
Elang menghampiri lawannya yang masih meringkuk diam seribu bahasa di pojok ruangan, ia mencengkeram kerah baju makhluk itu dengan penuh emosi lalu memaksanya berdiri.
“Hei, makhluk Zagustron. Siapa namamu?” kata Elang dengan geram.
“Apa pedulimu dengan namaku?” Suaranya yang seperti robot, terdengar seperti melecehkan Elang.
Sebuah pukulan mendarat tepat di wajah makhluk itu. “Aku kemari bukan untuk melakukan kekerasan. Tapi kalau kau meremehkanku, sama saja kau mencari mati!” Nada bicara Elang mulai meninggi.
Darah segar mengucur dari wajah makhluk itu, ketakutan kembali terpancar lebih hebat dari sebelumnya.
“Sekali lagi kutanya, siapa namamu?”
Bukannya menjawab, makhluk itu malah tertawa terpingkal.
“Kurang ajar!” Ditengarai emosi karena ditertawakan, Elang menendang tubuh makhluk itu hingga keluar dari ruangan dengan suara yang keras. Sontak saja, beberapa awak pesawat yang ada di dekat ruangan rapat itu langsung berhamburan menghampiri asal suara yang mereka dengar.
Gatotkaca menggelengkan kepalanya ketika beberapa awak pesawat Zagustron mulai mendekat. “Bagaimana, Paman?” bisiknya sedikit keras, berusaha mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan.
“Siap, Kak Firman. Kita akan melawan mereka.” Elang mengeluarkan pedangnya, lalu mengangguk ke arah Gatotkaca, memberi isyarat untuk melawan.
Tanpa menunggu waktu lama lagi, Gatotkaca langsung keluar dari ruangan tempat mereka berada sebelumnya. Diikuti oleh Elang, keduanya langsung saling memunggungi, menghadapi koridor panjang di kedua sisi mereka. Bersiap menghadapi lawan yang akan datang.
Sementara Kapten Firman berdiri tepat di pintu, menunggu aba-aba dari kedua orang di depannya untuk bergerak maju.
Satu per satu musuh yang datang langsung ditumpas oleh Gatotkaca yang menjaga sebelah kiri dari arah mereka keluar pintu. Sementara Elang dengan permainan pedangnya juga menghajar musuh yang keluar dari sebelah kanan. Tak ada lagi jalan damai yang sebelumnya direncanakan sebelum mereka masuk ke dalam pesawat tadi.
Kapten Firman akhirya keluar dari ruangan, ia memperhatikan tak sedikit tubuh makhluk Zagustron berserakan di sana. Dengan penunjuk lokasi yang tertanam di baju prajurit besi yang dipakainya, ia mencari di mana letak kokpit pesawat berada. “Kita kesana,” tunjuknya ke arah tempat di mana Gatotkaca berdiri.
__ADS_1
Dengan cepat, ketiganya berlari. Namun Kapten Firman berada di paling belakang, karena pakaian prajurit besi yang dikenakannya lumayan berat dan membuatnya lumayan sulit bergerak dengan lincah.
Sebuah pintu besar berwarna hitam pekat pemisah antara kokpit pesawat dengan lorong tempat mereka berada. Elang memerhatikan seluruh pintu di hadapannya, ia mencari gagang pintu yang biasanya dipakai untuk membuka pintu, tetapi tak ada satupun ia menemukannya.
“Ini bukan teknologi biasa yang dipakai oleh kita, Lang.” Kapten Firman melihat pintu di depannya, dari atas sampai bawah. Bentuk pintu itu seperti mempunyai ruang hitam tanpa cahaya, saking warnanya yang benar-benar hitam.
“Lalu, bagaimana cara membukanya, Kak?”
“Seharusnya langsung terbuka begitu mengetahui adanya pergerakan, tetapi kita bukan dari bangsa mereka. Sensor gerak yang seharusnya berfungsi di pintu ini, tidak mendeteksi dengan gerakan makhluk asing,” kata lelaki berpangkat Kapten itu. “Kecuali…”
“Kecuali apa, Kak?” potong Elang dengan cepat.
“Kecuali kita membuka paksa. Tapi sebelumnya, kita harus waspada. Siapa tau mereka sudah bersiap untuk menyergap kita di balik pintu sana.”
