
Semua mata mengarah pada dua orang yang ada di tengah Padang Kurusetra, panah yang mengejar Gatotkaca pun semakin mendekat. Namun tinggal tiga meter lagi panah itu mengenai tubuh ksatria Pringgandani, tubuh Elang dan Gatotkaca menghilang ditelan kepulan asap berwarna kebiruan dengan aliran listrik di dalamnya.
Pemandangan yang dilihat Elang saat ini adalah pemandangan yang sama ketika ia berangkat dari masa depan menuju masa lalu, sebuah pusaran waktu berwarna hijau kebiruan mengelilingi mereka. Gatotkaca yang paling tidak nyaman dengan keadaan itu, ia merasa aneh dengan pemandangan di sekitarnya yang baru dilihatnya. Ditambah lagi tubuh Elang masih merangkul erat dirinya semenjak di Padang Kurusetra tadi.
“Kita di mana ini, Paman?” pekik Gatotkaca sedikit panik.
“Lorong waktu, kita akan pergi ke masa depan!” Elang menjawab pertanyaan Gatotkaca, tapi detik berikutnya ada perasaan aneh yang menyelimuti tubuhnya. Perasaan yang tidak dirasakannya ketika pertama kali berangkat ke masa lalu.
Sementara itu di ruang bawah tanah persembunyian milik Profesor Tejo.
Sudah lewat lima menit waktu yang dijanjikan oleh Elang untuk kembali ke tahun 2050, tapi ia belum juga kembali. Dara terlihat sangat khawatir, ia tak henti-hentinya menatap mesin waktu di mana pertama kali Elang pergi ke masa lalu. Tak ada pertanda bahwa lelaki yang disayangnya itu akan kembali.
“Sudah sepuluh menit sejak Elang pergi ke masa lalu, saya takut ada sesuatu hal yang menimpanya.” Profesor Tejo menatap jam di pegelangan tangannya sambil sesekali memandang mesin waktu buatannya.
Kapten Firman merangkul bahu Dara, seraya menguatkan hati adik kesayangannya itu. “Doakan saja supaya tak terjadi apa-apa pada Elang, Ra.”
Gadis berjilbab hitam itu mengangguk, lalu memeluk kakaknya.
Di tengah badai keputus asaan yang menyelimuti ruang bawah tanah milik Profesor Tejo yang juga berfungsi sebagai laboratorium rahasia miliknya, sebuah asap kebiruan muncul dari mesin waktu temuannya. Asap itu semakin membesar, lalu tak lama dua orang lelaki muncul dari dalamnya sambil terjatuh.
“YEAAAAAAH… BERHASIIIIIL!” pekik Elang kegirangan. Tubuhnya masih terlentang di lantai, sementara Gatotkaca ada di sebelahnya.
Dara, Kapten Firman dan Profesor Tejo memandangi Elang dan Gatotkaca yang baru saja datang dari masa lalu, mereka tak hentinya menatap Gatotkaca. Tetapi perhatian Dara lebih tertuju kepada Elang yang sangat berbeda dengan apa yang dilihatnya beberapa menit lalu, tepat sebelum ia pergi ke masa lalu.
__ADS_1
“Elang.” Dara mendekati Elang, lalu merapikan rambutnya yang sudah panjang dan acak-acakan, kemudian ia memegang otot di lengan Elang.
“Dara.” Elang tersenyum melihat gadis yang sangat disayangnya, lalu mengusap kepalanya yang tertutup jilbab hitam.
“Maaf saya mengganggu kalian berdua,” sela Profesor Tejo di tengah kemesraan antara Dara dan Elang. “Elang, siapa yang kamu bawa?” sambungnya.
Mendengar pertanyaan sahabatnya, Elang langsung beranjak dari tempatnya. “Sesuai janji Prof, aku bawa Gatotkaca kemari. Hampir saja gagal karena gelang waktu yang aku bawa kehabisan batere.”
