
Tanpa terasa Bharatayuda sudah memasuki hari kesepuluh, tak sedikit para prajurit dan ksatria baik dari Pandawa maupun Kurawa gugur di medan pertempuran. Salah satunya yang paling memukul pihak Pandawa adalah kematian Abimanyu, Putra Arjuna hasil perkawinannya dengan Dewi Subadra yang sangat tragis
Gugurnya Abimanyu sendiri bisa dibilang pukulan yang sangat telak bagi pihak Pandawa. Kepalanya hancur terkena pukulan gada dari putra Dursasana, tatkala ingin menghancurkan formasi roda api milik Kurawa. Tanpa disadari oleh Abimanyu, formasi itu ternyata adalah jebakan untuknya.
Kresna kembali memutar otak untuk mencari strategi menghadapi Kurawa yang kuat dari segi pertahanan dan serangan. Itu semua terbukti dari banyaknya prajurit dan ksatria Pandawa yang gugur dalam perang.
“Kita akan hadapi langsung Resi Bisma,” cetus Kresna dengan tegas. Ia tak bisa lagi membiarkan banyak nyawa pasukannya melayang.
“Tapi, Kangmas?” Arjuna melayangkan protes, ia tidak setuju dengan rencana Kresna yang berniat melawan kakek kesayangannya.
“Kita tidak punya pilihan, Arjuna. Pasukan kita semakin sedikit, ksatria kita juga sudah banyak yang gugur.”
“Tapi apa tidak ada cara lain selain berhadapan langsung dengan eyang Bisma?”
“Untuk saat ini, tidak ada.” Kresna menggeleng. “Seperti yang kita tahu, selama ini Resi Bisma sendiri yang menjadi panglima dari Kurawa. Strategi yang mereka pakai juga setiap hari selalu berganti.”
Yudhistira menepuk bahu Arjuna, mencoba untuk menguatkan hatinya. “Mungkin ini adalah yang terbaik, Arjuna. Berapa banyak lagi prajurit yang akan gugur kalau eyang Bisma tidak dihentikan?”
Arjuna terdiam sambil menghela nafas seraya menenangkan emosinya, meskipun Bisma adalah kakeknya, tetapi kehadirannya di kubu Kurawa telah mencetuskan bahwa ia juga adalah lawan baginya dan Pandawa. “Bagaimana caranya kita melawan eyang Bisma?”
Ada senyuman mengembang dari bibir Kresna, senyum semangat yang tadi sempat hilang. “Beberapa tahun lalu Resi Bisma pernah berjanji bahwa dirinya tak akan pernah mau melawan wanita.” Kresna berjalan menjauhi tempat duduknya mendekati Srikandi.
__ADS_1
Wajah ayu Srikandi terlihat kebingungan dengan sikap Kresna yang berjalan mendekatinya, lalu memegang bahunya.
“Besok, kau yang akan menghadapi Resi Bisma. Jangan ragu, karena suamimu akan membantu.”
“Hah? Aku? Kenapa harus aku?” Srikandi masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh Kresna.
“Dahulu kala, setelah membunuh Dewi Amba, Bisma berjanji untuk tidak menikah dan tidak akan melawan wanita. Maka ini kesempatanmu untuk melawan Bisma.”
“Ta—Tapi kenapa aku, Kangmas?” Srikandi tambah bingung dengan kata-kata Kresna.
Kresna kembali berjalan ke kursinya, ia duduk sambil matanya tak lepas memandangi Srikandi. “Sebelum Dewi Amba gugur di tangan Bisma, beliau berjanji bahwa Bisma akan gugur di tangannya.”
“Lalu, apa hubungannya dengan aku?” potong Srikandi.
Meski diliputi oleh perasaan tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh Kresna, Srikandi mengabulkan juga apa yang diperintahkan oleh Kresna.
“Jangan takut, istriku. Aku akan membantumu melawan eyang Bisma.” Arjuna merangkul pundak istrinya, mencoba memberinya kekuatan dan keyakinan.
Keesokan paginya, genderang perang telah ditabuh. Seperti yang telah diperintahkan oleh Kresna, para pasukan sudah siap di posisinya. Kali ini mereka memakai formasi bertahan, semua ini dilakukan karena pasukan milik Pandawa semakin sedikit.
