
Sejak gagalnya rencana untuk mengadu domba Antareja dan Pandawa, Duryudana selalu melontarkan kemarahannya pada siapapun yang ada di dekatnya. Tak terkecuali Sengkuni sebagai otak dari rencana itu.
Lepasnya Panchala ditambah dengan rencana yang gagal, adalah sebuah pencapaian terburuk Kurawa. Karena bagi mereka Panchala adalah sebuah kerajaan strategis dengan pasukan hebat yang bisa dipakai untuk melawan lawannya, Pandawa. Ditambah lagi dengan adanya Srikandi yang seharusnya bisa didampingkan dengan Karna, maka kedua kekuatan itu akan menjadi lawan berat bagi Arjuna.
Sayangnya semua angan Duryudana pupus di tangan orang yang dianggapnya akan hancur jika rencana itu berhasil.
“Kita harus cari cara agar tak ada lagi wilayah yang melepaskan diri dari Kurawa, Paman.” Duryudana menyandarkan tangannya pada pegangan kursi raja. Wajahnya terlihat kelelahan.
Sengkuni tersenyum menyeringai lalu berkata, “kita butuh rencana, Ngger!”
Duryudana menggebrak meja dengan keras. “RENCANA… RENCANA… DARI DULU PAMAN SELALU BILANG RENCANA. TAPI BUKTINYA MANA?” bentaknya dengan penuh emosi.
Melihat kemarahan Duryudana, Sengkuni memilih diam. Sementara beberapa tamu yang diundang Duryudana semakin merasa canggung dengan situasi ini.
“Sejak saat ini, siapapun yang berani membelot dari Kurawa. Akan berhadapan dengan panglima tertinggi Kurawa,” cetus Duryudana, tangannya menunjuk pada Resi Bisma dan Karna yang disambut dengan anggukan dari keduanya.
* * *
Elang dengan serius mengikuti gerakan yang diberikan oleh Gareng, mulai dari pukulan, tendangan, sampai hindaran atau tangkisan. Tubuhnya yang semula gemuk ketika datang ke zaman ini, sudah banyak berubah. Lemak di perutnya berubah menjadi otot kering dengan empat lipatan kotak. Dadanya yang dulu bidang, kini lebih berisi. Semua itu karena latihan rutin yang dijalaninya bersama Gareng dan Petruk di Karang Kedempel.
Lelaki yang datang dari masa depan itu pun merasa lebih nyaman tinggal di gubuk milik Ki Semar, ketimbang harus tinggal di dalam istana kerajaan Astina. Sebab dirinya merasa latihannya lebih terkoordinasi dengan baik oleh kedua gurunya yang jenaka, berbeda dengan di alun-alun istana yang mengharuskannya untuk berlatih sendirian.
“Latihan hari ini selesai, istirahatlah,” kata Gareng setelah seusai membalas salam penghormatan yang diberikan Elang.
“Baik, Guru.” Elang tersenyum dengan peluh yang masih membasahi wajahnya.
Satu hal lagi yang membuat Elang lebih betah tinggal di Karang Kedempel, setiap kali selesai latihan teh hangat dan juga singkong rebus manis tersedia di teras gubuk. Belum lagi hembusan angin yang sejuk dengan aroma daun dan rerumputan yang menuju ke laut membuat dirinya merasa sangat nyaman.
__ADS_1
“Jadi, kapan kau akan membawa Gatotkaca ke zamanmu, Ngger?” Suara Semar yang baru saja keluar dari dalam gubuknya mengagetkan Elang yang sedang asik melahap singkong rebus.
Elang menggeser duduknya lebih ke tengah teras, ia ingin memberikan tempat duduk pada lelaki yang dihormati oleh para raja di zaman ini. Lelaki tua bertubuh tambun itu melebarkan senyumnya yang meskipun sedang tidak tersenyum, wajahnya memang selalu tersenyum.
“Segera, setelah gelang waktuku terisi penuh dengan tenaga.”
“Saranku agar secepatnya kau bawa dia, Ngger. Agar tak ada banyak perubahan yang terjadi. Kalau terlalu lama, takutnya zamanmu akan hancur.” Semar mengambil sebuah singkong rebus, lalu memasukannya sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya. “Firasatku mengatakan kalau sebentar lagi akan ada peperangan besar.”
“Bharatayuda,” gumam Elang pelan, nyaris berbisik.
