Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Ledakan Kedua


__ADS_3

Entah sudah kali keberapa video hasil unduhan Elang diputar oleh Profesor Tejo. Memakai pemutar video hologram hasil modifikasinya, ia bisa menciptakan visualisasi ruangan seperti yang ada di dalam video. 


Dara, Elang, dan Profesor Tejo kali ini terlihat seperti sedang ada di jalanan sesaat sebelum ledakan. Namun saat sinar biru mulai ditembakkan, ia menghentikan videonya, menampilkan sesuatu yang aneh di langit.


“Perbesar di bagian langit!” Tukas profesor Tejo. Pemandangan di sekitar mereka pun langsung menuju ke arah langit, tepatnya di bagian ‘sesuatu’ yang dibilang Elang.


“Apa itu Prof?” Tunjuk Elang sambil mendekati benda yang mirip dengan moncong meriam namun dengan ukuran besar.


Lelaki berambut panjang yang saat ini ditutupi dengan topi itu membetulkan kacamatanya, dilihatnya bayangan itu dengan seksama sambil mencatat ke dalam tablet miliknya.


“Awan ini, bukan awan yang wajar…” Kali ini Dara ikut bicara sambil memperhatikan susunan awan yang menyelimuti moncong meriam yang dilihat Elang. “Tebalnya seperti kabut buatan!”


Perhatian kedua lelaki di dalam ruangan itu kini tertuju pada apa yang dikatakan oleh Dara. Profesor Tejo mengangguk pelan, lalu mencatatnya kembali.


“Menurutmu apa penyebab semua ini, Prof?”


Lelaki itu hanya menggeleng pelan. “Saya takut apa yang saya bilang kemarin jadi kenyataan.” Pandangannya masih tidak lepas pada benda aneh yang terselubung oleh kabut. wajahnya kemudian menunjukkan raut yang serius. “Ini bukan benda dari Bumi, Lang!”


“Bukan dari Bumi?”


“Iya, coba lihat…” Prof Tejo memperbesar moncong meriam itu, lalu dengan tangannya ia menyibak kabut yang menyelimuti benda itu. Resolusi gambar yang tadinya buram, kini terlihat sangat jelas.


Elang dan Dara memperhatikan benda yang akhirnya terlihat seperti senjata super besar dengan tulisan berbahasa asing berwarna hijau menyala. Sedetik kemudian sinar warna biru keluar dari ujung moncongnya.


Tepat ketika sinar itu menyentuh tanah, tiba-tiba ada guncangan besar yang sangat terasa di ruang bawah tanah tempat mereka berada. Guncangan itu membuat Dara limbung hingga jatuh di pelukan Elang.


Profesor Tejo terdiam memperhatikan sekeliling, lalu menyalakan sebuah monitor yang sengaja tidak dinyalakannya. Tampak sebuah tayangan dari berbagai kamera cctv. Sebuah ledakan yang lebih hebat dari sehari sebelumnya. “Ini gila!” Ia berjalan ke arah lift sambil menggerutu. “Elang, Dara. Kita naik ke permukaan!”


Pemandangan yang terlihat ketika mereka keluar dari bangunan berbentuk kotak bertuliskan gardu listrik sangat memilukan. Dua puluh meter di depan ketiga orang itu berdiri, kekacauan terlihat. Beberapa rumah mewah di sekitar Danau Situlembang hancur, motor-motor yang terparkir di dekat sana berjatuhan, termasuk motor milik Elang.


Elang buru-buru berlari menghampiri lokasi ledakan dengan melewati puing-puing yang bertebaran di sepanjang jalan. Sambil mengeluarkan ponselnya, ia merekam kengerian yang ada di hadapannya.

__ADS_1


“To-Tolong…” Sebuah suara lirih terdengar dari sebelah kanan Elang. Seorang wanita muda mengulurkan tangannya, mengharap pertolongan. Wajahnya bersimbah darah, baju yang dikenakannya terlihat sobek dengan luka yang menganga, sebelah tangannya hilang dari pangkal lengan. Semakin turun ke bawah, ada genangan darah dengan tubuh yang tak sempurna. Tubuh bagian bawahnya hilang.


Elang mencoba mendekatinya dengan kamera yang masih merekam. Baru beberapa langkah, wanita itu pun terkulai tidak berdaya. Tewas dengan keadaan mengenaskan.


“ARRGH!” Amarah mulai menyulut di dalam dada lelaki bertubuh gemuk itu. Kejadian dua hari ini membuat emosinya tersulut.


Dari depan gardu, Dara terdiam melihat Elang. Profesor Tejo kemudian menyuruhnya masuk ke dalam supaya gadis itu lebih tenang.


