
Tak lama setelah kedatangan para rombongan penakluk hutan Amarta sebelah barat tiba, pesta kemenangan digelar. Sekaligus pesta pora atas menikahnya Bima. Seluruh rakyat Astina bergembira, semua kalangan diundang.
Elang duduk menyendiri di pojok ruangan, tak banyak hidangan pesta yang bisa dimakan karena ada beberapa makanan dengan daging ****. Ia hanya memilih buah-buahan atau singkong rebus.
Meskipun dari keluarga kerajaan, tapi para Pandawa tidak merasa tinggi. Mereka masih mau turun ke jalanan untuk melihat penderitaan rakyatnya, juga membantu rakyat yang kesusahan.
Semua itu karena selama setahun semenjak diusir oleh Kurawa yang masih saudara mereka dari istana peninggalan ayahnya. Kelima putra Pandu ini menyebar dan membaur dengan menyamar menjadi rakyat biasa.
Dalam penyamarannya, Yudhistira menjadi seorang pengemis yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Bima menjadi tukang jagal daging, Arjuna menjadi penempa senjata dan besi. Sementara si bungsu kembar, mereka menjadi petani dan juga nelayan.
Banyak pelajaran yang mereka dapat selama berpura-pura menjadi rakyat biasa itu, mulai dari penderitaan sampai kelaparan pun pernah mereka alami.
Sampai saat raja dari kerajaan Dwarawati, Kresna. Datang menghampiri mereka satu per satu untuk berkumpul dan membuka lahan di hutan Amarta.
Setelah menaklukkan kerajaan jin di dalam hutan Amarta, raja jin yang mereka kalahkan memberikan istananya untuk para Pandawa. Bukan hanya itu, kelima jin yang sakti juga merubah diri mereka untuk menjadi pelindung, sekaligus senjata bagi para Pandawa.
Pesta semakin meriah, iringan musik dan tari-tarian menyemarakkan suasana. Satu per satu para ksatria dan raja-raja dari tempat yang jauh berdatangan. Kresna datang bersama Setyaki, panglima perang kerajaan Dwarawati.
Setyaki sendiri bukanlah orang asing bagi keluarga Pandawa, bisa dibilang ia juga salah satu dari mereka meskipun bukan dari ayah Pandu.
“Kang mas Yudhistira mencarimu, Lang. Ternyata kamu malah di sini.” Nakula mengagetkan Elang yang sedang asik meminum air perasan buah anggur manis.
“Ah, iya. Baiklah, aku akan kesana.” Elang bangkit dari duduknya, tangan kanannya masih menggenggam gelas yang terbuat dari perak.
“Sri Gita mana, Lang?” kata Nakula lagi setengah mengejek.
Sesampainya di ruang tengah, tampak oleh Elang para ksatria dari berbagai kerajaan. Semua mata tertuju padanya karena pakaian yang dipakai Elang sangat berbeda sekali dengan pakaian di masa itu.
__ADS_1
“Baiklah, karena sudah berkumpul semua, izinkan saya memperkenalkan seorang ksatria muda. Dia ikut membantu kami dalam membuka hutan Amarta di sebelah barat yang berbatasan langsung dengan kerajaan Pringgandani…” Yudhistira menghela nafas sambil menunjuk ke arah Elang. “Dia adalah Elang. Ksatria dari kerajaan..”
“Lang, kamu dari kerajaan mana?” tukas Sadewa.
“Apa?”
“Kerajaan mana?”
“Jakarta,” jawab Elang dengan asal.
“Kerajaan Jakarta!” Yudhistira mengulang kembali kata-kata Elang dengan lantang. Diikuti dengan suara kebingungan dari para undangan yang hadir.
“Di mana itu kerajaan Jakarta?” protes salah satu ksatria yang berwajah sangar. Ia adalah Salah satu ksatria di kerajaan Lesangpura. Tidak ada satupun kerajaan bernama Jakarta pada saat ini.
Elang menengadahkan kepalanya, lalu menjawab, “itu adalah kerajaan yang sangat sangat jauh jaraknya dari sini.”
Elang baru mau menjawab, tapi dihalau oleh Yudhistira. “Sudah, sudah. Dia adalah tamu saya, tak penting datang darimana. Sekarang, silakan menikmati hidangan yang sudah tersedia.” Dengan kebijaksanaannya, Yudhistira menengahi Elang dan Ksatria Lesangpura.
“Jadi, kamu yang namanya Elang? Anak dari masa depan itu?” ujar Setyaki sambil mengunyah makanannya.