“Ya, Ngger. Sebuah perang suci antara dua saudara yang bertikai. Pandawa dan Kurawa,” sambung Semar. Matanya menatap jauh ke lautan.
“Peperangan yang akan membuat banyak sekali ksatria hebat terbunuh.”
“Andai saja Duryudana tidak termakan oleh hasutan orang-orang di sekelilingnya untuk merebut tahta Hastinapura dari Yudhistira, Bharatayuda tak akan pernah terjadi.” Kali ini ada air mata jatuh di pelupuk mata Semar.
“Tidak, Ngger. Ini salahku. Dulu waktu terjadi perhelatan di Hastina, aku memilih untuk bertapa. Aku menganggap kalau perhelatan itu akan berlangsung dengan aman. Nyatanya…” Semar menghela nafas panjang.
“Setiap orang punya pilihan, Ki. Mungkin itulah jalan yang memang harus ditempuh oleh mereka. Sama seperti aku. Bisa saja aku memilih untuk pergi dari kota yang hancur, menyelamatkan diri. Tapi aku lebih memilih kembali ke zaman ini untuk berusaha menyelamatkan masa depan.”
“Benar, Ngger. Tak ada yang salah pada pilihan kita.”
Sebuah cahaya berwarna kebiruan muncul di dekat tebing tak jauh dari gubuk Ki Semar, cahaya itu perlahan membesar dan membentuk sebuah lubang. Dari dalamnya muncul Kresna dengan pakaian kebesarannya.
“Salam hormat Ki Lurah Semar.” Raja Dwarawati itu memberikan hormatnya dengan kedua jari tangan yang ditempelkan di telapaknya, ketika Semar menyambut dari depan gubuk miliknya.
“Salam hormat, waaah mimpi apa aku semalam sampai gubukku didatangi yang mulia Raja?” jawab Semar dengan sambutan yang sumringah.
__ADS_1
“Ah, justru kehormatanku bisa disambut langsung oleh Ki Lurah Semar.”
“Silakan masuk, yang mulia. Biar kusuruh cantrikku untuk memasak makanan enak untukmu.”
Sang raja menghalau Semar dengan tangannya. “Tak perlu, kedatanganku tak lama. Ada yang harus aku bicarakan pada Ki Lurah Semar.”
“Ah… Tidak, yang mulia Raja sudah jauh-jauh datang kemari, aku harus menyuguhkan hidangan pada yang mulia.”
Dengan perasaan berat, akhirnya Kresna mengalah. Tak ada satupun raja yang berani menolak tawaran dari Ki Lurah Semar jika sudah memaksa. Jangankan raja, bangsa dewa sekalipun tak ada yang berani.
“Silakan masuk yang mulia, ada apa gerangan jauh-jauh datang ke gubukku ini?” kata Semar seraya membukakan pintu untuk Kresna.
Setelah tersenyum ke arah Elang, lelaki penguasa kerajaan Dwarawati itu masuk mengikuti tuan rumah.
“Ada apa gerangan yang mulia, Raja?” Semar duduk bersila di dalam ruang tengah gubuknya yang biasa dipakai untuk menerima tamu.
“Aku khawatir dengan situasi belakangan ini. Pengikut Kurawa mulai menebar ancaman pada daerah-daerah yang mulai renggang dengan mereka.” Kresna menghela nafas panjang.
“Maksudmu, Ngger?”
“Sejak Panchala jatuh ke tangan Arjuna, wilayah kekuasaan Kurawa berkurang. Belum lagi beberapa daerah mulai mengikuti jejak Panchala untuk melepaskan diri dari Kurawa dan bergabung dengan Pandawa.”
“Gusti, kesalahan apa yang kalian emban sehingga harus seperti ini?” Air mata Semar kembali menetes. “Kalau terus menerus seperti ini, bukan tidak mungkin Bharatayuda akan pecah dalam waktu dekat.”
“Itu yang aku takutkan, Ki Semar. Tapi kalau memang Bharatayuda adalah yang digariskan para dewa untuk melawan tirani, maka tak ada cara selain menghadapinya.”
Dari luar gubuk milik Semar, Elang diam-diam menguping pembicaraan mereka sambil memikirkan apa yang terjadi kalau sampai perang Bharatayuda pecah, dan dirinya masih ada di zaman ini. Dibukanya kembali kisah Mahabharata yang ada di tabletnya, dengan perlahan dibacanya kembali bab Bharatayuda agar ia mendapatkan gambaran apa saja yang akan terjadi pada saat peperangan itu pecah.
__ADS_1