Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Empat Punakawan


__ADS_3

Hidangan singkong rebus hangat terlihat masih mengepulkan asap, aromanya yang harum menyerbak mengisi ruangan tengah dari gubuk milik ki lurah Semar. Wajahnya yang bulat dengan hidung menjorok ke dalam dan matanya yang sipit serta bibirnya yang selalu menyunggingkan senyum, adalah ciri khas dari ki lurah Semar Badrayana. Tokoh yang paling disegani oleh raja manapun.


Bukan hanya karena kesaktiannya yang mampu mengendalikan sifat liar Hanoman, tapi juga kebijaksanaannya dalam menyikapi sesuatu. Tak sedikit raja-raja sakti datang kepadanya untuk meminta petuah.


Satu purnama lalu (satu purnama \= dua pekan atau 15 hari), gubuknya di Karang Kedempel kedatangan sang Batara Guru, dewa yang menguasai tiga dunia. Kedatangannya selain ingin berbincang dengan saudaranya, sekaligus  memberi kabar akan ramalan dari kahyangan.


“*Hmmm… Mimpi apa saya semalam, bisa kedatangan Batara Guru ke gubuk saya yang reyot ini?” kata Semar yang terlihat sangat gembira dengan kedatangan saudaranya itu.


Semar dan Batara Guru merupakan dua dari tiga bersaudara dari ayahnya bernama Sang Hyang Tunggal dan ibunya Dewi Wiranti. 


Kelahiran mereka bertiga terjadi ketika sang ibu menemukan telur emas yang dirawatnya seperti anak sendiri. Suatu ketika telur itu pecah, kulitnya berubah menjadi Togog. Bagian putih telur menjadi Semar, dan Merahnya menjadi Batara Guru.


“Salam, saudaraku lurah Semar.” Batara guru menunduk memberikan hormat.


“Silahkan masuk, duduklah dulu di gubukku yang kecil ini. Biarkan cantrik membuatkan hidangan spesial untuk tuan Batara Guru.”


Kedua saudara itu duduk saling berhadapan, dari raut wajah Batara Guru tersirat ada kabar yang ingin dibagi kepada Semar.


“Ada apa ini? tumben Batara Guru mau turun dari Kayangan ke gubuk saya.”


“Ada pesan dari Kayangan yang akan saya bagi pada guru Semar.” Lelaki bertubuh tegap yang sangat jauh dengan saudaranya itu memicingkan matanya, menatap sekeliling gubuk Semar.


“Oalaaah, kalau mau ngomong ya ngomong saja. Ndak perlu memandang sekeliling gubuk saya to? hehehe.” Semar terkekeh melihat gelagat dari penguasa tiga dunia itu.


“Mohon maaf, Ki Semar…” Batara Guru menghentikan sejenak kata-katanya, meskipun ia adalah Dewa yang menguasai tiga dunia, yaitu dunia alam manusia, dunia surga, dan dunia neraka bawah. Tetap saja, jika bertemu dengan Semar, dirinya selalu menunduk. 


“Kamu ndak salah apa-apa, ndak perlu minta maaf toh.”


Batara Guru menghela nafas panjang, ia menenangkan dirinya lalu mulai bercerita, “ada sebuah ramalan yang bilang kalau sebentar lagi akan ada seorang anak muda yang datang jauh dari masa depan dari saat ini. Beliau datang ingin meminta bantuan kita melawan makhluk yang ingin menghancurkan bumi.”


“Hehehehe… Dari dulu juga banyak yang ingin menghancurkan bumi. Tapi selama kebaikan masih ada, bumi akan selalu tegak berdiri,” desis Semar sambil terkekeh.

__ADS_1


“Kedatangannya menandakan bahwa tidak lama lagi akan hadir seorang anak dari Bima yang akan digunakan para Dewa untuk menahan serangan dari para Gandarwa.”


Semar memegang perutnya yang gembul, ada kekhawatiran dalam dirinya meskipun senyum di wajahnya masih mengembang. “Ada apa dengan bangsa Gandarwa?”


Sedari dulu mereka ingin sekali menguasai Kayangan. Tapi tidak pernah berhasil, karena para Dewa selalu punya penangkal untuk menghalau para Gandarwa, ras yang merupakan perpaduan dari raksasa dan jin. Mereka ingin sekali menggantikan posisi para dewa, tapi tidak akan mungkin. Karena kalau saja istana Kayangan berhasil dikuasai, maka dunia akan mengalami kehancuran.


“Semakin hari, mereka semakin kuat. Pasukan mereka pun semakin banyak. Pemimpin mereka pun sudah mempunyai seorang raja yang sangat sakti.”


“Hmmm…” Semar terdiam, ia memikirkan apa solusi untuk masalah ini.


Selama ini memang terjadi kecemburuan antara para dewa yang tinggal di Kayangan yang terlampau mewah hidupnya, setiap hari hanya dihabiskan untuk bersenang-senang. Sedangkan bangsa Gandarwa, mereka hidup di ujung dunia yang sangat tandus. Tak ada satu manusia pun yang bisa bertahan hidup di sana.


Melihat kehidupan para dewa yang selalu tercukupi, bangsa Gandarwa tergelitik untuk menginvasi Kayangan dan memaksa dewa-dewa untuk pindah. Tapi usaha mereka selalu gagal, karena terkadang Arjuna ikut membantu mengusir Gandarwa yang ingin naik ke langit.


