
“Rangkaian teror yang terjadi belakangan ini membuat Presiden harus mengumumkan keadaan darurat di Jakarta dan sekitarnya. Masyarakat dihimbau untuk segera mengungsi ke daerah terjauh dari Jakarta untuk meminimalisir bertambahnya korban jiwa.” Elang terus memperhatikan tayangan televisi dari dalam kamarnya yang menampilkan gambar orang-orang berbondong-bondong keluar dari Jakarta. Antrian panjang kendaraan dan manusia terlihat di ruas jalan tol yang menuju ke arah Bogor atau Banten. Wajah mereka terlihat sedih dan putus asa.
Sambil membereskan pakaian dan kebutuhan lainnya di tas besarnya, ia menatap sekeliling ruangan di rumahnya, mencoba mengingat semua kenangan yang pernah ada di dalamnya.
Pandangannya tertuju pada sebuah kamera SLR tua milik ayahnya yang teronggok di lemari kaca. Pikirannya langsung teringat waktu jalan-jalan bersama ayah dan ibunya, setahun sebelum pesawat mereka dinyatakan jatuh.
“*Ini kamera kesayangan ayah, Lang. Kakek yang memberikannya waktu Ayah mulai masuk kuliah,” kata ayahnya sambil menutup lensa setelah memotret pemandangan pegunungan di depan mereka.
Elang kecil takjub akan benda yang dipegang ayahnya. Dirinya sudah sering memegang kamera, tapi bukan jenis analog yang masih memakai film untuk mengambil gambar.
“Dengan kamera ini juga, Ayah bisa mendapatkan hati Ibumu.” Sambil tersenyum lelaki bertubuh besar dengan brewok tebal itu menunjuk ke arah wanita berambut sebahu yang sedang duduk tak jauh dari mereka.
“Kenapa gak ada layarnya, Yah?” Ujarnya bingung sambil menunjuk ke bagian belakang kamera yang hanya berwarna hitam polos.
Ayahnya tertawa mendengar pertanyaan Elang. “Karena ini kamera analog, Lang. Sistem kerjanya bukan pada layar yang biasa ada di kamera digital yang biasa kamu pakai. Tapi ini pakai gulungan film seperti ini…” Dikeluarkannya sebuah gulungan kecil film dari tasnya, lalu diberikan pada Elang. “Enaknya pake ini, kamu bisa melatih insting yang ada dalam diri kamu.”
“Aku boleh coba, Yah?”
“Boleh dong. Tapi setelah Ayah ganti film baru yah*.”
Tanpa disadari, air matanya menetes membasahi pipinya. Kenangan itu terasa baru saja kemarin dirasakannya.
Elang menyalakan mesin motornya yang ternyata selamat dari ledakan kemarin. Sekali lagi lelaki itu menatap rumahnya yang tidak begitu besar dengan taman di depannya. Semenjak kepergian Mang Ujo dan Bi Asih beberapa tahun lalu, rumahnya menjadi sedikit tak terawat.
Masih teringat ketika Bi Asih meminta izin kepada Elang untuk berjualan nasi uduk dan gorengan di depan rumah dengan tujuan agar tidak terlalu menambah beban hidup Elang. Dengan begitu Elang juga bisa dapat sarapan dari nasi uduk dan gorengan dari Bi Asih.
Lelaki itu tersenyum sambil mengambil foto rumahnya yang mungkin tidak akan bisa ditemuinya lagi. Lalu menarik tuas gas motornya menjauh dari rumahnya.
Meskipun Mang Ujo pernah berpesan untuk datang ke rumahnya kalau butuh apa-apa, tapi Elang tidak mau membebani kedua orang yang telah berjasa membuatnya bangkit dari keterpurukan. Diarahkannya kendaraan roda duanya itu ke arah Bogor.
__ADS_1
Baru lima belas menit ia berjalan, pemandangan yang tadi dilihatnya di TV terpampang. Antrian panjang kendaraan dan manusia berusaha ingin cepat-cepat keluar dari ibukota.
“ELANG!” Panggil suara perempuan tak jauh di belakangnya. Suara yang sangat dikenalnya.
