
Matahari pagi bersinar cerah di Trajutrisna, sepasang anak manusia yang tubuhnya hanya tertutupi selembar kain batik terbangun dari tidurnya karena merasa ada yang mengganggu. Mereka adalah Raden Setyaboma dan Dewi Hagnyanawati. Diam-diam mereka saling jatuh cinta dan melakukan perselingkuhan.
Gatotkaca berdiri hanya satu meter dari kaki mereka, setelah menghabisi para prajurit Trajutrisna yang menghalaunya untuk masuk ke dalam Istana. Begitu selesai melawan para pengawal kerajaan Trajutrisna, Ia berdiri semalaman di dekat ranjang yang ditempati oleh Setyaboma dan Dewi Hagnyanawati sehabis mereka bercinta dengan penuh nafsu.
“Si—Siapa kau?” pekik Dewi Hagnyanawati sambil menutup tubuhnya dengan selimut kain batik begitu melihat sosok pria berkumis tipis dengan baju hitam bergambar bintang matahari di dadanya sedang berdiri memandanginya dan Setyaboma.
Mendengar suara kekasihnya menjerit, Setyaboma langsung bangkit dari tempat tidurnya. “Bajingan!” Sebuah energi cahaya terhempas dari tangannya, mendorong Gatotkaca hingga ke luar kamarnya.
“Itu siapa?” ujar Dewi Hagnyanawati. Rasa takut akan kehadiran Gatotkaca masih menyelimuti perasaaannya.
“Raden Gatotkaca, putra Bima dari kerajaan Pringgandani. Kamu tunggu di sini, aku akan menyelesaikan urusan dengannya.” Sambil memakai pakaiannya, Setyaboma mencoba menenangkan kekasihnya yang juga berstatus istri dari adik yang dibunuhnya, Raden Samba.
“Hati-hati, Mas.”
Setyaboma hanya menganggukkan kepala, kemudian ia berlari dengan cepat menghampiri lawannya yang sudah menunggu di taman depan istananya.
“Raden Gatotkaca. Ada apa gerangan kau datang kemari?”
“Aku ditugaskan oleh Prabu Kresna untuk membunuhmu!” Gatotkaca melayang beberapa senti di atas tanah, ia menatap dingin wajah Setyaboma.
__ADS_1
Senyuman seringai nampak wajah Setyaboma, ia menghela nafas panjang. “Coba saja, ayo hadapi aku!” Kemudian ia merangsek maju sambil melancarkan pukulan dengan cahaya berwarna kekuningan yang keluar dari telapak tangannya.
Raja Pringgandani itu langsung mengelak meghindari serangan lawannya, ia meraih tubuh Setyaboma lalu diangkat tinggi ke udara dengan kemampuan terbangnya. Begitu sampai di ketinggian yang setara dengan pohon besar dekat istana Trajutrisna, Gatotkaca menghempaskan tubuh putra sulung Kresna dengan sangat keras hingga menghantam bumi dan hancur bersama debuman keras yang menggetarkan tanah.
Setyaboma tewas dengan kaki dan tangan terpisah, serta leher yang terlihat patah. Tapi hanya beberapa saat, kaki dan tangannya yang terpisah menyambung kembali dengan tubuhnya. Begitu juga dengan lehernya yang patah kembali normal.
Raja Trajutrisna itu bangkit lagi, tubuhnya kembali seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Senyuman menyeringai kembali muncul di bibirnya. “Kau kira hanya dirimu yang mempunyai kesaktian, Gatotkaca? HAHAHA…”
Melihat tubuh Setyaboma yang kembali utuh membuat Gatotkaca terkesiap, seketika ia langsung melancarkan serangan seperti roket yang menghantam lawannya.
DUAAAAAR… Suara ledakan terdengar sangat keras tatkala serangan pukulan Gatotkaca yang laksana roket itu menghantam tubuh Setyaboma, membuat lawannya itu tewas untuk kedua kalinya dengan kondisi dadanya hancur terkena hantam pukulan Gatotkaca yang sangat keras.
“Aku adalah mimpi burukmu, Gatotkaca. Tak ada satupun yang mampu melawanku sekarang. Hahahaha!” Setyaboma kemudian melemparkan sebuah energi cahaya berbentuk bola ke Gatotkaca yang masih berusaha untuk bangkit sehingga menimbulkan ledakan besar.
