Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Profesor Tejo


__ADS_3

Lelaki itu dengan serius memperhatikan grafik kurva di layar monitor komputernya yang bergerak naik turun sambil sesekali membetulkan letak kacamata berbentuk kotaknya. Usianya baru 35 tahun, tapi terlihat seperti masih 25 tahun. Rambutnya panjang seperti personel band metal, membuat dirinya hanya terlihat seperti musisi, bukan profesor.


“Prof…” Kata Elang ketika dirinya baru sampai di ruang kerja Profesor Tejo.


“Ah, Elang. Aku tau kamu akan datang!” Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor, ia mempersilahkan Elang untuk duduk dengan isyarat tangan.


Dara terlihat masih dengan bingung bercampur takjub dengan pemandangan yang dilihatnya. Setelah Elang memarkirkan kuda besinya di Taman Situ Lembang, Menteng, beberapa menit yang lalu. Kemudian ia diajak untuk masuk ke sebuah gardu listrik yang ada di dekat sana. Dengan sedikit ragu, dirinya mengikuti langkah Elang ketika masuk ke dalam lift yang membawa mereka masuk ke dalam ruang bawah tanah.


Pemandangan berikutnya yang dilihat oleh Dara adalah sebuah keajaiban, di hadapannya ada beberapa monitor yang sebagian menyala, dan sebagian ditutupi oleh kain berwarna hitam. Sebuah tirai dengan tulisan “BAHAYA, DILARANG MASUK!” Di sebelah kanannya ada beberapa gelas kaca berisi cairan kimia berwarna-warni.


Tapi yang lebih mencolok adalah di ujung rak, ada beberapa barang-barang yang sangat asing dilihatnya. Senjata dari abad pertengahan berupa pedang dan perisai. Tapi satu hal yang aneh buat perempuan berhidung sedikit mancung dengan jilbab hitam itu, ruangan yang berada di ruang bawah tanah ini punya pencahayaan yang minim dan juga terlihat sempit. Namun udaranya tidak pengap sama sekali, malah seperti sedang berada di pegunungan yang sejuk.


“You pasti pacarnya Elang, bukan?” Profesor Tejo memandang ke arah Dara, lalu mengulurkan tangannya mengajaknya bersalaman. “Saya Tejo, Profesor Tejo!” Sambungnya.


“Dara, Prof. Saya teman…”


“Panggil saja Tejo. Senang bertemu denganmu!” Sambil membetulkan kembali kacamatanya, ia kemudian berpaling ke arah Elang, “Bukan pacar? Tapi gak apa, pacar itu awalnya dari teman,” sambungnya sambil menepuk bahu Elang, diikuti dengan tawa. Ada rona merah di wajah kedua tamunya itu.


“Prof, barusan ada kejadian…” Elang berusaha mengalihkan suasana yang mulai canggung antara dirinya dan Dara.


Lelaki berkaos hitam bertuliskan ‘Queen,’ nama band kesayangannya itu hanya terdiam. Ia kemudian mengajak Elang untuk mengikuti dirinya ke sebuah ruangan yang mempunyai layar super besar.


Lagi-lagi Dara tercengang. Kali ini bukan lagi ruangan sempit seperti sebelumya, tapi sebuah ruangan yang cukup besar.


“Saya sudah melacak asal serangan berantai itu, tapi belum ditemukan siapa dan apa penyebabnya. Kalau dilihat dari rekaman-rekaman yang ada, ini asalnya bukan dari bumi.”


“Maksudnya Prof?” Kali ini Elang yang kebingungan. Sudah lama dirinya mengenal Profesor Tejo yang sudah dianggap seperti sahabatnya ini. Tapi baru sekarang ia mendengar sebuah pernyataan tidak logis yang keluar dari penjelasannya.


“Kita sedang diserang makhluk luar angkasa!” Mimik Profesor Tejo terlihat sangat serius. “Tapi ini baru asumsi, soalnya saya belum menemukan bukti otentik kalau sinar itu berasal dari makhluk lain,” Sambungnya, namun kali ini raut wajahnya berubah menjadi lebih santai.

__ADS_1


“Menarik, mesti dicatat.” Lelaki bermata elang itu kemudian mengeluarkan alat perekam dari tasnya.


“I-Itu apa Prof?” Kali ini Dara membuka suara, ia masih penasaran dengan alat-alat yang terlihat kuno dan asing buatnya.


“Ooh, itu oleh-oleh dari masa lalu,” jawab Profesor dengan asal, sambil masih memandangi layar monitor besar yang berisi rangkuman beberapa kejadian di Jakarta.


“Masa lalu?”


