Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Kawah Candradimuka


__ADS_3

Alun-alun kota Astina sedang ramai ketika dua ksatria yang berasal dari dua linimasa yang berbeda, Arjuna dan Elang, melintas di sana.


Berita tentang lahirnya Putra Bima beredar dengan cepat, sehingga menimbulkan sebuah pergunjingan di antara warga di sana. Bagaimana tidak, baru saja genap sembilan hari setelah pernikahannya dengan Dewi Arimbi, muncul berita tentang anak pertama mereka yang baru lahir.


Arjuna memacu kudanya dengan cepat melewati para rakyat, diikuti Elang di belakangnya. Mereka ingin buru-buru sampai istana untuk mengabarkan tentang perjalanannya.


“Salam sembah Kang Mas Yudhistira, Kang Mas Bima, dan Kang Mas Kresna.” Arjuna menunduk kepada kedua orang kakaknya dan Kresna.


Elang menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda hormat pada mereka.


“Bagaimana perjalananmu, Arjuna?” tanya Kresna yang masih menjelma sebagai dewa Wisnu.


“Awalnya perjalanan kami lancar, kami menemukan kastil dan aku harus berhadapan dengan pertapa di dalamnya. Aku berhasil mendapatkan pusaka Kunta Wijaya. Tapi…” Arjuna tidak berani meneruskan kata-katanya.


“Tapi kenapa?” sela Bima.


“Karna ada di sana.” Elang meneruskan kata-kata Arjuna yang terpotong. “Ia mengujani kami dengan panah, duel panah pun terjadi. Salahku tidak memperhatikan jalan di depan, sehingga tak sengaja aku menabraknya dan terjatuh. Karna hampir membunuhku, tapi Arjuna menolong. Duel antara Arjuna dengan Karna pun tak terelakkan.” Elang menelan ludah, mengambil nafas sejenak.


“Lalu?” selidik Kresna.


“Ia berhasil merebut senjata itu dariku, sedangkan aku hanya mendapatkan sangkurnya.” Arjuna menunjukkan sarung Konta Wijaya yang tadi tersimpan di belitan kain yang ada di perutnya.


Kresna terdiam, ia menunduk memperhatikan sarung Kunta Wijaya yang baru saja diambilnya dari Arjuna. “Ini adalah senjata sakti, hasil tempaan para dewa. Jika tak mendapatkan senjatanya, sarungnya pun masih bisa dipakai untuk memotong,” gumamnya pelan. Ia memberikan sarung Kunta wijaya pada Bima sebelum melanjutkan kata-katanya, “pakai ini untuk memotong tali pusar yang membelit di tubuh anakmu.”

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Bima mengangkat bayi lelaki yang sedari tadi ada di ruangan itu. Bayi itu terlihat tenang meskipun seluruh tubuhnya dibelit oleh tali pusarnya sendiri.


Ditempelkannya benda itu pada sang bayi, perlahan sarung itu menggerus pangkal tali pusar sang bayi. Tapi kejadian berikutnya sungguh di luar nalar, sarung senjata Kunta Wijaya malah masuk ke dalam perutnya.


“Hah!, ada apa ini?” Bima kaget luar biasa melihat kejadian janggal itu.


“Tidak apa, itu akan menjadi sebuah pusaka untuk anakmu,” ujar Kresna mencoba menenangkan lelaki bertubuh besar itu.


Sarung Konta Wijaya benar-benar masuk ke dalam tubuh si jabang bayi. Setelah benar-benar masuk, kulit si bayi yang tadinya berlubang kembali menutup dengan sempurna seperti tak pernah terjadi apa-apa. Bersamaan dengan itu, bayi lelaki yang belum mempunyai nama itu menangis dengan sangat keras.


Bima berdiri mengangkat anaknya yang masih bayi tinggi-tinggi, tangisannya belum berhenti juga, meskipun ia sudah mencoba menenangkannya dengan menggoyang tubuh si bayi. “Hmmm… Kunamakan anak ini. Jabang Tutuka!”


Arjuna menatap tajam ke arah Elang, sedikit marah kepadanya. “Kau bilang anak dari kang mas Bima dan Dewi Arimbi adalah Gatotkaca?”


“Iya,” jawab Elang dengan tenang. “Nantinya, setelah ia berhasil melawan bangsa Gandarwa dan Banaspati yang akan menyerang istana Kayangan.” 