Lelaki berambut panjang yang mirip pemain band metal itu menarik tangan Elang ke sebuah layar monitor, dan menunjukkan sebuah buku elektronik berjudul Mahabarata. “Kau baca, Lang. Orang itu bukan pahlawan perang. Dia adalah pelarian perang yang menghilang dan penyebab kekalahan Pandawa!” Profesor Tejo menunjukkan halaman di mana perang Bharatayuda dimulai, sementara Elang mulai membaca dengan sangat teliti. Apa yang ada di tulisan itu sama persis seperti apa yang dialaminya. “Apa kau masih percaya dengan pelarian perang seperti dia?”
Elang terus membaca kata demi kata yang ada di sana.
* * *
Namun lawan yang dihadapinya semakin brutal, Gatotkaca terus menggempur pasukannya dengan perlawanan yang sengit. Hingga akhirnya ia memutukan untuk menggunakan panah Konta Wijaya yang sejatinya akan dipakainya untuk menghadapi Arjuna.
Panah itu dilepaskannya dan dengan cepat mengejar Gatotkaca yang terbang cepat menghindari senjata pamungkas yang sarungnya ada di dalam tubuh putra Bima itu. Namun pada saat ia menukik ke tanah, seorang prajurit yang juga masih dekat dengan para Pandawa menangkap tubuh Gatotkaca, setelah itu sebuah ledakan berwarna biru terang dan menyilaukan membuat kedua orang itu hilang tanpa jejak.
Panah Konta kembali ke pemiliknya tatkala tahu sasarannya menghilang, saat itu juga Karna melepaskan lagi panahnya untuk diarahkan pada Arjuna. Putra ketiga Pandawa itu pun gugur seketika.
Mengetahui Arjuna gugur, amarah Kresna memuncak, ia mengeluarkan cakra dalam dirinya dan akan dihempaskan ke arah pasukan Kurawa. Namun tatkala cakra miliknya sudah sempurna, sebuah anak panah dilesakkan Karna dan mengenai perut Kresna.
Kresna limbung, senjata cakranya terjatuh dan meledak di tenda tempat Pandawa berada, ledakannya menghancurkan seluruh pasukan Pandawa dan membumihanguskan para Pandawa.
__ADS_1
Perang Bharatayuda berakhir dengan kemenangan di pihak Kurawa*.
* * *
Elang menggeleng tak percaya. “Bukan begini ceritanya, Prof. Ini pasti…”
“Efek paradoks waktu,” potongnya dengan antusias.
Lelaki berambut acak-acakan itu menghampiri Gatotkaca yang terlihat kebingungan dengan suasana sekitarnya. “Gatotkaca, ini yang pernah kubilang soal masa depan. Ini adalah masa depan, dan kita sedang berada di tempat temanku, Profesor Tejo.” Elang menunjuk pada Profesor Tejo.
Gatotkaca hanya menatap tajam ke arah Profesor Tejo.
“Itu Dara, dan kakaknya, Kapten Firman,” sambung Elang lagi.
“Masa depan, Paman? Sempit sekali masa depan itu yah?” Gatotkaca masih mencoba memahami tempat apa sebenarnya yang ada di hadapannya saat ini.
Elang hanya tertawa melihat wajah polos Gatotkaca, ia melepaskan tas punggung yang sedari tadi dipakainya lalu menaruhnya di meja. Ada suara gemeretak tatkala tasnya ada di atas meja.
“Apa isi tasmu, Lang?” selidik Dara. Karena pada saat berangkat ke masa lalu, ia melihat tas yang dibawa Elang tidak penuh seperti saat ini.
“Ah iya, aku lupa. Kak Firman, tolong kemari sebentar. Profesor juga.” Kedua orang yang ditunjuk oleh Elang mendekat, kemudian Elang membuka tasnya dan mengeluarkan isi di dalamnya. “Aku bawa bongkahan emas dari masa lalu. Mudah-mudahan ini bisa dipakai untuk biaya membangun kota Jakarta yang hancur.”
Dara, Kapten Firman dan Profesor Tejo terperanjat melihat banyaknya bongkahan emas yang dibawa oleh Elang. Baru kali ini mereka melihat emas murni dalam jumlah yang banyak.
__ADS_1
Tak berselang lama, sebuah getaran terasa di dalam ruang bawah tanah tempat mereka berada, kekuatannya begitu keras. Pertanda sebuah ledakan terjadi lagi dalam radius yang cukup dekat dari sana.