
Hari mulai senja ketika kuda yang dipacu oleh Arjuna, Nakula, Sadewa dan Elang memasuki pelataran istana Astina. Elang yang ikut menumpang di kuda milik Nakula merasakan rasa sakit di pantatnya. Ia belum terbiasa menaiki kuda, rasa sakit pun melanda.
“Berat sekali tubuhmu, Lang.” Sambil memarkirkan kudanya, Nakula menggerutu pada Elang.
“Badan kaya gini, nggak cocok jadi ksatria,” tukas Sadewa yang menyusul di belakang yang juga ingin memasukkan kudanya ke dalam istal. Di dalamnya terdapat banyak kuda.
Setelah memastikan kuda yang mereka bawa nyaman di dalam kandangnya, Nakula dan Sadewa mengantar Elang masuk istana. Lelaki bertubuh gemuk dengan rambut berantakan itu menyapu setiap sudut dan detail istana Astina yang penuh dengan warna emas dan perak.
Lantainya dingin, karena terbuat dari pualam alami yang mengkilap dan sedikit memantulkan bayangan seperti cermin. Taman di sekitar istana yang membuat Elang takjub, ada aliran air seperti sungai kecil yang berasal dari air terjun di dekat tebing.
Puluhan pasang mata para penjaga dan para punggawa istana, memandang Elang dengan tatapan yang membuatnya tidak nyaman. Hingga akhirnya ia berada di sebuah pendopo berhias karpet kulit singa berukuran besar, yang membentang panjang dari pintu masuk hingga sebuah panggung yang di atasnya terdapat lima buah kursi yang terbuat dari emas.
Arjuna terlihat sedang berbincang dengan dua orang lelaki, yang satu tubuhnya sangat besar, dua kali ukuran manusia normal, malah lebih. Seekor ular besar melilit tubuhnya hingga membentuk seperti syal bulu yang dikenakan di lehernya. Sebuah benda tajam menonjol dari kuku ibu jarinya, lelaki itu memakai celana hitam dengan kain berwarna hitam putih kotak-kotak. Tidak ada mahkota di kepalanya seperti si bungsu kembar atau Arjuna. Tapi semua orang menghormatinya. Dia adalah Bima, putra kedua Pandawa.
Sedangkan lelaki yang satunya terlihat lebih berwibawa, wajahnya memancarkan keteduhan dan welas asih. Mahkota yang dikenakannya tinggi dan lebih indah daripada milik Arjuna. Jubahnya berwarna emas, sama seperti singgasana yang dilihat Elang saat ini. Ada pancaran cahaya terpancar dari kepalanya. Ia adalah Yudistira. Sulung dari Pandawa.
Bima berbalik, menghadap Elang. Wajah sangarnya terlihat, kumis tebal dan brewok di wajahnya gagal menyembunyikan taring dari giginya.
“Siapa itu, Nakula?” Sosok berjubah emas itu menatap ke arah Elang.
Lelaki bertubuh besar dengan ular di tubuhnya itu mendekat ke Elang yang sedang sangat antusias karena bertemu dengan kelima saudara Pandawa. Dengan cepat, tangannya berayun, bersiap untuk memukul Elang dengan kuku pancanakanya. Tapi dicegah oleh kakaknya.
“Bima, anak ini bukan ancaman. Biarkan ia bicara.” Yudhistira kemudian mengajak saudara-saudaranya untuk duduk. di singgasana masing-masing.
“Mo--Mohon maaf kalau saya lancang. Nama saya Elang. Saya datang dari masa depan…”
Belum selesai Elang menghabiskan kata-katanya, Bima menggebrak meja yang ada di hadapannya. Membuat gelas anggur dan baki berisi buah yang terbuat dari emas di meja itu terbalik menumpahkan isinya.
Elang terlihat sangat ketakutan. Tapi untungnya Yudhistira kembali menenangkan adiknya.
“Maaf. Silahkan lanjut cerita.”
“Saya sengaja datang ke masa ini, karena masa depan membutuhkan bantuan seorang ksatria bernama Gatotkaca…”
__ADS_1
Seluruh pasang mata di ruangan itu saling menatap dengan heran, kecuali Elang.
“Tidak ada yang namanya Gatotkaca di sini, anak muda,” sergah Yudhistira yang kali ini menatap Elang dengan tatapan mata tajam.
Bima berdiri menghampiri Elang, tangan besarnya melepaskan ikatan ular yang melilit pada tubuhnya, lalu memakaikannya pada tubuh Elang.
“Ular itu bisa mendeteksi kebohongan,” kali ini Arjuna angkat bicara dari tempat duduknya. “ Bicaralah. kalau kau jujur, ular itu tak akan mencelakaimu.”
“Ka--Kalau saya bohong?”
“Hari ini adalah akhir hidupmu. Ular itu akan menelanmu bulat-bulat.”
Bulir-bulir keringat dingin mulai menetes di wajah Elang, hidupnya kini ada di ujung tanduk.
“Silahkan cerita.” Yudhistira kembali angkat bicara. Keempat saudaranya yang lain duduk di singgasananya.
Elang menelan ludah, dengan sisa-sisa keberaniannya dia mulai bercerita.
Ular yang melilit di tubuh Elang bergerak sedikit, tapi masih menatap tajam ke wajah orang yang dililitnya itu.
