
Setelah berhasil mendapatkan pusaka Kunta Wijaya, senjata hasil tempaan para dewa. Arjuna dan Elang bergegas untuk keluar dari hutan Bajubarat. Tak ada rintangan berarti yang mereka temui sepanjang perjalanan keluar, karena kebanyakan makhluk yang menghalangi mereka sudah tumbang di perjalanan saat berangkat.
Sementara itu, seorang ksatria baru saja menapakkan kakinya di dalam kastil pertapa. Ia buru-buru masuk dan mencari keberadaan senjata yang dicarinya, namun hasilnya nihil. Ksatria itu tak mendapatkan apa yang dicarinya.
Dengan busur panah yang diselempangkan di bahu kanannya, ia berlari menuju atap kasti. Alangkah terkejutnya ksatria itu ketika melihat dua sosok manusia sedang berlari menjauh dari kastil itu.
“Sial, Arjuna. Aku kalah langkah, tapi tak akan kubiarkan kau mendapatkan senjata itu.” Sambil menggerutu, dilesakkannya dua buah anak panah ke arah Arjuna dan Elang. Panah itu melesat membelah udara dengan cepat lalu menancap di sebuah batang pohon dekat Elang.
Elang terkejut melihat ada anak panah yang hampir mengenai dirinya, buru-buru dicarinya tempat bersembunyi di balik batang pohon besar. Sementara Arjuna mencabut anak panah itu, lalu memperhatikannya dengan teliti.
“Karna. Sedang apa dia di sini?” ujarnya sambil mematahkan anak panah yang hampir saja membunuh Elang.
“Siapa yang menyerang kita?” Dengan sedikit panik, Elang bertanya pada Arjuna.
“Karna, Adipati Karna. Dari Kurawa.”
“Dia bukan mau membunuh kita, dia cuma mau senjata itu!” tunjuk Elang pada Kunta Wijaya.
“Apa? Senjata ini? Buat apa?”
“Buat dirinya sendiri. Kita mesti cepat sebelum dia melesakkan panah lagi!”
Baru saja Elang menyelesaikan kalimatnya, Arjuna melesakkan panah ke arah kastil. Meskipun dari jarak jauh, Ksatria berwajah tampan itu bisa mengenai musuh dengan tepat. Tapi sayangnya, Karna dan Arjuna mempunyai guru yang sama, lesakkan panah yang ditembakkan oleh Arjuna tidak mengenai tubuh Karna sedikitpun. Dengan cekatan, sepupu jauh Arjuna itu pun menghindar.
__ADS_1
Kemampuan memanah keduanya boleh dibilang hampir sama, hanya saja Arjuna sedikit di atas lebih tinggi daripada Karna. Oleh sebab itu, Arjuna sering sekali diutus oleh para Dewa untuk melindungi kerajaan Kayangan dari serangan para makhluk yang ingin menggugat istana para dewa.
Elang berlari berusaha untuk menjauh dari wilayah tembak, tapi hanya beberapa meter saja. Suara desingan panah yang meluncur cepat menembus angin, terdengar di belakangnya. Lelaki berambut acak-acakan itu pun langsung bersembunyi di balik batang pohon besar.
“Ah, gila! Kalau begini, bisa lama kita keluar dari sini!” gerutu Elang sambil sesekali mengatur nafasnya.
Dengan ketenangan di wajahnya, Arjuna kembali memasang anak panah di busurnya yang berwarna keemasan, ia membidik ke udara lalu berkata, “Begitu panah ini kulesakkan, kau larilah sejauh-jauhnya. Aku akan menyusulmu di belakang.” Kemudian panah dilesakkan, Elang kembali berlari.
Cukup jauh Elang berlari, tapi lagi-lagi berhenti ketika mendengar suara anak panah melesat mengejarnya. Kali ini bukan hanya satu, tapi beberapa. Ia bersembunyi lagi di balik pohon besar, tak lama setelah ia menyandarkan tubuhnya, suara panah menghantam batang kayu terdengar sebanyak empat kali.
Diliriknya ke belakang, ia tidak menemukan Arjuna di sana. Elang kembali cemas, namun tak lama setelah mencari keberadaan Arjuna, sebuah panah terlihat melesat tak jauh darinya, dari arah tempat yang akan dituju berikutnya.
