Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Nakula & Sadewa


__ADS_3

Ayam jantan berkokok bersahut-sahutan, sinar hangat matahari berwarna keemasan membelai wajah Elang yang masih larut dalam mimpi indahnya bersama Dara. Dalam mimpi itu, ia berlari mengejar Dara yang tak jauh ada di depannya. Begitu tertangkap, ia memeluk tubuh gadis berjilbab hitam itu. Gantian, kini giliran Elang yang harus berlari dikejar oleh Dara.


Elang tiba-tiba terbangun, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, nafasnya terengah-engah. Dalam mimpinya ia melihat Dara yang sedang mengejarnya tiba-tiba hilang dalam sebuah ledakan besar.


“Dara!” ujarnya sambil berusaha beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Awalnya ia merasa aneh dengan ruangan tempatnya tidur semalam, tapi setelah mengatur nafasnya sembari mengingat-ingat apa yang telah dialaminya kemarin. Elang kemudian sadar kalau dirinya sedang berada di tempat yang jauh dari zamannya.


Di hadapan Elang sudah tersaji berbagai jenis makanan dari buah-buahan dan juga minuman berupa susu segar, dilihatnya lagi sekeliling ruangan yang lantainya terbuat dari batu pualam itu. Tak ada pendingin ruangan di sama, tapi udaranya sejuk sekali.


Pandangannya langsung tertuju pada tubuhnya yang hanya dilindungi selimut yang terbuat dari kulit kerbau yang begitu disingkap, ia melihat seluruh pakaiannya sudah berganti dengan sarung bermotif batik yang menutupi sekitar perut dan kakinya.


“Heh, siapa yang mengganti ini semua?” desis Elang sambil duduk di pinggir tempat tidurnya.


“Saya tuan.” Ada suara lembut yang menyahut dari arah pintu, kemudian ia menunjukkan dirinya. Seorang wanita muda berwajah ayu, rambutnya panjang diikat di dekat pangkalnya, namun masih terurai hingga bahunya yang terbuka. Kain yang dipakainya hanya sebatas menutupi dada hingga di atas lututnya, namun masih terlihat belahan dadanya yang indah.


“Ka--Kamu siapa?” selidik Elang. Sambil menutupi bagian tubuh bawahnya dengan selimut.


“Saya Sri Gita, tuan raja untuk melayani tuan. Apapun yang tuan minta akan saya lakukan,” katanya sambil melepas kain yang dikenakannya.


Elang memalingkan pandangan dari pelayannya itu. “Sri Gita, bukan ini yang aku mau. Tolong pakai lagi kainmu. Aku hanya mau sarapan.”


“Tapi Tuan, saya diperintahkan untuk melayani tuan.”


“Iya, aku tau. Tapi aku kemari bukan untuk itu, kamu temani aku makan aja yah!” ajak Elang sambil menyuruhnya duduk di dekat meja yang sudah tersaji hidangan untuknya.


Perempuan itu duduk di hadapan Elang, tapi kain yang dipakainya masih terbuka di bagian dada sehingga menunjukkan buah dadanya yang menantang.


“Gita, tolong naikkan kainmu yah,” kata Elang masih sambil memalingkan pandangan dari pelayannya itu.


Elang baru keluar dari kamarnya setelah menghabiskan makanannya dan berganti baju dengan celana dan sweater yang dipakainya sejak sampai di tempat ini. Baru saja lelaki bertubuh gemuk itu keluar dari kamar, ia langsung dihadapkan dengan lorong istana yang membingungkan. Lorong yang pilarnya dilapisi emas itu membentang di sisi kanan dan kirinya. 


“Mesti kemana yah?” gumamnya dalam hati sambil memperhatikan kanan dan kiri. Akhirnya ia memutuskan untuk berbelok ke kanan.


“Hey, manusia masa depan!” panggil Nakula yang ada di belakang Elang.


