
Elang beserta Gatotkaca dan Kapten Firman berhasil menyelinap masuk pesawat berukuran besar milik Zagustron yang bentuknya seperti lingkaran tak sempurna, mereka mengendap-endap melalui plafon panel yang ada di langit-langit pesawat.
“Pantas saja senjata kita tidak mampu menembus mereka, semua ini terbuat dari serat karbon yang tidak pernah ada di bumi,” kata Kapten Firman setengah berbisik pada Elang.
“Apakah sama seperti pedangku, Kak?”
“Kurang lebih sama. Hanya saja pedangmu punya campuran batu meteor yang lebih kuat dari ini.”
Ketiganya terus mengendap, hingga akhirnya menemukan sebuah lubang di depan mereka. Tepat di atas ruang komando para prajurit Zagustron.
“Mereka merencanakan serangan, Paman.” Kali ini Gatotkaca angkat bicara. Telinganya mampu mendengar suara lebih tajam dari Elang dan Kapten Firman.
“Lagi?” tandas Elang. “Ini tidak bisa dibiarkan. Ayo kita turun sekarang!”
“Tahan, Lang. Jangan terbawa emosi dulu. Kita tunggu beberapa saat, sambil susun strategi.” Tangan Kapten Firman menahan Elang yang sudah siap untuk menyerbu turun.
“Baiklah, Kak. Apa strateginya?”
Sebuah kamera kecil berbentuk sedotan keluar dari lengan zirah prajurit besi yang dipakai lelaki berpangkat Kapten itu, moncong lensanya turun sedikit untuk menyapu keadaan sekitar. Pantulan gambar yang diambil dari kamera itu langsung diperlihatkan pada sebuah layar kecil yang ada di pergelangan tangganya. Setidaknya ada lima belas makhluk yang ada di dalam ruangan itu, mereka adalah pemimpin pasukan. Semua itu terlihat dari pakaian mereka yang sama persis dengan apa yang dipakai oleh Brog.
“Lima belas komandan, berarti ada sekitar lima belas pasukan yang ada di sini. Apa rencanamu, Kak?”
“Di sebelah sana ada pintu satu-satunya. Salah satu dari kita harus berjaga di sana agar tak ada yang bisa keluar,” tunjuknya, pada sebuah pintu berdaun dua yang tidak dijaga oleh siapapun.
__ADS_1
“Hm, baiklah. Kak Firman aku menyergap mereka, sementara kau, jaga di pintu.” Elang melihat ke arah Gatotkaca. “Tapi ingat, jangan dibunuh kalau tidak terpaksa!” pungkasnya.
Ksatria berwajah tampan dengan kumis tipis itu mengangguk pelan.
“Kita turun sekarang. Gatotkaca, langsung ke pintu dan jaga!”
Selesai Elang memberikan aba-aba, Gatotkaca langsung menuju pintu dengan kecepatannya. Saking cepatnya, tak ada satupun dari makhluk yang ada di sana menyadari kehadirannya.
Elang dan Kapten Firman turun dari plafon tempat mereka bersembunyi tadi, dengan gerakan melayang. Semua mata yang ada di ruangan itu menatap kaget pada kehadiran mereka, Kapten Firman langsung menodongkan senjata sebelum para makhluk itu bereaksi.
“Siapa kalian?” ujar seorang komandan strategi yang berdiri di depan. Makhluk itu tadinya sedang menjelaskan apa rencana ke depannya.
“Kami manusia bumi. Sebaiknya urungkan niat kalian untuk menyerang planet kami!” Kapten Firman menjawab pertanyaan komandan stategi Zagustron dengan tegas. Wibawanya sebagai seorang Kopasus ditunjukkan di sini.
“Tidak akan, sebelum generator planet kami kembali. Kami akan terus menyerang kalian!” Suara komandan strategi itu terdengar keras. Suaranya yang seperti robot terdengar sangat melengking.
“Hahahaha! Kekerasan seperti apa yang akan dilakukan oleh makhluk lemah seperti kalian?” jawabnya lagi diakhiri dengan suara tawa yang mengejek. Namun suara tawanya langsung hilang, seiring terlepasnya kepala si pemilik suara itu dari tubuhnya.