“Hey, kukira kau masih di belakang. Kenapa sekarang malah ada di depan aku?” kata Elang ketika ia kembali berlari dan melihat Arjuna ada di depannya saat ini.
Sambil berusaha mengatur nafas, Elang terus berlari. Beberapa kali ia menghindari anak panah yang mengejar dirinya, akar pepohonan yang menjuntai pun tak lepas dijadikan alat untuk berayun.
Suara panah yang melesat lalu menghantam pepohonan terdengar bersahut-sahutan, hutan Bajubarat kali ini bagaikan menjadi sebuah adegan dalam sebuah film peperangan. Suara desingan peluru diganti dengan suara lesatan anak panah. Arjuna dan Karna adalah dua saudara jauh yang terpisah karena politik kekuasaan. Arjuna berada di pihak Pandawa, sedangkan Karna di pihak Kurawa.
Elang sedang berlari sambil sesekali melihat ke belakang, tinggal beberapa meter lagi gerbang hutan Bajubarat terlihat. Tiba-tiba…
BRAAAK!!! Tubuhnya menabrak sesuatu, sehingga ia terhunyung jatuh ke belakang.
Seorang ksatria berdiri dengan wajah dingin, ia memandang Elang sejenak lalu mengambil anak panahnya untuk dilesakkan ke tubuhnya.
__ADS_1
Antara kaget bercampur takut, Elang berusaha menatap wajah ksatria yang membuatnya terhunyung tadi. Dilihatnya wajah yang mirip dengan Arjuna itu, lalu memorinya mencoba mengingat pada tamu yang datang di pesta pernikahan Bima. “Adipati Karna?” gumamnya pelan.
Ada senyuman tersungging di wajah Karna, ia menatap dingin lawannya yang sudah terjatuh. Belum sempat panahnya melesat, sebuah anak panah malah melesat menyerempet pipinya dan memutuskan tali di busur panah Karna.
“Dia bukan lawanmu, akulah lawanmu. Saudara jauh!” Arjuna keluar dari rimbunnya hutan sambil menodongkan busur panahnya pada Karna.
Karna tersenyum melihat Arjuna, matanya tertuju pada sebuah senjata yang terselip di belitan kain yang ada di perut saudara jauhnya itu. “Panahku rusak tak mungkin bisa untuk adu panah. Bagaimana kalau kita bertarung tangan kosong?” Dengan penuh percaya diri, Karna membuang busurnya. Lalu memasang kuda-kuda.
Busur panah di tangan Arjuna sontak menghilang, masuk ke dalam lengan kirinya. Meskipun bukan yang pertama kalinya Elang melihat pemandangan itu, dirinya masih saja tertegun. Menurutnya seperti Wolverine ketika akan bertarung, senjata berupa cakar admantium akan keluar dari sela-sela jarinya.
Dua saudara itu kali ini terlibat dalam pertarungan serius, tanpa senjata panah andalan mereka. Masing-masing saling melemparkan pukulan dan juga tendangan, tapi tak lupa juga menjaga jarak agar tidak terkena serangan dari masing-masing lawan mereka.
Sebuah pukulan Arjuna mendarat di wajah Karna, membuatnya limbung. Tapi tidak lama, karena lelaki yang kini mempunyai luka di pipi bekas panah itu bangkit dan langsung menerkam Arjuna. Keduanya berguling di tanah, tanpa disadari, Karna berhasil mengambil pusaka dewa, Kunta Wijaya.
Untungnya Arjuna menyadari, ia segera merebut senjata itu dari tangan lawannya. Perebutan senjata itu terjadi lumayan sengit. Karna memegang gagangnya sementara Arjuna menarik sarung dari Kunta Wijaya hingga terlepas.
Melihat dirinya berhasil merebut senjata para dewa, Karna langsung meninggalkan Arjuna yang masih tak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Dirinya kehilangan senjata para dewa.
Ilmu menghilangkan diri Adipati Karna lebih tinggi daripada Arjuna, alhasil putra kedua Pandawa itu pun kehilangan benda yang menjadi misinya.
“Sudah, sarung ini masih bisa dipakai untuk memotong tali pusar anak Bima,” tukas Elang memberi semangat pada Arjuna.
Keduanya kemudian bangkit dan berlari keluar dari hutan Bajubarat, meninggalkan hutan dengan kuda mereka.
__ADS_1