Elang berhenti melangkah, lalu menoleh ke arah sumber suara itu.


“Mau kemana? jalannya kesini,” sambung Sadewa yang juga ada di sebelahnya.


Setelah menghampiri kedua kembar Pandawa, ketiganya berjalan menuju taman istana kerajaan Astina.


“Kakak kalian kemana?” selidik Elang ketika menyadari betapa heningnya istana.

__ADS_1


“Kangmas Arjuna menemani Kangmas Bima membuka lahan di sebelah barat hutan Amarta, sementara Kangmas Yudhistira sedang dalam perjalanan ke kerajaan Dwarawati.” Sambil memainkan pedangnya, Nakula menjawab pertanyaan Elang.


“Dwarawati? bertemu dengan Kresna?”


“Iya. Hebat yah, Kangmas Kresna kalau datang kemari gak pernah pake kuda. Dia selalu naik awan.” sambung Sadewa.


“Kamu bisa naik kuda, Lang?”


“Nggak, di zaman depan kendaraan kami adalah motor atau mobil.”


“Hah? hewan apa itu?” 


Elang tertawa geli mendengar pertanyaan Sadewa. Di antara kedua kembar ini, memang Sadewa yang humoris, sedangkan Nakula lebih serius. Namun, tetap saja keduanya bisa dijadikan teman buatnya.


“Itu semua bukan hewan, kendaraan yang digerakkan dengan mesin.” Elang mengeluarkan tablet dari dalam tas, lalu menyalakannya.


Kedua kembar itu berdiri lalu bersiap menghunuskan pedangnya ke arah tablet yang dipegang oleh Elang.


“Whoa… Tu--Tunggu. Ini gak berbahaya, tenang,” pekik Elang sambil melindungi tabletnya.


“Apa itu?” Nakula menurunkan sedikit pedangnya sambil masih menatap curiga ke Elang.


Sadewa yang sedari tadi masih menghunuskan pedangnya, kali ini kembali menyarungkannya. Si bungsu paling terakhir ini tertegun dan terpana melihat pemandangan yang baru dilihatnya itu.


“Makannya apa?” tanya Sadewa polos.


“Ini gak makan apa-apa. Penggeraknya mesin, bahan bakarnya hanya bensin.”


“Bensin?” Nakula ikut penasaran.


“Iya, bensin itu sejenis minyak yang diolah dengan titik didih nol. mudah terbakar, tapi aman untuk kendaraan.”


Nakula dan Sadewa menggaruk kepala, mereka tak mengerti apa yang dikatakan oleh tamunya yang datang dari masa depan.


Elang tertawa melihat wajah kebingungan mereka berdua. “Katanya kalian mau mengajakku jalan-jalan keliling kerajaan. Jadi gak?”


Wajah Nakula berubah menjadi berseri-seri, ia kemudian berkata, “whoaaa! jadi dong. Memang itu alasan kami supaya tidak ikut ke barat hutan Amarta untuk membantu kangmas Bima. Iya gak, Sadewa?”


Sadewa tertawa sambil memberikan isyarat jempol, menyetujui ucapan kakak kembarnya.


Lima menit kemudian, Elang bersama Nakula dan Sadewa sudah berada di alun-alun kerajaan Astina yang biasa dipakai jual beli oleh masyarakat. Ada banyak barang dagangan dijual di sana, mulai dari hewan baik yang hidup atau sudah mati. Sampai kain-kainan dan juga gerabah dijual di sana. 

__ADS_1


Puluhan pasang mata manusia yang berada di sana menunduk hormat ketika Nakula dan Sadewa lewat, kemudian memandang aneh pada Elang yang memakai pakaian paling berbeda di antara mereka.


“Awalnya ini semua adalah hutan belantara, tidak ada satupun manusia yang berani masuk kemari.” Nakula membuka pembicaraan ketika mereka sedang ada di sebuah kedai minuman.


“Memangnya kenapa dengan hutan ini?”