Elang tersenyum melihat Jabang Tutuka yang masih menangis. “Semua adalah kehendak para dewa,” kata Elang sambil duduk lalu mengambil gelas berisi teh hangat yang memang disediakan untuknya.


Lelaki berambut acak-acakan itu ingin menikmati waktu istirahatnya meskipun sebentar. Karena dirinya yakin, pasti tidak lama lagi akan ada titah dari para dewa untuknya dan para Pandawa.


“Mengapa tangisannya tidak mau berhenti, Kang Mas Kresna?” Yudhistira angkat bicara melihat keponakannya, Jabang Tutuka yang masih terus menangis.


Kresna terdiam, ia memejamkan matanya sambil merapalkan mantra. “Lekas bawa anak itu ke gunung Candradimuka di sebelah selatan hutan Amarta. Lemparkan ia ke dalam kawahnya, para dewa akan menempanya di sana.” Suara berat itu keluar dari Kresna, meskipun begitu bukanlah dirinya yang berbicara.

__ADS_1


Arjuna terkejut mendengar kata-kata itu, ia seolah tidak percaya pada apa yang didengarnya.


Bima berdiri sambil menggendong putranya yang baru beberapa hari lahir, kemudian berjalan menuju ke luar istana. Tapi dihentikan oleh istrinya, Dewi Arimbi.


“Suamiku, jangan kau lakukan itu.,” rengeknya sambil menahan Bima.


“Jika ini adalah perintah para dewa, maka aku akan melakukannya, istriku.”


Air mata tumpah di pipi Arimbi, ia tidak rela jika anaknya harus dikorbankan.


“Jangan takut, Ngger. Putramu tak akan terluka. Kami, para dewa akan menjaga anakmu dan menempanya agar menjadi lelaki yang kuat,” Kresna mencoba membujuk Dewi Arimbi.


Sambil menahan isak tangisnya, Dewi Arimbi akhirnya mengizinkan Bima dan saudara-saudaranya membawa Jabang Tutuka untuk dilempar ke dalam kawah gunung Candradimuka


Perjalanan menaiki gunung yang letaknya tak jauh di sisi selatan hutan Amarta memakan waktu tidak begitu lama. Dengan bantuan para dewa, kelima saudara Pandawa beserta Kresna dan juga Elang sudah sampai di puncak gunung Candradimuka, kini mereka sudah berdiri di bibir kawah yang di dalamnya terlihat lahar panas yang meletup-letup. Siap memangsa apapun yang masuk ke dalamnya dan melumatnya tanpa ampun.


Sambil menggendong putranya yang masih bayi, Bima memandang ke arah saudara-saudaranya sambil meminta persetujuan mereka untuk melemparkan Jabang tutuka ke dalam kawah.


Keempat saudaranya yang lain mengangguk, memberi persetujuan. Tanpa menunggu lama lagi, tangannya yang besar melemparkan bayi yang ada dalam genggamannya ke dalam kawah yang bergejolak.


Ada suara dentuman ketika tubuh Jabang Tutuka menyentuh lahar panas yang bergejolak. Sesaat bayi itu terlihat mengambang di atas kawah, tangisannya yang pecah semenjak sarung Kunta Wijaya masuk ke dalam tubuhnya kini sudah tidak terdengar lagi. Ia tampak lebih tenang.


Tidak berapa lama, tubuh mungil Jabang Tutuka masuk terhisap ke dalam cairan lahar panas yang bergejolak. Sayup-sayup terlihat beberapa dewa turun dari langit, mereka terbang menukik dan berhenti hanya beberapa meter dari permukaan lahar yang bergejolak. Mereka membuat lingkaran, lalu melemparkan beberapa senjata ke dalamnya. Setelah itu para dewa itu kembali naik ke langit.

__ADS_1


Sekejap saja setelah para dewa itu kembali ke Kayangan, ada ledakan besar dari dalam kawah. Tidak lama kemudian ada sesosok pemuda berusia delapan belas tahun terbang dari dalam kawah. Ia memakai celana hitam, dan juga baju hitam bergambar bintang di dadanya. Rambutnya tertutup oleh sebuah topi yang mirip mahkota, wajahnya terlihat tampan dengan kumis tipis di bawah hidungnya. Ia terbang dengan sangat cepat menembus langit, kemudian turun lagi ke bumi hanya dalam hitungan detik.


“Whoaaaa… Gatotkaca!” gumam Elang pelan, wajahnya menunjukkan ketakjuban pada pahlawan yang diidolakannya.


__ADS_2