
Sudah hampir lima belas menit lamanya mereka menunggu waktu yang pas untuk menyerang, Elang terus memerhatikan sekumpulan makhluk yang baru turun dari pesawat mereka yang besar. Sementara Kapten Firman, sebagai komandan tempur komando pasukan khusus, ia memperhitungkan kekuatan lawannya. Gatotkaca mengintai dekat Elang, ia menunggu aba-aba yang diberikan oleh Elang.
Suara mesin pesawat terdengar nyaring, perlahan-lahan pesawat besar itu melayang beberapa meter di udara lalu terbang meninggalkan pasukannya yang baru saja diturunkan.
“Sesuai rencana… Gatotkaca, kau serang pesawat itu, Kak Firman serang mereka dari sini!” ujar Elang memberi komando.
“Kau sendiri, Lang?” Kapten Firman mengokang senjatanya.
Elang mengeluarkan pedang berkarat yang dibawanya dari masa lalu, pemberian guru Petruk. “Aku serang mereka dari jarak dekat.”
“Dengan pedang itu?”
“Ya,” angguk Elang menjawab pertanyaan kakaknya Dara yang tidak percaya kalau dirinya akan menyerang hanya berbekal sebuah pedang berkarat.
Setelah melihat pesawat makhluk angkasa luar itu menghilang di balik awan, Elang memberi aba-aba hitungan mundur dari tiga dengan jarinya. Begitu hitungannya telah mencapai angka satu, ia mengangguk sebagai tanda serangan dimulai.
Gatotkaca langsung terbang melesat ke udara, mencari pesawat sasarannya, Elang melompat keluar dari barikade beton pembatas jalan tempatnya bersembunyi. Sementara Kapten Firman menunggu waktu yang tepat untuk menembak.
Lompatan yang diambil Elang ternyata terlalu tinggi, hingga ia berada di tengah pasukan makhluk luar angkasa yang terkejut dengan kehadiran Elang. Melihat kejadian itu, Kapten Firman terperangah sampai ia lupa harus menarik pelatuk senjatanya. Baru kali ini dirinya melihat lompatan yang begitu tinggi.
“Um… Hai semuanya, karena kalian sudah menghancurkan kotaku. Maka..” Belum sempat Elang menghabiskan kalimatnya, sebuah ledakan terdengar di atas sana. Rupanya Gatotkaca menghajar pesawat milik mereka dengan beringas dan tanpa ampun, sehingga bagian besar dari tubuh pesawat itu hancur dan terjatuh ke tanah.
“Ups, sepertinya pesawat kalian hancur. Begitu juga dengan kalian!” Elang merangsek maju sambil mengayunkan pedangnya, menghajar beberapa makhluk yang ada di hadapannya.
__ADS_1
“Sekarang waktunya!” gumam Kaptrn Firman. Ditariknya pelatuk senapan mesin yang sedari tadi ada di genggamannya. Sekali menarik pelatuk senjata itu mampu memuntahkan sepuluh peluru ke arah targetnya.
Naas, tak ada satupun peluru yang berhasil menembus tubuh makhluk itu. Seperti mengenai tank lapis baja, peluru yang ditembakkannya berjatuhan begitu saja.
Kapten Firman tak mau putus asa, ia mencobanya lagi menaruk pelatuk senapan mesinnya. Namun hasilnya tetap sama, berondongan peluru yang dimuntahkan oleh senapannya seperti peluru hampa yang mengenai tubuh.
Sementara di tengah-tengah para makhluk angkasa luar itu, Elang berjibaku melawan mereka. Baru kali ini pedang pemberian Petruk harus menghadapi lawan tangguh. Biasanya hanya dengan sekali tebasan, tubuh lawannya akan mengalami luka robek yang semakin lama kian membesar hingga terlepas dari tubuhnya. Tetapi kali ini, berkali-kali Elang menebas tubuh lawannya, tak ada satupun luka yang dihasilkan.
Tanpa sengaja, Elang menekan tombol perisai yang ada di balik jubah lawannya ketika menendang dada. Warna kulit salah satu makhluk itu berubah menjadi jingga, Elang mengayunkan pedangnya ke lengan kiri lawannya. Dalam waktu beberapa detik saja, lengan makhluk itu terjatuh dan terlepas.