Raden Setyaboma sendiri awalnya tidak mempunyai kekuatan seperti saat ini, ia hanya memiliki hempasan bola energi berbentuk cahaya yang didapat dari ayahnya, Prabu Kresna. Namun Kresna sengaja tidak memberikan seluruh ilmunya pada Setyaboma, karena ia sadar putra sulungnya itu belum sepenuhnya bisa mengendalikan emosi dan juga kebijaksanaannya belum sampai pada tahap paripurna seperti dirinya.
Suatu hari ketika Setyaboma mendaki gunung Suryapringga, ia berjumpa dengan seorang pertapa bernama Subali, yang juga kakak dari Sugriwa, sekutu Rama saat berperang melawan Rahwana.
Melihat keteguhan hati dari anak muda yang ditemuinya saat bertapa, Subali mengujinya dengan berbagai ujian yang kesemuanya berhasil dilalui oleh Setyaboma. Akhirnya sang pertapa membagi ilmu pancasona yang dimilikinya pada Setyaboma. Ilmu yang mampu menghidupkan kembali pemilik ilmu itu.
__ADS_1
Setelah asap hitam dari ledakan menipis, sosok Gatotkaca kembali terlihat sedang menutupi wajahnya dari kepulan asap. Tanpa menunggu waktu lama, ia terbang melesat cepat menghantam tubuh Setyaboma. Lalu dibawanya terbang tinggi ke awan
Keduanya saling melancarkan pukulan di langit, Gatotkaca mendorong lagi Setyaboma hingga meluncur dengan cepat ke bumi. Namun belum sempat tubuhnya mencapai tanah, ksatria Pringgandani itu menyambarnya kembali dan membawanya naik ke langit.
Dengan kekuatan yang dimiliki Gatotkaca, ia menarik kepala Setyaboma hingga terlepas dari tubuhnya. Saat itu juga pemilik ilmu pancasona itu tewas.
Gatotkaca melepaskan tubuh tak bernyawa Setyaboma dan membiarkannya melayang hingga terjatuh menghantam tanah, sementara kepalanya masih dipegang dengan erat. Namun tanpa disadari seekor burung rajawali raksasa menyambar tubuh Gatotkaca sehingga kepala Setyaboma yang tadi ada dalam genggamannya terjatuh.
“Ah, sial!” gerutu Gatotkaca yang kini berada dalam genggaman cakar burung rajawali raksasa yang ternyata milik Raden Setyaboma. Susah payah ia mencoba melepaskan cengkraman cakar burung raksasa itu, dengan beberapa kali pukulan, cakar besar yang mengurung tubuhnya pun melemah dan ia terlepas.
“KAAARK… KAAAARK,” pekik burung rajawali raksasa yang merasa kesakitan karena pukulan Gatotkaca yang sangat kuat. Matanya menatap tajam pada manusia yang baru saja terlepas dari genggamannya. Tak mau kehilangan lagi calon mangsanya, rajawali itu bebelok dengan cepat.
Paruhnya bersiap untuk merobek tubuh Gatotkaca, namun ternyata besarnya tubuh si burung tak mampu menandingi kekuatan lawannya. Dengan sekali pukulan di bawah rahangnya, rajawali itu langsung tak sadarkan diri Tubuh besarnya meluncur dengan cepat langsung menghantam tanah. Suara keras terdengar diiringi dengan guncangan di bumi yang tak kalah kerasnya, burung besar itu mati seketika.
Dengan tenang Gatotkaca turun, lalu ia kembali terbang sambil mengangkat tubuh burung rajawali raksasa yang baru saja dilawannya. Tatkala sampai di atas lautan, dibuangnya makhluk besar itu hingga tenggelam ke dasar samudra.
Baru saja Gatotkaca ingin berbalik, sebuah pukulan telak mendarat di wajahnya sampai membuat kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Untungnya Gatotkaca dengan cepat mengembalikan keseimbangannya dan kembali terbang. Di depannya sosok Setyaboma terlihat terbang, sama seperti dirinya.
“Kaget bukan? Kau kira hanya dirimu yang bisa terbang? Aku juga bisa, Gatotkaca!” Tatapan matanya tajam. Ia memandang ke laut, sisa jejak air bekas Gatotkaca menghempaskan burung raksasa miliknya masih jelas. Bayangan tubuh besar burung itu pun masih terlihat meskipun samar. “Kurang ajar, kau bunuh burung kesayanganku. Terima akibatnya!” Amarah Setyaboma memuncak, ia langsung terbang menerjang Gatotkaca.
__ADS_1