“Kota tempat saya tinggal di masa depan sedang diserang oleh makhluk asing, sudah banyak korban berjatuhan karena makhluk itu. Dengan menggunakan mesin waktu milik seorang sahabat, saya kembali ke sini untuk meminta bantuan pada Gatotkaca…”
BRAKKK!
Bima kembali menggebrak meja di hadapannya. Ksatria yang satu ini memang jarang berbicara, ia selalu menanggapi sesuatu hal yang baginya tidak masuk akal dengan tindakan.
“Anak muda, tidak ada satupun ksatria bernama Gatotkaca di sini,” sanggah Yudhistira. Sebenarnya ada ragu terbesit dalam hatinya, karena ular besar milik Bima yang biasa mendeteksi kebohongan tidak bereaksi pada kata-kata Elang.
“Ada, hanya saja belum muncul.”
“Siapa Gatotkaca ini?” Potong Arjuna.
“Dia adalah seorang ksatria yang sangat kuat. Keturunan dari Bima dan Dewi Arimbi, seorang putri dari kerajaan Pringgandani.”
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan Elang, Bima langsung berdiri dengan gada yang siap dipukul ke kepala orang asing yang menyebut namanya itu.
“Tahan Dimas Bima,” kata Yudhistira dengan penuh wibawa. “Silakan lanjutkan.”
“Saya tidak berbohong, karena kisah Pandawa bersaudara tertera dalam cerita epos di zaman saya. Dalam waktu dekat akan ada perang Bharatayudha yang akan melibatkan Pandawa dan Kurawa. Sebuah perang yang maha dahsyat, banyak ksatria yang gugur dalam perang itu. Pandawa akan memenangkan peperangan, namun dengan mengorbankan Resi Bisma, dan juga Gatotkaca sendiri.”
“Kamu peramal?” Sadewa memperhatikan Elang dari kepala sampai ke kaki. Sesekali ia memegang sweater yang dipakai Elang.
Elang menggeleng. “Sa--Saya tahu karena membaca kisahnya. Dalam waktu dekat Bima akan membuka lahan di sebelah barat hutan Amarta yang berbatasan langsung dengan Pringgandani, sebuah kerajaan bangsa raksasa yang dipimpin oleh Arimba. Ini adalah sebuah kemauan dari para Dewa, dengan tujuan mempertemukan Bima dengan Arimbi. Agar mereka menikah dan mempunyai anak bernama Gatotkaca…” Elang menghentikan ceritanya lalu melanjutkan kembali, “boleh saya minta minum dulu?”
Yudhistira selaku pemangku kekuasaan tertinggi di sana, menepuk tangannya sambil tersenyum. Tak lama datang dayang-dayang istana membawakan secawan minuman dari perasan buah anggur dan juga buah-buahan yang tersaji untuk Elang.
Tanpa menghiraukan rasa takutnya pada ular besar yang melilit di tubuhnya, Elang minum air perasan anggur yang disajikan untuk menghilangkan dahaga di kerongkongannya yang sedari tadi kering sejak dikejar-kejar oleh raksasa.
“Putra dari Bima dan Arimbi, nantinya akan menjadi raja Pringgandani menggantikan Arimba. Namun akan ada ujian yang berat buatnya. Karena sejatinya Gatotkaca adalah anak yang akan djadikan senjata oleh para dewa untuk melawan pasukan gandarwa, ketika merekan akan menyerang Kayangan.”
Tak ada reaksi apa-apa dari ular milik Bima yang dipakai untuk menguji kejujuran Elang. Kelima kakak beradik Pandawa pun akhirnya sepakat untuk melepaskan ular itu dari tubuh Elang.
Lelaki bertubuh gemuk itu menghela nafas panjang, ia merasa lega karena ular yang besar sudah tidak ada lagi di tubuhnya.
“Bajumu bagus,” ujar Nakula sambil sekali lagi memperhatikan sweater warna hitam Elang.
Temaram cahaya obor yang menyala di sekitar istana Amarta membuat warna keemasan dalam istana itu semakin menguning dan berkilau indah. Elang masih ada di antara para kelima Pandawa, ketakutan di hatinya kini sirna karena ternyata Yudhistira menyambutnya dengan baik sebagai tamu.
Ketika sedang asik menikmati jamuan makan malam, sesosok tubuh dengan memakai kain yang dililitkan di tubuhnya serta mahkota di kepalanya masuk, ia melayang dengan awan di kakinya.
“Salam sembah, Kangmas Kresna,” kata Yudhistira diikuti oleh keempat adiknya.
Sosok berwajah putih bersih dengan hidung mancung dan cahaya di belakang kepalanya itu melihat sepintas pada Elang, lalu ia membisikkan sesuatu hal pada kakak sulung dari Pandawa.
Keduanya terlibat perbincangan serius, sesekali kedua orang itu menatap ke arah Elang. Tidak lama kemudian, Kresna keluar dari istana Astina dengan awan yang tadi dinaikinya ketika datang.
“Kau benar, Elang. Para Dewa memerintahkan Bima untuk segera membuka lahan di sebelah barat hutan Amarta. Maafkan kami telah meragukanmu.” Selepas kepergian Kresna, Yudhistira kemudian mengajak Elang untuk kembali menikmati hidangan yang tersaji. “Kami sudah mempersiapkan tempat untukmu bermalam, besok pagi mungkin saudara bungsu kami, Nakula dan Sadewa akan mengajakmu berkeliling di kerajaan Astina.”
__ADS_1