“Sudah kubilang, kami tidak suka kekerasan. Tapi kalau kalian meremehkan kami, ini contohnya!” Elang menghunuskan pedang yang baru saja dipakainya untuk memenggal kepala lawannya. Dengan jubah yang dipakai komandan pasukan mereka, ia mengelap noda darah di mata pedangnya yang berkilap.
Melihat komandan strategi mereka tewas dengan sekali tebasan, sontak saja para petinggi pasukan yang ada di ruangan itu terlihat panik, mereka berusaha keluar tetapi usaha mereka sia-sia karena ada Gatotkaca yang menjaga di sana. Setiap kali salah satu dari mereka mendekati Gatotkaca, selalu berakhir dengan tubuh mereka yang terpental hingga menghantam dinding ruangan rapat dalam pesawat.
Mengetahui usaha mereka gagal untuk mencapai satu-satunya pintu keluar yang ada di ruangan itu, salah satu dari makhluk itu mengeluarkan senjata dan menembakkannya pada musuh yang menjaga pintu, namun usahanya lagi-lagi gagal lantaran tembakan laser yang dikeluarkan dari senjatanya itu sama sekali tidak melukai Gatotkaca.
__ADS_1
Rona ketakutan terlihat dari wajah makhluk berkulit hijau kebiruan itu, terlebih ketika sasaran tembaknya tadi menghilang dari pandangannya, berubah menjadi bayangan hitam dan muncul dihadapannya dengan sebuah pukulan di dadanya. Seketika ia merasakan dadanya seperti dihantam bandul bola besi yang biasa dipakai untuk menghancurkan bangunan. Tubuhnya melemah dan langsung terjatuh tak berdaya.
Situasi semakin tak terkendali, di tengah rasa terkejut dan panik, mereka mencoba melawan. Namun Elang, Gatotkaca dan Kapten Firman tidak kalah siap melawan balik serangan mereka.
Satu per satu makhluk planet Zagustron itu tewas, kebanyakan dengan keadaan yang mengenaskan karena harus terkena mata pedang Elang yang sekarang kekuatannya bertambah setelah menyerap kekuatan pedang dari Brog di pertempuran sebelumnya. Sisanya ada yang terkena tembakan dari Kapten Firman dan juga pukulan keras Gatotkaca.
“Lang, lama-lama aku suka sama senjata ini!” kelakar Kapten Firman begitu selesai menembakkan laser dari senjata hasil rampasan Elang.
“Apa yang membuatmu suka, Kak?” Elang menebas pedangnya sambil menjawab kakaknya Dara.
“Daya hancurnya yang dahsyat. Sekali tembak, langsung ada lubang di tubuh mereka. Hahaha!”
Dalam waktu singkat, pertarungan dalam ruangan itu pun selesai. Tubuh-tubuh tak utuh dari makhluk Zagustron berserakan di lantai, tempat duduk, bahkan meja komando. Darah mereka yang berwarna ungu berceceran dan terciprat ke seluruh ruangan. Namun tidak semua, ada satu makhluk yang terlihat ketakutan di pojok ruangan. Ia melipat kaki dan tubuhnya bergetar.
Kapten Firman mendekatinya, namun tidak berniat untuk membunuh. Lalu ia berjongkok di dekatnya. “Hei!”
“Jangan bunuh saya, jangan bunuh saya!” makhluk itu bereaksi ketakutan.
“Kami tidak akan membunuhmu, asalkan kau mau bekerja sama,” bujuk Kapten Firman. Di saat kondisi lawan yang sedang terguncang, ia selalu bisa menjadi sangat berguna. Prinsip dasar inilah yang memberanikan kakaknya Dara ini mendekati makhluk itu.
“Bekerja sama bagaimana?”
Kapten Firman mendekatkan wajahnya pada makhluk itu. “Bilang pada pasukanmu untuk segera mundur dan kembali ke planetmu. Sebelum kami hancurkan seperti mereka.”
__ADS_1
Makhluk itu menggeleng, ia tidak setuju apa yang dibilang oleh Kapten Firman.
“Hey, kalian sudah menghancurkan kota kami. Membunuh banyak orang tak berdosa tanpa sebab. Generator planet yang kalian cari juga tidak ada di kota ini.” Kapten Firman menodongkan senjatanya ke kepala makhluk di hadapannya. “Jangan salahkan kalau kami membantai kalian, sama seperti yang kalian lakukan pada orang-orang di bawah sana.”