dari Arjuna.
Sementara itu di belakang garis pertahanan Pandawa. Elang terlihat sangat tegang, berkali-kali lelaki berambut acak-acakan yang datang dari masa depan itu mengganti senjatanya. Dirinya masih bingung mana yang akan ia pakai untuk melawan musuh, antara pedang yang diberikan oleh Petruk atau tombak.
“Lang, ini peperangan. Bukan pertarungan biasa.” Sadewa mencoba menenangkan hati Elang. “Pilih senjata yang tidak membuang tenagamu.”
Elang mengamati pedang karatan yang diberikan Petruk saat akan berperang melawan pasukan raksasa waktu itu. “Kalau pakai pedang ini, pasti aku akan membunuh para prajurit.” Kemudian ia menatap tombak yang terbuat dari kayu jati lentur dengan matanya yang terbuat dari emas. “Kalau pakai tombak ini, setidaknya aku bisa melumpuhkan musuh.”
Nakula mengambil kedua senjata yang ada di tangan Elang, lalu membuang tombak dan memberikan kembali pedangnya pada Elang. “Ini bukan soal melumpuhkan lawan, Lang. Ini adalah peperangan, tak ada kata melumpuhkan lawan. Yang ada dalam peperangan adalah kau harus membunuh, atau dibunuh!” tegas Nakula.
__ADS_1
Sadewa tersenyum sambil mengangguk, ia menyetujui apa yang dikatakan oleh kembarannya. “Buang semua kesopananmu soal melumpuhkan lawan atau tidak membunuh lawanmu, Lang. Dalam perang, kalau kamu tidak membunuh lawanmu, maka kau yang akan dibunuh mereka.”
“Terima kasih buat pecerahan kalian, tapi aku lebih memilih memakai tombak!” Elang menyarungkan pedangnya dan menyampirkanya di pungung, kemudian ia mengambil tombak yang tadi dilempar oleh Nakula.
Suara jeritan kesakitan dan juga sorak sorai bercampur di medan pertempuran, tanah tandus padang Kurusetra perlahan-lahan mulai basah oleh darah para prajurit yang menjadi korban ganasnya perang. Debu yang tadinya sangat pekat, lama kelamaan menipis. Seiring dengan banyaknya darah yang mengalir dari tubuh para pahlawan perang. Kebanyakan dari mereka sudah tidak utuh lagi bentuknya. Ada yang kepalanya terlepas dari tubuh, bahkan ada juga yang tubuhnya hancur karena terinjak oleh gajah.
Tengah hari telah lewat, suara sorak-sorai pasukan Kurawa terdengar nyaring. Itu adalah suara sorak kemenangan, karena Resi Seta yang memimpin pasukan Pandawa telah gugur.
Sontak saja dengan gugurnya Resi Seta, perlawanan Pandawa menjadi lemah. Kurawa menjadi gencar memberikan pukulan demi pukulan kepada pihak Pandawa.
Melihat kerabatnya gugur di medan laga, Raden Utara menjadi kehilangan konsentrasi. Ia melepaskan anak panah dengan membabi buta ke arah lawan-lawannya, sehingga membuat pertahanannya menjadi sedikit terbuka.
Sebenarnya Raden Utara mendengar apa yang dikatakan oleh Kresna, tetapi emosi dalam dirinya sudah memuncak. Ia tak lagi bisa memilih mana yang baik dan buruk untuknya serta pasukannya.
Di tengah-tengah serangan membabi buta Raden Utara, Karna melihat adanya sebuah kesempatan. Ia hanya membutuhkan waktu sedikit untuk melesakkan panahnya ke bagian tubuh Raden Utara.
Setelah mengambil busur dan mata panahnya, Karna sudah siap membidik bagian tubuh dari Raden Utara. Tak butuh banyak waktu lagi, musuh bebuyutan sekaligus sepupu Arjuna itu langsung melesakkan panahnya yang langsung menghantam jantung Raden Utara.