“Dan kang mas adalah Setyaki, panglima kerajaan Dwarawati. Pemilik senjata wesikuning. Salam hormat saya.” Elang mengepalkan tangan kanannya, sementara jari-jari sebelah kirinya terbuka mengapit kepalan tangan kanannya.
“Hey, darimana dia tau namaku?” tanyanya pada Kresna, dan Pandawa yang lainnya. Setyaki terlihat kebingungan.
“Hahaha, kang mas Setyaki. Kan sudah kubilang, anak ini punya potensi yang kita tidak tau.” Kelakar Sadewa sambil mengambil potongan paha ayam, lalu memakannya.
“Kudengar kau bisa melawan raksasa hanya dengan sekali tebas. Apa benar itu?” Setyaki kembali menginterogasi Elang.
__ADS_1
“Hanya kebetulan saja, Kang mas.” Elang menjawab dengan singkat. Kali ini dia sudah ada di antara para Pandawa.
Kresna tersenyum mendengar jawaban singkat Elang.
Sadewa kemudian menceritakan apa yang terjadi di tanah lapang tepat di depan istana Pringgandani. Kehebatan Elang menghindari musuh yang besarnya tiga kali dari dirinya, hingga gerakan menebas yang langsung memutuskan kepala lawannya. Setyaki berdecak kagum mendengar cerita itu.
Suara terompet terdengar nyaring dari luar, menandakan datangnya tamu. Tapi bukan tamu biasa, karena hanya tamu istimewa yang disambut dengan tiupan terompet.
“Saya mohon diri untuk kembali ke tempat saya tadi.” Elang berdiri, lalu beringsut meninggalkan kelima Pandawa juga Kresna dan Setyaki tanpa menunggu persetujuan mereka. Karena ia tau yang datang adalah tamu penting.
Seorang lelaki bertubuh tambun berambut putih keperakan dan janggut lebat yang juga berwarna sama seperti rambutnya masuk ke dalam istana. Ia memakai kain yang dililitkan di sekujur tubuhnya dari ujung kaki hingga ke bahunya. Seluruh ksatria di ruangan itu menunduk hormat padanya, tak ada satupun yang tidak menghormatinya.
“Salam hormat kami Eyang Resi Bisma!” ujar para Pandawa diikuti Setyaki dan juga Kresna.
Meskipun Resi Bisma berada di kubu Kurawa, tetapi ia sangat sayang sekali kepada cucu-cucunya yang berada di kubu Pandawa. Terlebih kepada Arjuna yang dilatihnya memanah sejak kecil. Di Kurawa sendiri, ada satu sepupu Arjuna yang mempunyai paras mirip dengannya, dan kemampuan memanah yang hampir sama dengan Arjuna. Namanya Karna, ia selalu menemani Resi Bisma kemanapun ia pergi.
Mata Arjuna dan Karna beradu, keduanya seperti sama-sama menyimpan dendam pribadi. Tapi atas dasar menghormati Kakaknya, Bima, yang sedang menikmati hari bahagianya. Arjuna mencoba untuk menyingkirkan dendam antara dirinya dan Karna selama ini.
“Silakan mencicipi hidangan yang sudah disediakan, wahai sepupu.” Arjuna mencoba bersikap wajar pada Karna sambil mengajaknya untuk duduk.
Keduanya duduk bersebelahan, namun sedikit ada jarak. Menandakan kalau masih ada percikan-percikan dendam di antara mereka.
Bisma menyalami Bima, cucunya yang pernah ia selamatkan dari lilitan selubung berwarna perak yang hampir merenggut nyawanya dulu. Berkali-kali lelaki renta itu memberikan pemberkatan kepada Bima dan Arimbi. Kemudian ia ikut duduk di antara para cucunya.
Dirinya sengaja datang ke Astina hanya untuk datang ke acara pernikahan Bima, meskipun sudah diundang, tetapi Dursasana dan Duryudhana serta sepupu yang lain Pandawa dari pihak Kurawa, tak ada yang sudi datang.
Elang sengaja tidak ingin menampakkan dirinya di hadapan resi Bisma. Karena mendengar namanya saja lewat dongeng yang diceritakan mang Ujo dan cerita yang sering dibacanya, Resi Bisma merupakan orang yang paling ditakuti dan disegani. Lelaki itu lebih memilih duduk menikmati hidangan singkong rebus dan buah-buahan, ditemani oleh Sri Gita yang baru saja selesai membereskan kamar yang akan dipakai oleh Elang tidur malam nanti.
__ADS_1