Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Rencana Busuk Sengkuni


__ADS_3

Suara riuh tepuk tangan membahana di alun-alun kota seusai Drupada mengumandangkan pengumuman telah didapatkannya pemenang yang berhak mendapatkan putrinya, Srikandi. Sekaligus penerus tahtanya di kerajaan Panchala.


Meskipun begitu belum diketahui siapakah sang ksatria yang memenangkan sayembara, karena kedua ksatria yang bertanding masih dalam perjalanan kembali ke alun-alun kota.


Elang dan kedua kembar Pandawa menyaksikan kehebatan dari bidikan Arjuna maupun Karna. Semua yang ada di sekitar alun-alun melihat dengan mata kepala mereka sendiri, satu per satu anak panah melesat mengenai target kemudian menghantam serta menghancurkan panah lain yang sudah ada di sana.


Sorak sorai tepuk tangan terdengar lagi kala Bambang Sumantri dan Karna mulai memasuki kota. Keduanya disambut bagai pahlawan perang, namun bedanya ini bukanlah perang sesungguhnya. Hanya sebuah kompetisi mendapatkan putri raja sekaligus tahta dari kerajaan.


Setelah menilai dengan seksama, anak panah siapakah yang berhasil menghantam panah yang dilesakkan oleh Srikandi. Panglima perang dari kerajaan Panchala pun akhirnya memutuskan.


“PEMENANG SAYEMBARA BERHADIAH, KERAJAAN PANCHALA ADALAH…”


Wajah Arjuna atau Bambang Sumantri terlihat tenang, menunggu hasil yang akan dibacakan. Sementara Karna, ia tampak kebingungan. Sebab Sengkuni tidak ada di kerumunan para penonton.


 “BAMBANG SUMANTRI!” sambung sang panglima yang disambut dengan tepuk tangan penonton dan para ksatria yang kalah dalam pertandingan sebelumnya. Semua larut dalam kegembiraan, begitu juga dengan Nakula dan Sadewa yang langsung berpelukan. Kecuali Karna, terlihat jelas ada rasa kesal dan dendam di wajahnya.


Senyum manis tersungging di bibir tipis Arjuna dari atas panggung pemenang, ia mengangguk ke arah Elang sebagai tanda ucapan terima kasih karena sudah meyakinkan dirinya untuk mengikuti sayembara. Kemudian melambaikan tangannya pada seluruh orang yang ada di sana.


Drupada dan Srikandi menyusul naik ke panggung diikuti beberapa pengawal kerajaan. Rambut panjang sang putri yang tadinya digelung, sudah diurai sehingga menampilkan kecantikan dari dalam dirinya. Senyuman manis mengembang karena tahu kalau yang memenangkan dirinya adalah ksatria yang ditaksirnya sejak hari pertama sayembara bergulir.


“Selamat, Ngger. Aku tau kau yang akan menjadi pemenangnya,” ujar Drupada setengah pada Arjuna sambil bersalaman. Ia menyandingkan Srikandi dan Bambang Sumantri bersebelahan, kemudian menghadap ke penonton untuk memimpin upacara penyerahan hadiah “DENGAN KUASAKU SEBAGAI PEMIMPIN KERAJAAN PANCHALA, KUBERKATI SRIKANDI ANAKKU DAN…”


“PENIPU!” Suara teriakan Karna memotong ucapan sang raja, sekaligus memecah keheningan upacara penyerahan hadiah. “ORANG ITU BUKAN BAMBANG SUMANTRI, NAMANYA ARJUNA. DIA SALAH SATU DARI PANDAWA!” sambungnya lagi, diikuti dengan suara ribut para ksatria yang kebanyakan pendukung Kurawa.


Ada ketegangan sejenak dari atas panggung. Drupada yang sejatinya berada di pihak Kurawa, memandang curiga ke arah Arjuna yang sudah ketahuan penyamarannya.

__ADS_1


Elang beserta Nakula dan Sadewa dengan perlahan menyelinap ke depan panggung, mereka berbaur bersama penonton, dan bersiap untuk melakukan pertahanan jika Arjuna diserang oleh siapapun.


Sebuah anak panah tiba-tiba terbang menyasar Arjuna. Tapi sebelum sampai tempat putra ketiga Pandawa itu berdiri, sebuah bayangan melesat menangkap panah itu. Antareja berdiri sambil memegang anak panah yang tadi disambarnya, tatapan mata tajamnya menyapu sekitar alun-alun kota Panchala.


“Sengkuni!” gumam Antareja sambil mengendus anak panah yang ditangkapnya.


“AAAARGH!” Teriakan keras terdengar dari tenda Kurawa, tidak lama Sengkuni keluar dari tenda sambil memegangi kakinya yang kesakitan karena digigit ular. Suara ribut dan ricuh para ksatria pun mereda


“Paman Sengkuni!” pekik Karna tatkala melihat Sengkuni yang terluka. “Apa yang kau lakukan bocah ular?” pungkasnya lagi sambil menatap Antareja.