Srikandi sudah siap berdiri di atas puncak bukit yang sama gersangnya dengan permukaan tanah di padang Kurusetra. Di belakangnya berdiri Arjuna yang juga tak kalah siap untuk membantu istrinya, sementara Kresna memandang jalanya peperangan dari atas kereta kuda dari jarak yang sedikit jauh dari mereka berdua.
__ADS_1
Belum ada satupun anak panah yang dilesakkan oleh Srikandi, ia menunggu saat-saat kemunculan Resi Bisma yang terlindungi oleh para prajurit Kurawa.
Tengah hari telah tiba, tetapi tanda-tanda kemunculan Resi Bisma belum juga ada, hal ini membuat Kresna sedikit tambah frustasi.
Raja Dwarawati itu memacu kudanya ke garis pertahanan untuk menemui Bima yang ada di sana. “Bima, kau maju ke depan. Pancing supaya resi Bisma keluar!” kata Kresna dengan lantang.
Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya, Bima langsung merangsek maju, ia menghantam sepasukan prajurit Kurawa yang ada di paling depan. Tubuhnya yang besar tak meghambat kecepatan dan kekuatan serangan gadanya.
Suara dentingan pedang beradu dengan logam pedang lainnya atau dengan perisai, kini berganti dengan suara dentuman dan ledakan yang keluar dari gada milik Bima. Setiap kali senjata berukuran besar itu menghantam tubuh atau kepala lawannya, ada suara bunyi menggelegar diikuti dengan hancurnya bagian tubuh dari sang lawan.
Tak butuh waktu lama bagi Bima untuk memporak poranda pasukan Kurawa yang kini terlihat sangat kewalahan. Namun rupanya siasat Kresna menyuruh Bima untuk keluar, rupanya berhasil. Bisma terpancing, ia pun keluar dari pertahanan yang melindunginya untuk melihat apa yang terjadi pada pasukannya.
Srikandi langsung melesakkan anak panahnya yang mengarah pada Bisma, awalnya ia sangat ragu sehingga anak panah yang dilesakkannya melesat lambat. Untungnya Arjuna membantu dengan melesakkan anak panahnya untuk mendorong panah Srikandi sehingga menembus tubuh dari Bisma
Mengetahui ada panah yang menembus kulitnya, Bisma mencari siapa orang yang mampu melukainya, namun alangkah terkejutnya ia ketika tahu bahwa orang itu adalah Dewi Amba —Di ujung mata Bisma, ia melihat Srikandi sebagai Dewi Amba—.
Arjuna melepaskan ikatan rambutnya dan membiarkan rambut panjangnya terurai. Dengan wajah yang tampan dan halus dan rambutnya yang panjang, ia menyamar menjadi perempuan agar bisa mengelabui eyang Bisma.
Sebuah panah melesat lagi menghantam tubuh Bisma dan langsung bersarang di dadanya. Tak ada sedikitpun perlawanan dari lelaki berambut putih yang dulunya merupakan ksatria sakti itu, dirinya benar-benar ketakutan pada apa yang dilihatnya. Dewi Amba yang dulu tewas di tangannya, kini muncul untuk membalas dendam.
Meskipun Bisma sendiri punya ilmu kebal akan segala jenis senjata, tetapi ia mempunyai satu kelemahan. Senjata papun akan dengan mudah melukainya jika yang mengendalikannya itu seorang wanita. Atas dasar itu jugalah ia memilih untuk tidak menikah dan menghindari wanita.
__ADS_1
Kali ini Arjuna melesakkan panahnya dengan kecepatan tinggi. Tak tanggung-tanggung, ia melesakkan lima anak panah sekaligus yang langsung menghujam di dada, perut, kaki, lengan dan bahu Bisma. Tekad Arjuna sudah bulat, ia tidak mau lagi mengorbankan para prajurit Pandawa. Ia lebih memilih kehilangan eyang Bisma daripada ribuan nyawa prajuritnya.
Di tengah luka dan anak panah di tubuhnya, Resi Bisma mencoba melawan. Tapi bukan dengan membalas pada Srikandi atau Arjuna, ia membantai pasukan Pandawa yang ada di dekatnya. Namun semakin ia mencoba membantai para pasukan Pandawa, lesakkan demi lesakkan panah yang menembus tubuhnya semakin banyak. Lukanya pun semakin tak terkendali lagi.