Teriakan kemenangan dari prajurit Kurawa pun terdengar lagi sesaat setelah tumbangnya Raden Utara. Hal ini membuat nyali para pasukan Pandawa menjadi gentar.
Bukan hanya para pasukan Pandawa yang terlihat frustasi, Kresna yang menjadi panglima perang pun terlihat sama. Tak disangka olehnya, Raden Utara yang terkenal akan kemahirannya menggunakan semua jenis senjata dan pengalaman perangnya bisa tewas dengan hanya satu anak panah.
__ADS_1
Kali ini harapannya jatuh pada Raden Wratsangka, seorang pemimpin perang yang dipercaya oleh Kresna karena kemahiran panah dan tombaknya. Sayangnya ia hanya terbiasa dengan pertempuran jarak jauh, bukan jarak dekat.
Efek dari gugurnya Resi Seta adalah pertahanan dari prajurit Pandawa menjadi lemah. Satu persatu pasukan Kurawa berhasil menembus pertahanan mereka, dan kini Elang, serta Nakula dan Sadewa harus menghadapi para penyusup yang masuk.
Elang melancarkan serangannya, sabetan demi sabetan tombaknya memukul mundur para prajurit Kurawa. Ia suka dengan jarak serang tombak yang lumayan jauh, meskipun tidak mematikan.
Sementara Nakula dan Sadewa mengeluarkan pedang andalannya, listrik dan api. Musuh yang datang langsung gugur seketika dengan terkena sabetan pedang mereka.
Sewaktu sedang asik mengayunkan tombaknya, Elang tanpa sadar tersandung oleh jasad lawannya, ia pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Melihat Elang terjatuh, para pasukan Kurawa tanpa mau melewatkan kesempatan langsung menyerang Elang. Namun belum sempat mereka menancapkan senjata mereka di tubuh Elang, sebuah kilatan cahaya berwarna biru dan merah menghabisi tubuh para pasukan Kurawa. Cahaya itu berasal dari pedang Nakula dan Sadewa yang dilempar layaknya bumerang, lalu kembali ke pemiliknya.
Setelah menyadari apa yang terjadi, Elang kemudian bangkit sambil mengeluarkan pedangnya. “Nakula, Sadewa. Kalian benar, tak ada belas kasihan dalam perang!” ucap Elang dengan penuh semangat sambil menghunus pedangnya.
Ditingkahi oleh kemarahan karena gugurnya Resi Seta dan juga Raden Utara, Wratsangka tidak bisa menahan lagi emosinya, ia turun sendirian maju ke medan pertempuran dan menghabisi lawan-lawannya. Tanpa tombak dan tanpa anak panah, ia melawan dengan pedang. Pertarungan jarak dekat yang sama sekali tidak terlalu dikuasainya.
Kresna menatap dengan penuh keputus-asaan dari atas bukit, tak menyangka kemenangan yang dibayangkan olehnya akan hancur. Baru saja ia menghembuskan nafasnya, kekhawatirannya terjadi.
Raden Wratsangka gugur dengan luka tusukan tombak di tubuhnya, darahnya mengalir deras sebelum akhirnya wajahnya mencium tanah Kurusetra. Ketiga pemimpin pasukan Pandawa sekaligus Ksatria Wirata yang terkenal pemberani, gugur di hari pertama.
Tak lama genderang perang dan terompet tanda peperangan berakhir di hari itu berbunyi. Sesuai dengan kesepakatan sebelum Bharatayuda pecah, tak ada lagi serangan setelah senja dan genderang tanda perang hari itu berakhir dibunyikan.
Kini para pasukan dari kedua kubu mengangkat para korban yang tewas pada peperangan di siang hari. Pemandangan yang sangat berbeda, ketika siang hari mereka saling berperang, sore ini mereka saling membantu untuk mengangkat para prajurit yang gugur.
__ADS_1