Dari tempat Elang berdiri, terlihat banyak mayat bergelimpangan dengan keadaan yang tidak wajar. Ada satu yang menarik perhatiannya, sebuah bayangan di tembok yang membentuk seperti dua orang sedang berdiri ketakutan. Setelah mengambil beberapa foto, ia kemudian kembali ke markas Profesor Tejo.


“Ada penjelasan untuk ini, Prof?” Elang menunjukkan foto bayangan dua orang di dekat tembok yang diambilnya tadi.


“Ini sama seperti bekas ledakan bom atom di Jepang tahun 1945 dulu. Ledakan yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki!” Dengan cekatan dia membuka gambar yang menunjukkan bayangan seorang anak perempuan sedang bermain lompat tali. Foto yang diambil beberapa hari setelah terjadinya ledakan bom atom di kota Hiroshima.


Elang menggeleng pelan. “Separah itu?” Gumamnya seakan tidak percaya pada apa yang dilihatnya.


“A-Apa kita aman, Prof?” Kata Dara dengan penuh rasa takut.


Elang menyalakan tv di monitor yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, berusaha mencari berita terbaru, tapi yang dilihatnya hanyalah sebuah layar berwarna hijau dengan bayangan yang tidak diketahui makhluk apa yang ada di sana.


“... Serangan ini adalah ultimatum dari kami untuk para makhluk Bumi. Cepat serahkan generator planet kami yang dicuri oleh kalian beberapa tahun lalu. Atau kami akan hancurkan Bumi!...” Siaran kemudian terputus, layar semut statis mengganti gambar yang tadi mengisi seluruh siaran.


“Generator planet? Maksudnya apa, Prof?” Selidik Elang.


“Mungkin ini yang dimaksud!” Profesor Tejo kemudian membuka sebuah rekaman yang menunjukkan sebuah pendaratan astronot setelah berhasil kembali setelah penjelajahan selama dua bulan di luar angkasa. Pendaratan yang menurut rencana awal harusnya di pangkalan Nasa, Amerika Serikat. Namun harus mengalami rencana kedua karena pada saat masuk orbit, mereka tepat berada di atas langit Indonesia.


Sebuah pendaratan yang bisa dibilang mulus, meskipun mesin yang tersisa di pesawat itu hanya tinggal satu.


“Benda itu yang mungkin dicari oleh mereka!” Tunjuk Profesor Tejo pada sebuah tas koper yang terbuat dari logam. Menunjukkan kalau itu adalah benda yang sangat berharga.


“Lalu, benda itu ada di mana, Prof?”

__ADS_1


“Markas Nasa. Washington!”


“Kalau ada di sana, kenapa Jakarta? Kenapa serangannya ke Jakarta?” Tubuh Dara bergetar, emosinya bercampur antara marah, sedih dan juga takut.


Elang mendekati Dara, mencoba menenangkan gadis itu dengan menggenggam erat tangannya.


“Mungkin mereka melihat pesawat yang membawa generator planet mereka turun di Jakarta!” Jawab Profesor Tejo.


“Surati Nasa, minta mereka mengembalikan benda itu, Prof,” tukas Elang masih menggenggam tangan Dara.


“Tidak semudah itu. Kalaupun pemerintah kita berhasil menyurati Nasa, mereka pasti tidak akan begitu saja melepaskan benda yang mereka dapat dari luar angkasa. Mereka akan menganggap pemerintah kita berkhayal, mengarang cerita.”


Mereka bertiga terdiam mencoba mencari solusi.


"Kita cuma dua pilihan. Menyerah kalah, atau melawan meskipun peluangnya kalah juga." Prof Tejo mencoba memberikan opsi.


"Bagaimana kalau kita melawan, Prof?" Sambar Elang.


"Melawan dengan apa?"


Siaran tv yang tadinya terlihat statis, kini kembali menampilkan gambar seperti sebelumnya. Latar berwarna hijau menyala, dan sesosok makhluk berbentuk bayangan.


"Makhluk bumi. Satu pesan kami, jangan coba-coba melawan kami, atau kalian akan bernasib seperti ini!" Gambar di layar kaca kemudian berubah menjadi sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Barat, Taman Anggrek. Bangunan yang menyatu dengan apartemen itu seketika luluh lantak dengan sekali tembakan sinar berwarna biru.


"Ah…" Dara tercekat, tak mampu lagi dirinya mengeluarkan suara. Air matanya meleleh.


"Gila! Kita harus lawan, Prof!" Elang terlihat panik.


Lelaki berkacamata dengan rambut panjang itu mengangguk pelan, tak ada kata-kata yang keluar darinya. Ia perlahan duduk sambil menyeruput kopi dari gelas penahan panas buatannya.


Keputusasaan menyelimuti ketiga orang di ruangan bawah tanah milik Profesor Tejo. Menghela nafas dan menghembuskannya, mencoba mencari jalan keluar dari masalah ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2