“Hutan Amarta terbilang angker, setiap manusia yang masuk ke dalamnya takkan pernah bisa keluar,” sambung Sadewa.


“Angker? Ada apa saja di dalamnya?” Elang menyeruput segelas minuman yang terbuat dari akar tumbuhan. Rasanya seperti sarsaparilla.


“Raksasa yang mengejar kamu kemarin salah satunya. Belum lagi bangsa jin dan gandarwa yang menghuni hutan.”


“Itu belum seberapa. Waktu kami berlima dan ibu kami mengungsi kemari dalam pengasingan setelah dicurangi dalam taruhan oleh Kurawa…” Belum sempat Nakula melanjutkan kata-katanya, Elang memotong.


“Kakak kalian, Yudhistira melawan sosok raja jin yang kemudian memberikan kebijaksanaan dan wibawa. Sedangkan Bima melawan pengawalnya yang terkuat. Setelah berhasil mengalahkannya, pengawal raja itu memberi senjata berupa gada besar yang bisa muncul saat dibutuhkan. Sama seperti Bima, Arjuna pun diberi busur panah sakti yang muncul saat ingin bertempur…” Elang menghentikan kata-katanya. Ia kembali meminum air rasa sarsaparilla miliknya. “Begitu juga kalian. Pedang milik kalian juga adalah penjelmaan dari pengawal raja jin yang juga kembar.”


Kedua kembar itu kembali tersentak kaget akan cerita dari Elang. Semuanya hampir akurat, hanya saja lelaki dari masa depan itu tidak menceritakan kepanikan mereka karena tidak tahu apa yang harus mereka lawan akibat ilmu mata batin yang akhirnya diberikan oleh kakak sulung mereka, Yudhistira.


“Darimana kau tau banyak tentang kami?” selidik Nakula.


Elang kembali mengeluarkan tabletnya, ia membuka sebuah buku elektronik yang menjadi koleksinya. Dibukanya sebuah cerita Mahabharata tentang hutan Amarta.


Dengan perasaan takjub, Nakula dan Sadewa langsung melihat isi tulisan dalam tablet Elang. Mereka terlihat antusias, tapi tak berapa lama. Mereka terlihat seperti kebingungan.


“Itu gambar apa?” kata Sadewa dengan polosnya.


“Ini tulisan, kisah tentang kalian.”


Nakula menggeleng pelan. “Saya tidak mengerti apa isinya.”


“Astaga!” Elang menepuk jidatnya sendiri, menyadari kesalahannya. Tulisan cetak yang ada di tabletnya masih belum ditemukan di era kisah Mahabharata tempatnya berada sekarang. Tablet miliknya pun menunjukkan kosongnya jaringan. Karena memang saat itu belum ada listrik. Kalaupun tabletnya bisa menyala, itu karena waktu itu profesor Tejo pernah mengubah alat daya baterai di tabletnya dengan energi atom. Sehingga tabletnya bisa menyala tanpa harus diisi daya lagi.


Sepanjang pagi hingga siang hari itu, akhirnya Elang dan kedua kembar Pandawa hanya menghabiskan waktu di kedai minuman yang ada di tengah alun-alun kerajaan Astina dengan penuh tawa. Dari obrolan itu terkuaklah kalau umur mereka bertiga tidak jauh berbeda. Usia Elang hanya kurang beberapa bulan dari mereka. Nakula dan Sadewa berusia 21 tahun, Elang 20 tahun.


“Lang, gimana permainan Sri Gita? Mantap, kan?” ujar Sadewa sambil menyiku lengannya.


“Pasti mantap, Sadewa. Buktinya dia sampe kesiangan,” sambung Nakula, diikuti tawa dari keduanya.


“Permainan? Permainan apa?” sanggah Elang yang sekarang sedang mengambil singkong rebus.


Tawa mereka pecah lagi, ketika Sadewa kembali berkelakar. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata mengawasi dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2