“Ah, aku tau sekarang kelemahanmu!” gumamnya sambil tersenyum penuh kemenangan. Tapi senyumannya berlangsung lama, karena ia melihat salah satu pimpinan makhluk itu mengarahkan senjatanya ke tempat di mana Kapten Firman bersembunyi. Entah kekuatan dari mana, Elang menendang keras lengan makhluk itu setelah sebelumnya berlari dengan kecepatan tinggi, hingga makhluk itu menembakkan sebuah sinar berwarna ungu ke arah lain.
Kapten Firman selamat dari tembakan yang sejatinya diarahkan kepadanya, sebagai imbasnya, salah satu makhluk yang terkena tembakan itu langsung tewas dan hancur.
“Siapa kau makhluk bumi?” kata makhluk itu dengan suara yang mirip dengan robot.
“Seharusnya aku yang bertanya siapa dirimu, makhluk asing. Apa maumu datang kemari dan menghancurkan kotaku?” Bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan makhluk itu, Elang malah balik bertanya sambil mengacungkan pedangnya.
“Hahahaha… Pemberani sekali kau makhluk bumi. Aku Brog, dari Planet Zagustron. Kami datang kemari hanya ingin mengambil generator planet kami yang kalian ambil beberapa tahun yang lalu.”
“Sayangnya kalian salah mendarat, generator planet kalian tidak ada di sini!”
“Kau bohong! Kami melihat sendiri pesawat yang membawa generator planet kami mendarat di kota ini.”
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, beberapa drone kamera milik beberapa stasiun tv sedang melayang di antara perseteruan antara Elang dan Brog. Semua kamera yang dibawa drone itu menyiarkan secara langsung kejadian yang sedang terjadi di sana, sehingga masyarakat bisa menyaksikan dari layar televisi mereka. Termasuk Dara dan Profesor Tejo.
“Hmm. Darimana Elang bisa melakukan lompatan seperti itu?” gumam Profesor Tejo yang tak lepas memandangi tayangan di layar monitornya.
“Apa mungkin di masa lalu, Elang belajar ilmu meringankan tubuh, Prof?”
“Ilmu meringankan tubuh tidak bisa dipelajari secepat itu, Ra. Kalau menurut yang saya baca, butuh waktu puluhan tahun untuk belajar ilmu itu. Atau kemungkinan orang itu punya anugerah untuk bisa meringankan tubuh.” Profesor Tejo meraih gelang waktu yang baru saja dimodifikasinya, ia memerhatikan lebih detil lagi. “Sepertinya saya tau jawabannya,” pungkasnya lagi.
Sementara itu, di tengah Bundaran Hotel Indonesia, Elang masih menatap tajam pada lawannya. Belum ada satu serangan pun yang dilancarkan oleh Brog, maupun Elang.
Gatotkaca yang menyaksikan jalannya pertempuran dari atas, tanpa sengaja melihat ke arah sebuah gedung bertingkat tempat di mana prajurit besi yang sebelumnya bertempur melawan pesawat planet Zagustron sedang bersembunyi. Salah satu dari mereka sedang membantu merawat temannya yang terluka parah terkena tembakan.
Lelaki berzirah hitam dengan gambar bintang di dadanya itu langsung melesat terbang menghampiri mereka. Awalnya salah satu prajurit terlihat sangat ketakutan saat gatotkaca mendarat di hadapannya, tetapi rasa takutnya itu berubah ketika luka temannya langsung diobati oleh Gatotkaca.
“Si—Siapa kau?”
“Aku Gatotkaca, ksatria dari kerajaan Pringgandani, anak dari Bima.” Dengan suara berat, ia menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pengendali prajurit besi.
“Ga—Gatotkaca?” katanya dengan kebingungan. Sebab dalam kisah Mahabarata, Gatotkaca adalah salah satu ksatria Pandawa yang hilang. Sekaligus penyebab kekalahan Pandawa di perang suci Bharatayuda.
Ksatria berwajah tampan dengan kumis tipi situ hanya mengangguk pelan, ia kembali memandangi Elang yang masih belum juga melancarkan serangan.
“Ti—Tidak mungkin. Menurut cerita yang kubaca, kau adalah ksatria yang menghilang, sekaligus penyebab kalahnya Pandawa!”
__ADS_1
Gatotkaca menatap tajam ke pengendali prajurit besi, matanya berapi menunjukkan amarah. “Tidak mungkin, tak mungkin Pandawa kalah!”