“Iya, sedikit perjalanan waktu. Ambil barang dari zaman dulu, bawa dan koleksi...” Tukas Profesor Tejo dengan bangga. Tapi kemudian ia tersadar, “Apa? Harusnya saya tidak bilang ini!” Kemudian ia berusaha mencari sesuatu yang sebenarnya ia sendiri tidak tahu apa yang harus dicarinya.


Sementara Elang hanya tersenyum. Ia tahu sahabatnya ingin menyembunyikan sesuatu, namun malah ia sendiri yang membocorkannya. “Prof, kita pamit dulu. Kalo udah ketemu penyebabnya, kabarin yah!”


Tak ada jawaban dari lelaki yang disebut profesor oleh Elang. Ia hanya mengangguk pelan, seolah banyak sekali yang mau disembunyikan dari kedua tamunya itu.


“Profesor Tejo lucu yah, Lang. Tapi misterius juga,” ujar Dara ketika mereka sudah keluar dari gardu listrik dan berjalan di taman.


“Lucu? Darimana lucunya?”


Elang menghentikan langkahnya, lalu menatap serius ke Dara. “Ini antara kamu dan aku saja, sebenarnya Prof Tejo itu agen rahasia!” Tukasnya sambil menempelkan telunjuk di bibirnya.


“Serius?” 


“Iya,” angguk Elang. “Tapi rahasianya cuma kamu dan aku aja yang tahu!” Lalu mencubit hidung Dara lalu tertawa.


“Ish, apa sih? Rese banget deh!” Dara menepis tangan Elang sambil menggerutu.


Hidung dara yang sedikit mancung adalah sebuah alasan mengapa Elang ingin sekali mencubitnya. Mata bulat berwarna kecoklatan menjadi daya tarik sendiri kenapa lelaki itu suka kepadanya.


“Kita kemana, Lang?”

__ADS_1


“Pulang, Ra. Aku takut orang tua kamu khawatir.”


Perempuan itu menepuk jidatnya, seolah mengutuk kebodohannya. “Astaga! Iya, aku baru ingat. Pasti orang tuaku khawatir.”


Keduanya kemudian melesat di atas motor, pemandangan memilukan terhampar di setiap jalan yang dilewati oleh mereka. Wajah-wajah takut, sedih, dan keputusasaan mewarnai Jakarta sore hari itu. Air mata Dara menetes ketika melewati seorang anak kecil yang menangis di depan tubuh kaku seorang lelaki yang kepalanya hancur. Sepertinya lelaki itu adalah ayahnya.


Kedua orang tua Dara langsung menyambut dengan pelukan ketika mereka sampai di halaman rumah yang tidak terlalu besar. Kekhawatiran mereka pada anaknya hilang ketika Dara sampai di rumah.


“Makasih yah, udah anterin aku pulang,” kata Dara sambil menyeruput secangkir teh hangat di teras rumahnya.


“Sama-sama, Ra. Yang penting kamu selamat.”


“Oh iya, orang tua kamu enggak…” Dara tercekat, ia tidak meneruskan kalimatnya, tersadar kalau Elang adalah anak yatim piatu.


Elang tersenyum. “Khawatir? Enggak kok, mereka tahu kalau aku bisa mandiri.”


“Maaf yah, Lang. Aku gak bermaksud…” Dara merasa sangat bersalah.


Elang tertawa kecil, lalu mencubit hidung mancungnya Dara lagi.


“Sekali lagi nyubit gue tonjok nih!” Ancam Dara sambil menepis tangan Elang. Lelaki itu pun melepaskan tangannya.


“Sebenarnya aku masih belum menganggap kalau orang tuaku jadi korban kecelakaan pesawat itu, Ra. Soalnya sedari kecil aku terbiasa ditinggal beberapa hari, bahkan beberapa bulan kalau mereka sedang ada liputan di luar kota.” 


Dara mendekatkan duduknya, menggenggam jemari Elang. “Kamu mesti ikhlas, Lang. Kalo aku jadi kamu juga, pasti aku gak akan bisa kaya kamu.”


Elang tersenyum, “Gak usah jadi aku, Ra. Berat. Aku juga masih berharap di suatu sore yang cerah, Ayah dan Ibuku pulang dengan banyak oleh-oleh. Lalu aku memeluknya...”


Tak terasa, air mata Dara kembali menetes. Terharu akan lelaki yang ada di hadapannya itu. Ingin rasanya ia menyatakan perasaan sayangnya, tapi diurungkannya karena dirinya merasa tak etis mengungkapkan perasaan lebih dulu ketimbang lelaki.

__ADS_1


Sore sebentar lagi berubah menjadi malam. Elang pamit pulang, sementara Dara hanya bisa menatap kepergian Elang dari teras rumahnya.


Bersambung


__ADS_2