“Sekarang tugasmu, Gatotkaca. Dobrak pintu itu dan kita masuk ke dalam.” Elang menatap ke arah ksatria yang dibawanya dari masa lalu. Di dalam hatinya, ia ingin cepat-cepat menyelesaikan misi ini.
Ksatria Pringgandani itu langsung merangsek masuk ke dalam kokpit, baru pertama kali dalam hidupnya melihat ruang kendali pesawat yang penuh dengan tombol dan juga layar pengendali. Sontak saja lelaki dengan zirah hitam bergambar bintang matahari di dadanya tertegun menyaksikan itu semua.
Elang masuk mengikuti Gatotkaca, dengan pedangnya yang terhunus, ia mengancam semua makhluk yang ada di sana. Begitu juga dengan Kapten Firman yang menodongkan senjatanya.
“Baiklah, jangan ada yang bergerak. Kalau tidak, nasib kalian akan seperti mereka.” Elang menunjuk pada beberapa awak pesawat yang tewas tertimpa pintu. Tak ada perlawanan dari mereka, semuanya hanya diam memandang dengan kehadiran tamu yang tak diundang.
“Apa mau kalian, makhluk Bumi?” pekik sang kapten pesawat. Ia maju dengan tangan terangkat.
“Mau kami, kalian pergi dari planet ini. Sekarang juga!” Elang menghampiri sang kapten dengan pedang terhunus.
“Kalau kami tidak pergi?”
__ADS_1
“Akan kupastikan di sini menjadi kuburan kalian!” ujar Elang sambil mencengkeram kerah baju lawannya.
“Hey, pasukanmu sudah banyak yang tewas di tangan kami. Kau tak punya banyak peluang untuk menang!” Kapten Firman ikut angkat bicara.
“Tapi misi kami di planet ini belum terlaksana.”
“Persetan dengan misimu, perbuatan kalian sudah membuat banyak orang kehilangan mereka yang dicintainya!” bentak Kapten Firman yang sangat merasakan kehilangan hampir seluruh pasukannya.
“Kalau kami menolak pergi dari sini bagaimana?” Kapten pesawat itu bersikeras.
“Akan kupastikan, ini adalah saat-saat terakhir dalam hidupmu. Bukan cuma kau, tapi seluruh awak pesawat ini, akan kami hancurkan!”
Sesaat keadaan hening, tak ada jawaban yang keluar dari pemimpin pesawat induk itu. Namun tak berselang lama, ia mengangguk. “Baiklah, kami akan pergi dari sini.” Lalu ia memerintahkan anak buahnya untuk berputar haluan, kembali ke planet mereka.
Pesawat besar itu terbang semakin tinggi menjauhi bumi, ketika sudah akan memasuki lapisan atmosfir, Elang, Kapten Firman dan Gatotkaca diantar ke pintu untuk keluar dari pesawat mereka oleh sang kapten.
Elang sangat menikmati sekali meluncur terbang dari batas atmosfir, ia tak henti-hentinya tertawa. Ada sensasi baru yang dirasakannya saat meluncur terbang sendirian, rasanya berbeda dan lebih menyenangkan ketimbang saat terbang bersama Gatotkaca dari Karang Kedempel waktu itu. Ia merasa lebih bebas menentukan mau ke mana dirinya terbang, meskipun sebenarnya masih ada pertanyaan dalam benaknya. Kekuatan ini datangnya dari mana?
Kapten Firman dengan baju prajurit besi yang dipinjamnya pun merasakan sensasi yang sama saat terbang turun, namun sayangnya ia belum sepenuhnya menguasai penggunaan pakaian terbang itu, hingga pada satu titik ia kehilangan keseimbangan karena bahan bakar prajurit besi sudah habis.
Melihat ada yang tidak beres dengan kakaknya Dara, Elang mempercepat laju terbangnya, menghampiri prajurit besi yang terlihat kehilangan kendali. Dengan cepat ia menyambar dan terbang sambil memegang Kapten Firman.
“Kak Firman, ada apa?”
“Entahlah, Lang. Sepertinya bahan bakar baju ini sudah habis!”
“Tenang, Kak. Aku sudah memegangmu.”
__ADS_1
Tak selang berapa lama, mereka pun mendarat dengan selamat di atas gedung tempat tentara berpakaian prajurit besi berasal. Setelah mengembalikan baju yang dipinjam dan membawa mereka ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan, Elang dan Kapten Firman beserta Gatotkaca kembali ke ruang bawah tanah milik Profesor Tejo.