“Tugasmu adalah membawa anak itu kemari, lalu bantu dirinya dalam mendidik serta membesarkan putra kedua Bima. Karena para dewa akan memberikan kelebihan pada anak itu kelak. Dalam dua hari, usianya bertambah satu tahun.”


“Hmmm… Kalau itu memang kemauan dari para dewa, saya akan menurutinya.” Semar memainkan janggut panjangnya.


“Salam hormat, sebenarnya saya ingin sekali menikmati singkong rebus di sini. Tapi saya tidak bisa berlama-lama. Ada urusan lain yang harus saya lakukan.” Batara Guru memohon diri, lalu mundur dan menghilang tanpa keluar dari Pintu.


“Hm… Yasudah, kalau begitu biar saya yang menghabiskan rebus singkong ini,” ucap Semar sambil mengajak cantriknya untuk duduk di sebelahnya*.


Hari ini, setelah empat belas hari dari kedatangan Batara Guru. Ramalan tentang pemuda dari masa depan terbukti, ia mengutus Petruk, salah satu Punakawan yang terkenal akan kesaktiannya untuk menjemput pemuda yang dibicarakan oleh para dewa itu.


“Hmmm, apa yang sebenarnya terjadi dengan duniamu, anak muda?” selidik Semar yang kini duduk di tengah para Punakawan.


Elang terdiam, memikirkan sebaiknya dimulai dari mana ceritanya.


“Monggo, cerita saja. Jangan malu-malu,” sela Gareng yang sedari tadi main sikut-sikutan dengan Petruk.


Gareng dan Petruk ini dulunya adalah musuh bebuyutan. Mereka merasa diri mereka paling tampan di antara para jin yang lain, kesaktian mereka pun terbilang tinggi. Tapi ada satu fase di mana perseteruan mereka berubah menjadi sebuah pertarungan sengit.

__ADS_1


Kala itu Gareng terpilih menjadi raja sakti, tak ada yang bisa melawannya. Hanya Petruk yang bisa melawan Gareng, akhirnya pertempuran mereka pun terjadi. Pertempuran yang berlangsung sengit selama tujuh hari tujuh malam. Membuat wajah keduanya lebam dan menjadi seperti saat ini. 


Sejak kejadian itu keduanya diangkat menjadi Punakawan, meskipun mereka seperti saudara, namun terkadang sifat persaingan mereka masih sering muncul.


“Beberapa tahun sebelum makhluk angkasa luar menyerang bumi, beberapa orang astronot kembali dari luar angkasa. Misi mereka menemukan planet terluar dari tata surya. Sayangnya mereka membawa komponen penting bagi planet yang mereka datangi, generator kehidupan sebuah planet dibawa oleh mereka.”


“Sek… sek… sek… Astornot? genrat… genrat… Apa itu semua?” Bagong yang merasa kebingungan ikut bicara.


“Astronot. Itu adalah sebuah pekerjaan, sama seperti pedagang, atau peternak. Tugas mereka ke luar angkasa, meneliti adakah kehidupan di sana. Generator, bukan genrat. Itu seperti alat untuk menyokong sebuah energi. Kalau di bumi, seperti matahari.”


“Oooh, begitu,” angguk Bagong.


“Itu menjadi sebuah kesalahan besar bagi manusia, terlebih entah mengapa mereka bisa mendarat di tempatku. Bukan di tempat asal keberangkatan mereka, Amerika.”


“Hmmm… Kesalahan? Kesalahan apa?”


“Karena tempatku menjadi yang pertama diserang oleh mereka. Makhluk itu meminta generatornya.”


Elang diam sejenak, diambilnya secangkir teh hangat yang disajikan, kemudian diminumnya perlahan untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Kemudian ia meneruskan kembali ceritanya.


“Aku datang ke tempat ini menggunakan mesin waktu. Tujuannya untuk meminta Gatotkaca supaya mau membantu mengusir makhluk yang menyerang bumi…” Belum sempat ia meneruskan kata-katanya, Semar menyela.


“Hmmm… Jadi, ini yang dimaksud Batara Guru akan hadirnya anak kedua dari Bima.” Sambil mengusap janggutnya, orang tua bertubuh gempal itu mencoba mencerna apa yang dikatakan Batara Guru tempo hari.


“Di sini tidak ada yang namanya Gatotkaca, anak muda.” Petruk kembali ikut bicara. Kata-katanya mirip seperti apa yang dibilang oleh Yudhistira.


“Hmmm… Konon diramalkan bahwa akan ada putra kedua dari Bima yang akan lahir dalam waktu dekat. Anak ini punya kelebihan, ia tumbuh satu tahun dalam waktu dua hari. Kekuatannya pun sangat tinggi, karena akan dipakai dewa untuk melawan bangsa Gandarwa yang akan menyerbu Kayangan.


Elang berdiri, ia raut wajahnya terlihat gelisah. “APA!? Gatotkaca belum lahir?” Lelaki berambut acak-acakan itu terkejut dengan apa yang didengarnya. “Kalau harus menunggu, masa depan bisa hancur.”


 Semar tersenyum, “tinggallah di sini bersama kami untuk sementara waktu. Petruk dan Gareng akan melatihmu supaya bisa menghadapi hal yang tidak akan diduga di zaman ini. Masa depan tidak akan hancur, percayalah.”

__ADS_1


Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, cahayanya menerpa wajah Elang dan keempat Punakawan yang sedang duduk di dalam gubuk milik Semar. Perlahan, Elang mengambil kameranya dari dalam tas. Ia mengabadikan pemandangan indah yang baru kali ini  dilihatnya.


__ADS_2