Mata elangnya menyapu pemandangan di sekitarnya. Lalu berhenti pada seorang gadis yang sedang berjalan ke arahnya. “Dara! Kamu sama siapa?” Ujarnya sambil mematikan mesin motornya.
“Keluarga aku, Lang. Kami berencana pergi ke Bandung. Ke rumah Nenek. Kalo kamu?”
“Belum tau, Ra. Ke Cianjur, mungkin,” jawab Elang sambil membetulkan posisi tasnya.
“Rumah siapa?”
“Mang Ujo. Tukang kebunku yang udah kuanggap keluargaku sendiri!”
“Aku kira kamu bakal pergi sama profesor Tejo, Lang!” Tukas Dara.
“Kamu mau kemana, Lang?” Dara kebingungan melihat Elang memutar arah motornya.
“Ke tempatnya profesor Tejo, Ra. Kamu, hati-hati di jalan yah!” Tangan kiri Elang menekan tuas kopling, lalu memasukkan gigi motornya.
“Aku ikut, Lang!”
“Enggak usah, Ra. Keadaannya bakal lebih bahaya. Kamu ke Bandung aja. Jaga diri kamu!” Kemudian Elang melaju kembali ke pusat kota. Memacu mesin motornya dengan kecepatan tinggi.
Jakarta seperti kota mati. Banyak bangunan hancur, ditambah dengan mayat bergelimpangan di beberapa sudut yang belum sempat dievakuasi oleh petugas dan tentara. Bau menyengat dari tubuh-tubuh tak bernyawa ditambah cuaca yang lembab dengan angin berhembus membuat aroma busuk menyebar.
Para relawan kemanusiaan yang biasanya ada di setiap bencana, tak terlihat. Semua orang sibuk menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman.
Elang terus memacu motornya menerobos banyaknya puing-puing berserakan di jalan. Beberapa kali ia melewati patroli polisi yang menyuruh dirinya untuk keluar dari Ibukota, tapi tetap saja lelaki bermata elang itu menerobos demi sahabatnya, profesor Tejo.
__ADS_1
Taman Situ Lembang yang sehari-harinya terlihat asri dengan puluhan burung merpati, kali ini berubah mencekam. Tak ada burung merpati di sana, hanya beberapa burung gagak yang bertengger di dekat dahan pohon. Air danau buatan yang berwarna kehijauan berubah menjadi merah darah dengan beberapa potongan tubuh mengapung di sana.
Masih teringat suara Dara yang histeris ketika Elang akan mengantarnya pulang. Suara ketakutan karena melihat tubuh-tubuh tidak utuh berserakan karena ledakan.
Elang memarkirkan motornya tepat di pinggir pagar dekat gardu listrik tempat tinggal profesor Tejo. Dengan cekatan, ia berlari masuk melewati pintu besi, lalu menekan tombol kode untuk bisa menuju ke ruang bawah tanah dengan lift.
“Prof!” Panggil Elang ketika ia baru saja sampai di ruang bawah tanah.
Tak ada jawaban dari sahabatnya itu.
“Prof, dimana?”
“Saya di sini, Lang!” Jawab Profesor yang baru saja selesai membetulkan sebuah mesin. Ada bekas oli di wajahnya.
“Kukira Prof sudah siap buat ngungsi?”
Lelaki itu menggeleng. “Buat apa mengungsi kalau tempat tinggal kita aman, Lang?”
“Keadaan semakin genting, Prof. Kita harus bertindak!”
“Melawan mereka? Dengan apa? Manusia super?” Gerutu Profesor Tejo.
“Naaah, jenius! Manusia super, Prof!” Elang sumringah, akhirnya ia dapat solusinya.
“Tidak, tidak, tidak! Saya tidak punya mesin untuk membuat manusia super!” Sambil merapikan beberapa kunci ke dalam kotak perkakasnya, ia menolak ide Elang.
“Tapi Profesor punya satu mesin yang bisa berguna. Saatnya kita pakai itu sekarang, Prof,” kata Elang dengan semangat.
BERSAMBUNG
__ADS_1