
Atas undangan dari Antareja yang pernah disampaikannya setelah membantu Gatotkaca menyelesaikan masalahnya waktu itu, Elang datang berkunjung ke kerajaan Dasarbumi ditemani oleh gurunya, Petruk.
Sebenarnya bisa saja Elang datang sendiri, tapi dicegah oleh Petruk lantaran perjalanan ke sana cukup sulit dan juga banyak sekali makhluk buas yang mengintai. Maka itu ia dengan sukarela menemani Elang untuk mengunjungi Dasarbumi, selain itu ia juga sudah lama tidak berjumpa dengan Antareja.
Perjalanan menuju kerajaan Dasarbumi sangat sulit, mereka harus menuruni sebuah lubang seperti sumur yang sangat dalam. Sinar matahari yang tadinya menerangi, tidak mampu menembus gelapnya sumur yang seiring semakin dalamnya mereka masuk ke dalam.
Pijakan kaki yang tadinya luas pun semakin lama semakin menyempit, hingga akhirnya hanya satu kaki saja yang bisa dipakai untuk memijak. Sehingga membuat Elang dan Petruk harus merayap dan berpegangan dengan dinding sumur agar tidak terjatuh.
Sudah lima belas menit lamanya mereka menuruni sumur, tapi belum juga terlihat dasarnya. Tanah basah yang mereka injak semakin basah dan licin, sehingga langkah yang diambil pun harus sangat perlahan dan hati-hati.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata berwarna kekuningan dan sudutnya yang tajam mengawasi Elang dan Petruk dari belakang, seolah siap untuk menyambar salah satu dari kedua orang yang berusaha untuk masuk semakin dalam.
Obor yang dibawa Petruk lama kelamaan semakin mengecil, seiring berkurangnya asupan oksigen yang masuk ke dalam sumur. Tak ada kata-kata yang keluar baik dari bibir Elang ataupun Petruk, hanya nafas yang terengah-engah mengatur masuknya udara ke dalam tubuh mereka agar tetap sadar dan hidup.
Pandangan Elang mulai sedikit kabur seiring dengan berkurangnya asupan udara untuk bernafas, pijakan kaki mereka pun semakin mengecil dan licin. Saat-saat seperti ini dibutuhkan konsentrasi tinggi untuk melangkah, karena sulur-sulur akar pepohonan yang awalnya dijadikan pegangan saat mereka pertama kali masuk ke dalam sumur, lama kelamaan semakin mengecil dan nyaris tidak ada lagi pijakan.
Obor yang sedari tadi di genggaman Petruk dilepaskannya dan dibiarkan terjatuh, kengerian terlihat di sana tatkala nyala obor yang menerangi dinding sumur menampilkan sesuatu yang belum pernah dilihat olehnya ataupun Elang.
Sebuah kepala ular berukuran besar mengintai mereka di belakang, matanya seukuran panjang satu tangan dari bahu hingga ke jari. Jika dihitung dua mata besarnya seperti rentangan kedua tangan Elang.
__ADS_1
Semakin jauh turun obor yang dijatuhkan, semakin terlihat tubuh ular sangat besar yang merayap di dinding sumur dari dasar hingga ke atas.
Ditingkahi oleh habisnya pasokan udara dan juga rasa ketakutan melihat ular berukuran sangat besar, Elang kehilangan kesadarannya. Tubuhnya lemas, pegangan tangannya terlepas hingga akhirnya ia pun tak sadarkan diri dan terjatuh.
Melihat Elang terjatuh, Petruk melepaskan pegangannya, ia melompat dan berusaha untuk menangkap tubuh muridnya. Tapi sayangnya kecepatan jatuh Elang lebih cepat daripadanya, hingga akhirnya keduanya mendarat di sebuah landasan yang empuk halus. Sesaat kemudian Petruk pingsan di atasnya, tepat di samping Elang.
Ular besar itu menangkap tubuh kedua orang penyusup yang masuk wilayahnya, dengan tubuhnya yang besar, ia membawa dua manusia itu masuk ke sangkarnya yang berada lebih jauh di dalam bumi.