Antareja hanya tersenyum menyeringai, sebagai pemimpin para reptil di kerajaan Dasarbumi, dirinya punya kelebihan yang tidak dimiliki manusia biasa. Sosok manusia dengan kulit ular itu bisa mengetahui rencana jahat seseorang dan bisa muncul di mana saja saat dibutuhkan.


“Pamanmu merencanakan hal yang sangat jahat,” kata Antareja pada Karna, setengah mendesis. Ia berjalan naik ke panggung, diikuti dengan pandangan para pengawal Drupada yang siap menyerangnya. Namun tak ada yang berani menyerang, karena mereka tahu kekuatan Antareja yang sangat dahsyat


Erangan kesakitan dari sengkuni terdengar lagi.


Sambil mematahkan anak panah yang dipegangnya, Antareja berkata, “Sengkuni berencana membunuh Raja saat sayembara berlangsung. Dia mau menjadikan Paman Arjuna sebagai kambing hitam dengan menuduh paman melesakkan dua anak panah. Satu menuju sasaran tembak, dan satu lagi menuju Raja. Tapi rencana itu kugagalkan dengan menyembunyikan anak panah yang diam-diam dicuri dari Paman.”


Drupada tampak kaget mendengar kata-kata Antareja.


“Rencananya yang lain, dirinya ingin membunuh Paman. Agar pemenangnya jatuh kepada Karna.”


Kali ini Karna tak mampu lagi membendung emosinya, ia mendorong Nakula dan Sadewa yang menghadangnya. Tapi langkahnya terhenti dengan sebuah tendangan keras yang dilesakkan oleh Elang dan menghantam langsung dadanya.


“Siapa kau sebenarnya?” sambil menahan sakit, Karna mencoba mengingat wajah Elang yang hampir dibunuhnya waktu itu.

__ADS_1


“TENANG…TENANG!” Drupada kembali angkat bicara, dirinya merasa kalau ia harus cepat mengambil keputusan.


Semua mata kembali memandang ke arah sang raja.


“Sayembara adalah sayembara, siapapun pemenangnya harus kita hormati. Dengan ini kunobatkan Bambang Sumantri, atau Arjuna dari Pandawa sebagai pemenangnya!” pungkas Drupada


“TIDAK BISA!” Karna mencoba untuk menolak dan melawan. Diikuti dengan para ksatria lainnya yang merasa harus melindungi Kurawa.


“Siapapun yang menolak, sama saja melawan Panchala!” Drupada kemudian mengeluarkan pedangnya, diikuti dengan para pasukannya yang siap melindungi sang raja.


Nakula, Sadewa dan Elang berdiri di depan para pasukan sambil menghunuskan pedangnya, diikuti dengan Antareja yang mendesis dan menyeringai. Bersiap untuk melindungi ketiga pamannya.


Para ksatria yang tadinya mau membantu Karna, perlahan-lahan mundur, mereka tahu kesaktian dari Antareja yang bisa mengancurkan musuhnya hanya dengan sekali kecupan.


“Sebaiknya kau cepat pulang, bisa ular yang masuk ke tubuh sengkuni dalam waktu dekat akan menyebar cepat dan membunuhnya kalau tidak cepat ditolong,” desis Antareja.


Kepanikan muncul di wajah Karna, dia menoleh ke Antareja, kemudian ke arah Sengkuni yang sedang merintih kesakitan di depan tendanya. Tanpa menunggu lama lagi, ia langsung berlari menuju tendanya.


Tanpa menghiraukan tendanya yang masih berdiri kokoh, Karna mengangkat sengkuni ke atas kereta kudanya lalu buru-buru meninggalkan Panchala.


“Ngger, ternyata dugaanku tidak salah. Kaulah yang akan menjadi pemenang sayembara ini.” Drupada menyarungkan kembali pedangnya, diikuti oleh pasukan pengawalnya.


“Maafkan saya yang telah memakai nama lain, Raja!” kata Arjuna pelan, sambil menunduk.


“Ah, itu tidak masalah, Ngger!” pemimpin kerajaan Panchala itu kemudian berdiri di depan Arjuna dan Srikandi. “Baiklah, kita lanjutkan yang tadi tertunda. DENGAN KUASAKU SEBAGAI PEMIMPIN KERAJAAN PANCHALA, KUBERKATI. SRIKANDI, PUTRI KERAJAAN PANCHALA, DAN BAM… maaf, maksudku, ARJUNA, PUTRA DARI PANDAWA SEBAGAI SUAMI ISTRI!”

__ADS_1


Suara sorakan dari para penduduk yang menonton kembali terdengar, sementara ksatria yang lain beranjak meninggalkan Panchala untuk pulang ke kerajaan masing-masing.


__ADS_2