Suara riuh makhluk dasar bumi menyambut kedatangan ular besar milik Antanaga, paman dari Antareja. Makhluk hidup yang berupa kumpulan para reptil itu bergembira karena hari ini mereka akan makan enak.
Mendengar suara riuh dari dalam dasar sumur, Antareja keluar dari pendoponya yang berada tak jauh dari sana.
“Ada apa ini?” tanya Antareja pada ular besar yang di punggungnya terdapat tubuh Elang dan Petruk.
Selesai memberi pengumuman pada para anak buahnya, makhluk yang terdiri atas kadal dan ular itu pun membubarkan diri.
Bangsa reptil berbeda dengan bangsa manusia, mereka makan sesuai dengan kebutuhan mereka dan bukan menuruti nafsu seperti manusia.
“Ada apa, Ngger?” Sesosok tubuh sebesar dua kali tubuh manusia muncul dari dalam pendopo, ia sangat tegak dengan tangan yang menyilang dan selalu bergetar di kukunya sehingga selalu mengeluarkan suara bergemertak ketika kuku jarinya beradu. Kepalanya terdapat surban berwarna kehijauan, sama seperti warna kulitnya yang hijau mengkilap dengan sisik halus mengkilap.
__ADS_1
Jika dilihat ke bawah tubuhnya, ada ekor di kakinya, sehingga terlihat seperti kadal. Namun ekornya terus memanjang dan melingkar menopang tubuhnya berdiri.
Namanya Antanaga, paman dari Antareja. Ia adalah seorang pertapa yang memilih hidup di Sapittu, salah satu wilayah kerajaan Dasarbumi yang dipimpin oleh Antareja sendiri. Sehari-hari ia menemani Antareja dan selalu bersedia menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh keponakannya.
“Aku kedatangan tamu dari jauh, Paman.” Antareja memindahkan tubuh Petruk dan Elang ke sebuah tempat tidur yang nyaman. “Ini Paman Petruk, ia adalah salah satu Punakawan yang dihormati oleh Pandawa.”
“Yang satunya siapa?” Antanaga setengah mendesis.
“Ini Paman Elang, ia datang dari tempat yang sangat jauh di masa depan.”
“Masa depan? Untuk apa dia datang jauh-jauh dari masa depan, Ngger?”
“Dunianya dalam masalah besar, Paman. Ada makhluk lain yang ingin menghancurkan tempatnya. Tak ada yang bisa melawan karena musuh yang dihadapi olehnya terlalu kuat. Maka itu dia datang kemari untuk meminta pertolongan Gatotkaca.”
Jari-jari tangan Antanaga beremeretak lagi, ia mencoba mengerti apa yang diceritakan oleh Antareja karena selama ia hidup belum pernah ada ramalan para dewa tentang manusia yang datang dari masa depan untuk meminta pertolongan.
“Terkadang ramalan para dewa belum tentu kebenarannya juga, Paman. Yang pasti ia adalah tamuku yang pernah membantu ayahanda Bima melawan sepasukan raksasa. Sekaligus tamu kehormatan Pandawa.”
Antanaga mengangguk perlahan, ia mulai mengerti. Suara gemeretak dari jarinya yang seperti dijentikkan membuat suasana di Sapittu menjadi tidak hening.
__ADS_1
Suasana pendopo milik Antareja tidak gelap seperti yang dilihat oleh Elang dan Petruk ketika mereka terjatuh. Nyala api obor menerangi sekeliling gua yang dijadikan istana kerajaan yang dipimpin olehnya. Kerajaan para reptil yang tatanan hidupnya tidak menuruti hawa nafsu, tidak seperti manusia yang meskipun diberikan akal pikiran, tetapi lebih mengandalkan nafsu daripada nalar dan logika.
Selain membawa kedua tamunya ke tempat yang lebih nyaman, Antareja sendiri yang menyediakan minuman dan juga makanan supaya Elang dan Petruk tidak kehausan dan kelaparan saat keduanya sudah sadar nanti